Fanfic: Love.
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Kamis, 20 September 2012
Label:
Alice Nine
/
Comments: (0)
Title: Love.
Author: -Keka-
Fandom: Alice Nine
Genre: BL Romance
Rating: PG15+
Note: tadinya cuma pengen nulis Flash Fic, tapi kok keterusan jadi agak panjang ya...? =3=
Selamat membaca.
* * *
Aku berpikir banyak. Ya banyak sekali. Lebih dari yang mampu aku pikirkan. Aku tidak mengerti. Seharusnya ini hal yang sepele, tapi aku tidak bisa berhenti untuk terus memikirkannya.
Pria itu... ah, aku mendesah pelan. Memikirkannya saja sudah membuatku kehilangan energi yang lebih banyak. Lihatlah betapa kurusnya aku saat ini. Tapi tidak juga sih. Setidaknya aku tidak sekurus Saga. Iya temanku satu itu, aku membayangkannya seperti seorang supermodel. Wanita. Bukan pria. Walau sayangnya dia adalah seorang pria dengan kemolekan wanita dan ketampanan pria sekaligus.
Shounen no Namida (Final)
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Rabu, 15 Agustus 2012
Label:
Shounen no Namida,
Vidoll
/
Comments: (0)
Title : Shounen no Namida (Final)
Fandom : JRock ~ Vidoll
Author : -Keka-
Finished : Jan 5th 2008
Note : malam2 Keka gadang cuman buat nyelesein fanfic ini. Idenya juga keluar tiba-tiba tanpa perencanaan. Hasilnya... bisa dilihat ^^
Gak bagus-bagus amat... tapi mayan lah dan cukup panjang ^^ mudahan gak capek bacanya.
------000------
Jarum jam sudah menunjuk pukul dua malam. Dan Shun belum juga datang. Rame bahkan sudah tertidur sekarang, meskipun dalam tidurnya dia sangat gelisah. Dia melihat Shun pergi dengan orang lain, seseorang yang sepertinya dia kenal namun tampak samar.
“Shun.. jangan pergi..”
Shounen no Namida part 2 – Story Behind Last Lover (Afiy Vers.)
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Shounen no Namida,
Vidoll
/
Comments: (0)
Shounen no Namida part 2 – Story Behind Last Lover (Afiy Vers.)
Author : Afiy
Fandom : J-Rock – Vidoll
Disclaimer : V.I.D Concert SEAT FOR LAST LOVER, Keka Vidoll fiction – Shounen no Namida part 1
~ ~ ~
“Sepuluh menit lagi”, EO konser promo album V.I.D melihat jam tangannya dengan sedikit resah. Semua member sudah siap di belakang pintu masuk panggung, kecuali Giru dan Rame.
“Ah, kemana mereka?!”, Tero tampak kesal. Ia berdiri dari sandarannya berniat menyusul Giru dan Rame.
“Biar aku saja.”, sergah Shun yang dari tadi tampak tenang. Shun pun berbalik menuju ruang rias dan wardrobe, tempat ia terakhir melihat Giru dan Rame.
Sementara Shun pergi, Tero memperhatikan Jui yang terlihat murung.
“Kau baik-baik saja?”
Shounen no Namida Part 2
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Shounen no Namida,
Vidoll
/
Comments: (0)
Title : Shounen no Namida
Fandom : JRock ~ Vidoll,...
Author : -Keka-
~oOo~
Sudah seminggu sejak kejadian itu. Rame tidak berani menampakkan dirinya di hadapan siapa pun. Tidak di hadapan Jui atau Tero. Tidak pula di hadapan Shun, apalagi di hadapan si brengsek Giru yang menyakitinya.
Terlalu menyakitkan, bahkan rasanya masih terasa sampai saat ini.
Rame menatap luka-luka lebam di sekujur tubuhnya. Bahkan sudah seminggu, tapi luka-luka itu masih tampak jelas. Bukan hanya luka fisik, tapi luka hatinya yang mungkin tidak akan pernah sembuh.
Tidak seharusnya Rame meratapi nasib seperti ini, menatap cermin yang memantulkan kesedihan wajahnya dan menangis.
Pantaskah laki-laki menangis?
Air mata itu terlalu sia-sia Rame...
Shounen no Namida Part 1
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Shounen no Namida,
Vidoll
/
Comments: (0)
Title : Shounen no Namida
Author: -Keka-
Genre : angst, yaoi (18+)
Fandom : JRock ~ Vidoll
Finished : 2008.01.05
~oOo~
Laki-laki itu merias dirinya sendiri di depan cermin. Membentuk riasan matanya sedemikian rupa hingga matanya terlihat menarik. Mengulaskan lipstik di bibirnya hingga bibir itu nampak begitu sempurna. Dan menyapukan blush on di pipinya hingga wajahnya merona merah.
Tidak ada yang menyangkal jika sekarang dia bukan lagi sesosok laki-laki yang gagah. Dia memang bukan laki-laki gagah berwajah tampan, tapi sekarang dia menjelma menjadi manusia manis berwajah kawaii.
Dan dia memang sangat cantik.
Betapa bangganya dia mengetahui hal itu.
Lalu…
13-Thirteen- Soul
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Jumat, 15 Juli 2011
Label:
Super Junior
/
Comments: (0)
Author: Kyrie-Keka
Fandom: Super Junior
Genre: Angst(?)
Note: Ini fanfic Super Junior pertama yang Keka tulis karena Keka ingin menyemarakkan kuis fanfic yang diselenggarakan oleh Gagas Media ini. Jujur aja, Keka bukan fans SuJu, Keka gak tau apa-apa tentang Suju. Boro-boro tau SuJu luar dalem, hapal ke-13 personilnya aja kagak. Lagunya pun, Keka cuma tau Bonamana doang :D
Tapi berhubung Keka cinta dunia menulis(fanfic), jadi gak ada salahnya sedikit mencari tahu, dan menulis fanfic yang tergolong mini ini. Maap, kalo fic ini aneh dan buat fans SuJu berkomentar... 'Ih, kok gini... seharusnya kan begini...'
Oya, satu lagi.... sebutan 'oppa' itu sama dengan 'kakak' secara general kan?! atau itu hanya panggilan sayang seorang cewe ke cowo yang lebih tua aja?? Keka sebenarnya ragu dengan ini... apa kalo cowo juga boleh manggil 'oppa' ke sesama cowo yang lebih tua? Soalnya kan kalo di Jepang contohnya, 'aniki' hanya berlaku buat panggilan cowo ke cowo lain yang lebih tua, dan gak berlaku untuk cewe yang manggil cowo yang lebih tua gitu...
Mohon koreksi ya...
Dan silahkan menikmati fanfic ini...
* * *
Fandom: Super Junior
Genre: Angst(?)
Note: Ini fanfic Super Junior pertama yang Keka tulis karena Keka ingin menyemarakkan kuis fanfic yang diselenggarakan oleh Gagas Media ini. Jujur aja, Keka bukan fans SuJu, Keka gak tau apa-apa tentang Suju. Boro-boro tau SuJu luar dalem, hapal ke-13 personilnya aja kagak. Lagunya pun, Keka cuma tau Bonamana doang :D
Tapi berhubung Keka cinta dunia menulis(fanfic), jadi gak ada salahnya sedikit mencari tahu, dan menulis fanfic yang tergolong mini ini. Maap, kalo fic ini aneh dan buat fans SuJu berkomentar... 'Ih, kok gini... seharusnya kan begini...'
Oya, satu lagi.... sebutan 'oppa' itu sama dengan 'kakak' secara general kan?! atau itu hanya panggilan sayang seorang cewe ke cowo yang lebih tua aja?? Keka sebenarnya ragu dengan ini... apa kalo cowo juga boleh manggil 'oppa' ke sesama cowo yang lebih tua? Soalnya kan kalo di Jepang contohnya, 'aniki' hanya berlaku buat panggilan cowo ke cowo lain yang lebih tua, dan gak berlaku untuk cewe yang manggil cowo yang lebih tua gitu...
Mohon koreksi ya...
Dan silahkan menikmati fanfic ini...
* * *
“Saeng-il chugha haeyo Jungsu oppa!!”
Leeteuk terperanjat tak percaya. Baru saja ia masuk ke dalam ruangannya, dan mendapati ruangan itu telah dipenuhi teman-temannya di SuJu.
“Eh, apa-apaan ini...” Leeteuk menutupi mulutnya sendiri, tidak sanggup berkata apa-apa saat Yesung menghampirinya lebih dulu dengan sebuah birthday cake berhiaskan lilin berbentuk angka 28 yang menyala di atasnya.
Seperti kue ulang tahun anak kecil saja. Pikirnya menggerutu dalam hati.
Meski demikian, Leeteuk sangat senang mendapatkan kejutan yang tiba-tiba ini. Ia tidak menyangka sama sekali, bahkan lupa dengan hari ulang tahunnya sendiri karena kesibukannya sebagai seorang entertain, mengubahnya seperti orang linglung. Pantas saja sejak kemarin, mereka semua, rekan-rekannya di SuJu, tidak mengindahkannya sedikit pun. Leeteuk nyaris kesal dan meluapkan emosinya, terutama saat Heechul bertingkah menyebalkan dengan berkata, “Aku sedang sibuk! Kau saja sendiri..” saat Leeteuk memintanya sedikit membantu untuk membereskan properti yang mereka gunakan selama latihan.
“Ayo tiup lilinnya, oppa..” Sungmin menghampiri dirinya, bersama dengan personil SuJu yang lain di belakangnya. Sementara Yesung masih memegang cake itu dengan kedua tangannya, dan mengarahkannya sejajar, agak ke bawah dari posisi wajah Leeteuk agar ia bisa meniup lilinnya dengan mudah.
“Ucapkan birthday wish-mu sebelum kau meniupnya ya…” Heechul mengingatkan dari balik kepala Sungmin.
Leeteuk mengangguk samar, lalu mulai menutup mata dan berdoa dalam hati…
muddy cult #7
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Senin, 12 Juli 2010
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 6
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
--chapter 7--
Sebelum senja mengikis hari, San berjalan pulang menyeret langkahnya sendiri, menapaki satu-satunya jalan yang akan membawanya jauh dari semua kebisingan duniawi.
Muak.
Aku muak dengan semua ini!
Ia menjerit dalam hati seraya memegangi kepalanya. Sesekali memukul kepala itu, bahkan menjambaki rambutnya. Beberapa helainya tercabut dan menjuntai di sela-sela jemarinya.
Keperakan.
Aneh.
Pikirnya.
Ia yakin rambutnya berwarna kebiruan. Namun entah mengapa saat ia mengangkat beberapa helai rambutnya yang tercabut, ia mendapati warna abu keperakan di rambut itu? Bukan biru?!
Ah, sudahlah.
Pikir San, menepis hal tidak berguna itu. Ia terus berjalan menapaki jalan berbatu yang membawanya sampai ke depan pintu gerbang rumah sekaligus cafe miliknya yang sudah beberapa hari ini ia tutup. Suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon dan semak yang tertiup angin di sekelilingnya, sedikit mengganggu. Sejak kejadian mengerikan yang dialaminya beberapa hari yang lalu, San merasa seperti ada orang yang mengikuti, mengintai gerakannya dan bersembunyi. Lalu orang itu bisa muncul kapan saja saat San lengah, dan menyerangnya hingga tidak berdaya.
Ia makin diliputi banyak perasaan takut, termasuk terhadap Jin, sahabatnya sendiri. Ia tidak lupa pada pakaian hitam, layaknya jubah, yang ia temukan di bawah tumpukan pakaian kotor Jin, saat ia hendak mencucinya. San terkejut ketika merendam pakaian itu, air rendamannya berubah merah.
Author: -Keka-
Chapter: 6
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
--chapter 7--
Sebelum senja mengikis hari, San berjalan pulang menyeret langkahnya sendiri, menapaki satu-satunya jalan yang akan membawanya jauh dari semua kebisingan duniawi.
Muak.
Aku muak dengan semua ini!
Ia menjerit dalam hati seraya memegangi kepalanya. Sesekali memukul kepala itu, bahkan menjambaki rambutnya. Beberapa helainya tercabut dan menjuntai di sela-sela jemarinya.
Keperakan.
Aneh.
Pikirnya.
Ia yakin rambutnya berwarna kebiruan. Namun entah mengapa saat ia mengangkat beberapa helai rambutnya yang tercabut, ia mendapati warna abu keperakan di rambut itu? Bukan biru?!
Ah, sudahlah.
Pikir San, menepis hal tidak berguna itu. Ia terus berjalan menapaki jalan berbatu yang membawanya sampai ke depan pintu gerbang rumah sekaligus cafe miliknya yang sudah beberapa hari ini ia tutup. Suara gemerisik dedaunan dari pohon-pohon dan semak yang tertiup angin di sekelilingnya, sedikit mengganggu. Sejak kejadian mengerikan yang dialaminya beberapa hari yang lalu, San merasa seperti ada orang yang mengikuti, mengintai gerakannya dan bersembunyi. Lalu orang itu bisa muncul kapan saja saat San lengah, dan menyerangnya hingga tidak berdaya.
Ia makin diliputi banyak perasaan takut, termasuk terhadap Jin, sahabatnya sendiri. Ia tidak lupa pada pakaian hitam, layaknya jubah, yang ia temukan di bawah tumpukan pakaian kotor Jin, saat ia hendak mencucinya. San terkejut ketika merendam pakaian itu, air rendamannya berubah merah.
muddy cult #6
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Sabtu, 03 April 2010
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 6
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
Kini mereka hanya berdua, saling menatap tanpa mengutarakan sepatah atau dua patah kata. Jin tak tahu apa yang dipikirkan oleh pria yang ada di hadapannya, namun nampaknya pria yang ada di hadapannya mampu membaca semua jalan pikiran dan kegelisahannya. Jin menelan air liurnya sekali lagi, kata-katanya tercekat seperti mencekik batang tenggorokannya, membuat pita suaranya susah bergetar hanya untuk mengucapkan satu ucapan sederhana yang terasa begitu rumit untuk ia ungkapkan.
"Selamat datang di kediamanku. Kau tentu bertanya bagaimana kau bisa berada disini?!"
Jin mengangguk saat pria yang bersamanya mengucapkan hal itu. Meski sepenuhnya ia tidak ingin melakukan itu, namun entah mengapa tubuhnya bekerja lebih cepat daripada otak yang memberinya perintah.
Pria yang ada di hadapannya kini semakin memperpendek jaraknya dari pria lain yang diliputi rasa kecemasan dari sesuatu yang ia sendiri tak tahu dimana dan apa yang harus ia cemaskan. Jin tidak melempar tatapannya kearah lain saat pria itu menatap lekat kearahnya, termasuk saat pria itu membelai wajahnya. Meski akhirnya Jin tertunduk dan memegangi dahinya karena rasa sakit yang begitu hebat menyerang sebagian besar kepalanya dan membuat penglihatannya kabur karena menjadi satu dengan penglihatan nyata dan ingatan-ingatan masa lalu dari sesuatu yang paling tidak ingin ia ingat kembali.
Author: -Keka-
Chapter: 6
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
--chapter 6--
Kini mereka hanya berdua, saling menatap tanpa mengutarakan sepatah atau dua patah kata. Jin tak tahu apa yang dipikirkan oleh pria yang ada di hadapannya, namun nampaknya pria yang ada di hadapannya mampu membaca semua jalan pikiran dan kegelisahannya. Jin menelan air liurnya sekali lagi, kata-katanya tercekat seperti mencekik batang tenggorokannya, membuat pita suaranya susah bergetar hanya untuk mengucapkan satu ucapan sederhana yang terasa begitu rumit untuk ia ungkapkan.
"Selamat datang di kediamanku. Kau tentu bertanya bagaimana kau bisa berada disini?!"
Jin mengangguk saat pria yang bersamanya mengucapkan hal itu. Meski sepenuhnya ia tidak ingin melakukan itu, namun entah mengapa tubuhnya bekerja lebih cepat daripada otak yang memberinya perintah.
Pria yang ada di hadapannya kini semakin memperpendek jaraknya dari pria lain yang diliputi rasa kecemasan dari sesuatu yang ia sendiri tak tahu dimana dan apa yang harus ia cemaskan. Jin tidak melempar tatapannya kearah lain saat pria itu menatap lekat kearahnya, termasuk saat pria itu membelai wajahnya. Meski akhirnya Jin tertunduk dan memegangi dahinya karena rasa sakit yang begitu hebat menyerang sebagian besar kepalanya dan membuat penglihatannya kabur karena menjadi satu dengan penglihatan nyata dan ingatan-ingatan masa lalu dari sesuatu yang paling tidak ingin ia ingat kembali.
muddy cult #5
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Minggu, 31 Januari 2010
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)

Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 5
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
Note: Chapter sebelumnya ada disini
--chapter 5--
Dahulu semua terasa berwarna. Hidup kami terasa indah dengan ribuan warna yang bahkan kami tak tahu apa namanya. Merah.. jingga.. kuning.. hijau.. biru.. nila.. ungu...
Yah pelangi...
Hidup kami berwarna serupa lengkungan pelangi yang terbentuk indah kala murungnya kelabu awan meneteskan titik demi titik kesejukan yang kembali memberi hidup pada gersangnya bumi, membiaskan cahaya di balik muramnya mendung yang membungkus sang mentari, dan menggantinya dengan laras indah bilur warna-warni.
Kami melukisi hari-hari dengan berjuta warna, membentuk segala sesuatunya sedemikian rupa, hingga kami tak lagi merasa betapa kosongnya dinding hidup kami.
Namun lukisan kami rusak begitu saja.
Tangan-tangan kotor tidak berperasaan melemparinya dengan lumpur-lumpur berbau busuk dan menodainya dengan banyak cipratan merah. Merah yang mereka dapat dari merajam tubuh kami.
Kami terus mengingatnya..
Mengingat saat mereka menampar wajah polos kami, menginjak perut kami yang kosong tanpa segumpal kecil nasi, merantai kami laksana anjing, dan mengukir kulit tubuh kami dengan pahatan keji.
Apa mereka tak pernah berpikir bahwa kami manusia...
Jiwa dan tubuh kami tak selalu kecil seperti itu..
Tekanan menyakitkan membuat kami tak lagi manusiawi. Mereka yang membuat kami begini..
Bukan salah kami...
muddy cult #4
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Senin, 25 Januari 2010
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 4
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R

Merusak adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan daripada memperbaiki. Hal itu sama mudahnya seperti menabur benih kebencian dan menanamkannya dalam setiap relung kemunafikan. Menggerogotinya laksana belatung memakan bangkai, lalu mengurainya menjadi dzat menjijikan dengan aroma tidak menyenangkan bernama kebusukan.
Aku menikmati semua itu...
Termasuk saat aku menyayat kulit mulusmu..
mengulitimu..
mengeluarkan isi perutmu...
dan memakan sebagian dari itu, lalu memuntahkannya di wajahmu.
Kubagi-bagi tubuhmu menjadi beberapa bagian. Kuatur sedemikian rupa agar potongannya rapi dengan cita rasa seni, lalu kubungkus dan kukirimkan sebagai hadiah kepada jiwa keji yang berlindung di balik wajah kepolosan dan ketidaktahuan.
Author: -Keka-
Chapter: 4
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
--chapter 4--

Merusak adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan daripada memperbaiki. Hal itu sama mudahnya seperti menabur benih kebencian dan menanamkannya dalam setiap relung kemunafikan. Menggerogotinya laksana belatung memakan bangkai, lalu mengurainya menjadi dzat menjijikan dengan aroma tidak menyenangkan bernama kebusukan.
Aku menikmati semua itu...
Termasuk saat aku menyayat kulit mulusmu..
mengulitimu..
mengeluarkan isi perutmu...
dan memakan sebagian dari itu, lalu memuntahkannya di wajahmu.
Kubagi-bagi tubuhmu menjadi beberapa bagian. Kuatur sedemikian rupa agar potongannya rapi dengan cita rasa seni, lalu kubungkus dan kukirimkan sebagai hadiah kepada jiwa keji yang berlindung di balik wajah kepolosan dan ketidaktahuan.
muddy cult #3
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 3
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
~ ~ ~
Tidak seperti biasanya, hari ini SAN berniat membuka cafe lebih pagi dari biasanya. Entahlah, tapi sepertinya pagi ini ia sangat bersemangat.
Rona keceriaan tergambar jelas di wajahnya. Dan seperti biasanya, ia juga yang selalu membersihkan seluruh ruangan cafe. Mulai dari memastikan meja dan kursi tersusun rapi, memastikan tidak ada debu yang menempel, sampai menyapu dan mengepel lantai. Ia lakukan itu semua dengan riang gembira.
Keringatnya sedikit mengalir dari keningnya. SAN menyeka itu dan tampak menghembuskan nafas berat seperti orang yang kelelahan. Matanya menyapu seluruh isi ruangan. Ia merasa puas karena telah memastikan semuanya sempurna.
Ini saatnya pintu cafe kita buka. Ucap SAN dalam hati. Lalu ia pun menuju pintu itu dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celemek yang dipakainya.
Butuh beberapa saat sampai SAN membuka sempurna pintu itu. Ia pun memandang lurus ke depan, dimana jalanan yang biasanya sangat lenggang, kali ini terasa semakin lenggang. SAN juga tidak mengerti mengapa ia memutuskan membuka cafe di rumahnya sendiri yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana perkotaan. SAN hanya merasa damai di tempat itu, tempat dimana ia tinggal sekarang ini, karena tempat itulah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya.
Baru saja SAN ingin melangkahkan kakinya keluar saat ia merasakan menendang sesuatu.
Sebuah kardus.
Kardus yang tertutup lakban dengan sangat rapi.
SAN bingung, mengapa ada orang yang sangat isengnya meletakkan kardus itu di depan cafenya?
Jika itu sampah, seharusnya sampai itu di buang ke tempat yang semestinya dan bukan diletakkan begitu saja di depan cafenya.
SAN mencoba memeriksa kardus itu, dan sedikit terkejut saat membaca tulisan di kardus itu yang ternyata adalah alamat yang ditujukan padanya.
“Apakah kiriman yang kupesan beberapa waktu yang lalu?” Tanyanya pada diri sendiri.
Ia lalu mencoba mengangkat kardus itu. Namun ternyata benda itu cukup berat. SAN pun berinisiatif mendorongnya saja melewati pintu cafe. Dan setelah kardus tersebut berada di dalam cafe, SAN dengan segera mengambil cutter tajam untuk membongkar apa isi kardus itu.
Cukup sulit baginya melakukan itu karena kardus itu terbungkus dengan sangat rapi. Hal itu jugalah yang membuatnya sangat penasaran dan ingin segera mengetahui apa isi kardus itu.
Sementara SAN berkutat dengan pekerjaannya, saat ini Jin di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan untuk SAN. Meskipun tidak terlalu pandai memasak, namun ia tidak kesulitan oleh itu karena sudah terbiasa menyiapkan sarapan dan makan siang serta malam untuk dirinya sendiri.
Jin baru saja mengangkat telur dadar dari wajannya saat ia mendengar suara teriakan SAN yang begitu keras. Dari suara teriakan itu, tergambar jelas betapa SAN sangat ketakutan.
Author: -Keka-
Chapter: 3
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
~ ~ ~
Tidak seperti biasanya, hari ini SAN berniat membuka cafe lebih pagi dari biasanya. Entahlah, tapi sepertinya pagi ini ia sangat bersemangat.
Rona keceriaan tergambar jelas di wajahnya. Dan seperti biasanya, ia juga yang selalu membersihkan seluruh ruangan cafe. Mulai dari memastikan meja dan kursi tersusun rapi, memastikan tidak ada debu yang menempel, sampai menyapu dan mengepel lantai. Ia lakukan itu semua dengan riang gembira.
Keringatnya sedikit mengalir dari keningnya. SAN menyeka itu dan tampak menghembuskan nafas berat seperti orang yang kelelahan. Matanya menyapu seluruh isi ruangan. Ia merasa puas karena telah memastikan semuanya sempurna.
Ini saatnya pintu cafe kita buka. Ucap SAN dalam hati. Lalu ia pun menuju pintu itu dan mengeluarkan sebuah kunci dari saku celemek yang dipakainya.
Butuh beberapa saat sampai SAN membuka sempurna pintu itu. Ia pun memandang lurus ke depan, dimana jalanan yang biasanya sangat lenggang, kali ini terasa semakin lenggang. SAN juga tidak mengerti mengapa ia memutuskan membuka cafe di rumahnya sendiri yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana perkotaan. SAN hanya merasa damai di tempat itu, tempat dimana ia tinggal sekarang ini, karena tempat itulah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya.
Baru saja SAN ingin melangkahkan kakinya keluar saat ia merasakan menendang sesuatu.
Sebuah kardus.
Kardus yang tertutup lakban dengan sangat rapi.
SAN bingung, mengapa ada orang yang sangat isengnya meletakkan kardus itu di depan cafenya?
Jika itu sampah, seharusnya sampai itu di buang ke tempat yang semestinya dan bukan diletakkan begitu saja di depan cafenya.
SAN mencoba memeriksa kardus itu, dan sedikit terkejut saat membaca tulisan di kardus itu yang ternyata adalah alamat yang ditujukan padanya.
“Apakah kiriman yang kupesan beberapa waktu yang lalu?” Tanyanya pada diri sendiri.
Ia lalu mencoba mengangkat kardus itu. Namun ternyata benda itu cukup berat. SAN pun berinisiatif mendorongnya saja melewati pintu cafe. Dan setelah kardus tersebut berada di dalam cafe, SAN dengan segera mengambil cutter tajam untuk membongkar apa isi kardus itu.
Cukup sulit baginya melakukan itu karena kardus itu terbungkus dengan sangat rapi. Hal itu jugalah yang membuatnya sangat penasaran dan ingin segera mengetahui apa isi kardus itu.
Sementara SAN berkutat dengan pekerjaannya, saat ini Jin di dapur sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan untuk SAN. Meskipun tidak terlalu pandai memasak, namun ia tidak kesulitan oleh itu karena sudah terbiasa menyiapkan sarapan dan makan siang serta malam untuk dirinya sendiri.
Jin baru saja mengangkat telur dadar dari wajannya saat ia mendengar suara teriakan SAN yang begitu keras. Dari suara teriakan itu, tergambar jelas betapa SAN sangat ketakutan.
muddy cult #2
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 2
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
~ ~ ~
Tidak terlihat apa-apa, hanya kegelapan dan suara-suara yang menyeruak seperti mantra. Dimana.. dimana ia berada? Apa yang dilakukannya di tempat itu? Bagaimana ia bisa berada disana?
Ia menggerakkan tubuhnya, sedikit demi sedikit, namun itu dirasanya sulit. Seperti terpaku pada tempatnya, ia menyadari dirinya saat ini tengah tertawan. Kedua tangannya terantai pada tempat yang ia duduki.
Bagaimana bisa seperti ini?
Ia terus menggerakkan tubuhnya, semakin keras berusaha melepaskan diri. namun hasilnya tetap sama, ia tetap tertawan di tempat itu dan tidak sanggup melepaskan diri.
Matanya tertutup oleh sesuatu, seperti sebuah tudung kain berwarna hitam yang menutup seluruh kepala dan sebagian wajahnya.
Suara-suara yang ia dengar semakin menyeruak di sekelilingnya. Ia tidak seorang diri, banyak orang lain disana. Tapi mengapa mereka memperlakukannya seperti ini? membelenggu dan merantainya seperti tidak ingin membiarkannya melepaskan diri.
Apa yang mereka inginkan dariku??
Apa yang mereka ucapkan itu??
Seperti sebuah mantra-mantra aneh dalam sebuah sekte pemujaan setan. Ia ketakutan karena menyadari hal itu.
Sesaat sebelumnya ia masih berjalan di lorong panjang yang sepi. Lalu mereka menangkapnya setelah membuatnya tidak sadarkan diri terlebih dahulu. Begitu tersadar, ia telah terbelenggu dengan mata yang tertutup tudung kain berwarna hitam, ditengah seruan suara-suara pemujaan dan hanya menanti waktu yang tidak akan lama sampai ia menjadi korban kesadisan hanya demi tuntutan tumbal.
Author: -Keka-
Chapter: 2
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
~ ~ ~
Tidak terlihat apa-apa, hanya kegelapan dan suara-suara yang menyeruak seperti mantra. Dimana.. dimana ia berada? Apa yang dilakukannya di tempat itu? Bagaimana ia bisa berada disana?
Ia menggerakkan tubuhnya, sedikit demi sedikit, namun itu dirasanya sulit. Seperti terpaku pada tempatnya, ia menyadari dirinya saat ini tengah tertawan. Kedua tangannya terantai pada tempat yang ia duduki.
Bagaimana bisa seperti ini?
Ia terus menggerakkan tubuhnya, semakin keras berusaha melepaskan diri. namun hasilnya tetap sama, ia tetap tertawan di tempat itu dan tidak sanggup melepaskan diri.
Matanya tertutup oleh sesuatu, seperti sebuah tudung kain berwarna hitam yang menutup seluruh kepala dan sebagian wajahnya.
Suara-suara yang ia dengar semakin menyeruak di sekelilingnya. Ia tidak seorang diri, banyak orang lain disana. Tapi mengapa mereka memperlakukannya seperti ini? membelenggu dan merantainya seperti tidak ingin membiarkannya melepaskan diri.
Apa yang mereka inginkan dariku??
Apa yang mereka ucapkan itu??
Seperti sebuah mantra-mantra aneh dalam sebuah sekte pemujaan setan. Ia ketakutan karena menyadari hal itu.
Sesaat sebelumnya ia masih berjalan di lorong panjang yang sepi. Lalu mereka menangkapnya setelah membuatnya tidak sadarkan diri terlebih dahulu. Begitu tersadar, ia telah terbelenggu dengan mata yang tertutup tudung kain berwarna hitam, ditengah seruan suara-suara pemujaan dan hanya menanti waktu yang tidak akan lama sampai ia menjadi korban kesadisan hanya demi tuntutan tumbal.
muddy cult #1
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
muddy cult,
Nega
/
Comments: (0)
Title: muddy cult
Author: -Keka-
Chapter: 1
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
Warning: explicit nudity, extreme violence, too much blood, etc
~ ~ ~

Kegelapan malam yang begitu pekat, sunyi, hampa, dan terasa begitu asing bahkan jauh dari peradaban dunia. Apa masih ada sosok yang terjaga malam ini? dimana? Mengapakah tak terlihat seorang pun juga?
Ia hanya seorang diri, menelusuri lorong panjang yang seolah tak memiliki ujung. Kapan sampainya? Dimana tujuannya? Apa yang ia cari? Ataukah ia hanya tersesat, tak tahu arah dan terasing seorang diri?
Sampai pada suatu ketika, langkah-langkah mengendap terdengar di telinganya. Tidak terlalu jelas. Apakah mengikutinya di belakang, di samping ataukah di hadapannya?
Ia menolehkan pandangan kesana kemari. Tidak ada siapa pun disana. Sama seperti sebelumnya, hanya kesunyian.
Dan pikirannya kosong. Tak ada seberkas memori membekas yang mengingatkannya akan lorong itu, lorong panjang yang tak berujung dan keremangan yang menyamarkan pandangannya.
Ia menghela nafas panjang, kembali membalik badan dan meniatkan diri untuk terus menelusuri lorong itu sampai ia temukan jalan keluar yang akan membawanya kembali pada tempat yang ia ketahui.
Namun niat itu hanyalah seperti kepulan asap yang akan segera hilang saat hembusan angin kencang membuyarkannya.
Ia terkejut kala 3 pasang mata di balik wajah berpenutup aneh itu menatapnya keji, berhasrat, seperti ingin menelanjangi tubuhnya, menyayat kulit mulusnya, merobek perutnya, dan melihat apa saja yang ada di dalamnya, serta mengeluarkannya, lalu melemparkan isi perutnya ke dalam kolam yang penuh berisi piranha-piranha kecil mungil bergigi gergaji.
Ah~ itu berlebihan. Pikiran kalut yang memaksanya berpikir sejauh itu. tidak mungkin seperti itu.
Ia berusaha membuang jauh pikirannya. Terus melangkahkan kakinya maju ke depan. Mengedepankan sisi positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika ia melewati 3 pasang mata berpenutup wajah aneh dengan tubuh tertutup jubah hitam itu.
Meskipun demikian, setenang apapun ia berusaha, jantungnya tetap saja memompa darah dengan lebih cepat hingga ia merasakan desiran darahnya mengalir begitu cepat ke seluruh tubuhnya. Membuat wajahnya menjadi lebih hangat, namun bagian yang lain terutama telapak tangan dan kakinya menjadi sangat dingin. Nafasnya memburu, berusaha teratur namun tetap sesak. Ia tidak mampu bernafas dengan baik saat melewati 3 orang itu. terlebih saat ia menyadari ada seseorang yang menyentuhnya.
Bukan.
Bukan seseorang melainkan ketiga orang itu.
Dua diantara mereka memegangi masing-masing tangan kiri dan kanannya. Lalu seorang yang lain berdiri di hadapannya, mengeluarkan sesuatu yang kemudian dipakai untuk membekap mulut dan hidungnya. Aroma menusuk masuk ke dalam indera penciumannya, membuat kepalanya seolah berputar, terseret masuk ke dalam dunia bawah sadar. Ia meronta berusaha melepaskan diri dari tekanan yang membuatnya sangat tidak nyaman. Dan diantara perasaan setengah tidak sadar itu, seseorang di hadapannya mengeluarkan kain berwarna hitam pekat lalu membuatnya tenggelam dalam kubangan kegelapan.
Author: -Keka-
Chapter: 1
Fandom: Nega
Genre: Angst, Thriller,-- (???)
Rating: R
Warning: explicit nudity, extreme violence, too much blood, etc
~ ~ ~
Kegelapan malam yang begitu pekat, sunyi, hampa, dan terasa begitu asing bahkan jauh dari peradaban dunia. Apa masih ada sosok yang terjaga malam ini? dimana? Mengapakah tak terlihat seorang pun juga?
Ia hanya seorang diri, menelusuri lorong panjang yang seolah tak memiliki ujung. Kapan sampainya? Dimana tujuannya? Apa yang ia cari? Ataukah ia hanya tersesat, tak tahu arah dan terasing seorang diri?
Sampai pada suatu ketika, langkah-langkah mengendap terdengar di telinganya. Tidak terlalu jelas. Apakah mengikutinya di belakang, di samping ataukah di hadapannya?
Ia menolehkan pandangan kesana kemari. Tidak ada siapa pun disana. Sama seperti sebelumnya, hanya kesunyian.
Dan pikirannya kosong. Tak ada seberkas memori membekas yang mengingatkannya akan lorong itu, lorong panjang yang tak berujung dan keremangan yang menyamarkan pandangannya.
Ia menghela nafas panjang, kembali membalik badan dan meniatkan diri untuk terus menelusuri lorong itu sampai ia temukan jalan keluar yang akan membawanya kembali pada tempat yang ia ketahui.
Namun niat itu hanyalah seperti kepulan asap yang akan segera hilang saat hembusan angin kencang membuyarkannya.
Ia terkejut kala 3 pasang mata di balik wajah berpenutup aneh itu menatapnya keji, berhasrat, seperti ingin menelanjangi tubuhnya, menyayat kulit mulusnya, merobek perutnya, dan melihat apa saja yang ada di dalamnya, serta mengeluarkannya, lalu melemparkan isi perutnya ke dalam kolam yang penuh berisi piranha-piranha kecil mungil bergigi gergaji.
Ah~ itu berlebihan. Pikiran kalut yang memaksanya berpikir sejauh itu. tidak mungkin seperti itu.
Ia berusaha membuang jauh pikirannya. Terus melangkahkan kakinya maju ke depan. Mengedepankan sisi positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika ia melewati 3 pasang mata berpenutup wajah aneh dengan tubuh tertutup jubah hitam itu.
Meskipun demikian, setenang apapun ia berusaha, jantungnya tetap saja memompa darah dengan lebih cepat hingga ia merasakan desiran darahnya mengalir begitu cepat ke seluruh tubuhnya. Membuat wajahnya menjadi lebih hangat, namun bagian yang lain terutama telapak tangan dan kakinya menjadi sangat dingin. Nafasnya memburu, berusaha teratur namun tetap sesak. Ia tidak mampu bernafas dengan baik saat melewati 3 orang itu. terlebih saat ia menyadari ada seseorang yang menyentuhnya.
Bukan.
Bukan seseorang melainkan ketiga orang itu.
Dua diantara mereka memegangi masing-masing tangan kiri dan kanannya. Lalu seorang yang lain berdiri di hadapannya, mengeluarkan sesuatu yang kemudian dipakai untuk membekap mulut dan hidungnya. Aroma menusuk masuk ke dalam indera penciumannya, membuat kepalanya seolah berputar, terseret masuk ke dalam dunia bawah sadar. Ia meronta berusaha melepaskan diri dari tekanan yang membuatnya sangat tidak nyaman. Dan diantara perasaan setengah tidak sadar itu, seseorang di hadapannya mengeluarkan kain berwarna hitam pekat lalu membuatnya tenggelam dalam kubangan kegelapan.
Sink
Diposting oleh
KuroNe
on Sabtu, 05 Desember 2009
Label:
9GOATS BLACK OUT
/
Comments: (0)

Title: Sink
Author: Emiru
Fandom: 9GOATS BLACK OUT
Author: Emiru
Fandom: 9GOATS BLACK OUT
* * *
Bisikan lembut laksana desisan angin, merasuk dalam raga, menyayat untaian nadi dan membelah kepingan jiwa menjadi serpihan pasir berkilau yang terberai dan temaram dalam hembusan angin kegelapan.
Aku mencari rangkaian kata dalam setiap serpihan sayap-sayap kaca, saat kau tengah terlelap, terjaga dalam mimpi-mimpi indah, dan terbius dari segala kebisingan dunia. Bias wajahmu pekat memenuhi alam pikirku, tak menyisakan celah dan sesak dalam keterpurukan rasa putus asa.
Jemariku lembut menghapus setiap dukamu, setiap tangismu, dan setiap rasa ketidaknyamanan yang kau rasakan.
Namun apakah itu semua berarti...
Apakah itu dapat mengembalikan waktu dan mengembalikan hari esok yang tak kan pernah kau raih...
Semua terasa kosong tanpa hadirmu di sisiku. Aku tidak berguna dan hina, aku menderita tanpamu, namun aku berjanji pada dirimu.. pada diriku sendiri... aku akan terus hidup dan menjalani kehidupan ini.. meski kau jauh dan tak berada di sisiku lagi.. meski waktu tak mengijinkan kita bertemu lagi.. dan meski kehidupan tak memihak pada kita lagi.
Kutatap musim yang terus berganti, kusandarkan punggungku pada sebongkah dinding yang membisu. Apa yang kupikirkan... apa yang kurasakan dan apa yang kuinginkan... semua terasa samar. Bayang wajah takutmu saat kita akan berpisah terus menancap di ingatanku, meninggalkan luka yang dalam saat tangismu terasa bagai sembilu yang mengiris perlahan permukaan tubuhku, membuat sebuah lubang menganga yang tak tahu sampai kapan akan tertutup kembali, atau tidak pernah tertutup sama sekali.
Ku gelengkan kepala secara perlahan, berusaha menjauhkan bayangmu yang menyita semua ruang pikirku. Sampai kapan aku mampu untuk mencoba terus bertahan.. rasa itu bagai gulungan ombak yang terus-menerus menghantam karang, membuat permukaan keras itu perlahan rapuh dan hancur oleh bergulirnya waktu.
Aku tenggelam...
Tenggelam dalam lumpur pekat kesedihan yang hitam..
Di tempat tidur ini.. memoriku terbentuk untuk kembali memikirkanmu..
Menyesali segala tindakan bodoh di masa yang telah lalu..
Menyesali waktu yang tak dapat kembali...
Dan menangisi setiap kesedihan serta kesendirian yang kurasakan saat tak lagi bersamamu..
Sampai pada masanya...
Keterpurukan dan tekanan luar biasa ini membuatku tak lagi mampu berpikir jernih..
Aku terlalu larut oleh gemerisik angin dan bisikan pasir yang berdesir dan membuatku semakin tenggelam oleh imaji-imaji yang indah sekaligus meniupkan ruh ketakutan itu sendiri. Saat jiwaku pergi menyusulmu... mungkin penderitaan ini akan selamanya berakhir...
Mataku terpejam beberapa saat membayangkan rasa sakit itu..
Namun itu hanya rasa sakit setitik yang tak kan sebanding dengan rasa sakit yang akan terus kurasakan jika penyesalanku akan kepergianmu terus membekas dan membentuk sebuah luka yang tak kan pernah kering.
Kuraba permukaan kasar dari serakan bening nan tajam yang perlahan ternoda oleh tetesan merah pekat yang begitu indah. Tetes demi tetes telah mewarnai permukaan kaku nan dingin dari kerasnya ubin. Kurengkuh pecahan yang lebih besar, kutenggelamkan permukaan kulitku menembus ke dalamnya hingga kurasakan kepedihan itu mencapai batas puncaknya. Air mata dan jeritan terakhirmu kembali membayang dan menggema dalam ruang memoriku... sampai keadaan kembali tenang.. hanya ada desah nafasku yang memburu dan distorsi suara berbisikku mengucap indah kata cinta untukmu... kata cinta yang tak lagi sanggup kau dengar.
Aku berjalan tertatih dengan tetesan merah yang mengalir dari nadiku yang terkoyak...
Berjalan menuju tempat itu...
Tempat dimana kau berada saat ini...
Tempat dimana aku meninggalkanmu dalam rasa dingin dan kebekuan..
Tempat dimana aku tidak mengijinkanmu kembali untuk menghirup udara kehidupan...
Wajahmu pucat meski keindahan masih tampak membingkai lembut parasmu itu. Kusentuh permukaan cair yang menenggelamkanmu dengan telapak tanganku. Kebeningan perlahan ternoda oleh cairan pekat berwarna merah. Meninggalkan berkas keindahan yang terus mewarnai sekelilingmu.
Aku berjanji untuk terus hidup dalam ketidakbergunaanku...
Namun kehilanganmu adalah hal terberat yang tak mampu terus kulalui...
Kupejamkan mata semakin rapat saat patahan dari lembaran kaca yang telah kuremukkan sebelumnya menembus sempurna kulitku lebih dalam, makin dalam dan lebih dalam lagi. Riakan air mengalir yang terus banjir meredam segala kebisingan yang ada. Membuatku larut dan ingin tenggelam ke dalamnya.
Kupeluk tubuh dinginmu untuk terakhir kalinya. Kau telah kaku dalam keterdiaman... hingga tak lagi kurasakan hangat tubuhmu dan desiran aliran darahmu...
Kubenamkan tubuh kita berdua dalam samudera kecil berwarna merah darah...
Kutahan semua rasa sesak itu sampai aku tak lagi mampu melihat apa-apa...
Dan memoriku tentangmu terhenti saat itu juga....
* * *
hati dan utA terdiam dengan tubuh kaku selama beberapa saat ketika mendapati tubuh Ryo yang sudah tidak bernyawa, tenggelam dalam bath up yang terus mengalirkan air dari krannya dan mengikis perlahan darah dari luka yang ia torehkan sendiri dengan pecahan kaca untuk memutus nadinya.
"Apa yang sebenarnya dia pikirkan?!! Mengapa dia menyalahkan diri sendiri atas kematian kekasihnya?!!"
"Itu karena Ryo berpikir bahwa dia yang telah membunuh kekasihnya sendiri, utA. Ryo sering berhalusinasi dan berkata bahwa dia menenggelamkan gadisnya di dalam bath up, dan membuat mayat gadis itu terus berada disana agar setiap saat dia bisa memeluk tubuhnya."
"Tapi kita sama-sama tahu bahwa gadis itu bunuh diri dan kita sendiri melihat prosesi pemakamannya."
Hati merangkul pundak utA dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Ryo terlalu mencintainya... cinta juga yang membuatnya berpikir bahwa dialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kematian gadis itu... halusinasi menenggelamkannya dan membuatnya memilih jalan menuju kematian untuk mengakhiri penderitaan yang selama ini dia rasakan. Terimalah kenyataan itu utA... biarkanlah Ryo tenang dengan keputusan terakhirnya..."
utA mengangguk pasrah dan berjalan mendekati tubuh Ryo yang telah kaku, mengeluarkannya dari dalam bath up, dan memberinya setangkai bunga yang telah layu, seraya berbisik lirih di telinga sahabatnya itu.
Selamat jalan Ryo...
Semoga kau tenang di alam tidur panjangmu...
* * *
Sink
-Finish-
Nanairo CRAYON part 17 -Starting for a New Life- [Final Chapter]
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Alice Nine,
An Cafe,
Kagrra,
Kra,
MUCC,
Nanairo CRAYON,
PS Company,
Sadie,
the GazettE
/
Comments: (0)
Title: Nanairo CRAYON
Part: 17
Author: -Keka-
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, Sadie, An Cafe n more…
* * *
Ia masih setengah sadar dan mendengar saat beberapa orang sibuk mengangkat tubuhnya dan membawanya dengan ambulan yang meraung-raung di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tidak ada yang mampu dilihatnya selain bayangan tubuh Uruha saat ingin dijilat oleh api dan tertumbuk runtuhan bangunan. Matanya sangat perih saat ini. Ia sampai ingin mencongkelnya agar penderitaannya berakhir. Namun ia tak sanggup melakukan itu karena perlahan mulai tak sadarkan diri dan tak mampu mengingat apa-apa lagi.
...
"Ini salahku... aku yang membuatnya begitu..."
"Ssstt.. jangan ucapkan apa-apa lagi. Dia akan selamat. Kau harus percaya itu." Dekapan hangat memberinya sedikit ketenangan meskipun tak sepenuhnya ia merasa tenang.
"Aoi... aku pantas mati karena ini." Uruha tampak menyesali diri, namun lagi-lagi Aoi menghentikan ucapannya dan memeluk pria itu lebih erat lagi.
"Bukan sepenuhnya salahmu Uru... berhentilah membicarakan kematian."
Uruha menangis dalam dekapan itu. Sesuatu yang tidak pernah ia pernah bayangkan selama ini. Tangisan penyesalan. Ia yakin tidak pernah akan melakukannya karena ia selalu yakin dengan pikirannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tidak pernah ia bayangkan bahwa tujuan hidupnya untuk menghabisi nyawa Yuura justru berbalik membuatnya menyesali semua kebencian pada satu-satunya orang yang bisa ia sebut adik.
* * *
"Dia akan buta."
Ucapan 'Pemilik Rumah' membuat Kai terhenyak di tempat tidurnya. Kai mendapat beberapa luka di tubuhnya dan harus mendapat perawatan terutama karena ia telah menghirup cukup banyak gas beracun yang melemaskan tubuhnya. Tapi itu tidak menjadi masalah yang besar untukknya, setidaknya tidak lebih mengejutkan daripada menerima kenyataan bahwa Yuura akan buta.
"Apa tidak ada yang bisa dilakukan dokter-dokter itu untuk menyembuhkan matanya?"
'Pemilik Rumah' menggeleng. "Maaf sekali Kai... mata Yuura sudah terlalu rusak untuk bisa disembuhkan. Nyawanya selamat saja sudah bisa dikatakan sebagai keajaiban. Tubuhnya mengalami luka bakar yang cukup serius. Aku sudah memastikan dia memperoleh perawatan yang terbaik agar luka bakar itu tidak membekas di tubuhnya. Tapi sekali lagi maaf atas matanya..."
Raut kesedihan tergambar pada wajah Kai. Ia menyesal karena membiarkan Yuura mengalami nasib naas itu, namun saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Yuura.
* * *
Saga memaksa bangkit dari tempat tidurnya meskipun saat ini tubuhnya masih lemas untuk dipaksa berjalan-jalan. Ada yang sangat dicemaskannya.
Tora...
Bagaimana keadaannya sekarang..
Dia dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana reaksinya jika dia tahu Hiroto juga ada disini karena aku tidak becus melindunginya..
Hiroto harus terlibat masalah ini gara-gara aku..
Maafkan aku Tora...
Saga meraih kenop pintu ruangan, tempat dimana Tora yang sekarat menjalani perawatan menjelang hari-hari terakhirnya. Ia mendengar suara sesenggukan disana. Seseorang sudah lebih mendahuluinya dan menangisi diri Tora.
Siapa??
Belum sempat Saga mencari tahu jawaban itu dengan pikirannya, ia lebih dulu mendapat jawaban dari penglihatannya. Sosok bertubuh kecil dengan wajah terkesan innocent itu saat ini tak henti menangis dan menggenggam tangan Tora seraya menenggelamkan wajahnya di dada Tora yang kini terbujur lemah.
"Hiroto..."
* * *
Pria tua itu menghembuskan nafasnya dengan berat saat menatap Aki yang memalingkan wajah darinya.
"Ayah datang bukan ingin menghakimimu...mengertilah Aki... ayah hanya ingin menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku? Menyelamatkanku dari apa?! Aku yakin ayah hanya ingin menyelamatkan diri ayah sendiri. Ayah malu kan kalau semua orang tahu aku terlibat dalam kasus ini, terlebih karena aku yang tak lain adalah anak ayah yang seharusnya mewarisi semua kehebatan ayah, ternyata hanyalah seorang kriminal yang telah banyak melakukan tindak kejahatan."
Pria itu kembali menghembuskan nafasnya dengan berat dan menjulurkan perlahan tangannya yang keriput seperti ingin menyentuh kening Aki, meskipun ia tidak jadi melakukannya dan kembali menarik tangan itu untuk ia sembunyikan di balik saku jasnya.
"Aki...
ayah senang karena sebenci apapun kau pada orang tua ini...
kau masih mau menyebut orang tua ini sebagai ayahmu..
Sekali lagi ayah minta maaf...
apa yang terjadi pada dirimu dan Bou... sepenuhnya adalah salah ayah sendiri. Dan meskipun kau tidak suka, ayah akan tetap mengusahakan agar pihak berwajib tidak menyeretmu ke dalam penjara."
Aki hanya menyunggingkan senyumnya, lebih kepada sunggingan datar yang hanya menganggap ucapan pria tua di dekatnya tak lebih daripada isapan jempol semata.
Terlambat ayah...
Mengapa tidak dari dulu kau melindungiku dan tidak membuatku terjerumus dalam dosa-dosa ini...
Sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu...
Tinggalkan aku sendiri..
Setidaknya biarkanlah aku tetap memandang Bou untuk terakhir kali..
Aki menatap tubuh kecil Bou yang terbujur kaku pada ranjang yang berseberangan dengan ranjang tempatnya dirawat. Bou masih tetap tidak sadarkan diri dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang menopang kehidupannya saat ini. Aki ingin sekali menghampirinya dan memandang wajahnya lebih lama, namun ia tak mampu melakukan itu karena ia merasa bersalah pada sosok kecil itu.
Aku akan pergi Bou..
Aku akan pergi sebelum kau terbangun dan menyadari kepergianku..
Selamanya aku akan tetap menyanyangimu...
* * *
"Apalagi setelah ini Rei.. apa semua ini sudah berakhir?" Tanya Ruki lemah pada sosok Reita yang terus menungguinya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Reita menggeleng. "Aku tidak tahu Ruki. Tapi kita harus pergi dari tempat ini secepat mungkin sebelum polisi bertanya macam-macam dan menyeret kita dalam masalah."
"Melarikan diri lagi? Aku lelah Rei.. aku lelah karena terus melarikan diri dan bersembunyi selama ini."
"Ini untuk terakhir kalinya Ruki. Setelah ini kita tidak akan melarikan diri dan bersembunyi lagi. Kau dan aku akan menjalani kehidupan yang baru."
"Apa aku harus melepas tanggung jawab sebagai penerus Matsumoto?"
Reita mengangguk.
"Tapi mereka akan tetap mengejarku Rei... mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Mereka akan segera mengetahui keberadaanku."
"Apa mereka tahu kau berada di bangunan itu saat kau memerintahkan mereka untuk membakarnya?"
Ruki menggeleng. "Sebenarnya itu caraku agar terlepas dari mereka. Aku ingin mati bersama-sama kalian meskipun akhirnya aku menyesal karena telah melakukan tindakan bodoh itu dan membahayakan nyawa-nyawa lain yang tidak bersalah."
"Tenanglah Ruki... aku akan mengurus segalanya. Aku pastikan bahwa semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja."
Tapi mengapa pikiranmu ragu akan hal itu Rei...
Kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu...
Aku tahu itu Rei..
Kau tentu tidak lupa bahwa saat ini aku masih mampu membaca pikiranmu..
* * *
Beberapa pasang mata saling memandang satu sama lain dalam kebisuan sampai akhirnya hal itu terpecahkan oleh ketidaksengajaan Rika saat menyenggol vas bunga berisi bunga lili dalam ruang rawat inap Nao yang saat ini masih menjalani perawatan pasca operasinya.
Rika salah tingkah saat beberapa pasang mata itu memandang kearahnya, meskipun akhirnya mata-mata itu kembali mengacuhkannya saat Rika mengucap maaf dengan cengiran sok innocentnya.
"Jadi bagaimana sekarang? Siapa yang patut dipersalahkan?" Riku membuka suara dengan gaya bertanya sok bijak yang jadi trademarknya.
"Kurasa itu urusan pihak kepolisian. Yang penting mereka semua selamat." Ucap Akiya.
"Dalam keadaan tidak utuh." Tambah Izumi.
"Maksudnya?" Tanya Chiru dan Rika nyaris bersamaan.
"Kemungkinan besar Yuura akan kehilangan penglihatannya gara-gara peristiwa itu."
"Oh astaga.." Lagi-lagi Chiru dan Rika sama-sama berucap dan menutup mulut mereka karena terkejut.
"Lalu bagaimana dengan para penjahatnya?"
"Penjahat? Maksudmu teman-temannya si Mizuki yah mam?" Tanya Nao yang sedari tadi sibuk menelan bubur yang disuapi oleh Keiyuu.
"Jangan menatapku seolah-olah aku juga terlibat dong!" Protes Mizuki.
"Tapi memang kamu dulu juga salah satu dari penjahat-penjahat itu kan Mizuki?!"
"Hei hei berhentilah menyudutkannya seperti itu Nao. Mizuki sudah berubah sekarang. Kalau bukan karena dia, mungkin semua nyawa tidak bisa diselamatkan." Ucap Riku membela Mizuki.
"Ya ya baiklah... kali ini pahlawannya adalah Mizuki. Seandainya si bibir ekstra monyong ini gak memberitahukan dimana lokasi penyekapan itu, mungkin gak ada cerita happy endingnya ya..." Ucap Chiru.
Tidak ada yang merasa bahagia dengan ucapan Chiru itu. Meski semuanya bisa dikatakan berakhir bahagia, namun ada banyak hal yang masih menyisakan kesedihan di dalamnya.
* * *
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang keadaan aniki Tora??" Hiroto masih menangisi keadaan pria itu dan seperti ingin meninju Saga yang berusaha menenangkannya.
"Maafkan aku Pon.. aku sudah berulang kali ingin memberitahukanmu.. tapi kau malah menghindar seolah tidak ingin mendengar apa-apa lagi menyangkut Tora."
Hiroto menunduk sedih. Saga benar. Selama ini Hiroto memang selalu menghindar saat Saga ingin membicarakan tentang Tora, ia bahkan tidak membiarkan sedikit pun Saga untuk mendekatinya. Hiroto menangis sejadinya dan membiarkan Saga saat memeluknya.
"Tora tidak ingin melihatmu begini Pon... hapus air matamu dan biarkan Tora melihat senyumanmu saat ia membuka mata. Hanya dirimu yang ingin dilihatnya. Setidaknya berikanlah ia kebahagian dan ketenangan di saat-saat terakhirnya."
"Ini tidak sungguh-sungguh kan?! Aku tidak sanggup bila harus kehilangan dirinya.."
Tidak ada yang bisa dikatakan Saga. Sesungguhnya ia sendiri juga tidak ingin mengganggap ini sebagai satu hal yang nyata, meskipun ia tetap harus menerimanya dan mengihklaskan apa yang kelak akan terjadi selanjutnya.
* * *
Satu bulan kemudian.
Hiroto masih menatap nisan itu dan sesekali mengusap air matanya. Ia berjanji pada Tora disaat-saat terakhirnya bahwa ia tidak akan pernah menangisi kepergiaannya, meskipun akhirnya Hiroto tidak bisa membendung perasaan sedihnya dan tetap meneteskan air mata untuk satu-satunya pria yang dicintainya.
Ia hanya sempat mengecap seminggu kebersamaan yang bahagia bersama Tora. Waktu seminggu yang ia manfaatkan sebaik mungkin untuk terus bersama Tora dan menorehkan kenangan-kenangan yang tidak akan pernah mungkin dilupakannya. Hanya ada satu penyesalan dalam diri Hiroto akan kepergian Tora yang begitu cepat.
Bahkan di detik-detik terakhirnya, Hiroto tidak sanggup mengungkapkan perasaannya yang terdalam pada pria itu melalui kata-kata.
"Bagaimana kau tahu perasaanku jika aku tidak pernah memberitahukannya padamu?" Tanya Hiroto pada nisan bertuliskan nama Shinji Amano di hadapannya.
Tepukan ringan mendarat di pundaknya, Hiroto menoleh dan mendapati Saga sudah berada di belakangnya.
"Tora tahu itu semua tanpa kau perlu mengucapkannya. Baginya... perhatian dan kasih sayang yang kau tunjukan melalui perbuatan.. jauh lebih meninggalkan bekas daripada sekedar ucapan. Percayalah.."
Hiroto mengangguk dan memeluk Saga setelah itu. "Aku akan mencintaimu seperti dia seandainya saja kau bukan kakak sedarahku."
"Hahahaa.. benarkah itu?! Tapi tetap saja aku tidak mau dicintai oleh anak ingusan sepertimu Pon.."
Hiroto ikut tertawa setelah itu dan mengangguk saat Saga memintanya meninggalkan makam Tora dan membiarkan pria itu tenang di tempatnya yang baru.
Kau bisa tenang karena aku akan selalu menjaga Hiroto untukmu Tora...
Ucap Saga dalam hati saat memandang nisan Tora untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
* * *
-Flashback-
Dua hari setelah dirawat di rumah sakit, Ruki dan Reita pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Polisi bahkan tidak menanyai keberadaan mereka dan seperti tidak tahu bahwa ada nama Matsumoto Takanori yang menjadi dalang dibalik semua serangkaian kejahatan organisasi hitam yang dijalankan oleh klan Matsumoto secara turun-temurun.
"Sesuai perjanjian, kau serahkan semua aset kekayaan dan bisnis yang kau jalankan termasuk semua kaki tanganmu. Lalu aku yang akan membereskan semuanya setelah itu."
"Apa timbal balik yang akan Ruki dapatkan?" Tanya Reita pada sosok pria tampan penuh wibawa di hadapannya.
Pria itu tersenyum setelah mengepulkan asap cerutunya. "Kau dan Ruki akan memperoleh kehidupan yang baru. Lepas dari semua tuduhan kejahatan dan lepas dari semua kejaran pihak-pihak yang menginginkan kalian."
"Apa kau sungguh-sungguh?" Tanya Reita seperti tidak yakin dengan ucapan pria di hadapannya.
"Kalian tidak percaya padaku?"
"Kami percaya." Ucap Ruki dengan tatapan mata kosong.
"Aku percaya karena selama ini kaulah yang telah memberi perlindungan pada Yuura dan merawat saudara tiriku itu. Hartaku juga miliknya. Dengan kuberikan padamu, anggap saja itu sebagai balas jasa karena kau telah melindunginya hingga saat ini. Aku bisa membaca pikiranmu. Wajahmu memang licik, tapi aku tahu hatimu tulus dan aku yakin segala harta dan aset yang kulimpahkan padamu akan kau gunakan sebaik mungkin di jalan kebaikan."
Pria itu kembali tersenyum dan kali ini mengelus kepala Ruki yang memang bertubuh lebih pendek darinya. "Kau anak yang menarik. Perasaanmu yang peka itu bahkan jauh lebih berharga daripada sekedar penglihatan manusia. Kau buta mata, tapi hatimu tak pernah buta. Pergilah melihat dunia dan temukan kenyataan bahwa setiap pikiran manusia itu tidak selamanya dipenuhi perasaan iri dengki, tamak dan rendah."
"Terima kasih tuan..."
"Pemilik Rumah. Yuura selalu menyebutku seperti itu."
"Baiklah tuan Pemilik Rumah, ada hal lain yang sebenarnya ingin kuminta darimu."
"Apa itu?"
Ruki menghela nafas beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Bebaskan Mao, Tsurugi, Kei dan juga Aki. Aku tahu itu tidak mudah, tapi setidaknya kau bisa memanipulasi agar mereka di penjara dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hilangkan bukti bahwa selama ini mereka telah banyak melakukan pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya. Lakukan juga hal yang sama pada Mizuki, Saga dan juga Uruha. Lalu Yuura...
aku ingin kau mengembalikan penglihatannya."
-Flashback end-
* * *
Pagi yang cerah di rumah kos mami Riku.
Rika dan Chiru seperti biasa sibuk memberi makan kucing-kucingnya, Keiyuu memberi les piano anak tetangga, Mizuki mencuci pirang, Nao masih berbaring dengan alasan masih sakit, Akiya membaca, dan Riku sibuk menghitung cash bon-nya.
Suasana rumah yang tenang itu dikejutkan oleh kedatangan Izumi yang tiba-tiba dan nampak bersemangat seperti biasanya.
"Minna... ada kabar gembira." Ucapnya mengawali. "Yu.. Yuura... hari ini perban matanya akan dilepas."
Kontan saja masing-masing orang ikut bersemangat mendengar itu.
"Hee.. benarkah?!!"
"Iya... tapi..." Izumi kembali lesu.
"Tapi kenapa?" Tanya Chiru bingung.
"Tapi dokter belum bisa memastikan apa operasi itu berhasil membuatnya bisa melihat lagi."
* * *
Yuura menggenggam tangan Kai yang nampak gelisah. "Tidak ada yang lebih penting Kai... bagiku.. memilikimu dan orang-orang lain yang menyayangiku.. lebih berharga daripada sekedar penglihatan mata. Aku tidak akan bersedih meski tetap tak bisa melihat lagi. Itu jauh lebih baik daripada keadaanku beberapa waktu yang lalu."
Kai menggeleng lemah. "Aku yakin kau akan bisa melihat kembali dengan normal karena orang yang menyayangimu sudah berkorban sangat besar demi mengembalikan penglihatanmu."
Yuura sedikit tidak mengerti dengan ucapan Kai, ia ingin mendengar penjelasan lebih panjang tentang ucapan itu, namun dokter dan beberapa perawat sudah lebih dulu datang dan membuatnya menahan kata-kata.
Dokter itu mengucapkan beberapa patah kata, namun Yuura sendiri tidak mampu menangkapnya dengan jelas. Ia sedikit cemas saat dokter itu perlahan membuka perban matanya. Meski tidak masalah kembali menjadi buta, namun hati kecil Yuura tetap berharap ia masih bisa melihat keindahan dunia. Ia masih ingin membaca, masih ingin berjalan-jalan tanpa bantuan orang lain, dan yang lebih terpenting...
Ia masih ingin melihat wajah-wajah orang yang disayanginya.
"Buka matamu secara perlahan." Ucap sang dokter sesaat setelah melepas secara keseluruhan perban mata Yuura.
Kai terus berdoa, di sisinya ada 'Pemilik Rumah' dan beberapa orang yang merupakan kaki tangannya.
Samar-samar dalam tingkat pandangan blur yang sangat tinggi, Yuura berusaha membuka matanya. Awalnya terasa sangat pedih sampai ia merasa lebih baik tidak usah bisa melihat sama sekali. Namun perlahan ia mendapatkan sedikit demi sedikit bayangan yang tergambar.
"Yuura.." Kai memanggilnya.
Pemuda itu hanya menatap kosong tanpa merespon panggilan Kai untuk beberapa saat sampai Kai harus kembali memanggilnya.
"Bagaimana.. apa kamu sudah bisa melihat lagi?" Tanyanya penasaran.
Yuura menunduk diam dengan wajah yang sedih dan membuat Kai semakin bertanya-tanya ada apa dan mengapa. Kai nyaris putus asa karena berpikir kemungkinan buruk Yuura tetap tidak bisa melihat kembali.
Namun Yuura buru-buru mengangkat wajahnya dan tersenyum di hadapan pria itu.
"Aku bisa Kai...
Aku bisa melihat lagi." Ucapnya riang.
Masing-masing orang bisa bernafas lega sekarang. Kai memeluk Yuura dan mengacak rambut bocah itu. "Kamu membuatku cemas saja."
"Syukurlah Yuura." Pemilik Rumah juga turut serta memeluknya.
Dalam suasana kebahagian itu, sosok itu tiba-tiba muncul dengan senyum bahagianya. Ia ingin sekali melihat kebahagian itu, meskipun ia tak mampu melakukannya. Ia hanya bisa bahagia karena merasakan kebahagian itu hadir di tengah-tengahnya.
"Yuura.." Suaranya tercekat nyaris tak dapat keluar karena isak.
Yuura menatapnya, lama dalam diam sampai ia memutuskan beranjak dari posisinya dan menghampiri sosok itu.
Ada yang aneh dengan sosok itu.
Aku di hadapanmu sekarang..
Sangat dekat..
Namun kenapa kau seolah acuh?
Tidak kah kau ingin memelukku?!
"Uru.." Yuura memanggilnya.
Dan itu membuat Uruha sedikit terkejut.
"Kau disini Yuura? Kau di dekatku?" Tangan Uruha berusaha meraba-raba udara, berusaha menggapai Yuura hingga Yuura menyentuh tangannya.
"Kau kenapa?" Tanya Yuura masih tidak mengerti atau tidak mau mengerti dengan keadaan Uru.
Uruha menggeleng. "Tidak apa. Aku baik-baik saja. Sangat baik. Aku senang kau bisa melihat lagi..." Uruha tersenyum dan memeluk tubuh adiknya yang serta merta malah mendorongnya.
"Jangan memelukku! Kau belum menjawab dengan benar pertanyaanku! Kenapa dengan matamu?!!" Tanya Yuura putus asa.
Uruha hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya Kai yang mendekatinya dan berusaha memberitahukan keadaan Uruha saat ini.
"Kakakmu buta Yuura..
Uruha buta karena mendonorkan kornea matanya padamu."
Seketika itu juga wajah Yuura pucat pasi.
Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Kenapa kau lakukan itu?!! Aku tidak butuh kornea matamu!! Aku tidak mau bisa melihat jika harus mengorbankan penglihatanmu!!"
Uruha menggeleng. "Kumohon jangan berkata seperti itu. Aku sudah terlalu banyak bersalah kepadamu. Hanya memberikan penglihatanku, tidak akan menebus semua kesalahanku padamu.."
"Kau kakakku yang bodoh." Yuura akhirnya memeluk sosok itu. Ia tak mampu membendung saat air matanya mengalir membasahi pundak Uru.
* * *
Segala sesuatunya tak kan pernah berarti tanpa adanya kasih sayang.
Kai menemukan kembali keluarganya. Meski tak pernah melihat kedua orang tuanya. Namun seorang laki-laki tua renta datang dan mengaku sebagai ayah dari ayah kandungnya. Dengan kata lain, laki-laki tua renta itu adalah kakeknya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi untuknya adalah..
Kenyataan bahwa kakeknya itu adalah ayah kandung dari 'Pemilik Rumah'.
"Jadi kau ini pamanku ya 'Pemilik Rumah'?"
Pemilik Rumah itu hanya mengacuhkan Kai seolah pertanyaan Kai tidak perlu lagi dijawabnya karena memang sudah jelas adanya.
"Kenapa kau tidak pernah cerita kalau masih memiliki orang tua?" Tanya Kai lagi. Pemilik Rumah itu tetap diam dan masih menekuni kegiatannya membaca harian pagi. Di belakang punggungnya, Yuura juga turut serta membaca.
Putra dari keluarga Yonekura dibebaskan dari penjara karena dinyatakan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam tindak pidana yang dilakukan oleh teman-temannya. Sedangkan Mao, Tsurugi dan Kei dijatuhi pidana 5 tahun penjara karena penculikan dan penganiayaan yang mengakibatkan seorang pria menemui ajalnya.
Pria itu adalah Satochi-san.
Sebenarnya hal itu masih menyisakan penyesalan dalam benak Yuura. Seandainya bukan karena Yuura, pria baik itu tentu tidak menemui ajalnya. Namun perjumpaan Yuura dengan istri mendiang Satochi-san membuatnya sedikit lebih lega.
Wanita itu ihklas melepas kepergian Satochi-san.
Baginya semua itu adalah takdir dan tidak ada satu orang pun yang bisa menghindari takdir.
"Yuura.." Kai menyadarkan Yuura dari lamunan kecilnya. "Uruha memberitahuku bahwa saat ini ia dan Aoi telah sampai di Kanagawa." Ucap Kai.
"Ah benarkah? Kapan dia memberitahumu, Kai?"
"Baru saja saat kamu masih mandi."
"Oh baiklah, aku akan menelponnya." Yuura pergi dengan riang. Sudah tentu ia pergi untuk menelpon kakaknya itu. Uruha memang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kanagawa, tadinya Yuura tidak mau Uruha pergi tapi setelah ia pikir-pikir, mungkin itu memang jalan yang terbaik untuknya. Toh Yuura masih bisa setiap waktu pergi ke Kanagawa untuk menemui kakaknya itu.
"Bocah itu juga ada di Kanagawa saat ini." Akhirnya sang 'Pemilik Rumah' bersuara.
"Bocah?? Bocah siapa yang kau maksud?" Tanya Kai tidak mengerti.
"Saudara Yuura yang lain. Bocah buta yang bisa membaca pikiran."
"Ruki?!!"
"Iya dia."
"Darimana kau ta.."
Ting tong..
Baru saja Kai ingin bertanya, tapi tiba-tiba saja pintu bel rumah berbunyi. Dengan sedikit malas Kai bangkit dari tempat duduknya untuk melihat siapa orang iseng yang berani-beraninya memencet bel 'Pemilik Rumah'.
"Jangan mentang-mentang kau pindah ke rumah yang lebih kecil, lantas tak ada seorang pembantu pun yang kau tarik untuk membukakan pintu." Gerutu Kai.
"Biasanya kau tak pernah mengeluhkan hal itu Kai." Balas 'Pemilik Rumah'.
Kai sebenarnya memang tidak mengeluhkan tidak adanya pembantu di rumah pemilik rumah yang baru. Rumah itu memang lebih kecil dari rumah utamanya, namun suasananya sangat tenang dan damai. Kai dan Yuura sendiri lebih menyukai rumah ini daripada rumah Pemilik Rumah yang sebelumnya.
Baru saja Kai membuka sejengkal pintu itu, namun tiba-tiba saja pintu itu sudah membuka lebar seperti terdorong dari luar. Dan yang membuat Kai lebih terkejut adalah..
Tiba-tiba saja sudah ada yang menabraknya dan membuatnya jatuh mundur ke belakang. Kai tidak sadar dengan apa yang terjadi.
Saat membuka mata, ia kini tengah terbaring di lantai dan ada seorang gadis yang jatuh di atas tubuhnya.
"Uuunggghh... Nao jahat!!! Kenapa tiba-tiba mendorongku?!!!"
Gadis itu terdengar merengek menyalahkan orang yang ia tuduh telah mendorongnya dan jatuh menabrak serta menimpa Kai di bawahnya.
"Astaga.. Rika... kamu baik-baik aja kan...?!!"
Gadis itu tampak mengusap-ngusap mata dan perlahan membuka matanya. Sementara Kai sendiri nyaris tak berkedip saat menatapnya, dan tidak ada pula keinginannya untuk menyingkirkan gadis itu dari atas tubuhnya.
Butuh tiga detik -setelah membuka mata- gadis itu akhirnya sadar akan posisinya.
Wajah terkejutnya membuat Kai merasa gadis itu sangat lucu.
"Ma... maafkan aku..." Ucapnya seperti ingin menangis. "A...ku.. tidak sengaja.. me..nimpa..mu.."
Kai justru tertawa melihat wajah penyesalannya. "Tidak apa nona.. hanya kecelakaan." Ucap Kai seraya menunjukkan senyum termanisnya.
Gadis itu buru-buru bangkit dari atas tubuhnya dan berlari ke belakang teman-temannya.
"Kamu kenapa sih Ka??"
"A- aku malu..." Bisik gadis itu pada teman yang menanyainya.
"Hehehee.. maafkan kami ya Kai-kun.. sori nih udah bikin kamu kejatuhan nangka busuk." Ucap Nao cengar-cengir tanpa ada perasaan bersalah. Rika kontan saja melempar alas kaki yang dipakainya kearah Nao, meskipun akhirnya alas kaki itu malah mengenai Kai dan membuat Rika lebih malu lagi.
* * *
"Terima kasih ya kalian mau datang mengunjungiku." Ucap Yuura ramah.
"Hahahaa sama-sama. Kebetulan kami ingin melihat tempat tinggalmu yang baru dan kebetulan juga letaknya dekat dengan rumah kos kita. Benar begitu kan teman-teman?!!" Tanya Nao pada teman-temannya yang lain.
Semua mengiyakan. Namun ada satu yang hanya menundukkan wajahnya malu-malu.
"Rika-san kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya Kai saat memandang lekat gadis itu.
Rika menggelengkan kepalanya lemah.
"Haduh-haduh.. sawan nih keaknya si Rika. Kudu disembur mbah dukun." Ucap Chiru terkikik geli.
"Sawan??"
"Hehehee.. bukan apa-apa kok Yutaka-san. Biasalah, Rika emang kadang-kadang kumat penyakit anehnya." Tambah Keiyuu.
"Hah?!! Jadi kau bener-benar sakit Rika-san??"
Rika baru saja ingin menggeleng, namun Kai sudah lebih dulu menarik tangannya dan memaksa membawa gadis itu ketempat yang lebih nyaman untuk berisitirahat.
"Wedeh mau dibawa kemana tuh si nyai Dasima??" Tanya Nao bisik-bisik pada Chiru.
"Gara-gara kamu sih Nao pake dorong-dorong. Makanya sekarang ada yang doki doki aishiteru yo." Balas Chiru bisik-bisik.
"Memangnya selama ini Rika belum pernah ya ketemu sama orang yang namanya Kai itu?? Kok baru sekarang doki-dokinya?!"
"Wah benar juga ya Kei. Kenapa kok baru sekarang mereka ketemunya ya...??"
"Umm.. kalian bisik-bisik apa ya..?" Tanya Yuura bingung.
Dan ketiga gerombolan siberat yang gak lain adalah Nao, Chiru dan Keiyuu itu langsung cengar-cengir gejeh.
Gak lama kemudian bel kembali berbunyi. Yuura permisi untuk membukakan pintu dan kemudian kembali dengan membawa Mizuki, Akiya, Izumi, Hiroto dan Saga.
"Hei kenapa kalian juga menyusul kemari?" Tanya Nao pada mereka.
"Memangnya gak boleh? Kami diundang makan siang oleh Pemilik Rumah!" Seru Izumi.
"Wah jangan-jangan kita mau disuguhi liver manusia ya..."
"Liver mu lah yang akan aku suguhkan anak muda." Ucap Pemilik Rumah yang tiba-tiba datang dan menghampiri Nao sambil membawa sebuah katana panjang ala samurai penyamun.
Nao berjengit dan loncat ke belakang Yuura, sementara yang lainnya hanya terkikik geli.
* * *
Di lain tempat, saat ini Bou sedang dipenuhi pikiran suntuknya.
Sejak Aki dipenjara, nampaknya tidak ada lagi hal menarik yang ada di hidupnya. Kanon sendiri tidak bisa menghiburnya dan malah pergi untuk membiarkan Bou tenang seorang diri.
"Kapan kau pulang aniki...?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ia tahu pertanyaan itu tak mungkin terjawab, namun ia tak pernah menyangka bahkan sedikit pun tak menduga saat tangan itu melingkar memeluknya dari belakang bersamaan dengan kecupan hangat di lehernya.
"Aku kembali Bou..."
Bou membalik tubuhnya secepat yang ia bisa. Dan alangkah girangnya ia saat mendapati sosok Aki yang tengah memeluknya.
"Apa kau kabur dari penjara Aniki??"
"Bodoh! Mana mungkin begitu. Tentu saja ayah yang membebaskanku."
"Hah?!! Benarkah seperti itu??" Bou terus bertanya seolah masih tidak percaya. Namun Aki tidak menjawab atau tidak ada keinginan untuk menjawab karena ia lebih berhasrat untuk menghadiahi Bou sebuah kecupan yang hangat di bibirnya.
Di balik itu semua, Kanon tanpa sengaja melihat kebahagian Bou dan Aki tersebut. Hatinya memang sakit, namun lebih daripada itu, ia kini bahagia karena mengetahui Bou bahagia dengan orang yang disayanginya.
* * *
Kanagawa, siang hari.
Semuanya tetap terasa gelap meski cahaya matahari menyorot silau melewati jendela dan menyinari wajahnya.
"Aku tak percaya kau memilih buta demi Yuura, Uruha."
"Kita sekarang sama saja Ruki. Aku jadi sedikit mengerti duniamu dalam kegelapan ini."
"Tidak sepenuhnya. Kau tetap tidak memahami hal-hal lain tentang diriku. Aku tahu kau masih membenciku karena aku membuatmu membenci Yuura dan membunuh ayah kita."
"Aku memang masih membencimu. Tapi aku akan belajar memaafkanmu seperti kau belajar memaafkan kesalahanku padamu di masa lalu. Mari kita mulai kehidupan baru. Reita sebagai matamu dan Aoi sebagai mataku."
"Aku sepakat dengan itu." Ruki pergi dari hadapan Uruha dengan menggapai tangan Reita.
Semuanya telah berakhir, namun bagi Ruki...
Kehidupannya baru dimulai hari ini.
* * *
Nanairo CRAYON =Finish=
Part: 17
Author: -Keka-
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, Sadie, An Cafe n more…
* * *
Ia masih setengah sadar dan mendengar saat beberapa orang sibuk mengangkat tubuhnya dan membawanya dengan ambulan yang meraung-raung di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tidak ada yang mampu dilihatnya selain bayangan tubuh Uruha saat ingin dijilat oleh api dan tertumbuk runtuhan bangunan. Matanya sangat perih saat ini. Ia sampai ingin mencongkelnya agar penderitaannya berakhir. Namun ia tak sanggup melakukan itu karena perlahan mulai tak sadarkan diri dan tak mampu mengingat apa-apa lagi.
...
"Ini salahku... aku yang membuatnya begitu..."
"Ssstt.. jangan ucapkan apa-apa lagi. Dia akan selamat. Kau harus percaya itu." Dekapan hangat memberinya sedikit ketenangan meskipun tak sepenuhnya ia merasa tenang.
"Aoi... aku pantas mati karena ini." Uruha tampak menyesali diri, namun lagi-lagi Aoi menghentikan ucapannya dan memeluk pria itu lebih erat lagi.
"Bukan sepenuhnya salahmu Uru... berhentilah membicarakan kematian."
Uruha menangis dalam dekapan itu. Sesuatu yang tidak pernah ia pernah bayangkan selama ini. Tangisan penyesalan. Ia yakin tidak pernah akan melakukannya karena ia selalu yakin dengan pikirannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tidak pernah ia bayangkan bahwa tujuan hidupnya untuk menghabisi nyawa Yuura justru berbalik membuatnya menyesali semua kebencian pada satu-satunya orang yang bisa ia sebut adik.
* * *
"Dia akan buta."
Ucapan 'Pemilik Rumah' membuat Kai terhenyak di tempat tidurnya. Kai mendapat beberapa luka di tubuhnya dan harus mendapat perawatan terutama karena ia telah menghirup cukup banyak gas beracun yang melemaskan tubuhnya. Tapi itu tidak menjadi masalah yang besar untukknya, setidaknya tidak lebih mengejutkan daripada menerima kenyataan bahwa Yuura akan buta.
"Apa tidak ada yang bisa dilakukan dokter-dokter itu untuk menyembuhkan matanya?"
'Pemilik Rumah' menggeleng. "Maaf sekali Kai... mata Yuura sudah terlalu rusak untuk bisa disembuhkan. Nyawanya selamat saja sudah bisa dikatakan sebagai keajaiban. Tubuhnya mengalami luka bakar yang cukup serius. Aku sudah memastikan dia memperoleh perawatan yang terbaik agar luka bakar itu tidak membekas di tubuhnya. Tapi sekali lagi maaf atas matanya..."
Raut kesedihan tergambar pada wajah Kai. Ia menyesal karena membiarkan Yuura mengalami nasib naas itu, namun saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Yuura.
* * *
Saga memaksa bangkit dari tempat tidurnya meskipun saat ini tubuhnya masih lemas untuk dipaksa berjalan-jalan. Ada yang sangat dicemaskannya.
Tora...
Bagaimana keadaannya sekarang..
Dia dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana reaksinya jika dia tahu Hiroto juga ada disini karena aku tidak becus melindunginya..
Hiroto harus terlibat masalah ini gara-gara aku..
Maafkan aku Tora...
Saga meraih kenop pintu ruangan, tempat dimana Tora yang sekarat menjalani perawatan menjelang hari-hari terakhirnya. Ia mendengar suara sesenggukan disana. Seseorang sudah lebih mendahuluinya dan menangisi diri Tora.
Siapa??
Belum sempat Saga mencari tahu jawaban itu dengan pikirannya, ia lebih dulu mendapat jawaban dari penglihatannya. Sosok bertubuh kecil dengan wajah terkesan innocent itu saat ini tak henti menangis dan menggenggam tangan Tora seraya menenggelamkan wajahnya di dada Tora yang kini terbujur lemah.
"Hiroto..."
* * *
Pria tua itu menghembuskan nafasnya dengan berat saat menatap Aki yang memalingkan wajah darinya.
"Ayah datang bukan ingin menghakimimu...mengertilah Aki... ayah hanya ingin menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku? Menyelamatkanku dari apa?! Aku yakin ayah hanya ingin menyelamatkan diri ayah sendiri. Ayah malu kan kalau semua orang tahu aku terlibat dalam kasus ini, terlebih karena aku yang tak lain adalah anak ayah yang seharusnya mewarisi semua kehebatan ayah, ternyata hanyalah seorang kriminal yang telah banyak melakukan tindak kejahatan."
Pria itu kembali menghembuskan nafasnya dengan berat dan menjulurkan perlahan tangannya yang keriput seperti ingin menyentuh kening Aki, meskipun ia tidak jadi melakukannya dan kembali menarik tangan itu untuk ia sembunyikan di balik saku jasnya.
"Aki...
ayah senang karena sebenci apapun kau pada orang tua ini...
kau masih mau menyebut orang tua ini sebagai ayahmu..
Sekali lagi ayah minta maaf...
apa yang terjadi pada dirimu dan Bou... sepenuhnya adalah salah ayah sendiri. Dan meskipun kau tidak suka, ayah akan tetap mengusahakan agar pihak berwajib tidak menyeretmu ke dalam penjara."
Aki hanya menyunggingkan senyumnya, lebih kepada sunggingan datar yang hanya menganggap ucapan pria tua di dekatnya tak lebih daripada isapan jempol semata.
Terlambat ayah...
Mengapa tidak dari dulu kau melindungiku dan tidak membuatku terjerumus dalam dosa-dosa ini...
Sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu...
Tinggalkan aku sendiri..
Setidaknya biarkanlah aku tetap memandang Bou untuk terakhir kali..
Aki menatap tubuh kecil Bou yang terbujur kaku pada ranjang yang berseberangan dengan ranjang tempatnya dirawat. Bou masih tetap tidak sadarkan diri dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang menopang kehidupannya saat ini. Aki ingin sekali menghampirinya dan memandang wajahnya lebih lama, namun ia tak mampu melakukan itu karena ia merasa bersalah pada sosok kecil itu.
Aku akan pergi Bou..
Aku akan pergi sebelum kau terbangun dan menyadari kepergianku..
Selamanya aku akan tetap menyanyangimu...
* * *
"Apalagi setelah ini Rei.. apa semua ini sudah berakhir?" Tanya Ruki lemah pada sosok Reita yang terus menungguinya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Reita menggeleng. "Aku tidak tahu Ruki. Tapi kita harus pergi dari tempat ini secepat mungkin sebelum polisi bertanya macam-macam dan menyeret kita dalam masalah."
"Melarikan diri lagi? Aku lelah Rei.. aku lelah karena terus melarikan diri dan bersembunyi selama ini."
"Ini untuk terakhir kalinya Ruki. Setelah ini kita tidak akan melarikan diri dan bersembunyi lagi. Kau dan aku akan menjalani kehidupan yang baru."
"Apa aku harus melepas tanggung jawab sebagai penerus Matsumoto?"
Reita mengangguk.
"Tapi mereka akan tetap mengejarku Rei... mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Mereka akan segera mengetahui keberadaanku."
"Apa mereka tahu kau berada di bangunan itu saat kau memerintahkan mereka untuk membakarnya?"
Ruki menggeleng. "Sebenarnya itu caraku agar terlepas dari mereka. Aku ingin mati bersama-sama kalian meskipun akhirnya aku menyesal karena telah melakukan tindakan bodoh itu dan membahayakan nyawa-nyawa lain yang tidak bersalah."
"Tenanglah Ruki... aku akan mengurus segalanya. Aku pastikan bahwa semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja."
Tapi mengapa pikiranmu ragu akan hal itu Rei...
Kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu...
Aku tahu itu Rei..
Kau tentu tidak lupa bahwa saat ini aku masih mampu membaca pikiranmu..
* * *
Beberapa pasang mata saling memandang satu sama lain dalam kebisuan sampai akhirnya hal itu terpecahkan oleh ketidaksengajaan Rika saat menyenggol vas bunga berisi bunga lili dalam ruang rawat inap Nao yang saat ini masih menjalani perawatan pasca operasinya.
Rika salah tingkah saat beberapa pasang mata itu memandang kearahnya, meskipun akhirnya mata-mata itu kembali mengacuhkannya saat Rika mengucap maaf dengan cengiran sok innocentnya.
"Jadi bagaimana sekarang? Siapa yang patut dipersalahkan?" Riku membuka suara dengan gaya bertanya sok bijak yang jadi trademarknya.
"Kurasa itu urusan pihak kepolisian. Yang penting mereka semua selamat." Ucap Akiya.
"Dalam keadaan tidak utuh." Tambah Izumi.
"Maksudnya?" Tanya Chiru dan Rika nyaris bersamaan.
"Kemungkinan besar Yuura akan kehilangan penglihatannya gara-gara peristiwa itu."
"Oh astaga.." Lagi-lagi Chiru dan Rika sama-sama berucap dan menutup mulut mereka karena terkejut.
"Lalu bagaimana dengan para penjahatnya?"
"Penjahat? Maksudmu teman-temannya si Mizuki yah mam?" Tanya Nao yang sedari tadi sibuk menelan bubur yang disuapi oleh Keiyuu.
"Jangan menatapku seolah-olah aku juga terlibat dong!" Protes Mizuki.
"Tapi memang kamu dulu juga salah satu dari penjahat-penjahat itu kan Mizuki?!"
"Hei hei berhentilah menyudutkannya seperti itu Nao. Mizuki sudah berubah sekarang. Kalau bukan karena dia, mungkin semua nyawa tidak bisa diselamatkan." Ucap Riku membela Mizuki.
"Ya ya baiklah... kali ini pahlawannya adalah Mizuki. Seandainya si bibir ekstra monyong ini gak memberitahukan dimana lokasi penyekapan itu, mungkin gak ada cerita happy endingnya ya..." Ucap Chiru.
Tidak ada yang merasa bahagia dengan ucapan Chiru itu. Meski semuanya bisa dikatakan berakhir bahagia, namun ada banyak hal yang masih menyisakan kesedihan di dalamnya.
* * *
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang keadaan aniki Tora??" Hiroto masih menangisi keadaan pria itu dan seperti ingin meninju Saga yang berusaha menenangkannya.
"Maafkan aku Pon.. aku sudah berulang kali ingin memberitahukanmu.. tapi kau malah menghindar seolah tidak ingin mendengar apa-apa lagi menyangkut Tora."
Hiroto menunduk sedih. Saga benar. Selama ini Hiroto memang selalu menghindar saat Saga ingin membicarakan tentang Tora, ia bahkan tidak membiarkan sedikit pun Saga untuk mendekatinya. Hiroto menangis sejadinya dan membiarkan Saga saat memeluknya.
"Tora tidak ingin melihatmu begini Pon... hapus air matamu dan biarkan Tora melihat senyumanmu saat ia membuka mata. Hanya dirimu yang ingin dilihatnya. Setidaknya berikanlah ia kebahagian dan ketenangan di saat-saat terakhirnya."
"Ini tidak sungguh-sungguh kan?! Aku tidak sanggup bila harus kehilangan dirinya.."
Tidak ada yang bisa dikatakan Saga. Sesungguhnya ia sendiri juga tidak ingin mengganggap ini sebagai satu hal yang nyata, meskipun ia tetap harus menerimanya dan mengihklaskan apa yang kelak akan terjadi selanjutnya.
* * *
Satu bulan kemudian.
Hiroto masih menatap nisan itu dan sesekali mengusap air matanya. Ia berjanji pada Tora disaat-saat terakhirnya bahwa ia tidak akan pernah menangisi kepergiaannya, meskipun akhirnya Hiroto tidak bisa membendung perasaan sedihnya dan tetap meneteskan air mata untuk satu-satunya pria yang dicintainya.
Ia hanya sempat mengecap seminggu kebersamaan yang bahagia bersama Tora. Waktu seminggu yang ia manfaatkan sebaik mungkin untuk terus bersama Tora dan menorehkan kenangan-kenangan yang tidak akan pernah mungkin dilupakannya. Hanya ada satu penyesalan dalam diri Hiroto akan kepergian Tora yang begitu cepat.
Bahkan di detik-detik terakhirnya, Hiroto tidak sanggup mengungkapkan perasaannya yang terdalam pada pria itu melalui kata-kata.
"Bagaimana kau tahu perasaanku jika aku tidak pernah memberitahukannya padamu?" Tanya Hiroto pada nisan bertuliskan nama Shinji Amano di hadapannya.
Tepukan ringan mendarat di pundaknya, Hiroto menoleh dan mendapati Saga sudah berada di belakangnya.
"Tora tahu itu semua tanpa kau perlu mengucapkannya. Baginya... perhatian dan kasih sayang yang kau tunjukan melalui perbuatan.. jauh lebih meninggalkan bekas daripada sekedar ucapan. Percayalah.."
Hiroto mengangguk dan memeluk Saga setelah itu. "Aku akan mencintaimu seperti dia seandainya saja kau bukan kakak sedarahku."
"Hahahaa.. benarkah itu?! Tapi tetap saja aku tidak mau dicintai oleh anak ingusan sepertimu Pon.."
Hiroto ikut tertawa setelah itu dan mengangguk saat Saga memintanya meninggalkan makam Tora dan membiarkan pria itu tenang di tempatnya yang baru.
Kau bisa tenang karena aku akan selalu menjaga Hiroto untukmu Tora...
Ucap Saga dalam hati saat memandang nisan Tora untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
* * *
-Flashback-
Dua hari setelah dirawat di rumah sakit, Ruki dan Reita pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Polisi bahkan tidak menanyai keberadaan mereka dan seperti tidak tahu bahwa ada nama Matsumoto Takanori yang menjadi dalang dibalik semua serangkaian kejahatan organisasi hitam yang dijalankan oleh klan Matsumoto secara turun-temurun.
"Sesuai perjanjian, kau serahkan semua aset kekayaan dan bisnis yang kau jalankan termasuk semua kaki tanganmu. Lalu aku yang akan membereskan semuanya setelah itu."
"Apa timbal balik yang akan Ruki dapatkan?" Tanya Reita pada sosok pria tampan penuh wibawa di hadapannya.
Pria itu tersenyum setelah mengepulkan asap cerutunya. "Kau dan Ruki akan memperoleh kehidupan yang baru. Lepas dari semua tuduhan kejahatan dan lepas dari semua kejaran pihak-pihak yang menginginkan kalian."
"Apa kau sungguh-sungguh?" Tanya Reita seperti tidak yakin dengan ucapan pria di hadapannya.
"Kalian tidak percaya padaku?"
"Kami percaya." Ucap Ruki dengan tatapan mata kosong.
"Aku percaya karena selama ini kaulah yang telah memberi perlindungan pada Yuura dan merawat saudara tiriku itu. Hartaku juga miliknya. Dengan kuberikan padamu, anggap saja itu sebagai balas jasa karena kau telah melindunginya hingga saat ini. Aku bisa membaca pikiranmu. Wajahmu memang licik, tapi aku tahu hatimu tulus dan aku yakin segala harta dan aset yang kulimpahkan padamu akan kau gunakan sebaik mungkin di jalan kebaikan."
Pria itu kembali tersenyum dan kali ini mengelus kepala Ruki yang memang bertubuh lebih pendek darinya. "Kau anak yang menarik. Perasaanmu yang peka itu bahkan jauh lebih berharga daripada sekedar penglihatan manusia. Kau buta mata, tapi hatimu tak pernah buta. Pergilah melihat dunia dan temukan kenyataan bahwa setiap pikiran manusia itu tidak selamanya dipenuhi perasaan iri dengki, tamak dan rendah."
"Terima kasih tuan..."
"Pemilik Rumah. Yuura selalu menyebutku seperti itu."
"Baiklah tuan Pemilik Rumah, ada hal lain yang sebenarnya ingin kuminta darimu."
"Apa itu?"
Ruki menghela nafas beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Bebaskan Mao, Tsurugi, Kei dan juga Aki. Aku tahu itu tidak mudah, tapi setidaknya kau bisa memanipulasi agar mereka di penjara dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hilangkan bukti bahwa selama ini mereka telah banyak melakukan pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya. Lakukan juga hal yang sama pada Mizuki, Saga dan juga Uruha. Lalu Yuura...
aku ingin kau mengembalikan penglihatannya."
-Flashback end-
* * *
Pagi yang cerah di rumah kos mami Riku.
Rika dan Chiru seperti biasa sibuk memberi makan kucing-kucingnya, Keiyuu memberi les piano anak tetangga, Mizuki mencuci pirang, Nao masih berbaring dengan alasan masih sakit, Akiya membaca, dan Riku sibuk menghitung cash bon-nya.
Suasana rumah yang tenang itu dikejutkan oleh kedatangan Izumi yang tiba-tiba dan nampak bersemangat seperti biasanya.
"Minna... ada kabar gembira." Ucapnya mengawali. "Yu.. Yuura... hari ini perban matanya akan dilepas."
Kontan saja masing-masing orang ikut bersemangat mendengar itu.
"Hee.. benarkah?!!"
"Iya... tapi..." Izumi kembali lesu.
"Tapi kenapa?" Tanya Chiru bingung.
"Tapi dokter belum bisa memastikan apa operasi itu berhasil membuatnya bisa melihat lagi."
* * *
Yuura menggenggam tangan Kai yang nampak gelisah. "Tidak ada yang lebih penting Kai... bagiku.. memilikimu dan orang-orang lain yang menyayangiku.. lebih berharga daripada sekedar penglihatan mata. Aku tidak akan bersedih meski tetap tak bisa melihat lagi. Itu jauh lebih baik daripada keadaanku beberapa waktu yang lalu."
Kai menggeleng lemah. "Aku yakin kau akan bisa melihat kembali dengan normal karena orang yang menyayangimu sudah berkorban sangat besar demi mengembalikan penglihatanmu."
Yuura sedikit tidak mengerti dengan ucapan Kai, ia ingin mendengar penjelasan lebih panjang tentang ucapan itu, namun dokter dan beberapa perawat sudah lebih dulu datang dan membuatnya menahan kata-kata.
Dokter itu mengucapkan beberapa patah kata, namun Yuura sendiri tidak mampu menangkapnya dengan jelas. Ia sedikit cemas saat dokter itu perlahan membuka perban matanya. Meski tidak masalah kembali menjadi buta, namun hati kecil Yuura tetap berharap ia masih bisa melihat keindahan dunia. Ia masih ingin membaca, masih ingin berjalan-jalan tanpa bantuan orang lain, dan yang lebih terpenting...
Ia masih ingin melihat wajah-wajah orang yang disayanginya.
"Buka matamu secara perlahan." Ucap sang dokter sesaat setelah melepas secara keseluruhan perban mata Yuura.
Kai terus berdoa, di sisinya ada 'Pemilik Rumah' dan beberapa orang yang merupakan kaki tangannya.
Samar-samar dalam tingkat pandangan blur yang sangat tinggi, Yuura berusaha membuka matanya. Awalnya terasa sangat pedih sampai ia merasa lebih baik tidak usah bisa melihat sama sekali. Namun perlahan ia mendapatkan sedikit demi sedikit bayangan yang tergambar.
"Yuura.." Kai memanggilnya.
Pemuda itu hanya menatap kosong tanpa merespon panggilan Kai untuk beberapa saat sampai Kai harus kembali memanggilnya.
"Bagaimana.. apa kamu sudah bisa melihat lagi?" Tanyanya penasaran.
Yuura menunduk diam dengan wajah yang sedih dan membuat Kai semakin bertanya-tanya ada apa dan mengapa. Kai nyaris putus asa karena berpikir kemungkinan buruk Yuura tetap tidak bisa melihat kembali.
Namun Yuura buru-buru mengangkat wajahnya dan tersenyum di hadapan pria itu.
"Aku bisa Kai...
Aku bisa melihat lagi." Ucapnya riang.
Masing-masing orang bisa bernafas lega sekarang. Kai memeluk Yuura dan mengacak rambut bocah itu. "Kamu membuatku cemas saja."
"Syukurlah Yuura." Pemilik Rumah juga turut serta memeluknya.
Dalam suasana kebahagian itu, sosok itu tiba-tiba muncul dengan senyum bahagianya. Ia ingin sekali melihat kebahagian itu, meskipun ia tak mampu melakukannya. Ia hanya bisa bahagia karena merasakan kebahagian itu hadir di tengah-tengahnya.
"Yuura.." Suaranya tercekat nyaris tak dapat keluar karena isak.
Yuura menatapnya, lama dalam diam sampai ia memutuskan beranjak dari posisinya dan menghampiri sosok itu.
Ada yang aneh dengan sosok itu.
Aku di hadapanmu sekarang..
Sangat dekat..
Namun kenapa kau seolah acuh?
Tidak kah kau ingin memelukku?!
"Uru.." Yuura memanggilnya.
Dan itu membuat Uruha sedikit terkejut.
"Kau disini Yuura? Kau di dekatku?" Tangan Uruha berusaha meraba-raba udara, berusaha menggapai Yuura hingga Yuura menyentuh tangannya.
"Kau kenapa?" Tanya Yuura masih tidak mengerti atau tidak mau mengerti dengan keadaan Uru.
Uruha menggeleng. "Tidak apa. Aku baik-baik saja. Sangat baik. Aku senang kau bisa melihat lagi..." Uruha tersenyum dan memeluk tubuh adiknya yang serta merta malah mendorongnya.
"Jangan memelukku! Kau belum menjawab dengan benar pertanyaanku! Kenapa dengan matamu?!!" Tanya Yuura putus asa.
Uruha hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya Kai yang mendekatinya dan berusaha memberitahukan keadaan Uruha saat ini.
"Kakakmu buta Yuura..
Uruha buta karena mendonorkan kornea matanya padamu."
Seketika itu juga wajah Yuura pucat pasi.
Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Kenapa kau lakukan itu?!! Aku tidak butuh kornea matamu!! Aku tidak mau bisa melihat jika harus mengorbankan penglihatanmu!!"
Uruha menggeleng. "Kumohon jangan berkata seperti itu. Aku sudah terlalu banyak bersalah kepadamu. Hanya memberikan penglihatanku, tidak akan menebus semua kesalahanku padamu.."
"Kau kakakku yang bodoh." Yuura akhirnya memeluk sosok itu. Ia tak mampu membendung saat air matanya mengalir membasahi pundak Uru.
* * *
Segala sesuatunya tak kan pernah berarti tanpa adanya kasih sayang.
Kai menemukan kembali keluarganya. Meski tak pernah melihat kedua orang tuanya. Namun seorang laki-laki tua renta datang dan mengaku sebagai ayah dari ayah kandungnya. Dengan kata lain, laki-laki tua renta itu adalah kakeknya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi untuknya adalah..
Kenyataan bahwa kakeknya itu adalah ayah kandung dari 'Pemilik Rumah'.
"Jadi kau ini pamanku ya 'Pemilik Rumah'?"
Pemilik Rumah itu hanya mengacuhkan Kai seolah pertanyaan Kai tidak perlu lagi dijawabnya karena memang sudah jelas adanya.
"Kenapa kau tidak pernah cerita kalau masih memiliki orang tua?" Tanya Kai lagi. Pemilik Rumah itu tetap diam dan masih menekuni kegiatannya membaca harian pagi. Di belakang punggungnya, Yuura juga turut serta membaca.
Putra dari keluarga Yonekura dibebaskan dari penjara karena dinyatakan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam tindak pidana yang dilakukan oleh teman-temannya. Sedangkan Mao, Tsurugi dan Kei dijatuhi pidana 5 tahun penjara karena penculikan dan penganiayaan yang mengakibatkan seorang pria menemui ajalnya.
Pria itu adalah Satochi-san.
Sebenarnya hal itu masih menyisakan penyesalan dalam benak Yuura. Seandainya bukan karena Yuura, pria baik itu tentu tidak menemui ajalnya. Namun perjumpaan Yuura dengan istri mendiang Satochi-san membuatnya sedikit lebih lega.
Wanita itu ihklas melepas kepergian Satochi-san.
Baginya semua itu adalah takdir dan tidak ada satu orang pun yang bisa menghindari takdir.
"Yuura.." Kai menyadarkan Yuura dari lamunan kecilnya. "Uruha memberitahuku bahwa saat ini ia dan Aoi telah sampai di Kanagawa." Ucap Kai.
"Ah benarkah? Kapan dia memberitahumu, Kai?"
"Baru saja saat kamu masih mandi."
"Oh baiklah, aku akan menelponnya." Yuura pergi dengan riang. Sudah tentu ia pergi untuk menelpon kakaknya itu. Uruha memang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kanagawa, tadinya Yuura tidak mau Uruha pergi tapi setelah ia pikir-pikir, mungkin itu memang jalan yang terbaik untuknya. Toh Yuura masih bisa setiap waktu pergi ke Kanagawa untuk menemui kakaknya itu.
"Bocah itu juga ada di Kanagawa saat ini." Akhirnya sang 'Pemilik Rumah' bersuara.
"Bocah?? Bocah siapa yang kau maksud?" Tanya Kai tidak mengerti.
"Saudara Yuura yang lain. Bocah buta yang bisa membaca pikiran."
"Ruki?!!"
"Iya dia."
"Darimana kau ta.."
Ting tong..
Baru saja Kai ingin bertanya, tapi tiba-tiba saja pintu bel rumah berbunyi. Dengan sedikit malas Kai bangkit dari tempat duduknya untuk melihat siapa orang iseng yang berani-beraninya memencet bel 'Pemilik Rumah'.
"Jangan mentang-mentang kau pindah ke rumah yang lebih kecil, lantas tak ada seorang pembantu pun yang kau tarik untuk membukakan pintu." Gerutu Kai.
"Biasanya kau tak pernah mengeluhkan hal itu Kai." Balas 'Pemilik Rumah'.
Kai sebenarnya memang tidak mengeluhkan tidak adanya pembantu di rumah pemilik rumah yang baru. Rumah itu memang lebih kecil dari rumah utamanya, namun suasananya sangat tenang dan damai. Kai dan Yuura sendiri lebih menyukai rumah ini daripada rumah Pemilik Rumah yang sebelumnya.
Baru saja Kai membuka sejengkal pintu itu, namun tiba-tiba saja pintu itu sudah membuka lebar seperti terdorong dari luar. Dan yang membuat Kai lebih terkejut adalah..
Tiba-tiba saja sudah ada yang menabraknya dan membuatnya jatuh mundur ke belakang. Kai tidak sadar dengan apa yang terjadi.
Saat membuka mata, ia kini tengah terbaring di lantai dan ada seorang gadis yang jatuh di atas tubuhnya.
"Uuunggghh... Nao jahat!!! Kenapa tiba-tiba mendorongku?!!!"
Gadis itu terdengar merengek menyalahkan orang yang ia tuduh telah mendorongnya dan jatuh menabrak serta menimpa Kai di bawahnya.
"Astaga.. Rika... kamu baik-baik aja kan...?!!"
Gadis itu tampak mengusap-ngusap mata dan perlahan membuka matanya. Sementara Kai sendiri nyaris tak berkedip saat menatapnya, dan tidak ada pula keinginannya untuk menyingkirkan gadis itu dari atas tubuhnya.
Butuh tiga detik -setelah membuka mata- gadis itu akhirnya sadar akan posisinya.
Wajah terkejutnya membuat Kai merasa gadis itu sangat lucu.
"Ma... maafkan aku..." Ucapnya seperti ingin menangis. "A...ku.. tidak sengaja.. me..nimpa..mu.."
Kai justru tertawa melihat wajah penyesalannya. "Tidak apa nona.. hanya kecelakaan." Ucap Kai seraya menunjukkan senyum termanisnya.
Gadis itu buru-buru bangkit dari atas tubuhnya dan berlari ke belakang teman-temannya.
"Kamu kenapa sih Ka??"
"A- aku malu..." Bisik gadis itu pada teman yang menanyainya.
"Hehehee.. maafkan kami ya Kai-kun.. sori nih udah bikin kamu kejatuhan nangka busuk." Ucap Nao cengar-cengir tanpa ada perasaan bersalah. Rika kontan saja melempar alas kaki yang dipakainya kearah Nao, meskipun akhirnya alas kaki itu malah mengenai Kai dan membuat Rika lebih malu lagi.
* * *
"Terima kasih ya kalian mau datang mengunjungiku." Ucap Yuura ramah.
"Hahahaa sama-sama. Kebetulan kami ingin melihat tempat tinggalmu yang baru dan kebetulan juga letaknya dekat dengan rumah kos kita. Benar begitu kan teman-teman?!!" Tanya Nao pada teman-temannya yang lain.
Semua mengiyakan. Namun ada satu yang hanya menundukkan wajahnya malu-malu.
"Rika-san kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya Kai saat memandang lekat gadis itu.
Rika menggelengkan kepalanya lemah.
"Haduh-haduh.. sawan nih keaknya si Rika. Kudu disembur mbah dukun." Ucap Chiru terkikik geli.
"Sawan??"
"Hehehee.. bukan apa-apa kok Yutaka-san. Biasalah, Rika emang kadang-kadang kumat penyakit anehnya." Tambah Keiyuu.
"Hah?!! Jadi kau bener-benar sakit Rika-san??"
Rika baru saja ingin menggeleng, namun Kai sudah lebih dulu menarik tangannya dan memaksa membawa gadis itu ketempat yang lebih nyaman untuk berisitirahat.
"Wedeh mau dibawa kemana tuh si nyai Dasima??" Tanya Nao bisik-bisik pada Chiru.
"Gara-gara kamu sih Nao pake dorong-dorong. Makanya sekarang ada yang doki doki aishiteru yo." Balas Chiru bisik-bisik.
"Memangnya selama ini Rika belum pernah ya ketemu sama orang yang namanya Kai itu?? Kok baru sekarang doki-dokinya?!"
"Wah benar juga ya Kei. Kenapa kok baru sekarang mereka ketemunya ya...??"
"Umm.. kalian bisik-bisik apa ya..?" Tanya Yuura bingung.
Dan ketiga gerombolan siberat yang gak lain adalah Nao, Chiru dan Keiyuu itu langsung cengar-cengir gejeh.
Gak lama kemudian bel kembali berbunyi. Yuura permisi untuk membukakan pintu dan kemudian kembali dengan membawa Mizuki, Akiya, Izumi, Hiroto dan Saga.
"Hei kenapa kalian juga menyusul kemari?" Tanya Nao pada mereka.
"Memangnya gak boleh? Kami diundang makan siang oleh Pemilik Rumah!" Seru Izumi.
"Wah jangan-jangan kita mau disuguhi liver manusia ya..."
"Liver mu lah yang akan aku suguhkan anak muda." Ucap Pemilik Rumah yang tiba-tiba datang dan menghampiri Nao sambil membawa sebuah katana panjang ala samurai penyamun.
Nao berjengit dan loncat ke belakang Yuura, sementara yang lainnya hanya terkikik geli.
* * *
Di lain tempat, saat ini Bou sedang dipenuhi pikiran suntuknya.
Sejak Aki dipenjara, nampaknya tidak ada lagi hal menarik yang ada di hidupnya. Kanon sendiri tidak bisa menghiburnya dan malah pergi untuk membiarkan Bou tenang seorang diri.
"Kapan kau pulang aniki...?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ia tahu pertanyaan itu tak mungkin terjawab, namun ia tak pernah menyangka bahkan sedikit pun tak menduga saat tangan itu melingkar memeluknya dari belakang bersamaan dengan kecupan hangat di lehernya.
"Aku kembali Bou..."
Bou membalik tubuhnya secepat yang ia bisa. Dan alangkah girangnya ia saat mendapati sosok Aki yang tengah memeluknya.
"Apa kau kabur dari penjara Aniki??"
"Bodoh! Mana mungkin begitu. Tentu saja ayah yang membebaskanku."
"Hah?!! Benarkah seperti itu??" Bou terus bertanya seolah masih tidak percaya. Namun Aki tidak menjawab atau tidak ada keinginan untuk menjawab karena ia lebih berhasrat untuk menghadiahi Bou sebuah kecupan yang hangat di bibirnya.
Di balik itu semua, Kanon tanpa sengaja melihat kebahagian Bou dan Aki tersebut. Hatinya memang sakit, namun lebih daripada itu, ia kini bahagia karena mengetahui Bou bahagia dengan orang yang disayanginya.
* * *
Kanagawa, siang hari.
Semuanya tetap terasa gelap meski cahaya matahari menyorot silau melewati jendela dan menyinari wajahnya.
"Aku tak percaya kau memilih buta demi Yuura, Uruha."
"Kita sekarang sama saja Ruki. Aku jadi sedikit mengerti duniamu dalam kegelapan ini."
"Tidak sepenuhnya. Kau tetap tidak memahami hal-hal lain tentang diriku. Aku tahu kau masih membenciku karena aku membuatmu membenci Yuura dan membunuh ayah kita."
"Aku memang masih membencimu. Tapi aku akan belajar memaafkanmu seperti kau belajar memaafkan kesalahanku padamu di masa lalu. Mari kita mulai kehidupan baru. Reita sebagai matamu dan Aoi sebagai mataku."
"Aku sepakat dengan itu." Ruki pergi dari hadapan Uruha dengan menggapai tangan Reita.
Semuanya telah berakhir, namun bagi Ruki...
Kehidupannya baru dimulai hari ini.
* * *
Nanairo CRAYON =Finish=
Nanairo CRAYON part 16 -Chapter 3-
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Alice Nine,
An Cafe,
Kagrra,
Kra,
Nanairo CRAYON,
PS Company,
Sadie,
the GazettE
/
Comments: (0)
Title: Nanairo CRAYON
Part: 16
Chapter: 3
Author: -Keka-
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, alice nine., Sadie, An Cafe n more…
==1616==
"Kau tidak membunuh mereka kan?! jawab Yuura!!"
Ia tidak menjawab, tidak pula menggeleng atau mengangguk. Ia hanya diam dalam kebisuan, menunduk dan gemetaran.
"Kau tidak melakukannya kan?! Kau tidak membunuh mereka.. bukan kau yang melakukan semua ini kan?!!! Jawab Yuura!!! Aku bilang JAWAB!!!"
Bentakan keras itu membuatnya semakin gugup. Kepalanya seperti berputar-putar, dan jutaan balok serasa menghantam permukaan perutnya secara bertubi-tubi, membuatnya tidak sanggup berkata, bahkan hanya sekedar mengatakan tidak. Ketakutan itu membuatnya bungkam, meskipun ia sangat ingin berteriak sekeras mungkin mengatakan 'tidak' dan menjelaskan semua yang terjadi pada sosok itu, sosok yang bertubuh lebih tinggi darinya, sosok yang sangat menuntut penjelasan panjang kepadanya, dan sosok yang selama ini telah ia panggil 'kakak'.
Yuura membuka matanya dengan cepat, nyaris terbelalak dan kebas kepayahan dengan keringat yang mengalir dari pelipis dan bagian permukaan tubuhnya yang lain. Keadaan ruang itu semakin pengab dan membuatnya kesulitan untuk bernafas. Disampingnya, Kai tengah terbatuk dan akhirnya sadar bahwa Yuura telah sadar dalam keadaan yang tidak baik.
"Kau baik-baik saja Yuura?" Tanya sosok berwajah ramah itu. Meski ia sendiri sedang kepayahan, namun entah mengapa Kai tetap mampu menunjukkan wajah tenang dan senyum ramah yang membuat perasaan Yuura sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Laki-laki itu... Uruha maksudku.. dia.. di- dia.." Yuura semakin sulit meneruskan kata-katanya karena nafasnya sendiri menjadi semakin berat, seperti menghirup udara yang banyak mengandung partikel logam dan membuat paru-parunya seperti terbakar saat menghirup udara itu.
"Kita harus keluar dari ruangan ini sebelum gas ini membunuh kita berdua."
Ucapan Kai menyadarkan Yuura. Beberapa saat yang lalu, sebelum akhirnya Yuura hilang kesadaran, Uruha telah membuat ruangannya tertutup sama sekali dan melepaskan gas beracun yang perlahan akan membunuhnya sedikit demi sedikit dengan cara menyakitkan.
"Aku harus bicara padanya, Kai. Selama ini dia telah salah paham kepadaku.. a- aku.. tidak melakukan hal itu.. dia.. apa yang telah dilihatnya.. bu.. bukan.. seperti itu.. uhuk.. uhuuk..huuk.." Yuura tidak sanggup meneruskan kata-katanya, paru-parunya sakit seperti disilet-silet, dan darah segar kontan menyembur ke permukaan tangannya saat ia terbatuk dan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya itu.
Kai menjadi panik karenanya. Ia sadar bahwa Yuura tidak mampu bertahan lama dalam keadaan yang tidak menguntungkan seperti ini. "Aku akan mendobrak pintu itu agar kita bisa keluar. Tenang Yuura.. bersabarlah.. kita berdua pasti masih bisa selamat."
Yuura hanya mampu mengedipkan kedua matanya dengan perlahan. Ia sudah tidak sanggup lagi, bahkan pandangan matanya semakin menjadi kabur. Antara hal nyata dan imajinasi serta bayangan masa lalu itu berbaur menjadi satu.
Ia melihat kejadian jauh sebelum ini, kejadian yang membuatnya tidak ingin mengingat apa-apa lagi. Ia tengah sakit dan berbaring di ranjangnya saat mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya.
"Mana anak itu?? Serahkan padaku!! CEPAT!!!"
Teriakan memerintah itu langsung saja membuat Yuura terhenyak di ranjangnya. Meskipun dalam keadaan lemas, ia memaksa turun dari tempat itu dan menerawang kejadian apa yang tengah berlangsung di luar kamarnya.
Ada dua orang bocah remaja seusianya dan beberapa pria bertubuh besar dengan senjata tajam di tangan mereka memaksa para pelayannya yang bungkam untuk bersuara, namun tidak ada yang bersuara dari mereka sampai akhirnya pria-pria bersenjata tajam itu membunuh pelayannya satu persatu. Yuura ketakutan seorang diri menyaksikan tubuh-tubuh bergelimpangan dan darah berceceran mewarnai dinding dan lantai rumahnya yang didominasi warna putih gading.
Yuura gugup dan sibuk membekap mulutnya sendiri agar tidak refleks berteriak dan membuat pria-pria itu sadar akan keberadaannya. Yuura tahu bahwa pria-pria itu mencari dirinya, ia tidak mau begitu saja ditemukan dan berakhir sebagai alat pencapaian keinginan dari salah seorang pria pembunuh itu. Dengan cepat otak remaja kecil belasan tahunnya berpikir. Yuura harus bersembunyi agar tidak ditemukan, dan karena gugup itu akhirnya ia tidak tahu harus lari kemana. Saat membuka jendela kamarnya, ia ngeri memandang letak jendela kamar yang terlalu tinggi dari permukaan tanah. Melompat dari sana rasanya sama saja seperti bunuh diri, atau paling tidak meremukkan beberapa tulangnya dan membuatnya cacat. Tidak masalah bagi pria itu jika ia cacat asalkan matanya tetap berfungsi.
Yuura mengurungkan niatnya dan akhirnya dengan keterbatasan waktu untuk berpikir, bocah remaja itu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Ia mendengar suara pilu wanita itu saat mengatakan 'ia tidak ada di sini'.
"Yuura tidak disini. Kau salah telah mencarinya di tempat ini.. pergilah.. aku mohon pergilah.. biarkan Yuura hidup yang layak di tempatnya.. Jangan ambil dia dariku.. atau bunuh saja diriku.. tapi jangan sakiti anakku.. Jangan sakiti Yuura!!!" Wanita itu memohon dengan suara menjerit dan terisak. Wanita itu adalah ibunya, ibu dari Yuura dan juga wanita yang sangat disayangi Uruha.
"Wanita jalang! Jadi yang demikian itu keinginanmu.. baiklah akan ku kabulkan.. MATI KAU JALANG!!!"
CRAAAAASSSSHH!!!
Tikaman senjata tajam panjang menembus perut wanita itu hingga ke punggungnya. Yuura melihat itu dengan penglihatan matanya yang mampu menembus dinding. Ingin sekali ia menjerit histeris saat menyaksikan wanita yang sangat disayangi mengalami hal demikian, namun ia tidak mau melihat pengorbanan ibunya sia-sia. Yuura tetap membekap mulutnya dan berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun, meski ia ingin menangis sejadi-jadinya.
Beberapa dari pria itu masuk ke dalam kamarnya dan berkeliling di setiap sudutnya. Yuura semakin menahan diri dan tidak bergerak bahkan ia mulai menahan nafas agar suara nafasnya tidak sampai ke telinga pria-pria kejam yang mencarinya.
"Tidak ada di ruangan ini. Sepertinya memang benar anak itu disembunyikan di tempat lain di luar dari rumah ini. Sebaiknya kita pergi sebelum polisi tiba." Salah satu pria mengeluarkan perintah dan pria-pria yang lain menurutinya.
Derap langkah mereka pergi meninggalkan ruangannya dan beberapa saat kemudian semuanya langsung berubah senyap. Yuura menunggu beberapa saat sampai akhirnya ia memutuskan keluar dari persembunyiannya dan berharap semoga orang-orang yang mencarinya memang sudah pergi.
Berkali-kali Yuura harus menahan pedih dan panas air matanya saat melewati mayat-mayat bergelimpangan dari orang-orang yang selalu menjaganya dan memberinya kasih sayang. Mereka semua mati karena disayat dan tertusuk senjata tajam seperti senjata yang saat ini masih menancap di tubuh ibunya.
Dengan bergetar dan shock hebat Yuura mendekati sosok itu. Menangis pun rasanya ia sudah tidak mampu. Tubuh itu masih bergerak, namun Yuura seperti tidak bisa lagi berpikir ingin melakukan apa untuk menyelamatkannya.
"Jangan menangis Yuura.. berjanjilah pada okasan.. kau tidak akan pernah menangisi kematian.. pergilah.. cepat.. ca..ri.. Uru.. berlindunglah pa..da..nya.. Yuu.."
"Aku akan menyelamatkan okasan.."
"Tidak perlu.. pergi.. pergi saja dirimu.. bersama Uru.. selamatkan diri kalian.. dan carilah kehidupan yang lebih baik.. berjanjilah.. kalian akan saling melindungi.. selamat tinggal Yuura... jaga dirimu baik.. baik.."
"TIDAK!!! Jangan pergi.. jangan tinggalkan kami.. apa yang akan kukatakan pada Uruha tentang kematian kalian?!!! Jangan pergi okasan.. kumohon jangan pergi.." Yuura menangis sesunggukan dan memegangi telapak tangan ibunya, kemudian mendekapnya erat dan menciuminya dengan keputusasaan. "Kumohon jangan pergi.. Uruha akan marah padaku jika dia mengetahui okasan pergi karena melindungiku.. kumohon jangan pergi.. jangan pergi okasan.. kau janji ingin mengajariku berkuda dan mengajakku ke tempat yang indah bukan?! Karena itu jangan pergi.. aku akan memanggil dokter dan menyelamatkanmu.. kau dengar aku kan okasan.. katakan kau mendengar ucapanku! Katakanlah sesuatu.. aku mohon.. jawab okasan!! Mengapa kau diam saja?? Mengapa kau berhenti bersuara?!! Aku tidak mau kau menjadi diam begini!! Kumohon... sekali saja... katakan sesuatu padaku.." Air mata berlinangan di pelupuk mata dan pipi Yuura. Berulang kali ia memanggil ibunya, namun wanita itu tak kunjung menjawab karena saat ini yang tertinggal dari tubuhnya hanyalah jasad yang tak bernyawa.
Yuura menutupi wajahnya saat mengingat kejadian itu. Wanita yang selama ini menjerit di mimpi-mimpinya tak lain adalah ibunya sendiri yang mencoba melindunginya dan berakhir dalam kematian.
"Uruha salah paham padaku.. bukan aku yang membunuh okasan dan para pelayan.. tapi orang itu.. orang itu.."
"Tenanglah Yuura, nanti saja menjelaskan hal itu. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah cara keluar dari ruangan ini..uhuukk!!" Kai juga mulai terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, namun ia dengan cepat menyembunyikan itu agar Yuura tidak ikut-ikutan mencemaskan dirinya. "Tunggu disini Yuura, aku akan mencari cara membobol pintu ruang ini."
Sia-sia Kai..
Yuura berdesis dalam hati dan memilih untuk menyandarkan punggungnya pada dinding. Mungkin ia memilih kematian menjemputnya karena ia pun telah lelah dengan semuanya.
=v=
"Apa yang kau lakukan?!!! Kau bodoh Uruha!!! Kau mengurung kami semua disini!! Apa yang sebenarnya ada di otakmu?!!!!" Mao menarik kerah baju Uruha dengan kasar, meskipun gerakannya mulai lemah karena gas beracun itu juga mulai mencekiknya.
"Kita semua akan mati... kalian dengar.. kita semua akan mati di tempat ini.. hahahahaa.." Uruha tertawa gembira seperti orang gila yang mulai kehilangan akalnya.
"Kenapa kau lakukan ini Uru?" Tanya Saga yang saat ini tengah membiarkan kepala Hiroto terkulai lemas di pangkuannya karena bocah itu terlalu banyak menghirup gas beracun disekitarnya. Saga sendiri mulai kepayahan dan sedikit demi sedikit pandangannya mulai kabur.
"Alasannya karena aku tidak mau mati seorang diri. Aku ingin kita semua MATI DISINI. Kalian dengar.. kita semua akan MATI DISINI!!!!! HHAHAHAHHAHAAHH.. aku merasa PUAS.. orang itu tidak akan mendapatkan satupun dari kita. Tidak akan memanfaatkanku lagi untuk membunuh.. tidak akan memanfaatkan kalian.. dan yang lebih penting lagi... orang itu tidak akan mendapatkan mata Yuura!! Ah iya.. bagaimana aku bisa lupa.. hhahh..hh.. Meskipun Yuura mati, namun jaringan matanya akan tetap hidup.. a..aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.. aku harus membutakannya sekarang.. akan kutusuk matanya dengan pisau. Kalian tunggulah disini.. aku akan pergi ke tempat Yuura dan membutakan matanya.. atau.. kalian.. ingin melihatku membutakan matanya.. hh..hhaahh. .hh.. baiklah.. a..ku.. akan memba..wanya ke hadapan ka..liaa..an.."
"Lakukan apa yang kau inginkan. Tapi aku tidak mau mati disini.. berikan kunci pintu keluar bangunan ini! Kalau kau ingin mati disini bersama mereka.. lakukan saja.. aku dan Bou akan pergi." Aki mulai mengeluarkan suaranya, meskipun tenang, namun tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini tubuhnya juga tengah kehabisan tenaga karena menghirup udara yang semakin tidak layak.
"Tidak bisa Aki.. kalau kau dan adikmu keluar... orang itu tetap akan memanfaatkan kalian.. atau kau mau berakhir di penjara.. orang tuamu akan sangat malu jika putra mereka satu-satunya masuk penjara karena telah banyak melakukan pembunuhan dan berdagang benda-benda haram.. hahahaa.. kau sama menyedihkannya seperti kami.. Aki.. lebih baik kau memilih mati disini bersama Bou.. adikmu tersayang.."
"DIAM URUHA!!! Kami muak mendengar ucapanmu!!! Kau membenci adikmu tapi melibatkan kami atas kebencian itu!!"
"Kau yang diam Tsurugi.. anak seorang pelacur sepertimu tidak usah berkata seolah-olah kau yang paling benar!! Kalian.. kenapa kalian mau dijadikan pembunuh.. itu karena kalian membenci kehidupan ini.. membenci orang lain bahagia.. kalian tidak ingin melihat orang lain bahagia sementara kalian sendiri yang menderita.. benar begitu kan?!!"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Uruha karena sepenuhnya apa yang dikatakan Uruha itu tidak salah dan memang benar adanya.
"Aku.. aku.. tidak membenci Yuura karena dia telah membunuh okasan.. aku membencinya lebih karena okasan lebih menyayanginya.. saat aku terjatuh dari kuda bersama Yuura... yang dicemaskannya bukan diriku.. melainkan Yuura.. baginya.. baginya.. Yuura lebih penting dari apapun juga termasuk diriku yang hanya anak angkatnya. Dan saat aku melihatnya mencabut katana itu dari tubuh okasan.. aku menjadi semakin membencinya. Mengapa karena ketakutan tidak beralasan yang ditunjukkan oleh matanya.. bocah berengsek itu sampai tega membunuh okasan yang begitu menyayanginya??"
"Kau salah Uruha... adikmu.. Yuura tidak melakukan itu." Pria berpenutup hidung yang sedari tadi diam, akhirnya mulai bersuara.
"Kau tahu apa Reita?!! Memangnya kau melihat semuanya?!!!"
"Iya.. aku melihat semuanya!! Termasuk saat orang itu menancapkan katana di tubuh ibumu.. aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.."
"Orang itu.. orang itu siapa?!!"
"Ayahmu.. Matsumoto-san."
Uruha terhenyak saat mendengar ucapan Reita. Namun tidak ada reaksi yang ditunjukannya selain tawa hampa.
"Kau bohong!! Otosan tidak mungkin membunuh okasan.."
"Itu benar.. kau jangan menyangkalnya.. Kau tahu sendiri bahwa Matsumoto-san itu kejam. Kornea mata itu ditanamkan pada mata Yuura yang buta semata karena Matsumoto-san tidak ingin menanamkannya pada mata Ruki, putra yang paling disayanginya. Ibumu yang juga ibu kandung dari Yuura hanyalah wanita lain dalam hidup ayahmu. Hanya Ruki dan nyonya Matsumoto ibu Ruki yang sangat disayanginya semasa hidup."
"Kau bohong Rei.. otosan tidak mungkin... Yuura yang bodoh.. ia mempercayai semua penglihatan yang ditunjukkan matanya.. padahal itu semua hanya ketakutan terdalamnya.. ia melihat okasan dan otosan menyiksanya.. tapi sesungguhnya tidak demikian.. Yuura bodoh.."
"Itu benar Uru.. aku juga mengetahuinya. Hanya saja ada sedikit kekeliruan dalam ucapan Reita. Matsumoto-san sebenarnya tidak benar-benar menyayangi Ruki."
"Apa yang kau ketahui Saga?!! Kau juga mau mengatakan otosan yang bersalah karena selama ini otosan selalu memaksamu memuaskan nafsunya?!!"
"Tidak.. tidak begitu.. aku memang membenci ayahmu.. tapi aku tidak ingin mengatakan kebohongan melainkan kebenaran yang selama ini tidak kau ketahui. Kalung yang kau kenakan.. itu sebenarnya milik Ruki. Ayahmu membuatnya sepasang untuk diberikan pada Ruki dan Yuura, putra kandungnya. Baginya.. Ruki dan Yuura adalah hidupnya.. mereka memiliki keistimewaan masing-masing meskipun sama-sama terlahir dengan mata buta dari rahim ibu yang berbeda. Ruki memiliki kepekaan dan mampu membaca pikiran serta perasaan orang lain yang berada di dekatnya, sedangkan korneo mata ajaib yang kini tertanam di mata Yuura.. hanya dapat berfungsi di mata Yuura. Jauh sebelum dipasang pada mata Yuura, Matsumoto-san pernah mencobanya pada mata Ruki, namun Ruki tetap tidak mampu melihat dengan kornea mata itu. Barulah setelah dipasang pada mata Yuura.. Yuura bisa melihat hal-hal ajaib itu. Matsumoto-san sendiri yang mengatakannya padaku. Bagi Matsumoto-san, Ruki dan Yuura hanyalah obsesi hidup. Tidak ada yang pernah benar-benar disayanginya. Karena itu... Ruki yang tetap buta namun mampu membaca pikiran serta perasaan orang lain... akhirnyaa.."
"Membunuh ayahnya sendiri lalu menjadi satu-satunya pewaris klan Matsumoto.. benar begitu kan Saga?!"
"Iya.. kau mengetahui itu jauh lebih baik daripada aku.. Rei... karena kau dekat dengan Ruki. Kau juga mau menjadi mata-mata dan menjalankan tindak kejahatan.. semata karena Ruki. Jadi pikiranmu selama ini telah salah Uru.. bukan Yuura yang membunuh ayahmu malam itu, melainkan Ruki."
"Sedangkan ibumu dan para pelayan di rumah itu mati di tangan ayahmu dan anak buahnya saat ayahmu memaksa ingin mengambil Yuura dari sana. Aku dan Ruki ikut serta saat itu. Aku melihat semuanya, Yuura pun demikian. Ayahmu memang tidak berhasil menemukan Yuura yang saat itu sedang bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Aku sendiri tidak tahu bahwa saat itu Yuura bersembunyi disana seandainya Ruki tidak membisikiku. Ruki bisa membaca semua ketakutan yang terpancar dari pikiran Yuura, termasuk dimana posisinya saat itu. Sedangkan Yuura mampu melihat segalanya menembus ke segala dinding dari tempat persembunyiannya saat Matsumoto-san membunuh ibumu."
Uruha terduduk lemas di tempatnya. Selama ini pun sebenarnya ia menyangkal bahwa Yuura, remaja berusia belasan tahun itu mampu membunuh banyak orang dengan tangannya. Jangankan menghilangkan nyawa manusia, ia bahkan pernah menangis saat menghilangkan nyawa beberapa semut yang mengganggunya.
"Apa aku harus mempercayai kata-kata kalian?!!"
"Tentu saja... siapa lagi yang ingin kau percayai bodoh?!!" Bentak Mao yang sedari tadi kesal namun tertegun dan menyimak dengan benar segala ucapan Saga dan Reita.
"Karena kau sudah tahu kebenarannya... sekarang juga biarkan kami menghirup udara bebas. Berikan kunci pintu keluar bangunan ini.."
Uruha lagi-lagi tertawa saat mendengarkan ucapan Kei yang sedari tadi diam dan mati-matian mencari celah untuk bernafas di tengah udara busuk yang mencekiknya.
"Aku minta maaf pada kalian semua... kunci itu... tidak ada padaku... ruangan ini tertutup atas perintah Ruki... Ruki yang merencanakan semuanya... Ruki ingin kita semua mati... aku mengerti sekarang.. aku mengerti mengapa Ruki merencanakan ini... dia membenci kita semua.. hahahaahh..hhahh.. Ruki yang malang.. bisa membaca semua pikiran ternyata membuatnya menjadi orang yang kejam. Sendainya dia dibesarkan di lingkungan yang penuh pikiran positif.. aku yakin dia bisa hidup menjadi bocah baik-baik. Tapi sayangnya dia hidup di lingkungan tidak sehat.. seharusnya aku menyadari sejak dulu bahwa Yuura tidak bersalah.. Ruki membencinya dan selalu berkata seandainya dia yang bisa melihat dan bukannya Yuura.. aku memang bodoh.. seharusnya aku tahu bahwa yang membunuh otosan di malam itu adalah Ruki dan bukannya Yuura. Aku bodoh mempercayai ucapan Ruki yang polos dibalik matanya yang buta... aku.. aakkh.. kenapa aku bisa begitu saja membenci Yuura atas provokasi Ruki.."
"Jangan katakan Ruki kejam!" Reita sedikit membentak. "Ruki juga menderita selama ini... saat itu dia bisa saja mengatakan pada Matsumoto-san dimana Yuura bersembunyi, namun Ruki tidak melakukan itu karena dia merasakan ketakutan yang sama seperti yang Yuura rasakan. Ruki membunuh ayahnya semata juga karena ketakutan. Dia membenci Yuura dan menuduh Yuura yang melakukan tindakan pembunuhan itu semata karena dia ingin melampiaskan penderitaannya selama ini kepada satu-satunya orang yang rasanya tepat untuk dia benci yaitu Yuura. Ruki iri karena ayahnya lebih mengandalkan mata Yuura daripada perasaannya yang tajam. Ruki merasa payah karena memiliki mata buta, dia membenci Yuura semata karena Yuura yang diberi penglihatan sedangkan dia tidak."
"Persetan dengan semua ucapan kalian!! Sudah cukup!! Aku akan mencekik Ruki jika keluar dari sini!!" Maki Mao sambil menendang apapun yang ada di hadapannya, meskipun akhirnya ia terjatuh karena sudah tidak kuat bernafas dalam pekatnya gas beracun yang semakin memenuhi seisi bangunan tertutup yang mengurungnya saat ini.
"Cekik saja aku saat ini bila kau mau... Mao.."
Tubuh mungil itu muncul bersamaan dengan suara langkah terseret tertatih yang tak lain adalah miliknya.
"Ruki!!!"
Reita serta merta menangkap tubuhnya saat Ruki oleng.
"Maaf aku melibatkan kalian. Seperti yang diucapkan Uruha... aku memang menginginkan kalian semua mati.. aku tidak ingin mati sendiri. Selama ini tubuhku sakit-sakitan dan dokter yang merawatku mengatakan bahwa umurku mungkin tak panjang. Aku tidak bisa mati saat kebencianku masih tertinggal... aku membenci Uruha dan Yuura... ingin membuat mereka saling membenci... aku iri saat mendengar dan merasakan kedekatan mereka serta kasih sayang yang mereka dapat dari ibu mereka. Tidak ada ibu yang menyayangiku.. aku tidak punya kakak yang bisa melindungiku.. seperti Yuura yang memiliki Uruha... a..ku.. membenci semua itu dan ingin.. semuanya berakhir. Aku yang mempengaruhi ayah agar membunuh semua orang yang melindungi Yuura, lalu menciptakan kebencian Uruha pada Yuura... aku pikir.. aku akan bahagia dengan itu... namun ternyata aku tidak bahagia.. terlebih saat aku mendapati kenyataan.. bahwa.. semenjak pelarian Yuura dan hilangnya ingatan akibat pencucian otak berkali-kali... Yuura justru mendapat kebahagian yang berbeda dari orang-orang yang kini melindunginya. Karena itu aku memerintahkan Reita sebagai informan dan satu-satunya orang yang bisa menjadi mataku.. untuk memberitahu Uruha dimana sebenarnya Yuura berada. Aku sudah memikirkan ini sejak beberapa waktu yang lalu... bagiku... akan sangat menyenangkan jika kita... kita yang sama-sama tidak bahagia disini... mati secara bersama-sama."
"Memilih mati dalam kesengsaraan daripada hidup dalam kebahagian? Kau menyedihkan sekali.." Kai berkata sambil memapah Yuura yang sudah lebih dulu lemas.
"Bagaimana kau bisa keluar dari ruangan itu?" Tanya Ruki tanpa memandang Kai karena memang nyatanya ia tidak bisa melihat sosok Kai, namun hanya bisa merasakan keberadaannya.
"Keinginanku untuk hidup dan bahagialah yang membuatku bisa keluar dari sana. Aku punya tujuan hidup di luar dari bangunan rongsok tak berguna ini. Awalnya aku juga merasa tidak punya siapa-siapa yang bisa menyayangiku.. namun jika aku berbuat kebaikan... aku yakin orang lain akan memberi kasih sayangnya padaku. Kenapa harus memilih membenci jika nyatanya kita bisa mengasihi..."
Ruki meneteskan air matanya. Tidak ada kebencian yang ia baca dari pikiran Kai, hanya ketulusan dan rasa kasih yang memenuhi kepalanya. Hal itu juga ia rasakan pada masing-masing pikiran orang lain. Aki lebih mencemaskan Bou daripada dirinya sendiri. Saga mencemaskan Hiroto, Mao bersedih karena berpikir akan meninggalkan kekasihnya, Tsurugi menangis karena mungkin akan segera berpisah dengan ibunya, dan Kei mencemaskan adiknya yang masih kecil-kecil.
Namun yang membuatnya lebih teriris adalah..
Saat membaca pikiran Reita.
Aku menyayangimu Ruki... apa kau terlalu banyak membenci hingga tidak menyadari perasaanku padamu..
Aku rela mati... tapi aku tidak mau melihatmu ikut mati disini...
"Reita... maafkan aku... aku hanya bisa memanfaatkanmu.. dan sedikit pun tidak menyadari perasaanmu selama ini.. aku egois..." Ruki mulai terisak dan berkali-kali batuk hingga mengeluarkan banyak darah.
"Beritahukan saja bagaimana kita bisa keluar dari sini?"
Ruki menggeleng.
"Terlambat. Aku sudah memerintahkan beberapa orang dari organisasi.. untuk membakar bangunan ini.. apa kalian tidak bisa merasakan bahwa saat ini api telah menyala?!"
Setiap orang menjadi berkali-kali lipat lebih panik, terutama karena asap semakin mengepul dan beberapa titik mata api mulai terlihat.
Untuk beberapa saat beberapa dari mereka sibuk menghindari api dan berusaha memadamkannya, namun akhirnya mereka juga mulai kepayahan karena kehabisan oksigen dan keracunan asap serta gas beracun.
Ruki bernyanyi lirih seperti mengantarkan kematian dirinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Namun nyanyiannya itu terhenti kala ia mendengar seseorang menerobos masuk kedalam bangunan yang mulai tersulut api sepenuhnya.
"Hei bodoh!! Jangan buru-buru mati dulu dong bego!! Mizuki mau beraksi jadi hero dulu nih."
"Mi.. Mizuki... baru kali ini aku senang melihatmu.." Ucap Mao yang nampak mulai merayap meminta pertolongan Mizuki.
Aki buru-buru menginjaknya. "Jangan pikirkan Mao.. selamatkan Bou saja dulu... cepat keluarkan adikku ini dan beri oksigen yang cukup."
"Hei hei.. sabar dulu.. memangnya aku sendirian.. pahlawan gak beraksi sendirian. Ada partnernya dong bro.."
Mizuki meniup peluit -entah darimana dapatnya tuh peluit- dan beberapa orang mulai menyerbu masuk dengan membawa pertolongan.
"Izumi.. cepat selamatkan Hiroto.."
"Jangan khawatir Saga.. aku akan membawanya keluar.. kau juga keluarlah bersamaku.." Saga mengangguk dan mengikuti langkah Izumi. Sementara Akiya sendiri menolong Kai dan Yuura, lalu beberapa orang lain menyelamatkan Bou, Aki serta yang lainnya.
Hanya Ruki dan Uruha yang masih bertahan di tempat mereka.
"Ruki.. apa yang kau lakukan?! Ayo kita keluar!!" Teriak Reita seraya menarik tangan Ruki agar Ruki mengikuti langkahnya.
Ruki menggeleng. "Biarkan aku mati Rei.. aku telah melakukan banyak kesalahan.. jika aku hidup pun.. aku tetap akan menjadi orang jahat karena aku pewaris Matsumoto.."
"Bukan sepenuhnya salahmu!! Kau masih bisa memperbaiki semuanya Ruki.. aku akan membawamu meninggalkan organisasi keparat yang membelenggumu itu."
Ruki tetap menggeleng dan itu membuat Reita sangat kesal. Dengan susah payah Reita mengumpulkan sisa tenaganya dan akhirnya menggendong Ruki dengan kedua tangannya. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati.. kau dengar!!"
Ruki hanya bisa diam. Antara terkejut, bingung dan bahagia atas ucapan Reita. Ternyata ia salah... ia berpikir bahwa di dunia ini tidak ada yang menyayanginya.. namun ternyata orang yang berada sangat dekat dengannya, mampu memberikan kasih sayang itu lebih besar daripada yang diharapkannya selama ini.
Tinggallah Uruha yang masih terdiam. Penyesalannya jauh lebih besar. Kebencian membutakan matanya dan ia merasa sangat pantas mati sekarang.
Biarlah api membakarku dan membuatku jadi abu yang tertiup angin hingga rasa kebencian itu tak lagi tersisa dalam jasadku..
"TIDAAAAAAAAAAAKKKK!!!"
Dorongan keras membuat tubuh Uruha terhuyung. Ia terjatuh beberapa langkah dari posisinya berdiri. Saat baru menyadari apa yang terjadi, ia terperangah saat menyaksikan Yuura menyelamatkannya dari runtuhan kayu yang terbakar api. Yuura berselimutkan api seraya melindungi tubuh Uruha. Dan yang lebih parah daripada itu adalah...
Kedua matanya berdarah karena beberapa serpihan runtuhan bangunan yang keras melukai permukaan kedua bola matanya.
"Yuuuuuuuuuraaaaaaaa!!!"
Kai berlari dan melepaskan Yuura dari perangkap api. Bukan hanya Kai, beberapa orang penyelamat yang sepertinya kaki tangan 'pemilik rumah', juga melakukan hal yang sama.
"Panas... mataku pedih dan panas Kai.."
"Jangan sentuh apa-apa.. matamu akan baik-baik saja.."
"Aniki... apa aniki baik-baik saja.."
"Iya Yuura.. Uruha baik-baik saja.. tenanglah.."
"Mana dia.. mengapa aku tidak bisa melihatnya.. aniki Uru.. kau dimana..??" Yuura meraba raba udara kosong dengan tangannya.
Uruha pucat menyadari itu. Bagaimana ia bisa membenci adiknya jika nyatanya adiknya itu sangat menyayangi bahkan rela mengorbankan diri untuknya...
"Nanti saja setelah berada di luar.. Uruha sudah dibawa keluar.. tenanglah Yuura.." Kai dan salah seorang kaki tangan 'pemilik rumah' membawa Yuura keluar, sementara kaki tangan 'pemilik rumah' yang lain membawa Uruha yang sekarang mulai berlinangan air mata menyaksikan keadaan Yuura yang mengenaskan.
Aku akan membunuh diriku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padamu saat ini.. Yuura..
Mengapa penyesalan selalu datang terakhir...
Mengapa kita baru menyadari rasa sayang itu jika orang yang kita sayangi tengah menderita..
Mengapa........
=v=
Jawabannya temukan di Part 17 -Final Chapter- dan side story masing-masing tokoh yang tak terungkap.





