Title: Nanairo CRAYON
Part: 17
Author: -Keka-
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, Sadie, An Cafe n more…
* * *
Ia masih setengah sadar dan mendengar saat beberapa orang sibuk mengangkat tubuhnya dan membawanya dengan ambulan yang meraung-raung di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tidak ada yang mampu dilihatnya selain bayangan tubuh Uruha saat ingin dijilat oleh api dan tertumbuk runtuhan bangunan. Matanya sangat perih saat ini. Ia sampai ingin mencongkelnya agar penderitaannya berakhir. Namun ia tak sanggup melakukan itu karena perlahan mulai tak sadarkan diri dan tak mampu mengingat apa-apa lagi.
...
"Ini salahku... aku yang membuatnya begitu..."
"Ssstt.. jangan ucapkan apa-apa lagi. Dia akan selamat. Kau harus percaya itu." Dekapan hangat memberinya sedikit ketenangan meskipun tak sepenuhnya ia merasa tenang.
"Aoi... aku pantas mati karena ini." Uruha tampak menyesali diri, namun lagi-lagi Aoi menghentikan ucapannya dan memeluk pria itu lebih erat lagi.
"Bukan sepenuhnya salahmu Uru... berhentilah membicarakan kematian."
Uruha menangis dalam dekapan itu. Sesuatu yang tidak pernah ia pernah bayangkan selama ini. Tangisan penyesalan. Ia yakin tidak pernah akan melakukannya karena ia selalu yakin dengan pikirannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Tidak pernah ia bayangkan bahwa tujuan hidupnya untuk menghabisi nyawa Yuura justru berbalik membuatnya menyesali semua kebencian pada satu-satunya orang yang bisa ia sebut adik.
* * *
"Dia akan buta."
Ucapan 'Pemilik Rumah' membuat Kai terhenyak di tempat tidurnya. Kai mendapat beberapa luka di tubuhnya dan harus mendapat perawatan terutama karena ia telah menghirup cukup banyak gas beracun yang melemaskan tubuhnya. Tapi itu tidak menjadi masalah yang besar untukknya, setidaknya tidak lebih mengejutkan daripada menerima kenyataan bahwa Yuura akan buta.
"Apa tidak ada yang bisa dilakukan dokter-dokter itu untuk menyembuhkan matanya?"
'Pemilik Rumah' menggeleng. "Maaf sekali Kai... mata Yuura sudah terlalu rusak untuk bisa disembuhkan. Nyawanya selamat saja sudah bisa dikatakan sebagai keajaiban. Tubuhnya mengalami luka bakar yang cukup serius. Aku sudah memastikan dia memperoleh perawatan yang terbaik agar luka bakar itu tidak membekas di tubuhnya. Tapi sekali lagi maaf atas matanya..."
Raut kesedihan tergambar pada wajah Kai. Ia menyesal karena membiarkan Yuura mengalami nasib naas itu, namun saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan Yuura.
* * *
Saga memaksa bangkit dari tempat tidurnya meskipun saat ini tubuhnya masih lemas untuk dipaksa berjalan-jalan. Ada yang sangat dicemaskannya.
Tora...
Bagaimana keadaannya sekarang..
Dia dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana reaksinya jika dia tahu Hiroto juga ada disini karena aku tidak becus melindunginya..
Hiroto harus terlibat masalah ini gara-gara aku..
Maafkan aku Tora...
Saga meraih kenop pintu ruangan, tempat dimana Tora yang sekarat menjalani perawatan menjelang hari-hari terakhirnya. Ia mendengar suara sesenggukan disana. Seseorang sudah lebih mendahuluinya dan menangisi diri Tora.
Siapa??
Belum sempat Saga mencari tahu jawaban itu dengan pikirannya, ia lebih dulu mendapat jawaban dari penglihatannya. Sosok bertubuh kecil dengan wajah terkesan innocent itu saat ini tak henti menangis dan menggenggam tangan Tora seraya menenggelamkan wajahnya di dada Tora yang kini terbujur lemah.
"Hiroto..."
* * *
Pria tua itu menghembuskan nafasnya dengan berat saat menatap Aki yang memalingkan wajah darinya.
"Ayah datang bukan ingin menghakimimu...mengertilah Aki... ayah hanya ingin menyelamatkanmu."
"Menyelamatkanku? Menyelamatkanku dari apa?! Aku yakin ayah hanya ingin menyelamatkan diri ayah sendiri. Ayah malu kan kalau semua orang tahu aku terlibat dalam kasus ini, terlebih karena aku yang tak lain adalah anak ayah yang seharusnya mewarisi semua kehebatan ayah, ternyata hanyalah seorang kriminal yang telah banyak melakukan tindak kejahatan."
Pria itu kembali menghembuskan nafasnya dengan berat dan menjulurkan perlahan tangannya yang keriput seperti ingin menyentuh kening Aki, meskipun ia tidak jadi melakukannya dan kembali menarik tangan itu untuk ia sembunyikan di balik saku jasnya.
"Aki...
ayah senang karena sebenci apapun kau pada orang tua ini...
kau masih mau menyebut orang tua ini sebagai ayahmu..
Sekali lagi ayah minta maaf...
apa yang terjadi pada dirimu dan Bou... sepenuhnya adalah salah ayah sendiri. Dan meskipun kau tidak suka, ayah akan tetap mengusahakan agar pihak berwajib tidak menyeretmu ke dalam penjara."
Aki hanya menyunggingkan senyumnya, lebih kepada sunggingan datar yang hanya menganggap ucapan pria tua di dekatnya tak lebih daripada isapan jempol semata.
Terlambat ayah...
Mengapa tidak dari dulu kau melindungiku dan tidak membuatku terjerumus dalam dosa-dosa ini...
Sekarang aku tidak membutuhkan bantuanmu...
Tinggalkan aku sendiri..
Setidaknya biarkanlah aku tetap memandang Bou untuk terakhir kali..
Aki menatap tubuh kecil Bou yang terbujur kaku pada ranjang yang berseberangan dengan ranjang tempatnya dirawat. Bou masih tetap tidak sadarkan diri dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang menopang kehidupannya saat ini. Aki ingin sekali menghampirinya dan memandang wajahnya lebih lama, namun ia tak mampu melakukan itu karena ia merasa bersalah pada sosok kecil itu.
Aku akan pergi Bou..
Aku akan pergi sebelum kau terbangun dan menyadari kepergianku..
Selamanya aku akan tetap menyanyangimu...
* * *
"Apalagi setelah ini Rei.. apa semua ini sudah berakhir?" Tanya Ruki lemah pada sosok Reita yang terus menungguinya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Reita menggeleng. "Aku tidak tahu Ruki. Tapi kita harus pergi dari tempat ini secepat mungkin sebelum polisi bertanya macam-macam dan menyeret kita dalam masalah."
"Melarikan diri lagi? Aku lelah Rei.. aku lelah karena terus melarikan diri dan bersembunyi selama ini."
"Ini untuk terakhir kalinya Ruki. Setelah ini kita tidak akan melarikan diri dan bersembunyi lagi. Kau dan aku akan menjalani kehidupan yang baru."
"Apa aku harus melepas tanggung jawab sebagai penerus Matsumoto?"
Reita mengangguk.
"Tapi mereka akan tetap mengejarku Rei... mereka tidak akan membiarkanku pergi begitu saja. Mereka akan segera mengetahui keberadaanku."
"Apa mereka tahu kau berada di bangunan itu saat kau memerintahkan mereka untuk membakarnya?"
Ruki menggeleng. "Sebenarnya itu caraku agar terlepas dari mereka. Aku ingin mati bersama-sama kalian meskipun akhirnya aku menyesal karena telah melakukan tindakan bodoh itu dan membahayakan nyawa-nyawa lain yang tidak bersalah."
"Tenanglah Ruki... aku akan mengurus segalanya. Aku pastikan bahwa semuanya akan berakhir dengan baik-baik saja."
Tapi mengapa pikiranmu ragu akan hal itu Rei...
Kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu...
Aku tahu itu Rei..
Kau tentu tidak lupa bahwa saat ini aku masih mampu membaca pikiranmu..
* * *
Beberapa pasang mata saling memandang satu sama lain dalam kebisuan sampai akhirnya hal itu terpecahkan oleh ketidaksengajaan Rika saat menyenggol vas bunga berisi bunga lili dalam ruang rawat inap Nao yang saat ini masih menjalani perawatan pasca operasinya.
Rika salah tingkah saat beberapa pasang mata itu memandang kearahnya, meskipun akhirnya mata-mata itu kembali mengacuhkannya saat Rika mengucap maaf dengan cengiran sok innocentnya.
"Jadi bagaimana sekarang? Siapa yang patut dipersalahkan?" Riku membuka suara dengan gaya bertanya sok bijak yang jadi trademarknya.
"Kurasa itu urusan pihak kepolisian. Yang penting mereka semua selamat." Ucap Akiya.
"Dalam keadaan tidak utuh." Tambah Izumi.
"Maksudnya?" Tanya Chiru dan Rika nyaris bersamaan.
"Kemungkinan besar Yuura akan kehilangan penglihatannya gara-gara peristiwa itu."
"Oh astaga.." Lagi-lagi Chiru dan Rika sama-sama berucap dan menutup mulut mereka karena terkejut.
"Lalu bagaimana dengan para penjahatnya?"
"Penjahat? Maksudmu teman-temannya si Mizuki yah mam?" Tanya Nao yang sedari tadi sibuk menelan bubur yang disuapi oleh Keiyuu.
"Jangan menatapku seolah-olah aku juga terlibat dong!" Protes Mizuki.
"Tapi memang kamu dulu juga salah satu dari penjahat-penjahat itu kan Mizuki?!"
"Hei hei berhentilah menyudutkannya seperti itu Nao. Mizuki sudah berubah sekarang. Kalau bukan karena dia, mungkin semua nyawa tidak bisa diselamatkan." Ucap Riku membela Mizuki.
"Ya ya baiklah... kali ini pahlawannya adalah Mizuki. Seandainya si bibir ekstra monyong ini gak memberitahukan dimana lokasi penyekapan itu, mungkin gak ada cerita happy endingnya ya..." Ucap Chiru.
Tidak ada yang merasa bahagia dengan ucapan Chiru itu. Meski semuanya bisa dikatakan berakhir bahagia, namun ada banyak hal yang masih menyisakan kesedihan di dalamnya.
* * *
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang keadaan aniki Tora??" Hiroto masih menangisi keadaan pria itu dan seperti ingin meninju Saga yang berusaha menenangkannya.
"Maafkan aku Pon.. aku sudah berulang kali ingin memberitahukanmu.. tapi kau malah menghindar seolah tidak ingin mendengar apa-apa lagi menyangkut Tora."
Hiroto menunduk sedih. Saga benar. Selama ini Hiroto memang selalu menghindar saat Saga ingin membicarakan tentang Tora, ia bahkan tidak membiarkan sedikit pun Saga untuk mendekatinya. Hiroto menangis sejadinya dan membiarkan Saga saat memeluknya.
"Tora tidak ingin melihatmu begini Pon... hapus air matamu dan biarkan Tora melihat senyumanmu saat ia membuka mata. Hanya dirimu yang ingin dilihatnya. Setidaknya berikanlah ia kebahagian dan ketenangan di saat-saat terakhirnya."
"Ini tidak sungguh-sungguh kan?! Aku tidak sanggup bila harus kehilangan dirinya.."
Tidak ada yang bisa dikatakan Saga. Sesungguhnya ia sendiri juga tidak ingin mengganggap ini sebagai satu hal yang nyata, meskipun ia tetap harus menerimanya dan mengihklaskan apa yang kelak akan terjadi selanjutnya.
* * *
Satu bulan kemudian.
Hiroto masih menatap nisan itu dan sesekali mengusap air matanya. Ia berjanji pada Tora disaat-saat terakhirnya bahwa ia tidak akan pernah menangisi kepergiaannya, meskipun akhirnya Hiroto tidak bisa membendung perasaan sedihnya dan tetap meneteskan air mata untuk satu-satunya pria yang dicintainya.
Ia hanya sempat mengecap seminggu kebersamaan yang bahagia bersama Tora. Waktu seminggu yang ia manfaatkan sebaik mungkin untuk terus bersama Tora dan menorehkan kenangan-kenangan yang tidak akan pernah mungkin dilupakannya. Hanya ada satu penyesalan dalam diri Hiroto akan kepergian Tora yang begitu cepat.
Bahkan di detik-detik terakhirnya, Hiroto tidak sanggup mengungkapkan perasaannya yang terdalam pada pria itu melalui kata-kata.
"Bagaimana kau tahu perasaanku jika aku tidak pernah memberitahukannya padamu?" Tanya Hiroto pada nisan bertuliskan nama Shinji Amano di hadapannya.
Tepukan ringan mendarat di pundaknya, Hiroto menoleh dan mendapati Saga sudah berada di belakangnya.
"Tora tahu itu semua tanpa kau perlu mengucapkannya. Baginya... perhatian dan kasih sayang yang kau tunjukan melalui perbuatan.. jauh lebih meninggalkan bekas daripada sekedar ucapan. Percayalah.."
Hiroto mengangguk dan memeluk Saga setelah itu. "Aku akan mencintaimu seperti dia seandainya saja kau bukan kakak sedarahku."
"Hahahaa.. benarkah itu?! Tapi tetap saja aku tidak mau dicintai oleh anak ingusan sepertimu Pon.."
Hiroto ikut tertawa setelah itu dan mengangguk saat Saga memintanya meninggalkan makam Tora dan membiarkan pria itu tenang di tempatnya yang baru.
Kau bisa tenang karena aku akan selalu menjaga Hiroto untukmu Tora...
Ucap Saga dalam hati saat memandang nisan Tora untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
* * *
-Flashback-
Dua hari setelah dirawat di rumah sakit, Ruki dan Reita pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Polisi bahkan tidak menanyai keberadaan mereka dan seperti tidak tahu bahwa ada nama Matsumoto Takanori yang menjadi dalang dibalik semua serangkaian kejahatan organisasi hitam yang dijalankan oleh klan Matsumoto secara turun-temurun.
"Sesuai perjanjian, kau serahkan semua aset kekayaan dan bisnis yang kau jalankan termasuk semua kaki tanganmu. Lalu aku yang akan membereskan semuanya setelah itu."
"Apa timbal balik yang akan Ruki dapatkan?" Tanya Reita pada sosok pria tampan penuh wibawa di hadapannya.
Pria itu tersenyum setelah mengepulkan asap cerutunya. "Kau dan Ruki akan memperoleh kehidupan yang baru. Lepas dari semua tuduhan kejahatan dan lepas dari semua kejaran pihak-pihak yang menginginkan kalian."
"Apa kau sungguh-sungguh?" Tanya Reita seperti tidak yakin dengan ucapan pria di hadapannya.
"Kalian tidak percaya padaku?"
"Kami percaya." Ucap Ruki dengan tatapan mata kosong.
"Aku percaya karena selama ini kaulah yang telah memberi perlindungan pada Yuura dan merawat saudara tiriku itu. Hartaku juga miliknya. Dengan kuberikan padamu, anggap saja itu sebagai balas jasa karena kau telah melindunginya hingga saat ini. Aku bisa membaca pikiranmu. Wajahmu memang licik, tapi aku tahu hatimu tulus dan aku yakin segala harta dan aset yang kulimpahkan padamu akan kau gunakan sebaik mungkin di jalan kebaikan."
Pria itu kembali tersenyum dan kali ini mengelus kepala Ruki yang memang bertubuh lebih pendek darinya. "Kau anak yang menarik. Perasaanmu yang peka itu bahkan jauh lebih berharga daripada sekedar penglihatan manusia. Kau buta mata, tapi hatimu tak pernah buta. Pergilah melihat dunia dan temukan kenyataan bahwa setiap pikiran manusia itu tidak selamanya dipenuhi perasaan iri dengki, tamak dan rendah."
"Terima kasih tuan..."
"Pemilik Rumah. Yuura selalu menyebutku seperti itu."
"Baiklah tuan Pemilik Rumah, ada hal lain yang sebenarnya ingin kuminta darimu."
"Apa itu?"
Ruki menghela nafas beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Bebaskan Mao, Tsurugi, Kei dan juga Aki. Aku tahu itu tidak mudah, tapi setidaknya kau bisa memanipulasi agar mereka di penjara dalam waktu yang tidak terlalu lama. Hilangkan bukti bahwa selama ini mereka telah banyak melakukan pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya. Lakukan juga hal yang sama pada Mizuki, Saga dan juga Uruha. Lalu Yuura...
aku ingin kau mengembalikan penglihatannya."
-Flashback end-
* * *
Pagi yang cerah di rumah kos mami Riku.
Rika dan Chiru seperti biasa sibuk memberi makan kucing-kucingnya, Keiyuu memberi les piano anak tetangga, Mizuki mencuci pirang, Nao masih berbaring dengan alasan masih sakit, Akiya membaca, dan Riku sibuk menghitung cash bon-nya.
Suasana rumah yang tenang itu dikejutkan oleh kedatangan Izumi yang tiba-tiba dan nampak bersemangat seperti biasanya.
"Minna... ada kabar gembira." Ucapnya mengawali. "Yu.. Yuura... hari ini perban matanya akan dilepas."
Kontan saja masing-masing orang ikut bersemangat mendengar itu.
"Hee.. benarkah?!!"
"Iya... tapi..." Izumi kembali lesu.
"Tapi kenapa?" Tanya Chiru bingung.
"Tapi dokter belum bisa memastikan apa operasi itu berhasil membuatnya bisa melihat lagi."
* * *
Yuura menggenggam tangan Kai yang nampak gelisah. "Tidak ada yang lebih penting Kai... bagiku.. memilikimu dan orang-orang lain yang menyayangiku.. lebih berharga daripada sekedar penglihatan mata. Aku tidak akan bersedih meski tetap tak bisa melihat lagi. Itu jauh lebih baik daripada keadaanku beberapa waktu yang lalu."
Kai menggeleng lemah. "Aku yakin kau akan bisa melihat kembali dengan normal karena orang yang menyayangimu sudah berkorban sangat besar demi mengembalikan penglihatanmu."
Yuura sedikit tidak mengerti dengan ucapan Kai, ia ingin mendengar penjelasan lebih panjang tentang ucapan itu, namun dokter dan beberapa perawat sudah lebih dulu datang dan membuatnya menahan kata-kata.
Dokter itu mengucapkan beberapa patah kata, namun Yuura sendiri tidak mampu menangkapnya dengan jelas. Ia sedikit cemas saat dokter itu perlahan membuka perban matanya. Meski tidak masalah kembali menjadi buta, namun hati kecil Yuura tetap berharap ia masih bisa melihat keindahan dunia. Ia masih ingin membaca, masih ingin berjalan-jalan tanpa bantuan orang lain, dan yang lebih terpenting...
Ia masih ingin melihat wajah-wajah orang yang disayanginya.
"Buka matamu secara perlahan." Ucap sang dokter sesaat setelah melepas secara keseluruhan perban mata Yuura.
Kai terus berdoa, di sisinya ada 'Pemilik Rumah' dan beberapa orang yang merupakan kaki tangannya.
Samar-samar dalam tingkat pandangan blur yang sangat tinggi, Yuura berusaha membuka matanya. Awalnya terasa sangat pedih sampai ia merasa lebih baik tidak usah bisa melihat sama sekali. Namun perlahan ia mendapatkan sedikit demi sedikit bayangan yang tergambar.
"Yuura.." Kai memanggilnya.
Pemuda itu hanya menatap kosong tanpa merespon panggilan Kai untuk beberapa saat sampai Kai harus kembali memanggilnya.
"Bagaimana.. apa kamu sudah bisa melihat lagi?" Tanyanya penasaran.
Yuura menunduk diam dengan wajah yang sedih dan membuat Kai semakin bertanya-tanya ada apa dan mengapa. Kai nyaris putus asa karena berpikir kemungkinan buruk Yuura tetap tidak bisa melihat kembali.
Namun Yuura buru-buru mengangkat wajahnya dan tersenyum di hadapan pria itu.
"Aku bisa Kai...
Aku bisa melihat lagi." Ucapnya riang.
Masing-masing orang bisa bernafas lega sekarang. Kai memeluk Yuura dan mengacak rambut bocah itu. "Kamu membuatku cemas saja."
"Syukurlah Yuura." Pemilik Rumah juga turut serta memeluknya.
Dalam suasana kebahagian itu, sosok itu tiba-tiba muncul dengan senyum bahagianya. Ia ingin sekali melihat kebahagian itu, meskipun ia tak mampu melakukannya. Ia hanya bisa bahagia karena merasakan kebahagian itu hadir di tengah-tengahnya.
"Yuura.." Suaranya tercekat nyaris tak dapat keluar karena isak.
Yuura menatapnya, lama dalam diam sampai ia memutuskan beranjak dari posisinya dan menghampiri sosok itu.
Ada yang aneh dengan sosok itu.
Aku di hadapanmu sekarang..
Sangat dekat..
Namun kenapa kau seolah acuh?
Tidak kah kau ingin memelukku?!
"Uru.." Yuura memanggilnya.
Dan itu membuat Uruha sedikit terkejut.
"Kau disini Yuura? Kau di dekatku?" Tangan Uruha berusaha meraba-raba udara, berusaha menggapai Yuura hingga Yuura menyentuh tangannya.
"Kau kenapa?" Tanya Yuura masih tidak mengerti atau tidak mau mengerti dengan keadaan Uru.
Uruha menggeleng. "Tidak apa. Aku baik-baik saja. Sangat baik. Aku senang kau bisa melihat lagi..." Uruha tersenyum dan memeluk tubuh adiknya yang serta merta malah mendorongnya.
"Jangan memelukku! Kau belum menjawab dengan benar pertanyaanku! Kenapa dengan matamu?!!" Tanya Yuura putus asa.
Uruha hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya Kai yang mendekatinya dan berusaha memberitahukan keadaan Uruha saat ini.
"Kakakmu buta Yuura..
Uruha buta karena mendonorkan kornea matanya padamu."
Seketika itu juga wajah Yuura pucat pasi.
Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Kenapa kau lakukan itu?!! Aku tidak butuh kornea matamu!! Aku tidak mau bisa melihat jika harus mengorbankan penglihatanmu!!"
Uruha menggeleng. "Kumohon jangan berkata seperti itu. Aku sudah terlalu banyak bersalah kepadamu. Hanya memberikan penglihatanku, tidak akan menebus semua kesalahanku padamu.."
"Kau kakakku yang bodoh." Yuura akhirnya memeluk sosok itu. Ia tak mampu membendung saat air matanya mengalir membasahi pundak Uru.
* * *
Segala sesuatunya tak kan pernah berarti tanpa adanya kasih sayang.
Kai menemukan kembali keluarganya. Meski tak pernah melihat kedua orang tuanya. Namun seorang laki-laki tua renta datang dan mengaku sebagai ayah dari ayah kandungnya. Dengan kata lain, laki-laki tua renta itu adalah kakeknya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi untuknya adalah..
Kenyataan bahwa kakeknya itu adalah ayah kandung dari 'Pemilik Rumah'.
"Jadi kau ini pamanku ya 'Pemilik Rumah'?"
Pemilik Rumah itu hanya mengacuhkan Kai seolah pertanyaan Kai tidak perlu lagi dijawabnya karena memang sudah jelas adanya.
"Kenapa kau tidak pernah cerita kalau masih memiliki orang tua?" Tanya Kai lagi. Pemilik Rumah itu tetap diam dan masih menekuni kegiatannya membaca harian pagi. Di belakang punggungnya, Yuura juga turut serta membaca.
Putra dari keluarga Yonekura dibebaskan dari penjara karena dinyatakan tidak bersalah dan tidak terlibat dalam tindak pidana yang dilakukan oleh teman-temannya. Sedangkan Mao, Tsurugi dan Kei dijatuhi pidana 5 tahun penjara karena penculikan dan penganiayaan yang mengakibatkan seorang pria menemui ajalnya.
Pria itu adalah Satochi-san.
Sebenarnya hal itu masih menyisakan penyesalan dalam benak Yuura. Seandainya bukan karena Yuura, pria baik itu tentu tidak menemui ajalnya. Namun perjumpaan Yuura dengan istri mendiang Satochi-san membuatnya sedikit lebih lega.
Wanita itu ihklas melepas kepergian Satochi-san.
Baginya semua itu adalah takdir dan tidak ada satu orang pun yang bisa menghindari takdir.
"Yuura.." Kai menyadarkan Yuura dari lamunan kecilnya. "Uruha memberitahuku bahwa saat ini ia dan Aoi telah sampai di Kanagawa." Ucap Kai.
"Ah benarkah? Kapan dia memberitahumu, Kai?"
"Baru saja saat kamu masih mandi."
"Oh baiklah, aku akan menelponnya." Yuura pergi dengan riang. Sudah tentu ia pergi untuk menelpon kakaknya itu. Uruha memang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kanagawa, tadinya Yuura tidak mau Uruha pergi tapi setelah ia pikir-pikir, mungkin itu memang jalan yang terbaik untuknya. Toh Yuura masih bisa setiap waktu pergi ke Kanagawa untuk menemui kakaknya itu.
"Bocah itu juga ada di Kanagawa saat ini." Akhirnya sang 'Pemilik Rumah' bersuara.
"Bocah?? Bocah siapa yang kau maksud?" Tanya Kai tidak mengerti.
"Saudara Yuura yang lain. Bocah buta yang bisa membaca pikiran."
"Ruki?!!"
"Iya dia."
"Darimana kau ta.."
Ting tong..
Baru saja Kai ingin bertanya, tapi tiba-tiba saja pintu bel rumah berbunyi. Dengan sedikit malas Kai bangkit dari tempat duduknya untuk melihat siapa orang iseng yang berani-beraninya memencet bel 'Pemilik Rumah'.
"Jangan mentang-mentang kau pindah ke rumah yang lebih kecil, lantas tak ada seorang pembantu pun yang kau tarik untuk membukakan pintu." Gerutu Kai.
"Biasanya kau tak pernah mengeluhkan hal itu Kai." Balas 'Pemilik Rumah'.
Kai sebenarnya memang tidak mengeluhkan tidak adanya pembantu di rumah pemilik rumah yang baru. Rumah itu memang lebih kecil dari rumah utamanya, namun suasananya sangat tenang dan damai. Kai dan Yuura sendiri lebih menyukai rumah ini daripada rumah Pemilik Rumah yang sebelumnya.
Baru saja Kai membuka sejengkal pintu itu, namun tiba-tiba saja pintu itu sudah membuka lebar seperti terdorong dari luar. Dan yang membuat Kai lebih terkejut adalah..
Tiba-tiba saja sudah ada yang menabraknya dan membuatnya jatuh mundur ke belakang. Kai tidak sadar dengan apa yang terjadi.
Saat membuka mata, ia kini tengah terbaring di lantai dan ada seorang gadis yang jatuh di atas tubuhnya.
"Uuunggghh... Nao jahat!!! Kenapa tiba-tiba mendorongku?!!!"
Gadis itu terdengar merengek menyalahkan orang yang ia tuduh telah mendorongnya dan jatuh menabrak serta menimpa Kai di bawahnya.
"Astaga.. Rika... kamu baik-baik aja kan...?!!"
Gadis itu tampak mengusap-ngusap mata dan perlahan membuka matanya. Sementara Kai sendiri nyaris tak berkedip saat menatapnya, dan tidak ada pula keinginannya untuk menyingkirkan gadis itu dari atas tubuhnya.
Butuh tiga detik -setelah membuka mata- gadis itu akhirnya sadar akan posisinya.
Wajah terkejutnya membuat Kai merasa gadis itu sangat lucu.
"Ma... maafkan aku..." Ucapnya seperti ingin menangis. "A...ku.. tidak sengaja.. me..nimpa..mu.."
Kai justru tertawa melihat wajah penyesalannya. "Tidak apa nona.. hanya kecelakaan." Ucap Kai seraya menunjukkan senyum termanisnya.
Gadis itu buru-buru bangkit dari atas tubuhnya dan berlari ke belakang teman-temannya.
"Kamu kenapa sih Ka??"
"A- aku malu..." Bisik gadis itu pada teman yang menanyainya.
"Hehehee.. maafkan kami ya Kai-kun.. sori nih udah bikin kamu kejatuhan nangka busuk." Ucap Nao cengar-cengir tanpa ada perasaan bersalah. Rika kontan saja melempar alas kaki yang dipakainya kearah Nao, meskipun akhirnya alas kaki itu malah mengenai Kai dan membuat Rika lebih malu lagi.
* * *
"Terima kasih ya kalian mau datang mengunjungiku." Ucap Yuura ramah.
"Hahahaa sama-sama. Kebetulan kami ingin melihat tempat tinggalmu yang baru dan kebetulan juga letaknya dekat dengan rumah kos kita. Benar begitu kan teman-teman?!!" Tanya Nao pada teman-temannya yang lain.
Semua mengiyakan. Namun ada satu yang hanya menundukkan wajahnya malu-malu.
"Rika-san kenapa? Apa sedang sakit?" Tanya Kai saat memandang lekat gadis itu.
Rika menggelengkan kepalanya lemah.
"Haduh-haduh.. sawan nih keaknya si Rika. Kudu disembur mbah dukun." Ucap Chiru terkikik geli.
"Sawan??"
"Hehehee.. bukan apa-apa kok Yutaka-san. Biasalah, Rika emang kadang-kadang kumat penyakit anehnya." Tambah Keiyuu.
"Hah?!! Jadi kau bener-benar sakit Rika-san??"
Rika baru saja ingin menggeleng, namun Kai sudah lebih dulu menarik tangannya dan memaksa membawa gadis itu ketempat yang lebih nyaman untuk berisitirahat.
"Wedeh mau dibawa kemana tuh si nyai Dasima??" Tanya Nao bisik-bisik pada Chiru.
"Gara-gara kamu sih Nao pake dorong-dorong. Makanya sekarang ada yang doki doki aishiteru yo." Balas Chiru bisik-bisik.
"Memangnya selama ini Rika belum pernah ya ketemu sama orang yang namanya Kai itu?? Kok baru sekarang doki-dokinya?!"
"Wah benar juga ya Kei. Kenapa kok baru sekarang mereka ketemunya ya...??"
"Umm.. kalian bisik-bisik apa ya..?" Tanya Yuura bingung.
Dan ketiga gerombolan siberat yang gak lain adalah Nao, Chiru dan Keiyuu itu langsung cengar-cengir gejeh.
Gak lama kemudian bel kembali berbunyi. Yuura permisi untuk membukakan pintu dan kemudian kembali dengan membawa Mizuki, Akiya, Izumi, Hiroto dan Saga.
"Hei kenapa kalian juga menyusul kemari?" Tanya Nao pada mereka.
"Memangnya gak boleh? Kami diundang makan siang oleh Pemilik Rumah!" Seru Izumi.
"Wah jangan-jangan kita mau disuguhi liver manusia ya..."
"Liver mu lah yang akan aku suguhkan anak muda." Ucap Pemilik Rumah yang tiba-tiba datang dan menghampiri Nao sambil membawa sebuah katana panjang ala samurai penyamun.
Nao berjengit dan loncat ke belakang Yuura, sementara yang lainnya hanya terkikik geli.
* * *
Di lain tempat, saat ini Bou sedang dipenuhi pikiran suntuknya.
Sejak Aki dipenjara, nampaknya tidak ada lagi hal menarik yang ada di hidupnya. Kanon sendiri tidak bisa menghiburnya dan malah pergi untuk membiarkan Bou tenang seorang diri.
"Kapan kau pulang aniki...?" Tanyanya pada diri sendiri.
Ia tahu pertanyaan itu tak mungkin terjawab, namun ia tak pernah menyangka bahkan sedikit pun tak menduga saat tangan itu melingkar memeluknya dari belakang bersamaan dengan kecupan hangat di lehernya.
"Aku kembali Bou..."
Bou membalik tubuhnya secepat yang ia bisa. Dan alangkah girangnya ia saat mendapati sosok Aki yang tengah memeluknya.
"Apa kau kabur dari penjara Aniki??"
"Bodoh! Mana mungkin begitu. Tentu saja ayah yang membebaskanku."
"Hah?!! Benarkah seperti itu??" Bou terus bertanya seolah masih tidak percaya. Namun Aki tidak menjawab atau tidak ada keinginan untuk menjawab karena ia lebih berhasrat untuk menghadiahi Bou sebuah kecupan yang hangat di bibirnya.
Di balik itu semua, Kanon tanpa sengaja melihat kebahagian Bou dan Aki tersebut. Hatinya memang sakit, namun lebih daripada itu, ia kini bahagia karena mengetahui Bou bahagia dengan orang yang disayanginya.
* * *
Kanagawa, siang hari.
Semuanya tetap terasa gelap meski cahaya matahari menyorot silau melewati jendela dan menyinari wajahnya.
"Aku tak percaya kau memilih buta demi Yuura, Uruha."
"Kita sekarang sama saja Ruki. Aku jadi sedikit mengerti duniamu dalam kegelapan ini."
"Tidak sepenuhnya. Kau tetap tidak memahami hal-hal lain tentang diriku. Aku tahu kau masih membenciku karena aku membuatmu membenci Yuura dan membunuh ayah kita."
"Aku memang masih membencimu. Tapi aku akan belajar memaafkanmu seperti kau belajar memaafkan kesalahanku padamu di masa lalu. Mari kita mulai kehidupan baru. Reita sebagai matamu dan Aoi sebagai mataku."
"Aku sepakat dengan itu." Ruki pergi dari hadapan Uruha dengan menggapai tangan Reita.
Semuanya telah berakhir, namun bagi Ruki...
Kehidupannya baru dimulai hari ini.
* * *
Nanairo CRAYON =Finish=
Tampilkan postingan dengan label MUCC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUCC. Tampilkan semua postingan
Nanairo CRAYON part 17 -Starting for a New Life- [Final Chapter]
Diposting oleh
Kyrie Keka
on Sabtu, 05 Desember 2009
Label:
Alice Nine,
An Cafe,
Kagrra,
Kra,
MUCC,
Nanairo CRAYON,
PS Company,
Sadie,
the GazettE
/
Comments: (0)
Nanairo CRAYON part 13
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Alice Nine,
Kagrra,
Kra,
MUCC,
Nanairo CRAYON,
PS Company,
Sadie,
the GazettE
/
Comments: (0)
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, Sadie, An Cafe n more…
Author: -Keka-
* * *
”Kau masih disini Mizuki?! Aku pikir kau sudah pergi tadi setelah memecahkan vas bunga itu.” Uruha berdiri di ambang pintu kamar Mizuki sambil menyulut rokoknya dan mulai menghisap rokok itu dalam-dalam.
==1313==
t.b.Kontinyut~
Author: -Keka-
* * *
Musim apa ini??
Apakah semi, panas, gugur ataukah sudah memasuki musim dingin??
Semuanya terasa berputar tak pasti dan semakin jauh meninggalkan kenyataan.
Ada seorang wanita yang menjerit diantara kerumunan manusia-manusia dan seorang laki-laki yang terkapar bersimbah darah. Wanita itu menangis dan memeluk tubuh bersimbah darah itu. besar harapannya agar laki-laki itu kembali membuka mata, tapi seperti yang telah digariskan sebelumnya, laki-laki itu sudah tiada dan hanya meninggalkan sebuah nama...
Satoshi Takayasu..
Tidak jauh dari itu semua,
Seorang laki-laki lain kini tengah dirawat setelah satu jam yang lalu menjalani operasi.
Naoran mengalami pendarahan organ dalam karena hatinya robek akibat tumbukan benda keras.
Ya, sebuah mobil menabraknya. Mobil itulah yang membawa Yuura pergi menjauh dan mungkin akan sangat jauh dan sulit dijangkau oleh laki-laki lain yang kini sedang cemas memikirkannya...
Uke Yutaka,
Laki-laki pemilik senyum manis yang lebih sering dipanggil Kai itu terus memikirkannya, memikirkan Yuura yang sudah lebih dari 3 hari meninggalkannya. Tidak tergambar senyum manis lagi di wajahnya. Yang tertinggal hanyalah kecemasan dan ketakutan jika kelak ia tidak akan pernah melihat Yuura kembali.
Wajah kecemasan dan kemurungan Kai sama dirasakan oleh laki-laki yang kini sedang menatapnya dari kejauhan...
Saga,
Laki-laki berwajah indah itu tidak percaya jika ia harus menghilangkan nyawa orang lagi. Itu semua agar Hiroto selamat. Tidak ada pilihan dan jalan lain. Ia harus tetap membunuh agar Hiroto baik-baik saja. Hiroto terlalu tidak berdosa untuk dilibatkan dalam masalahnya.
Tapi sepertinya Saga kembali iba.
Laki-laki yang menjadi targetnya ternyata hanyalah seorang laki-laki sederhana berwajah ramah yang sepertinya sedang dalam kesusahan. Wajahnya bahkan terlihat lebih sedih daripada wajah Saga saat ini. Saga tidak yakin apakah ia bisa membunuh laki-laki itu.
Selama ini seperti yang diyakininya, Saga hanya membunuh orang-orang jahat yang menyakitinya atau orang yang akan menyusahkannya. Ia tidak membunuh orang-orang baik bahkan jika itu tuntutan dari organisasi hitam yang telah mendidiknya menjadi seorang pembunuh kejam.
Tapi tuntutan kali ini berbeda. Nyawa Hiroto taruhannya. Kalau ia menolak membunuh laki-laki itu, entah apa yang akan dilakukan organisasi pada Hiroto, satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya. Saga tidak menginginkan itu. ia akan kehilangan Tora sebentar lagi. Dan ia tidak mau jika berikutnya Hiroto lah yang akan pergi meninggalkannya.
Saga sudah mengambil keputusan..
Ia akan tetap membunuh laki-laki itu. seseorang dengan nama Uke Yutaka akan kehilangan nyawanya. Dan Saga memastikan bahwa laki-laki itu akan kehilangan nyawa dengan mudah agar ia tidak perlu merasakan kesakitan.
==1313==
Berderet wajah-wajah cemas itu mendadak bisa menghembuskan nafas lega saat dokter mengatakan bahwa Naoran sudah melewati masa kritisnya.
“Dia akan sadar beberapa saat lagi.” Ucapan dokter itu bagaikan ucapan hakim yang menyatakan keputusan tidak bersalah pada terdakwa hukuman mati.
Rika dan Chiru meneteskan air mata saking terharunya. “Kirain Nao bakalan mati, biar nyusahin tapi kalo gak ada dia rumah kos kita bakalan sepi.” Ucap Rika sambil nyusruk meluk Akiya di sampingnya. (Keka: kesempetan niy ye...XD~)
Gak butuh waktu lama, dengan gembira Izumi mengatakan bahwa Nao sudah sadar. Teman-temannya pun memaksa ingin melihat keadaannya secara bersamaan, meskipun perawat hanya memperbolehkan dua orang saja yang boleh masuk terlebih dahulu.
Akhirnya Akiya dan Izumi lah yang masuk, sementara Rika, Chiru dan Keiyuu menunggu di luar.
Nao terlihat lemah, meskipun akhirnya ia mendadak seperti orang panik.
“Yu.. Yuura... Satochi-san.. mereka.. mereka dalam bahaya..!!!”
“Hei tenanglah Nao, kamu baru aja selesai dioperasi. Memangnya apa yang terjadi pada kalian?” Tanya Izumi cemas.
Dengan susah payah Naoran menjelaskan.
“Orang-orang itu menangkap Yuura dan membawanya dengan sebuah mobil setelah sebelumnya menusuk Satochi-san dengan pisau dan menabrakku.”
“Orang-orang itu siapa?” Tanya Akiya tidak mengerti.
“Entahlah Aki, aku sama sekali gak kenal.”
“Tunggu Nao, tadi kamu bilang.. orang yang namanya Satochi itu ditusuk dengan pisau?”
“Iya itu benar Izumi, aku ingin menolongnya.. tapi entahlah aku bingung karena Yuura gak sadarkan diri dan diangkut dalam mobil yang menabrakku itu.”
“Hm.. tadi waktu kamu dioperasi.. aku melihat perawat perawat membawa seorang laki-laki yang bersimbah darah. Menurut orang-orang yang membawanya,laki-laki itu ditemukan di tepi dermaga dengan tubuh bersimbah darah karena tusukan benda tajam.”
Nao sedikit membelalakkan matanya.
“Lalu bagaimana keadaan laki-laki itu Izumi???” Tanyanya tidak sabar.
Izumi menghela nafas panjang sebelum menjawab.
“Laki-laki itu sudah meninggal.”
Wajah Nao mendadak semakin pucat. Sesuai dugaan Yuura. begitu pikirnya. Akhirnya Satochi juga menemui ajalnya.
==1313==
Saat ini anak itu hanya bisa terkulai tak sadarkan diri. obat bius dosis tinggi telah membuatnya tertidur untuk jangka waktu yang cukup lama.
“Cukup untuk menahannya sampai Aki tiba.” Ucap Tsurugi sambil mengikat tangan Yuura yang masih tidak sadarkan diri.
“Apa tidak kelewatan?! Kita sudah membiusnya, tak perlu sampai mengikatnya segala kan?!”
“Kau tidak belajar dari pengalaman Kei, saat kita mengurungnya di ruang tertutup sekalipun, anak ini masih bisa melarikan diri. apalagi hanya gudang seperti ini?! Kita harus terus mengawasinya.” Ucap Tsurugi setelah memastikan bahwa tali yang ia ikatkan pada kedua tangan Yuura telah membelenggunya dengan baik.
“Bagaimana nasib orang yang kau tikam itu Tsurugi?” Tanya Mao yang sedari tadi iseng melempar pisau-pisau kecil pada papan sasaran yang menempel di salah satu dinding gudang.
“Aku pastikan orang itu sekarang sudah mati. Dengan luka yang dalam seperti itu, mustahil baginya untuk tetap hidup.”
“Ya baguslah, aku tak mau gara-gara orang itu kita semua mendapat masalah. Lalu laki-laki lain yang bersama anak itu.. apa menurutmu dia juga mati?”
“Entahlah, aku juga tidak yakin Mao. Tapi kita bisa minta seseorang untuk membereskannya.”
==1313==
Aoi melangkahkan kakinya dengan canggung saat tidak ada seorang pun yang bisa ia temukan di rumah itu. tampak lain dari biasanya, rumah yang selalu dipenuhi keceriaan itu tampak mati dan sunyi.
Satu persatu Aoi memanggil nama teman-temannya. Tapi satu persatu pula pemilik nama yang ia panggil tidak menampakkan wujudnya. Laki-laki itu mulai putus asa sampai akhirnya ia melihat siluet itu dari keremangan cahaya. Sosok bertubuh cukup tinggi dan langsing yang selalu menghiasi harinya dengan keindahan.
“Uruha? Kaukah itu?!” Tanya Aoi seperti tidak yakin dengan penglihatannya sendiri, meski tak sedikit pun ia meragukan matanya.
“Iya Aoi, ini aku... Uruhamu..” Suaranya terdengar lemah.
Aoi mengernyitkan sedikit dahinya. “Kau sendirian? Mana yang lain?”
“Mereka pergi karena ada urusan mendadak.”
“Urusan mendadak? Urusan apa??” Aoi bertanya-tanya bingung, sementara Uruha mulai mendekatinya. Menggiring Aoi untuk duduk di salah satu sofa dan membuatnya rileks dengan membelai wajah laki-laki itu.
“Tidak tahu, tapi sepertinya itu tidak ada hubungannya dengan kita.” Uruha mulai merebahkan kepalanya dan menyandarkannya ke bahu Aoi. Ia bukan tidak tahu, tapi ia tidak ingin Aoi tahu. “Sudahlah Aoi, aku pikir ini baik untuk kita berdua. Sejak tinggal bersama teman-temanmu disini, kita hampir tidak punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama.” Ucap Uruha sembari mengelus-elus paha Aoi dan terus berlanjut hingga ke atas.
Aoi hanya tersenyum tipis. Berusaha membiarkan Uruha untuk bertindak lebih dulu.
“Jadi kau tidak suka tinggal disini bersamaku dan teman-temanku?”
“Bukan begitu Aoi, aku suka.. hanya saja...” Uruha memperlambat ucapannya seiring gerakan lambatnya menurunkan resliting celana Aoi.
“Hanya saja apa?” Tanya Aoi dengan mata sedikit terpejam saat merasakan kenikmatan yang ia peroleh saat Uruha merayapkan jemarinya ke dalam celananya dan menyentuh bagian sensitif dari tubuhnya yang sangat diinginkan Uruha saat ini.
“Hanya saja... aku tidak merasa punya kebebasan untuk melakukan hal ini.” Uruha meremas-remas milik Aoi yang mulai menegang. Lalu membimbing tangan Aoi untuk melakukan hal yang sama pada dirinya.
Aoi menurut lalu menurunkan resliting celana Uruha. Dengan sedikit gerakan ia juga mulai memalingkan wajah dan tubuh Uruha tepat di depan wajahnya, lalu mencium bibir laki-laki itu dengan antusias. Membiarkan Uruha menghisap bibirnya dan menikmati setiap gerakan lidahnya yang bertautan dengan lidah lawan mainnya tersebut.
Mereka seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar yang saat itu memang sangat sepi. Tidak ada seorang pun selain mereka berdua, yah itulah yang ada di benak mereka masing-masing. Meskipun sesungguhnya ada sosok laki-laki lain di rumah itu yang kini sedang memperhatikan dengan muak tindakan mereka berdua.
Mizuki mendengus. Bukan karena kesal dengan tingkah kedua orang itu. ia hanya merasa kesal karena melihat kebodohan Aoi. Bagaimana mungkin Aoi tertipu dengan orang itu? Laki-laki itu jahat. Uruha seorang pembunuh.
Lalu apa bedanya Uruha dengan dirimu Mizuki..
Mizuki mengepalkan jemari tangannya. Marah pada diri sendiri karena menyadari dirinya yang dulu juga seorang pembunuh. Dan kini ia harus kembali membunuh.
Uruha mengancamnya.
Laki-laki itu memastikan bahwa semua teman-temannya yang menerima keberadaannya saat ini akan menjauhinya setelah mengetahui bahwa seorang diantara mereka pernah berprofesi sebagai seorang pembunuh.
Mizuki tidak mau kehilangan mereka. Setelah satu-satunya adik yang ia sayangi meninggal karena dadanya tertembus peluru, ia tidak ingin kembali kehilangan mereka yang ia sayangi. Teman-teman yang selama ini mengisi hari-harinya dengan kabahagiaan.
Aku bahagia saat bersama Mao, Aki, Tsurugi dan Kei..
Aku bahagia menjalani profesiku sebagai seorang pembunuh bersama mereka..
Tapi aku lebih bahagia saat menjalani kehidupan konyol dengan orang-orang yang menganggapku orang tolol dan konyol..
Mizuki ingin berlari pergi, membiarkan kedua orang memuakkan itu memuaskan hasrat mereka yang meluap-luap.
Uruha sudah berpindah posisi menghadap Aoi seutuhnya dan membuka kedua kakinya diantara kedua paha Aoi. Menengadahkan wajahnya keatas dan membiarkan Aoi menjilati dan menghisap daerah di sekitar lehernya hingga dadanya. Sementara ia sendiri mulai menurunkan celananya melewati pinggulnya dan mengeluarkan milik Aoi lalu menyentuhkannya dengan miliknya sendiri.
Mizuki sudah tidak menatap mereka. Ia membalikkan badannya dengan cepat, secepat gerakannya menjatuhkan vas bunga milik Rika yang setiap pagi diisi oleh temannya itu dengan setangkai mawar merah.
Vas bunga itu hancur berkeping dengan setangkai mawar yang tergeletak dan air yang tumpah mengalir. Mizuki terkejut meskipun tidak mempedulikannya dan akhirnya pergi begitu saja sebelum Aoi dan Uruha cepat-cepat menyadari dan menangkap basah tindakan dirinya mengintip sejenak perbuatan mereka.
Tentu saja suara pecahan vas bunga itu mengagetkan Aoi dan Uruha yang otomatis menghentikan aktivitas mereka.
“Kau bilang di rumah ini hanya ada kita..” Aoi terdengar sedikit kesal. Tentunya ia akan sangat malu jika seorang dari temannya melihat perbuatannya bersama Uruha saat ini.
“Maaf Aoi, sepertinya aku melupakan satu orang.” Uruha bangkit dari atas tubuh Aoi, membetulkan posisi celananya sendiri lalu memeriksa keadaan sekitarnya.
“Siapa yang kau maksud?” Tanya Aoi yang juga telah membetulkan posisi celananya.
“Temanmu itu.. seseorang dengan pierching di bibir.”
“Mizuki??”
“Ya dia.. aku lupa jika dia tidak ikut pergi dengan yang lainnya ke rumah sakit.”
“Rumah sakit??!!” Aoi terdengar terkejut. “Siapa yang sakit??” Pertanyaannya sangat menuntut jawaban.
Uruha terdiam sejenak. Seharusnya ia tidak menyinggung kata rumah sakit di hadapan Aoi.
“Cepat beritahu aku Uruha!!” Paksa Aoi yang tentu saja tidak memberi Uruha pilihan untuk berbohong.
“Ng.. temanmu yang bernama Naoran.. tadi malam mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi karena mengalami pendarahan organ dalam. Orang-orang di rumah ini pergi untuk melihat keadaannya.”
Aoi tampak semakin kesal. “Lalu kenapa sejak awal kau tidak memberitahuku?!! Naoran itu temanku!!”
“Lalu aku ini apa?!! Apa kau lebih mementingkan Naoran itu daripada aku kekasihmu ini?”
“Tidak ada hubungannya dengan itu! Sudahlah Uruha beritahu aku dimana Nao dirawat.”
Uruha menghela nafas. Tidak ada juga alasan baginya untuk menahan Aoi agar tidak bertemu dengan Nao. Lagipula kecelakaan Nao tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, meskipun Uruha sangat yakin jika pelaku yang menyebabkan Nao celaka adalah Mao dkk karena Nao pergi bersama Yuura yang menjadi incaran kelompok pembunuh Sadie itu. Uruha tidak mengambil tindakan berlebih mengetahui bahwa adiknya ada ditangan Sadie. Ia yakin Yuura akan baik-baik saja sampai ia sendiri yang akan mencungkil matanya dan menghentikan detak jantung adiknya tersebut dengan kedua tangannya.
==1313==
Dari jendela kamarnya, Mizuki memperhatikan Aoi yang mengendarai mobilnya dengan terburu. Ia pergi sendiri, itu artinya Uruha tidak ikut bersamanya dan sekarang..
”Kau masih disini Mizuki?! Aku pikir kau sudah pergi tadi setelah memecahkan vas bunga itu.” Uruha berdiri di ambang pintu kamar Mizuki sambil menyulut rokoknya dan mulai menghisap rokok itu dalam-dalam.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu di rumah ini sendirian sementara yang lainnya sedang pergi?!!”
Uruha mulai masuk ke dalam kamar Mizuki sebelum Mizuki sempat mempersilahkan laki-laki itu dengan sopan untuk memasuki kamarnya.
“Tidak ada benda berharga yang bisa kuambil dari rumah ini. lagipula aku ini seorang pembunuh, bukan pencuri.” Uruha menghembuskan asap rokoknya tepat di depan wajah Mizuki. “Aku tadi hanya menunggu kedatangan Aoi untuk bersenang-senang, tapi karena ulahmu.. kami jadi kehilangan mood untuk melakukan itu.”
“Lalu kenapa Aoi meninggalkanmu dengan terburu-buru?”
Uruha tersenyum dengan sedikit seringaian. “Oh.. jadi kamu tidak tahu kejadian yang menimpa Naoran?!”
“Maksudmu? Apa hubungannya dengan Nao?” Tanya Mizuki tidak mengerti.
“Tidak membunuh orang selama beberapa tahun ini rupanya membuat dirimu semakin bodoh ya Mizuki..” Ucapan Uruha terdengar sengak.
“Terserah kau mau menyebutku bodoh atau apapun juga. Aku sama sekali tidak peduli itu.”
“Oke baiklah, aku beritahu ya... teman-teman Sadiemu menculik Yuura adikku.”
“Yuura?? Maksudmu Yuura teman Nao?? Dia adikmu?!!” Tanya Mizuki tidak percaya sekaligus bingung. “Memangnya kenapa mantan mantan temanku harus menculik adikmu itu?”
“Tentu saja karena Yuura adalah harta berharga yang sangat diinginkan oleh organisasi hitam yang pernah memperkerjakanmu. Apa kau tidak pernah mendengar kalau ada seorang dokter dan ilmuwan yang berhasil menanamkan mata setan pada mata anak laki-lakinya?”
Mizuki berusaha mengingat. Ia memang pernah mendengar cerita itu. konon dengan mata itu, anak itu bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mata orang normal. Mata itu bisa menembus masa lalu dan masa depan serta melihat hal-hal gaib. Tapi apa hubungannya dengan Yuura terlebih dengan Nao?
“Yuura adikku adalah pemilik mata setan itu. beberapa tahun yang lalu ia melarikan diri dari kerangkeng organisasi hitam yang memanfaatkan matanya setelah membunuh banyak ilmuwan dan petugas penjaganya dengan meledakkan ruang isolasi yang mengurungnya. Sejak itu dia terus menerus dijadikan burunon hidup-hidup. Pemimpin organisasi tetap menginginkannya semata karena mata setan itu.”
“Memangnya apa kegunaan mata adikmu itu untuk organisasi?”
“Tentu banyak. Selama berada dalam pengawasan dan disekap dalam ruang isolasi, Yuura hampir tidak bisa bergerak bahkan untuk sekedar memejamkan matanya. Dia dipaksa untuk melihat hal-hal yang akan terjadi di masa datang. Transaksi narkoba dan senjata besar-besaran yang dilakukan oleh pihak organisasi selalu berhasil berkat penglihatan matanya. Yuura tidak bisa berbohong dengan apa yang dilihatnya, karena jika dia berbohong sedikit saja.. tubuhnya akan tersengat aliran listrik yang sejak awal sudah dipasang hampir diseluruh tubuhnya. Dengan mata itu dia bisa meramalkan kejadian di masa datang dengan ketepatan seratus persen. Dan setelahnya, dia akan melupakan hal-hal yang dilihatnya karena para ilmuwan yang meneliti dan mengawasinya akan segera mencuci otaknya. Kehidupan yang menyengsarakan. Sebagai kakaknya aku merasa prihatin dengan nasibnya.”
“Tapi wajahmu tidak mengisyaratkan bahwa kau prihatin dengan nasib adikmu.”
Uruha lagi-lagi tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. “Dia membunuh orang tua kami. Aku tidak bisa memaafkannya.”
“Apa kalian memang saudara kandung? Aku tidak melihat kemiripan pada diri kalian.”
“Aku hanya anak angkat. Orang tua Yuura membesarkanku sejak balita. Setelah berusia 4 tahun, orang tua angkatku itu memberiku adik yang tidak lain adalah Yuura. dia terlahir buta. Tapi saat Yuura berusia 3 tahun, orang tua kami berhasil menanamkan korneo mata istimewa dari seorang miko yang tewas bunuh diri. korneo mata itu yang membawa keistimewaan pada matanya. Tapi Yuura tumbuh jadi anak yang penakut karena mata itu. ia selalu menangis padaku karena melihat hal-hal yang tidak diinginkannya. Sampai akhirnya ia melihat orang tua kami berniat menjualnya pada organisasi dengan imbalan uang yang sangat besar. Yuura yang ketakutan dengan penglihatannya itu akhirnya membunuh kedua orang tua kami dan seluruh pelayan rumah kami. Meskipun demikian, toh akhirnya organisasi tetap mendapatkannya. Padahal sesungguhnya, tidak terbersit sedikit pun keinginan orang tua kami untuk menjualnya. Yuura tertipu oleh matanya sendiri. Ia selalu dihantui ketakutan dengan penglihatan yang ia terima sampai akhirnya ia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang semu.”
“Tapi akhirnya kau juga bekerja untuk organisasi itu. padahal kau tahu kalau adikmu tersiksa karena ulah organisasi itu.”
“Sudah kubilang kalau aku tidak bisa memaafkannya!! Dia telah membunuh orang yang mengangkatku sebagai anak dan sangat menyayangiku seperti anak sendiri. Dengan menyerahkannya pada organisasi, kupikir itu adalah cara yang terbaik untuk membalas perbuatannya. Lalu Yuura berhasil kabur. Itu membuatku marah dan ingin membunuhnya.”
“Lalu apa hubungannya dengan Nao saat ini?”
“Itulah Yuura, dia selalu membawa bencana bagi orang-orang disekitarnya. Yang aku dengar, Nao baru saja mengalami kecelakaan serius setelah berjalan-jalan bersama Yuura. tentu saja aku tahu apa penyebabnya. Mao dan teman-temanmu yang lain mengincar Yuura. karena merasa keberadaan Nao menganggu, akhirnya mereka mencelakakan Nao yang berada di dekatnya. Karena itu aku peringatkan padamu Mizuki.. teman-temanmu yang lain pun akan mengalami hal yang sama jika masih berurusan dengan Yuura. terlebih jika kau tidak mau kembali bergabung bersama kami menjadi seorang pembunuh bayaran kembali. Bukan hanya kau, aku bahkan sudah mengajak Saga teman lamaku untuk kembali bergabung dengan sedikit ancaman akan menghabisi nyawa Hiroto.”
“Hah apa?!! Kenapa jadi rumit seperti ini?? Memangnya apa hubungan Saga dan Hiroto dengan semua ini????”
Uruha kembali menjelaskan. “Saga sama seperti dirimu. Dia dulu juga seorang pembunuh bayaran. Dia dididik bersama-sama denganku dan Hiroto yang kau ketahui adalah sahabat kecilnya itu ternyata adalah adik tirinya. Saga pasti akan memilih kembali menjadi pembunuh daripada Hiroto yang disayanginya akan celaka.” Terbersit senyum licik dari wajah Uruha yang terus menatap Mizuki dengan mata tajam menusuknya.
Mizuki tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa terjebak sama seperti Saga. Jika ia memilih untuk tidak menerima tawaran Uruha, entah apa yang terjadi pada teman-temannya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat Mizuki berniat membunuh orang yang saat ini bersantai di hadapannya.
Tanpa sadar kepalan tangan Mizuki sudah mendarat di wajah Uruha. Rokok dari bibir laki-laki itu terlepas dan jatuh begitu saja di lantai kamarnya bersamaan dengan tubuh Uruha yang terhuyung mundur ke belakang.
“Lakukan dengan benar Mizuki!! Kau bahkan tidak bisa memukulku dengan tepat!!” Ucap Uruha sembari meludahkan darah dari bibirnya dan mencengkram kerah baju Mizuki. Lalu dengan gerakan cepat, Uruha berhasil membalas Mizuki dengan pukulan yang lebih menyakitkan. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali termasuk tendangan lutut yang menghujam perut Mizuki. Mizuki jatuh menabrak salah satu dinding kamarnya yang memang sempit. Merasakan bau anyir darah dari bibirnya sendiri.
“Pikirkan baik-baik Mizuki. Kau tidak mau salah satu dari temanmu ada yang terluka kan?! Bagaimana jika aku membutakan mata Akiya? Dia seorang calon dokter kan?! Pasti repot jika matanya sampai buta. Atau aku akan memutus urat tangan Keiyuu agar dia cacat dan tidak bisa bermain piano lagi.. ah.. atau bagaimana jika aku merusak wajah Chiru?? Kau tidak mau salah seorang teman wanitamu mengalami cacat wajahkan?!”
Mizuki hanya bisa diam. Ia tahu saat ini ia kalah dan hanya bisa menuruti keinginan Uruha.
Uruha tersenyum puas. Diam dari diri Mizuki itu sudah cukup ia jadikan sebagai jawaban.
Dalam diam itulah Uruha pergi meninggalkan Mizuki sendiri. Tujuan laki-laki itu hanya satu..
Ia ingin menjemput Yuura dan mengantar adik tersayangnya itu menuju gerbang kematian.
t.b.Kontinyut~
Nanairo CRAYON part 12 -Time of Dead-
Diposting oleh
Kyrie Keka
Label:
Kagrra,
Kra,
MUCC,
Nanairo CRAYON,
PS Company,
Sadie,
the GazettE
/
Comments: (0)
Fandom: Jrock staring the GazettE, Kagrra, Kra, An Cafe, Alice Nine, Sadie n more…
Author: -Keka-
* * *
“Hei kalian mo kemana?”
Nao menoleh saat Keiyuu memanggilnya, padahal Nao baru saja ingin angkat kaki dari rumah bersama Yuura.
“ng.. ka- kami mo jalan-jalan Kei.”
“Jam segini??? Inikan sudah hampir malam Nao, berbahaya berkeliaran di luar rumah kalo hari mulai gelap.”
Nao tahu itu, tapi Yuura memaksanya mencari orang yang bernama Satoshi Takayasu itu, makanya ia mau saja diajak keluar rumah walaupun hari mulai gelap.
“Hanya sebentar Kei, kami akan pulang sebelum jam makan malam.” Ucap Nao yang langsung menarik tangan Yuura, lalu keluar meninggalkan rumah.
Keiyuu ingin mencegah, tapi ia mengurungkan niat itu karena menyadari hal itu sudah tidak berguna untuk saat ini.
Di belakang Keiyuu, Akiya tampak memperhatikan dengan penuh curiga meskipun ia tidak berkata apa-apa.
==1212==
“Anak itu bergerak.”
“Seorang diri?”
“Tidak. tapi dengan seorang temannya.”
“Dia punya teman??”
“Sepertinya begitu.”
“Lalu bagaimana dengan orang itu?”
“Maksudmu Uruha?”
“Iya, dia.. bukannya dia juga tinggal di rumah itu dengan kekasih laki-lakinya. Berarti dia sudah bertemu dengan adiknya dan punya banyak kesempatan untuk mendekati pemuda bermata setan itu, termasuk membunuhnya sewaktu-waktu.”
“Mao, ucapanmu itu tidak akan terjadi. Uruha bukan orang gegabah yang akan membunuh di tempat yang tidak tepat seperti di rumah itu. kita tahu rumah itu bukan hanya dihuni satu atau dua orang saja. Bahkan Mizuki juga ada di rumah itu.”
Mao tersenyum mendengar ucapan Tsurugi. “Mizuki ya.. bodohnya dia.. Kenapa dia masih juga ada di kota ini? apa dia pikir dengan mengubah diri menjadi orang baik-baik.. dia yakin keberadaannya tidak bisa kita temukan?!”
“Entahlah Mao, tapi kurasa dia masih menetap di kota ini karena kota ini adalah tempat kelahirannya dan tempat kelahiran adiknya yang mati tertembak itu. mungkin dia masih ingin mengenang kebersamaannya dengan mendiang adiknya itu.”
“Hei hei kalian, berhentilah membicarakan si pengecut Mizuki itu sebelum pemuda itu menghilang bersama temannya.” Ucap Kei yang duduk di jok belakang mobil dan masih memusatkan matanya pada sosok Yuura dan Nao yang berjalan terburu-buru.
==1212==

Satochi tersenyum saat mengakhiri percakapan hangatnya di ponsel. Tadinya ia tidak yakin, tapi ternyata istrinya mau memaafkan dirinya dan mengerti dengan semua penjelasannya. Wanita itu akan kembali, bukan hari ini. tapi besok Satochi akan menjemputnya di dermaga itu, tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan tempat dimana Satochi pernah melamarnya.
Karena terlalu senang, Satochi sampai tidak mendengarkan ketukan pintu rumahnya. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya ia sadar dan melongok ke arah pintu itu.
Siapa? Tanyanya dalam hati.
Untuk menjawab pertanyaannya, ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju pintu itu. mungkin hanya Miya, Tatsurou atau Yukke. Begitu pikirnya, tapi ternyata dugaannya salah. Yang datang hanyalah dua pemuda yang sepertinya tidak begitu ia kenal. Tapi setelah memperhatikan lebih lama, Satochi akhirnya mengenali salah satu dari mereka dan segera membukakan pintu itu.
“Kau Yuura?”
“Ah Satochi-san syukurlah aku masih bisa bertemu denganmu.” Ucap Yuura bersemangat.
“Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?”
“Iya penting banget.” Tanpa menunggu dipersilahkan, Yuura langsung masuk begitu saja di rumah itu. Nao berusaha mencegahnya, tapi terlambat. Lagipula orang yang dipanggil Yuura dengan Satochi-san itu sama sekali tidak keberatan.
“Boleh aku duduk dan minta minum?” Tanya Yuura tanpa basa-basi.
Satochi mengangguk begitu saja, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya laki-laki itu kembali dengan membawa minuman yang diinginkan Yuura.
“Arigatou.” Ucap Yuura singkat setelah meneguk habis gelas pertamanya. Sepertinya ia sangat kehausan.
“Maaf karena kami merepotkanmu Satochi-san. Temanku ini memaksa ingin bertemu denganmu malam-malam begini.” Ucap Nao. Melihat ekspresi bingung dari Satochi, akhirnya Nao memberanikan diri mengenalkan diri terlebih dahulu. “Namaku Naoran. Yuura bilang, beberapa hari yang lalu anda menyelamatkannya.”
Satochi mengangguk singkat. “Bukan hal yang hebat. Hanya kebetulan saja aku melihatnya dalam masalah.”
“Ya karena itu, kali ini dia ingin menghindarkan anda dari masalah.”
Satochi makin tidak mengerti dengan ucapan Nao. “Maksudmu?”
“Ng.. sebenarnya Yuura bisa melihat hidup anda yang tinggal- ”
“Ah Satochi-san, anda tidak niat bepergian dalam waktu dekat ini kan?!” Yuura tiba-tiba memotong ucapan Nao.
“Memangnya kenapa? Sepertinya ada yang aneh dengan kalian.”
“Ti- tidak ada apa-apa. Tapi keadaan cuaca buruk beberapa hari ini. jadi sebaiknya anda berdiam diri saja di rumah dalam waktu dua atau tiga hari ini.”
Satochi bingung dengan ucapan Yuura, meskipun ia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tertawa. “Kau ini aneh Yuura. jauh-jauh datang ke rumahku hanya untuk melarangku pergi keluar rumah karena kondisi cuaca yang buruk.”
“Sebenarnya bukan hanya kondisi cuaca yang buruk, tapi ada hal lain yang gak bisa kujelasin. Pokoknya Satochi-san harus tetap di rumah. itu semua demi keselamatan anda sendiri.” Yuura terdengar ngotot dan memaksa. Ucapannya semakin membuat Satochi bingung.
“Yuura dengar, aku tidak mengerti dengan ucapanmu. Tapi percayalah, aku akan baik-baik saja dan terima kasih karena sudah repot-repot memikirkan keselamatanku.”
“Ta- tapi Satochi-san... aku sungguh-sungguh..”
Satochi menepuk pelan kepala anak itu. “Aku percaya. Tapi cobalah berpikir logis, meskipun aku berada di rumah.. keselamatanku belum tentu terjamin. Lagipula ada hal penting yang harus kulakukan besok.”
“Besok? Apa tidak bisa ditunda sampai minggu depan?!”
“Maaf Yuura, tapi besok tepat tiga tahun pernikahanku dengan istriku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya di dermaga tempat aku pertama kali bertemu dengannya dan melamarnya.”
Dermaga... ya, tempat itu yang terlihat di mata Yuura.
“TIDAK!!! Pokoknya anda gak boleh kesana!! Ini menyangkut nyawa anda!! Kalau memang sangat penting, biar aku yang menggantikan anda pergi ke tempat itu, aku yang akan menjelaskan pada istri anda perihal ketidakhadiran anda. Ini memang gak masuk akal, tapi percayalah.. anda akan kehilangan nyawa jika ngotot tetap pergi kesana!!”
Satochi tertegun dengan ucapan Yuura. ucapan anak itu memang tidak bisa diterima akalnya.
“Kumohon Yuura, jangan mengada-ada. Meskipun kau bilang kalau aku akan mati jika pergi ke tempat itu, tapi aku akan tetap kesana.”
“Dengar dulu Satochi-san, Yuura bermaksud baik dengan memperingatkan anda. Dan jika aku jadi anda, aku akan mendengar kata-katanya.”
“Mungkin kalian memang punya niat baik, tapi aku gak mungkin menerima mentah-mentah semua ucapan kalian yang membingungkan ini. kalian bukan Tuhan yang bisa mengetahui kapan kematianku akan tiba. Dan aku bukan tipe orang yang percaya ramalan.”
“Ini bukan ramalan, tapi aku betul-betul melihatnya..”
“Melihatnya? Melihat apa? Kematianku?! Oh sudahlah Yuura, aku yakin kau bukan pemilik mata Shinigami yang bisa melihat tanggal kematian orang-orang.”
“Yuura memang gak punya mata shinigami, tapi matanya lebih hebat daripada mata shinigami. Anda harus percaya itu Satochi-san.”
“Sudahlah, hentikan bualan kalian. Aku tidak bermaksud mengusir, tapi sebaiknya kalian pulang saja. Ini sudah malam.” Ucap Satochi tanpa terdengar jika ia sedang ingin marah.
“Tu- tunggu Satochi-san.. baiklah aku mengerti keinginanmu untuk pergi ke dermaga itu, tapi bolehkah kami ikut kesana besok?!” Lagi-lagi Yuura berkata dengan ekspresi setengah memaksa.
“Hei Yuura, yang bener aja. Dia kan pengen ketemu bininya,, masa’ kita ikut ngintil di belakang?! Itu kan gak lucu.” Bisik Nao.
“Tapi gak ada pilihan lain Nao.” Yuura balik berbisik.
Meskipun tampak berpikir lama, namun akhirnya satochi mengangguk. “Baiklah, terserah padamu Yuura. besok kau akan lihat sendiri kalau aku akan baik-baik saja. Dan mungkin ini akan jadi cerita menarik yang bisa kuceritakan pada istriku besok.” Satochi kembali tersenyum. “Oh iya, karena sudah malam.. sebaiknya kalian menginap saja di rumahku. Besok pagi kita berangkat ke dermaga itu. tempatnya sangat jauh. Ada di kota kelahirannya yang terpaut beberapa distrik dari tempat ini, memakan waktu seharian penuh jika menggunakan mobil. Aku sudah bilang pada istriku akan menjemputnya pada pukul delapan malam.”
==1212==
Akiya tampak menanti dengan cemas saat Keiyuu, Rika dan Chiru menghampirinya.
“Oi, napa Aki? Kok ngelamun?” Tanya Rika sambil menyendok es krim di mangkuknya.
“Nao.”
“Nao?? Mangnya napa dia?” Gantian Chiru yang bertanya.
“Belum pulang ya sama anak itu.. padahal kan ini udah malam. Katanya bakal pulang sebelum makan malam. Ini sih udah mau tengah malam.” Ucap Keiyuu yang ikut-ikutan cemas.
“Memangnya mereka kemana?” Tanya Chiru lagi.
Akiya menggeleng. “Tadi malam Nao cerita tentang anak itu. Katanya ada sesuatu yang istimewa dengan matanya, tapi Nao gak cerita lebih lanjut dan cuma bilang kalo dia dan anak itu harus mencari seseorang yang perlu diselamatkan nyawanya.”
Keiyuu, Rika dan Chiru hanya melongo tanpa berkomentar apa-apa.
Sementara itu, ada seseorang yang mendengarkan ucapan Akiya dari balik dinding ruangan yang tidak tertutup itu.
Orang itu adalah Uruha.
==1212==
“Mereka gak keluar juga dari rumah itu. apa perlu kita menunggunya semalaman?”
“Iya kita tunggu saja, ketua sudah memerintahkan kita untuk menangkap hidup-hidup anak itu. mungkin dia menginap di rumah itu, besok pagi dia pasti keluar dari sana. Sementara ini, kita tidur dan bergantian berjaga satu persatu setiap dua jam sekali.” Perintah Tsurugi yang diiyakan oleh kedua temannya, Mao dan Kei.
“Mao, sebaiknya kau hubungi Aki dan beritahu keadaan kita disini. Jangan biarkan dia memberitahu Uruha dimana adiknya berada, orang itu bisa saja mengacaukan rencana kita.”
Mao mengeluarkan ponselnya dan mengangguk malas dengan perintah Tsurugi.
==1212==
Kanon memeluk tubuh kecil itu saat ia benar-benar yakin bahwa sosok kecil yang di hadapannya adalah Bou.
“Aku mencemaskanmu.” Ucap Kanon sembari mengusap rambut pirang Bou yang tergerai.
Hiroto yang melihat mereka hanya bisa menghela nafas panjang. Akhirnya dua orang itu bertemu juga. Begitu pikirnya.
“Kanon, ini dimana?” Tanya Bou saat memperhatikan sekelilingnya setelah terlepas dari pelukan pengawal pribadinya itu.
“Ini rumah nenekku. Kamu aman disini Bou.”
Bou tersenyum dan mengangguk lega mendengar ucapan Kanon. Lalu ia menoleh pada Hiroto yang berada di belakangnya. “Kanon, ini Pon Pon..”
“Ya aku sudah tau. Aku berterimakasih padanya karena sudah menjaga dan mengantarmu ke rumah ini.”
Hiroto tersenyum canggung. “ng.. Bou kan juga temanku, wajar kalo aku membantunya sedikit.”
“ng.. Kanon.. bolehkah Pon menginap di rumah ini?” Bou memohon pada Kanon dengan ekspresi yang dibuat menggemaskan.
“I- iya boleh saja..” Kanon jadi kikuk saat melihat wajah Bou yang begitu dekat dengannya.
Bou tersenyum sembari mencium lembut pipi Kanon. “Makasih ya..”
Seketika wajah Kanon menjadi merah padam. Ia senang meskipun Bou hanya mencium pipinya.
==1212==
Semangat dan keceriaan yang tertoreh di wajah itu, membuat Yuura semakin sakit mengetahui bahwa nyawa orang itu tidak lama lagi. Rasanya ia pernah merasakan perasaan yang seperti ini. ingin menyelamatkan seseorang namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia ingin mencegah kepergian laki-laki itu, tapi tidak bisa. Keinginan kuat Satochi untuk bertemu dengan istrinya lebih besar daripada ketakutan akan kematiannya.
Sebenarnya tidak sedikit pun Satochi meragukan ucapan Yuura, tapi ia hanya berpikir bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan. Dan jika Tuhan sudah menghendaki kematiannya, maka dengan bersembunyi dan menjauhi sumber penyebab kematian itu tidak akan mengubah apapun pada takdirnya.
Satochi mengeluarkan mobil dari bagasi rumahnya dan berhenti tepat di hadapan Yuura dan Nao.
Nao tampak ragu saat ingin masuk ke dalam mobil itu, tapi tidak dengan Yuura. tanpa menunggu perintah, ia langsung masuk ke dalam mobil itu. yuura hanya berharap, Satochi akan mengubah pendiriannya dan mengikuti sarannya untuk tetap berada di rumah. tapi sepertinya laki-laki itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan tidak ada yang bisa Yuura lakukan selain mengikuti kemana laki-laki itu pergi dan memastikannya tidak sedang dalam bahaya.
Dari arah seberang jalan, Tsurugi, Mao dan Kei sudah mengincar kepergian mobil itu. tapi mereka tidak yakin jika target mereka yang tidak lain adalah Yuura ada di dalam mobil itu.
Untuk itu Mao meminta Kei untuk memeriksa rumah Satochi dan memastikan rumah itu sudah tidak berpenghuni, sementara Mao dan Tsurugi membuntuti mobil Satochi dari belakang.
==1212==
Pertemuan dengan Reita, memaksa Saga untuk datang ke rumah itu, rumah yang saat ini ditempati Hiroto sebagai tempat kos. Hal itu dilakukannya sekedar untuk memastikan bahwa keadaan Hiroto baik-baik saja sekaligus untuk berusaha membujuk Hiroto agar mau bertemu Tora yang keadaannya semakin tidak baik. Saga tidak sadar bahwa kedatangannya di rumah itu membuatnya bertemu kembali dengan kawan lamanya.
“Maaf Saga, tapi Pon gak pulang tadi malam.” Ucap Rika yang menyambut kedatangannya di pintu masuk.
“Dia kemana?” Tanya Saga mendadak seperti orang panik.
Rika menggeleng. “Gak tau tuh, dia sih perginya sama Bou. katanya mo nginap di rumah temannya Bou.”
Meskipun Rika sudah berkata demikian, namun sisa kecemasan di wajah Saga yang biasa tenang masih tampak terlihat. “Kapan dia kembali?”
Lagi-lagi Rika menggeleng. “Seharusnya sih hari ini, soalnya dia gak bawa baju ganti. Lagian besok dia masih harus ke sekolah, jadi mungkin nanti siang dia sudah pulang.”
“Ng.. Rika.. boleh aku minta tolong padamu?”
“Ya boleh aja sih, mangnya mo minta tolong apa?”
“Tolong hubungi aku kalo Hiroto sudah tiba di rumah ini.”
Rika mengangguk. Sedikitnya itu membuat Saga lega. Dan laki-laki itu memutuskan pergi. Namun baru dua langkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar suara yang dulu cukup akrab di telinganya.
“Saga? Kaukah itu?!”
Saga kembali menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang laki-laki bertubuh cukup tinggi di belakang Rika yang bersosok chibi.
“Uruha??!!”
Wajah Saga terkejut tiba-tiba menyadari sosok itu ada di hadapannya. Padahal ia yakin sudah tidak mungkin lagi melihatnya.
“Wah kalian saling kenal ya?” Tanya Rika memperhatikan bergantian wajah Saga dan Uruha.
“iya, dia ini sahabat baikku.” Ucap Uruha sembari merangkul pundak Saga. “Sudah lama kami tidak bertemu. Aku sangat merindukannya.”
“Untung juga ya bisa ketemu disini. Kalo gitu kalian ngobrol-ngobrol aja di dalam, nanti aku siapin minuman ma makanan kecil.”
“Gak usah repot-repot Rika.. aku dan Saga akan mengobrol di tempat lain saja. Beritahu Aoi kalo aku akan segera kembali.”
Rika mengangguk seiring kepergian Saga bersama Uruha. Aneh. Begitu pikir Rika. meskipun bertemu teman lamanya, tapi wajah Saga tidak terlihat senang.
==1212==
Sudah lewat tengah hari dan beratus-ratus kilometer mereka lalui, tapi sepertinya perjalanan mereka masih panjang tanpa masing-masing menyadari bahwa saat ini mereka sedang dibuntuti.
“Untuk apa kita mengikuti mereka sampai sejauh ini?” Tanya Mao kesal sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Di dalam mobil itu ada pemuda itu. Kei memberitahuku di rumah itu sudah tidak ada siapa-siapa, jadi kesimpulannya.. Yuura di mobil itu. mungkin ia sadar nyawanya terancam dan ingin melarikan diri ke kota lain. Dari arah tujuannya sepertinya dia ingin ke Fukuoka.”
“Kenapa gak langsung aja kita salip mobil mereka dan paksa dia keluar dari mobil itu lalu membawanya ke markas. Lagipula ini terlalu riskan, bagaimana kalo tiba-tiba kita kehilangan jejak mobil itu?”
“Tenanglah Mao, aku sudah memasang alat pelacak di mobil itu secara diam-diam tadi malam. Aku sudah memprediksi hal ini. lagipula terlalu berbahaya menyalip mobil mereka di tempat ramai seperti ini. tunggullah sampai mobil itu tiba di tempat tujuannya.”
“Ya baiklah, terserah dirimu saja.”
==1212==
“Sudah lama ya Saga.. sejak aku membunuh orang itu dan mereka memisahkan kita. Bagaimana kabarmu? Kudengar kau punya seorang adik tiri dan gara-gara dia kau memutuskan berhenti dari pekerjaanmu.”
“Aku baik-baik aja, tapi yang lebih penting.. sedang apa kau di rumah itu?”
“Maksudmu di rumah tempat tinggal Aoi?”
“Kau mengenal Aoi?” Saga balik bertanya.
“Dia kekasihku, Saga. Kami saling mencintai.”
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?”
Uruha setengah tertawa. “Aku mengenalnya waktu dia menyelamatkanku yang nyaris tenggelam. Dia orang baik yang sangat memahami karakterku. Aku sangat mencintainya.”
“Dia tau kau seorang pembunuh?”
Uruha menggeleng. “Tapi aku akan segera berhenti seperti dirimu. Kudengar kau berhenti karena seorang laki-laki yang seharusnya menjadi targetmu telah menyadarkanmu. Apa itu benar?”
“Entahlah Uru, aku memang merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu. kau tahu kan kalo selama ini kita hanya dimanfaatkan?! Aku merasa harus keluar dari lingkaran setan itu dan menjalani kehidupan dengan semestinya.”
“Kita memang dimanfaatkan, tapi apa kau lupa kesenangan saat membunuh dan rasa bahagia saat melihat darah?”
“Aku sudah tidak ingat rasanya. Hanya bau amis. Aku lebih bahagia saat bersama orang-orang yang aku cintai.”
“Iya kau benar. Karena itulah aku juga ingin berhenti dan hidup berdua dengan Aoi. Tapi setelah memastikan kematian anak itu terlebih dahulu dengan mataku sendiri.”
“Adikmu?! Apa kau masih mendendam padanya??”
“Tentu saja Saga. Aku tidak bisa lupa saat dengan tenangnya anak itu mencabut pisau yang tertancap di jantung ayah dan ibuku.”
“Tunggu Uruha, apa kau yakin adikmu itu pelakunya?”
“Tidak ada siapa pun selain dia di sana. Yuura terlalu mempercayai matanya. Padahal apa yang dilihatnya hanya modifikasi dari pikirannya yang terlalu berkembang dengan imajinasi-imajinasi yang menyesatkannya. dia terlalu percaya orang tua kami akan membunuhnya.. karena itu dia membunuh mereka karena ketakutan akan hal itu. mata itu menjaganya, tapi sebenarnya mata itu hanya menyesatkannya. setan yang berdiam diri di matanya itu telah membuatku membencinya.”
“Yang dilihatnya bukan hanya sekedar imajinasi, tapi benar-benar terjadi. Kau juga tau hal itu. berulang kali organisasi memanfaatkannya, lalu mencuci otaknya untuk membuatnya lupa atas apa yang dilihatnya.”
“Ya itu benar, tapi kenyataan yang diperlihatkan matanya tidak seratus persen benar. Dia tidak bisa membedakan mana imajinasinya dan kenyataan sesungguhnya. Karena terlalu percaya dengan apa yang dilihatnya, dia justru membahayakan nyawa orang di sekitarnya. Dan mungkin saat ini, dia juga sedang berada dalam posisi itu. karena itu lah aku ingin membunuhnya. Semata-mata bukan hanya karena dendam, tapi karena aku masih menyimpan sedikit rasa sayang padanya. Aku ingin membuatnya berhenti melihat hal-hal yang tidak diinginkannya.”
==1212==
Satochi menghentikan mobilnya tepat di hadapan sebuah kedai sushi di pinggiran kota.
“Kalian lapar kan?!”
Nao dan Yuura menggeleng, tapi perut mereka tidak bisa berbohong. Ya, mereka memang sangat lapar karena perjalanan bermil mil tanpa henti. Mereka hanya berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar kendaraan, setelah itu mereka melanjutkan kembali perjalanan dengan tujuan agar sampai di fukuoka sebelum hari gelap.
“Orang itu baik banget Yuura, mau mentraktir kita makan sebanyak ini.” ucap Nao saat dihadapkan berbagai aneka sushi di hadapannya. “Berapa sisa umurnya?” Tanya Nao berbisik saat memastikan bahwa Satochi yang duduk di sudut ruangan bersama seorang laki-laki tua yang sepertinya dikenalnya itu tidak mendengar ucapannya dan ucapan Yuura.
“lima jam.”
“Lima?? Hanya lima?!!” Nao mengacungkan tangan kirinya dengan memperlihatkan telapak tangan dan kelima jarinya. Lalu ia tampak menghitung-hitung.. “Berarti orang itu akan mati setelah dua jam pertemuannya dengan sang istri di dermaga itu. Atau jangan-jangan dia gak mati di dekat dermaga tapi dalam perjalanan pulang dari dermaga itu..”
“Engga Nao, aku melihat jelas dermaga itu. laki-laki itu terkapar dengan tubuh bersimbah darah.”
“Lalu apa kamu melihat apa penyebab dia bersimbah darah?”
Yuura menggeleng. “Sepertinya karena tusukan benda tajam. Dan aku gak tau siapa pelakunya.”
“Apa mungkin istrinya?”
“Entahlah Nao, aku juga gak liat ada sosok wanita di sana.”
“Coba kamu liat lebih jelas, paksa matamu melihat lebih dari yang kamu liat saat ini.”
“Sudah Nao, tapi semuanya sama aja.”
“Wah repot juga, padahal kita sudah mengikuti dia sampe sejauh ini. lalu apa kamu liat dimana posisi kita saat laki-laki itu mati terbunuh.”
Yuura menggeleng. “Laki-laki itu terkapar sendirian, dermaga itu sepi sampai ada seorang petugas patroli yang menemukannya dua jam kemudian. Setelah itu baru terlihat banyak orang yang berkerumun, sepertinya pegawai pelabuhan. Dan ada ambulan yang membawa mayat laki-laki itu.”
“Yuura, jangan-jangan kita ikut mati juga bersama laki-laki itu.. ta- tapi mayat kita ada di tempat lain..” Nao mendadak merinding membayangkannya. “Aku gak mau ikutan mati muda gara-gara mengikuti laki-laki itu.”
“Tenang Nao, aku gak liat tanda-tanda kematian di wajahmu.”
“Serius nih?! Aku jadi takut. Kalo tau aku bakal mati, aku kan bisa cepat-cepat pergi ke tempat Hizaki dan bilang suka padanya sebelum semuanya terlambat.”
“Hizaki siapa?”
“Ng.. dia gadis cantik yang aku sukai.” Wajah Nao tampak malu-malu.
“Hihihii.. ternyata ada ya.. aku pikir Nao gak akan suka sama seorang gadis.”
“Ngomong apa itu, aku ini kan bukan homo.”
“Iya iya aku tau.” Yuura tertawa kecil sambil menundukkan wajahnya. Lalu terlihat di mata Nao, sesuatu yang tersembunyi dan menghiasi leher temannya itu.
“Yu- Yuura.. kalung yang kamu pakai itu..”
“Ah kalung ini ya... aku baru memakainya beberapa hari yang lalu. Kai yang memberikannya padaku. Dia bilang kalung ini milikku.”
“Kai? Siapa??”
“Dia itu laki-laki yang menyelamatkanku beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang aku menganggapnya sebagai kakakku.”
Nao ingin bertanya lebih banyak, tapi hal itu urung dilakukannya karena Satochi sudah menghampiri mereka kembali.
“Kalian sudah selesai?”
“I- iya..” Nao berkata gugup. Kegugupannya lebih disebabkan karena kalung yang dipakai Yuura sama persis dengan kalung yang dipakai teman Aoi.
“Kalo begitu kita lanjutkan perjalanan lagi sebelum hari mulai gelap.”
Yuura dan Nao mengangguk, meskipun mereka berdua berharap Satochi tidak akan pernah sampai ke dermaga itu.
Lewat dari satu jam perjalanan, Nao masih berusaha mencari celah untuk menanyakan prihal kalung itu kepada Yuura. Tapi waktunya memang kurang tepat. Mungkin Nao perlu berbicara panjang pada Yuura setelah urusan mereka dengan Satochi selesai.
Sejurus kemudian Satochi kembali menghentikan mobilnya. Kali ini di tempat yang lebih sepi. Hanya ada sebuah minimarket yang punya sedikit kehidupan di tempat itu.
“Kalian tunggulah disini.”
“Satochi-san, anda mau kemana?”
“Hanya sebentar. Aku ingin membeli makanan ringan di minimarket yang ada di ujung jalan itu.”
“Bi- biar aku saja.” Yuura mengajukan diri.
Satochi menghela nafas panjang. Ia merasa ruang geraknya dibatasi, tapi karena Yuura memaksa, jadi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti keinginan anak itu.
Setelah kepergian Yuura sekitar lima menit yang lalu, Satochi tampak memperhatikan sebuah mobil yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat mobilnya diparkirkan. Ia merasa mobil itu sudah membuntutinya sejak memasuki wilayah Fukuoka.
Tidak. bukan hanya sejak di Fukuoka, tapi lebih dari itu. mungkin sejak awal mobil itu memang mengikutinya. Ada yang mereka incar. Tapi Satochi tidak yakin jika ia yang mereka inginkan. Satochi tidak ingat pernah punya musuh, tapi untuk apa mobil itu mengikutinya?
“Ng.. Nao.. kau lihat mobil hitam yang terparkir di belakang itu?”
“Anda juga menyadarinya, Satochi-san?!!”
“Kau juga?!”
Nao mengangguk. “Mobil itu sudah mengikuti kita sejak awal. Tadinya aku hanya berpikir itu kebetulan, tapi udah sampe sini sih namanya bukan lagi kebetulan.”
“Apa Yuura juga tau mobil itu mengikuti kita?”
Nao menggeleng. “Entahlah, tapi kurasa penglihatannya lebih peka daripada kita. Mungkin dia juga sudah tau.”
“Lalu apa kau pernah melihat mobil itu sebelumanya, Nao?”
Lagi-lagi Nao menggeleng. “Baru kali ini aku melihatnya. Ng.. apa mungkin orang itu mengikuti anda, Satochi-san?”
“Bukan Nao, kurasa bukan aku yang diincarnya. Satochi tampak berpikir. Sepertinya ia memang pernah melihat mobil itu entah dimana, tapi ia lupa.
“Bukan musuhmu kan Nao?”
Nao menggeleng cepat. “Bu- bukan.. a- aku memang sering terlibat masalah dan dipukuli, ta- tapi sekarang aku sudah gak punya musuh.”
Satochi menatapnya curiga. “Benar begitu..”
“Ng.. ya.. kurasa memang begitu.” Nao cengar-cengir.
Satochi kembali berpikir. Kalau bukan dirinya dan Nao, berarti yang diincarnya adalah Yuura. tapi kenapa Yuura diincar?
Satochi memang tidak mungkin menemukan jawaban dari pertanyaanya. Tapi akhirnya ia mengingat sesuatu.
Orang-orang itu memang mengincar Yuura. mobil itu pernah dilihatnya saat menolong Yuura yang pingsan dan disekap beberapa orang.
“Wah Yuura lama banget sih, ini kan sudah lebih dari setengah jam. Masa beli makanan dan minuman di minimarket aja selama ini?!!” Ucap Nao sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Satochi juga merasa kepergian Yuura terlalu lama.
“Kau tunggu disini Nao, aku akan menyusulnya.”
“Hei Satochi-san, tunggu!!” Nao berusaha menghentikan laki-laki itu, tapi gerakan Satochi lebih cepat.
==1212==
“Kau ingat kami Yuura?”
Yuura menatap dua orang yang menghadangnya dan kedua orang itu telah sukses membuatnya terpojok di sebuah gang sempit yang gelap.
“Kalian yang waktu itu menyerangku...”
“Iya benar, apa kau sudah ingat? Kau bermaksud melarikan diri dari kami?!”
“Aku tidak mengerti ucapan kalian, aku tidak sedang dalam pelarian. Dan sebaiknya kalian minggir, aku mau lewat!!”
“Tunggu dulu Yuura!” Salah satu dari mereka menghadangnya lebih dekat. “Ikutlah dengan kami secara baik-baik.”
“Hah?!! Yang bener aja!! Emangnya apa untungnya aku mengikuti kalian?!!”
“Jawabannya mudah... kau tidak akan terluka jika menuruti ucapan kami. Sebaliknya jika tidak mau, kami akan memaksamu dengan... yah sedikit kekerasan.” Ucap laki-laki di belakang Yuura yang saat ini sudah mengeluarkan sebilah pisau tajam. Yuura jadi benar-benar merasa terdesak.
==1212==
Di tempat lain...
“Nao dan anak itu gak pulang tadi malam. Sekarang juga sudah malam. Apa mereka berniat gak pulang lagi?!” Tanya Chiru sambil mengaduk-aduk kuah sobanya.
“Memangnya mereka tidur dimana kalo gak pulang?” Keiyuu balik bertanya sambil membereskan meja makan.
“Mungkin di rumah Yuura. kata Nao.. Yuura itu tinggal di rumah mewah. Daripada Nao, apa gak seharusnya kita lebih mencemaskan Pon Pon?! Dari tadi malam dia juga belum pulang.” Ucap Rika yang ikut membantu Keiyuu membereskan meja makan dan bersiap mencuci tumpukan-tumpukan piring.
“Kalo anak itu sih gak usah dicemasin. Tadi siang dia telpon aku dan katanya dia gak pulang sampe besok. Rasanya rumah ini mendadak sepi ya.. Izumi juga sudah dua hari gak nginap disini. Dan rasanya Mizuki mendadak jadi lain.” Keiyuu berkata dengan ekspresi tenang.
Berbeda dengan Akiya yang sedang duduk di pojokan ruang. Meskipun tenang dan diam, tapi sebenarnya saat ini ia sangat cemas memikirkan kepergian dan keselamatan temannya. Apalagi setelah beberapa waktu lalu secara tidak sengaja ia mendengar pembicaraan antara Mizuki dan teman Aoi yang bernama Uruha itu. Ia sadar jika selama dua tahun belakangan ini ternyata ia telah hidup seatap dengan seorang mantan pembunuh dan sekarang ada seorang pembunuh aktip yang sedang berkeliaran di sekitarnya. Akiya sengaja diam dan tidak buru-buru memberitahukan hasil temuannya ini pada teman-temannya yang lain. Hal itu dilakukannya semata agar tidak membuat mereka panik dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Yang perlu dilakukannya saat ini hanyalah berbicara dengan Aoi.
==1212==
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Yuura hingga membuatnya terhuyung ke belakang dan kacamatanya terlepas.
Yuura mencium bau anyir. Bibirnya berdarah dan kepalanya sedikit pusing setelah terkena hantaman sebanyak dua kali. Yuura berusaha melindungi dirinya meskipun gagal karena dua orang yang menyerangnya sangat berpengalaman.
“YUURA!!!”
Seorang laki-laki tampak berlari menuju tempatnya.
Yuura melihat jelas saat laki-laki itu ingin menghampirinya.
Jangan.. Satochi-san.. jangan kemari..
Sekarang semuanya cukup jelas. Kejadiannya berulang seperti beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana ingatan itu kembali terbersit. Ia melihat seorang wanita terbunuh. Dan wanita itu mati terbunuh gara-gara dirinya.
Hal yang sama sebentar lagi akan berulang pada Satochi. Ternyata memang ia yang menjadi penyebab kematian Satochi.
Seorang laki-laki yang dipanggil temannya dengan nama Tsurugi tampak menghampiri Satochi dengan menghunus sebilah pisau. Awalnya Satochi tidak kesulitan menghindari serangan laki-laki itu. apalagi ia memang menguasai keterampilan beladiri. Tapi karena keletihan fisik akibat mengendarai mobil selama berjam-jam, membuat Satochi kehilangan konsentrasi dan pisau di tangan Tsurugi sukses menembus perut laki-laki itu.
Hal itulah yang dilihat Yuura saat ini. dan hal itu akan terjadi hanya dalam hitungan beberapa menit kemudian. Bahkan mungkin tidak akan sampai dalam hitungan mundur 120 detik.
Terlambat bagi Yuura untuk memaksa Satochi pergi meninggalkan dirinya. Laki-laki itu terlalu peduli pada sekitarnya dan baginya menolong Yuura mungkin lebih penting daripada sekedar menjaga nyawanya. Bahkan ia seperti tidak ingat jika istrinya saat ini sudah menunggu kedatangannya di dermaga itu.
Kematian Satochi bukan karena kenekatannya pergi ke dermaga itu, tapi karena Yuura memaksa mengikutinya. Jika Yuura tidak bersikeras mengikutinya, nasib Satochi tidak akan se-naas ini. laki-laki itu tidak perlu terkena tusukan pisau karena berusaha menolongnya.
Dalam penglihatan Yuura, gerakan kedua laki-laki yang saling menyerang itu seperti melambat. Dan Yuura seperti melihat batas waktu yang terhitung mundur satu-persatu secara perlahan dan matematis. Dimulai dari angka 33 dan angka itu terus berhitung mundur hingga menjadi angka satu dan akhirnya nol.
Satochi terkapar sambil memegangi perutnya yang mengucurkan darah. Sedangkan Yuura yang ingin menolongnya malah mendapat hantaman keras di tengkuk belakangnya dan akhirnya pingsan. Mao menyeretnya segera masuk ke dalam mobil sebelum ada orang yang melihat perbuatan mereka.
Tsurugi masih ingin menusuk Satochi lagi untuk memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar mati, tapi Mao sudah memaksanya meninggalkan laki-laki itu.
“Biarkan dia!! Cepatlah Tsurugi, sebelum ada orang yang melihat ini!!”
Tsurugi mundur, masih dengan tangan memegang pisau. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Mao. Jarak beberapa meter, tampak Nao yang tadi sibuk mencari-cari Satochi dan Yuura. Ia hanya sempat melihat Yuura diseret masuk ke dalam mobil yang kini bersiap melaju. Nao berinisiatif mengejar mobil itu sebelum mobil itu melesat pergi.
“Ada yang mengejar kita di belakang.”
“Tabrak dia Mao!” Seru Tsurugi. Mao mengerti lalu memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menabrak Nao yang mengejar di belakang. Nao panik tidak bisa menghindar dan pasrah saat perutnya dihantam bagian belakang mobil itu.
Setelah memastikan orang yang ditabraknya tumbang, Mao kembali memasukkan gigi dan menginjak gas lebih cepat lalu secepat kilat meninggalkan tempat itu.
Peristiwa itu cukup menimbulkan keributan dan orang-orang mulai bermunculan dengan ekspresi bertanya-tanya.
Nao merasakan sakit yang teramat sangat diperutnya. Ia juga merasakan sesak dan akhirnya terbatuk lalu mengeluarkan darah dari mulutnya. Mungkin ada pendarahan di rongga perutnya dan ia kembali berpikir apa ia akan ikut mati... sampai akhirnya pandangan matanya kabur dan Nao ikut pingsan di tengah jalan yang sepi kendaraan namun sudah dikerumuni banyak orang.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Nao ditabrak, jemari tangan laki-laki yang terkapar bersimbah darah itu masih bergerak.
Satochi bangkit sambil memegangi perutnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih berusaha mencari-cari sesuatu. Cincin itu. cincin yang ingin ia berikan pada istrinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan. Cincin itu terjatuh saat ia berkelahi dengan orang yang akhirnya menikamnya. Ia terus mencari cincin itu meskipun pendarahan di perutnya semakin deras. Seharusnya ia masih bisa meminta pertolongan dan ia yakin nyawanya masih bisa diselamatkan jika orang-orang segera membawanya ke rumah sakit. Apalagi saat ini ia mendengar suara sirine ambulan.
Tapi entahlah apa karena bodoh,, namun Satochi tetap bersikeras mencari cincin itu. dan setelah menemukannya, ia malah bergegas menuju dermaga yang masih berjarak kurang lebih lima kilometer. Sudah setengah jam yang lalu seharusnya ia tiba di dermaga itu dan menyerahkan cincin sebagai permintaan maaf, tapi segala sesuatu yang sudah dirancang manusia memang tidak akan terlaksana jika Tuhan sudah punya rancangan sendiri.
Satochi mengendarai mobilnya dengan susah payah. Ia berusaha menutupi luka tusukannya dengan memakai jaket lebih tebal. Namun tanpa bisa diduga akhirnya mobil yang dikendarainya tiba-tiba berhenti karena kehabisan bahan bakar, padahal jarak dermaga masih kurang lebih satu kilometer lagi. Tidak ada yang bisa Satochi lakukan selain berjalan kaki dengan tertatih-tatih.
Karena terus bergerak itulah darahnya semakin banyak mengalir dan wajahnya semakin pucat. Darah itu menetes di sepanjang jalan yang ia lewati. Satochi tidak peduli itu, ia hanya terus berpikir untuk sampai ke dermaga bagaimana pun beratnya perjuangan yang harus ia lewati.
Hampir jam sepuluh malam, jalanan itu semakin sepi. Satochi hanya berharap istrinya akan tetap setia menunggu kedatangannya. Tapi mana mungkin ada wanita seperti itu. meskipun sangat setia, mana mungkin ada wanita yang tetap menunggu meskipun laki-laki yang ditunggunya sudah telat selama dua jam.
Kenyataan itu membuat Satochi terpuruk. Setidaknya ia berharap ingin melihat sosok istrinya meskipun batas waktunya tinggal menghitung detik.
Dan keinginannya terkabul.
Wanita itu tetap menunggu di sana.
Bahkan sosoknya begitu indah meskipun Satochi hanya melihatnya dari belakang.
Jarak mereka terpaut sekitar 100 meter. Satochi ingin menyebut dan memanggil nama wanita yang dinikahinya tiga tahun yang lalu itu. tapi suaranya sudah tercekat dan ia tidak sanggup menanggung penderitaan lebih lama. Volume darahnya sudah semakin berkurang dan ia sudah merasa di ambang kematian.
Ia hanya ingin wajah wanita itu berpaling padanya dan satochi melihat wajahnya sebelum ia benar-benar pergi, tapi wanita itu hanya terus menatap arah yang berlawanan dan perlahan mulai berjalan menjauhi posisi Satochi berada. Wanita itu akan segera meninggalkan dermaga tanpa ia sadar bahwa orang yang dinantinya sejak tadi sudah datang dengan susah payah hanya demi dirinya.
Wanita itu menangis menyadari suaminya tidak datang menyusulnya. Ia mulai berpikir bahwa suaminya memang tidak mencintainya, tapi ia tidak menyesal menikah dengan laki-laki itu karena memang hanya Satochi lah orang yang paling dicintai.
Saat ini wanita itu sudah mengambil keputusan...
Ia tidak ingin mendengar kata-kata Satochi lagi meskipun laki-laki itu berlutut di hadapannya.
Dan memang itulah yang terjadi...
Ia tidak akan pernah mendengar suara suaminya lagi..
karena saat ini Satochi sudah...
menghembuskan nafasnya yang terakhir...
==1212==
t.b.Kontinyut~
Author: -Keka-
* * *
“Hei kalian mo kemana?”
Nao menoleh saat Keiyuu memanggilnya, padahal Nao baru saja ingin angkat kaki dari rumah bersama Yuura.
“ng.. ka- kami mo jalan-jalan Kei.”
“Jam segini??? Inikan sudah hampir malam Nao, berbahaya berkeliaran di luar rumah kalo hari mulai gelap.”
Nao tahu itu, tapi Yuura memaksanya mencari orang yang bernama Satoshi Takayasu itu, makanya ia mau saja diajak keluar rumah walaupun hari mulai gelap.
“Hanya sebentar Kei, kami akan pulang sebelum jam makan malam.” Ucap Nao yang langsung menarik tangan Yuura, lalu keluar meninggalkan rumah.
Keiyuu ingin mencegah, tapi ia mengurungkan niat itu karena menyadari hal itu sudah tidak berguna untuk saat ini.
Di belakang Keiyuu, Akiya tampak memperhatikan dengan penuh curiga meskipun ia tidak berkata apa-apa.
==1212==
“Anak itu bergerak.”
“Seorang diri?”
“Tidak. tapi dengan seorang temannya.”
“Dia punya teman??”
“Sepertinya begitu.”
“Lalu bagaimana dengan orang itu?”
“Maksudmu Uruha?”
“Iya, dia.. bukannya dia juga tinggal di rumah itu dengan kekasih laki-lakinya. Berarti dia sudah bertemu dengan adiknya dan punya banyak kesempatan untuk mendekati pemuda bermata setan itu, termasuk membunuhnya sewaktu-waktu.”
“Mao, ucapanmu itu tidak akan terjadi. Uruha bukan orang gegabah yang akan membunuh di tempat yang tidak tepat seperti di rumah itu. kita tahu rumah itu bukan hanya dihuni satu atau dua orang saja. Bahkan Mizuki juga ada di rumah itu.”
Mao tersenyum mendengar ucapan Tsurugi. “Mizuki ya.. bodohnya dia.. Kenapa dia masih juga ada di kota ini? apa dia pikir dengan mengubah diri menjadi orang baik-baik.. dia yakin keberadaannya tidak bisa kita temukan?!”
“Entahlah Mao, tapi kurasa dia masih menetap di kota ini karena kota ini adalah tempat kelahirannya dan tempat kelahiran adiknya yang mati tertembak itu. mungkin dia masih ingin mengenang kebersamaannya dengan mendiang adiknya itu.”
“Hei hei kalian, berhentilah membicarakan si pengecut Mizuki itu sebelum pemuda itu menghilang bersama temannya.” Ucap Kei yang duduk di jok belakang mobil dan masih memusatkan matanya pada sosok Yuura dan Nao yang berjalan terburu-buru.
==1212==

Satochi tersenyum saat mengakhiri percakapan hangatnya di ponsel. Tadinya ia tidak yakin, tapi ternyata istrinya mau memaafkan dirinya dan mengerti dengan semua penjelasannya. Wanita itu akan kembali, bukan hari ini. tapi besok Satochi akan menjemputnya di dermaga itu, tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan tempat dimana Satochi pernah melamarnya.
Karena terlalu senang, Satochi sampai tidak mendengarkan ketukan pintu rumahnya. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya ia sadar dan melongok ke arah pintu itu.
Siapa? Tanyanya dalam hati.
Untuk menjawab pertanyaannya, ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju pintu itu. mungkin hanya Miya, Tatsurou atau Yukke. Begitu pikirnya, tapi ternyata dugaannya salah. Yang datang hanyalah dua pemuda yang sepertinya tidak begitu ia kenal. Tapi setelah memperhatikan lebih lama, Satochi akhirnya mengenali salah satu dari mereka dan segera membukakan pintu itu.
“Kau Yuura?”
“Ah Satochi-san syukurlah aku masih bisa bertemu denganmu.” Ucap Yuura bersemangat.
“Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?”
“Iya penting banget.” Tanpa menunggu dipersilahkan, Yuura langsung masuk begitu saja di rumah itu. Nao berusaha mencegahnya, tapi terlambat. Lagipula orang yang dipanggil Yuura dengan Satochi-san itu sama sekali tidak keberatan.
“Boleh aku duduk dan minta minum?” Tanya Yuura tanpa basa-basi.
Satochi mengangguk begitu saja, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya laki-laki itu kembali dengan membawa minuman yang diinginkan Yuura.
“Arigatou.” Ucap Yuura singkat setelah meneguk habis gelas pertamanya. Sepertinya ia sangat kehausan.
“Maaf karena kami merepotkanmu Satochi-san. Temanku ini memaksa ingin bertemu denganmu malam-malam begini.” Ucap Nao. Melihat ekspresi bingung dari Satochi, akhirnya Nao memberanikan diri mengenalkan diri terlebih dahulu. “Namaku Naoran. Yuura bilang, beberapa hari yang lalu anda menyelamatkannya.”
Satochi mengangguk singkat. “Bukan hal yang hebat. Hanya kebetulan saja aku melihatnya dalam masalah.”
“Ya karena itu, kali ini dia ingin menghindarkan anda dari masalah.”
Satochi makin tidak mengerti dengan ucapan Nao. “Maksudmu?”
“Ng.. sebenarnya Yuura bisa melihat hidup anda yang tinggal- ”
“Ah Satochi-san, anda tidak niat bepergian dalam waktu dekat ini kan?!” Yuura tiba-tiba memotong ucapan Nao.
“Memangnya kenapa? Sepertinya ada yang aneh dengan kalian.”
“Ti- tidak ada apa-apa. Tapi keadaan cuaca buruk beberapa hari ini. jadi sebaiknya anda berdiam diri saja di rumah dalam waktu dua atau tiga hari ini.”
Satochi bingung dengan ucapan Yuura, meskipun ia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tertawa. “Kau ini aneh Yuura. jauh-jauh datang ke rumahku hanya untuk melarangku pergi keluar rumah karena kondisi cuaca yang buruk.”
“Sebenarnya bukan hanya kondisi cuaca yang buruk, tapi ada hal lain yang gak bisa kujelasin. Pokoknya Satochi-san harus tetap di rumah. itu semua demi keselamatan anda sendiri.” Yuura terdengar ngotot dan memaksa. Ucapannya semakin membuat Satochi bingung.
“Yuura dengar, aku tidak mengerti dengan ucapanmu. Tapi percayalah, aku akan baik-baik saja dan terima kasih karena sudah repot-repot memikirkan keselamatanku.”
“Ta- tapi Satochi-san... aku sungguh-sungguh..”
Satochi menepuk pelan kepala anak itu. “Aku percaya. Tapi cobalah berpikir logis, meskipun aku berada di rumah.. keselamatanku belum tentu terjamin. Lagipula ada hal penting yang harus kulakukan besok.”
“Besok? Apa tidak bisa ditunda sampai minggu depan?!”
“Maaf Yuura, tapi besok tepat tiga tahun pernikahanku dengan istriku. Aku sudah berjanji untuk menjemputnya di dermaga tempat aku pertama kali bertemu dengannya dan melamarnya.”
Dermaga... ya, tempat itu yang terlihat di mata Yuura.
“TIDAK!!! Pokoknya anda gak boleh kesana!! Ini menyangkut nyawa anda!! Kalau memang sangat penting, biar aku yang menggantikan anda pergi ke tempat itu, aku yang akan menjelaskan pada istri anda perihal ketidakhadiran anda. Ini memang gak masuk akal, tapi percayalah.. anda akan kehilangan nyawa jika ngotot tetap pergi kesana!!”
Satochi tertegun dengan ucapan Yuura. ucapan anak itu memang tidak bisa diterima akalnya.
“Kumohon Yuura, jangan mengada-ada. Meskipun kau bilang kalau aku akan mati jika pergi ke tempat itu, tapi aku akan tetap kesana.”
“Dengar dulu Satochi-san, Yuura bermaksud baik dengan memperingatkan anda. Dan jika aku jadi anda, aku akan mendengar kata-katanya.”
“Mungkin kalian memang punya niat baik, tapi aku gak mungkin menerima mentah-mentah semua ucapan kalian yang membingungkan ini. kalian bukan Tuhan yang bisa mengetahui kapan kematianku akan tiba. Dan aku bukan tipe orang yang percaya ramalan.”
“Ini bukan ramalan, tapi aku betul-betul melihatnya..”
“Melihatnya? Melihat apa? Kematianku?! Oh sudahlah Yuura, aku yakin kau bukan pemilik mata Shinigami yang bisa melihat tanggal kematian orang-orang.”
“Yuura memang gak punya mata shinigami, tapi matanya lebih hebat daripada mata shinigami. Anda harus percaya itu Satochi-san.”
“Sudahlah, hentikan bualan kalian. Aku tidak bermaksud mengusir, tapi sebaiknya kalian pulang saja. Ini sudah malam.” Ucap Satochi tanpa terdengar jika ia sedang ingin marah.
“Tu- tunggu Satochi-san.. baiklah aku mengerti keinginanmu untuk pergi ke dermaga itu, tapi bolehkah kami ikut kesana besok?!” Lagi-lagi Yuura berkata dengan ekspresi setengah memaksa.
“Hei Yuura, yang bener aja. Dia kan pengen ketemu bininya,, masa’ kita ikut ngintil di belakang?! Itu kan gak lucu.” Bisik Nao.
“Tapi gak ada pilihan lain Nao.” Yuura balik berbisik.
Meskipun tampak berpikir lama, namun akhirnya satochi mengangguk. “Baiklah, terserah padamu Yuura. besok kau akan lihat sendiri kalau aku akan baik-baik saja. Dan mungkin ini akan jadi cerita menarik yang bisa kuceritakan pada istriku besok.” Satochi kembali tersenyum. “Oh iya, karena sudah malam.. sebaiknya kalian menginap saja di rumahku. Besok pagi kita berangkat ke dermaga itu. tempatnya sangat jauh. Ada di kota kelahirannya yang terpaut beberapa distrik dari tempat ini, memakan waktu seharian penuh jika menggunakan mobil. Aku sudah bilang pada istriku akan menjemputnya pada pukul delapan malam.”
==1212==
Akiya tampak menanti dengan cemas saat Keiyuu, Rika dan Chiru menghampirinya.
“Oi, napa Aki? Kok ngelamun?” Tanya Rika sambil menyendok es krim di mangkuknya.
“Nao.”
“Nao?? Mangnya napa dia?” Gantian Chiru yang bertanya.
“Belum pulang ya sama anak itu.. padahal kan ini udah malam. Katanya bakal pulang sebelum makan malam. Ini sih udah mau tengah malam.” Ucap Keiyuu yang ikut-ikutan cemas.
“Memangnya mereka kemana?” Tanya Chiru lagi.
Akiya menggeleng. “Tadi malam Nao cerita tentang anak itu. Katanya ada sesuatu yang istimewa dengan matanya, tapi Nao gak cerita lebih lanjut dan cuma bilang kalo dia dan anak itu harus mencari seseorang yang perlu diselamatkan nyawanya.”
Keiyuu, Rika dan Chiru hanya melongo tanpa berkomentar apa-apa.
Sementara itu, ada seseorang yang mendengarkan ucapan Akiya dari balik dinding ruangan yang tidak tertutup itu.
Orang itu adalah Uruha.
==1212==
“Mereka gak keluar juga dari rumah itu. apa perlu kita menunggunya semalaman?”
“Iya kita tunggu saja, ketua sudah memerintahkan kita untuk menangkap hidup-hidup anak itu. mungkin dia menginap di rumah itu, besok pagi dia pasti keluar dari sana. Sementara ini, kita tidur dan bergantian berjaga satu persatu setiap dua jam sekali.” Perintah Tsurugi yang diiyakan oleh kedua temannya, Mao dan Kei.
“Mao, sebaiknya kau hubungi Aki dan beritahu keadaan kita disini. Jangan biarkan dia memberitahu Uruha dimana adiknya berada, orang itu bisa saja mengacaukan rencana kita.”
Mao mengeluarkan ponselnya dan mengangguk malas dengan perintah Tsurugi.
==1212==
Kanon memeluk tubuh kecil itu saat ia benar-benar yakin bahwa sosok kecil yang di hadapannya adalah Bou.
“Aku mencemaskanmu.” Ucap Kanon sembari mengusap rambut pirang Bou yang tergerai.
Hiroto yang melihat mereka hanya bisa menghela nafas panjang. Akhirnya dua orang itu bertemu juga. Begitu pikirnya.
“Kanon, ini dimana?” Tanya Bou saat memperhatikan sekelilingnya setelah terlepas dari pelukan pengawal pribadinya itu.
“Ini rumah nenekku. Kamu aman disini Bou.”
Bou tersenyum dan mengangguk lega mendengar ucapan Kanon. Lalu ia menoleh pada Hiroto yang berada di belakangnya. “Kanon, ini Pon Pon..”
“Ya aku sudah tau. Aku berterimakasih padanya karena sudah menjaga dan mengantarmu ke rumah ini.”
Hiroto tersenyum canggung. “ng.. Bou kan juga temanku, wajar kalo aku membantunya sedikit.”
“ng.. Kanon.. bolehkah Pon menginap di rumah ini?” Bou memohon pada Kanon dengan ekspresi yang dibuat menggemaskan.
“I- iya boleh saja..” Kanon jadi kikuk saat melihat wajah Bou yang begitu dekat dengannya.
Bou tersenyum sembari mencium lembut pipi Kanon. “Makasih ya..”
Seketika wajah Kanon menjadi merah padam. Ia senang meskipun Bou hanya mencium pipinya.
==1212==
Semangat dan keceriaan yang tertoreh di wajah itu, membuat Yuura semakin sakit mengetahui bahwa nyawa orang itu tidak lama lagi. Rasanya ia pernah merasakan perasaan yang seperti ini. ingin menyelamatkan seseorang namun ia tidak tahu bagaimana caranya. Ia ingin mencegah kepergian laki-laki itu, tapi tidak bisa. Keinginan kuat Satochi untuk bertemu dengan istrinya lebih besar daripada ketakutan akan kematiannya.
Sebenarnya tidak sedikit pun Satochi meragukan ucapan Yuura, tapi ia hanya berpikir bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan. Dan jika Tuhan sudah menghendaki kematiannya, maka dengan bersembunyi dan menjauhi sumber penyebab kematian itu tidak akan mengubah apapun pada takdirnya.
Satochi mengeluarkan mobil dari bagasi rumahnya dan berhenti tepat di hadapan Yuura dan Nao.
Nao tampak ragu saat ingin masuk ke dalam mobil itu, tapi tidak dengan Yuura. tanpa menunggu perintah, ia langsung masuk ke dalam mobil itu. yuura hanya berharap, Satochi akan mengubah pendiriannya dan mengikuti sarannya untuk tetap berada di rumah. tapi sepertinya laki-laki itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya dan tidak ada yang bisa Yuura lakukan selain mengikuti kemana laki-laki itu pergi dan memastikannya tidak sedang dalam bahaya.
Dari arah seberang jalan, Tsurugi, Mao dan Kei sudah mengincar kepergian mobil itu. tapi mereka tidak yakin jika target mereka yang tidak lain adalah Yuura ada di dalam mobil itu.
Untuk itu Mao meminta Kei untuk memeriksa rumah Satochi dan memastikan rumah itu sudah tidak berpenghuni, sementara Mao dan Tsurugi membuntuti mobil Satochi dari belakang.
==1212==
Pertemuan dengan Reita, memaksa Saga untuk datang ke rumah itu, rumah yang saat ini ditempati Hiroto sebagai tempat kos. Hal itu dilakukannya sekedar untuk memastikan bahwa keadaan Hiroto baik-baik saja sekaligus untuk berusaha membujuk Hiroto agar mau bertemu Tora yang keadaannya semakin tidak baik. Saga tidak sadar bahwa kedatangannya di rumah itu membuatnya bertemu kembali dengan kawan lamanya.
“Maaf Saga, tapi Pon gak pulang tadi malam.” Ucap Rika yang menyambut kedatangannya di pintu masuk.
“Dia kemana?” Tanya Saga mendadak seperti orang panik.
Rika menggeleng. “Gak tau tuh, dia sih perginya sama Bou. katanya mo nginap di rumah temannya Bou.”
Meskipun Rika sudah berkata demikian, namun sisa kecemasan di wajah Saga yang biasa tenang masih tampak terlihat. “Kapan dia kembali?”
Lagi-lagi Rika menggeleng. “Seharusnya sih hari ini, soalnya dia gak bawa baju ganti. Lagian besok dia masih harus ke sekolah, jadi mungkin nanti siang dia sudah pulang.”
“Ng.. Rika.. boleh aku minta tolong padamu?”
“Ya boleh aja sih, mangnya mo minta tolong apa?”
“Tolong hubungi aku kalo Hiroto sudah tiba di rumah ini.”
Rika mengangguk. Sedikitnya itu membuat Saga lega. Dan laki-laki itu memutuskan pergi. Namun baru dua langkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar suara yang dulu cukup akrab di telinganya.
“Saga? Kaukah itu?!”
Saga kembali menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang laki-laki bertubuh cukup tinggi di belakang Rika yang bersosok chibi.
“Uruha??!!”
Wajah Saga terkejut tiba-tiba menyadari sosok itu ada di hadapannya. Padahal ia yakin sudah tidak mungkin lagi melihatnya.
“Wah kalian saling kenal ya?” Tanya Rika memperhatikan bergantian wajah Saga dan Uruha.
“iya, dia ini sahabat baikku.” Ucap Uruha sembari merangkul pundak Saga. “Sudah lama kami tidak bertemu. Aku sangat merindukannya.”
“Untung juga ya bisa ketemu disini. Kalo gitu kalian ngobrol-ngobrol aja di dalam, nanti aku siapin minuman ma makanan kecil.”
“Gak usah repot-repot Rika.. aku dan Saga akan mengobrol di tempat lain saja. Beritahu Aoi kalo aku akan segera kembali.”
Rika mengangguk seiring kepergian Saga bersama Uruha. Aneh. Begitu pikir Rika. meskipun bertemu teman lamanya, tapi wajah Saga tidak terlihat senang.
==1212==
Sudah lewat tengah hari dan beratus-ratus kilometer mereka lalui, tapi sepertinya perjalanan mereka masih panjang tanpa masing-masing menyadari bahwa saat ini mereka sedang dibuntuti.
“Untuk apa kita mengikuti mereka sampai sejauh ini?” Tanya Mao kesal sambil terus mengemudikan mobilnya.
“Di dalam mobil itu ada pemuda itu. Kei memberitahuku di rumah itu sudah tidak ada siapa-siapa, jadi kesimpulannya.. Yuura di mobil itu. mungkin ia sadar nyawanya terancam dan ingin melarikan diri ke kota lain. Dari arah tujuannya sepertinya dia ingin ke Fukuoka.”
“Kenapa gak langsung aja kita salip mobil mereka dan paksa dia keluar dari mobil itu lalu membawanya ke markas. Lagipula ini terlalu riskan, bagaimana kalo tiba-tiba kita kehilangan jejak mobil itu?”
“Tenanglah Mao, aku sudah memasang alat pelacak di mobil itu secara diam-diam tadi malam. Aku sudah memprediksi hal ini. lagipula terlalu berbahaya menyalip mobil mereka di tempat ramai seperti ini. tunggullah sampai mobil itu tiba di tempat tujuannya.”
“Ya baiklah, terserah dirimu saja.”
==1212==
“Sudah lama ya Saga.. sejak aku membunuh orang itu dan mereka memisahkan kita. Bagaimana kabarmu? Kudengar kau punya seorang adik tiri dan gara-gara dia kau memutuskan berhenti dari pekerjaanmu.”
“Aku baik-baik aja, tapi yang lebih penting.. sedang apa kau di rumah itu?”
“Maksudmu di rumah tempat tinggal Aoi?”
“Kau mengenal Aoi?” Saga balik bertanya.
“Dia kekasihku, Saga. Kami saling mencintai.”
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?”
Uruha setengah tertawa. “Aku mengenalnya waktu dia menyelamatkanku yang nyaris tenggelam. Dia orang baik yang sangat memahami karakterku. Aku sangat mencintainya.”
“Dia tau kau seorang pembunuh?”
Uruha menggeleng. “Tapi aku akan segera berhenti seperti dirimu. Kudengar kau berhenti karena seorang laki-laki yang seharusnya menjadi targetmu telah menyadarkanmu. Apa itu benar?”
“Entahlah Uru, aku memang merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu. kau tahu kan kalo selama ini kita hanya dimanfaatkan?! Aku merasa harus keluar dari lingkaran setan itu dan menjalani kehidupan dengan semestinya.”
“Kita memang dimanfaatkan, tapi apa kau lupa kesenangan saat membunuh dan rasa bahagia saat melihat darah?”
“Aku sudah tidak ingat rasanya. Hanya bau amis. Aku lebih bahagia saat bersama orang-orang yang aku cintai.”
“Iya kau benar. Karena itulah aku juga ingin berhenti dan hidup berdua dengan Aoi. Tapi setelah memastikan kematian anak itu terlebih dahulu dengan mataku sendiri.”
“Adikmu?! Apa kau masih mendendam padanya??”
“Tentu saja Saga. Aku tidak bisa lupa saat dengan tenangnya anak itu mencabut pisau yang tertancap di jantung ayah dan ibuku.”
“Tunggu Uruha, apa kau yakin adikmu itu pelakunya?”
“Tidak ada siapa pun selain dia di sana. Yuura terlalu mempercayai matanya. Padahal apa yang dilihatnya hanya modifikasi dari pikirannya yang terlalu berkembang dengan imajinasi-imajinasi yang menyesatkannya. dia terlalu percaya orang tua kami akan membunuhnya.. karena itu dia membunuh mereka karena ketakutan akan hal itu. mata itu menjaganya, tapi sebenarnya mata itu hanya menyesatkannya. setan yang berdiam diri di matanya itu telah membuatku membencinya.”
“Yang dilihatnya bukan hanya sekedar imajinasi, tapi benar-benar terjadi. Kau juga tau hal itu. berulang kali organisasi memanfaatkannya, lalu mencuci otaknya untuk membuatnya lupa atas apa yang dilihatnya.”
“Ya itu benar, tapi kenyataan yang diperlihatkan matanya tidak seratus persen benar. Dia tidak bisa membedakan mana imajinasinya dan kenyataan sesungguhnya. Karena terlalu percaya dengan apa yang dilihatnya, dia justru membahayakan nyawa orang di sekitarnya. Dan mungkin saat ini, dia juga sedang berada dalam posisi itu. karena itu lah aku ingin membunuhnya. Semata-mata bukan hanya karena dendam, tapi karena aku masih menyimpan sedikit rasa sayang padanya. Aku ingin membuatnya berhenti melihat hal-hal yang tidak diinginkannya.”
==1212==
Satochi menghentikan mobilnya tepat di hadapan sebuah kedai sushi di pinggiran kota.
“Kalian lapar kan?!”
Nao dan Yuura menggeleng, tapi perut mereka tidak bisa berbohong. Ya, mereka memang sangat lapar karena perjalanan bermil mil tanpa henti. Mereka hanya berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar kendaraan, setelah itu mereka melanjutkan kembali perjalanan dengan tujuan agar sampai di fukuoka sebelum hari gelap.
“Orang itu baik banget Yuura, mau mentraktir kita makan sebanyak ini.” ucap Nao saat dihadapkan berbagai aneka sushi di hadapannya. “Berapa sisa umurnya?” Tanya Nao berbisik saat memastikan bahwa Satochi yang duduk di sudut ruangan bersama seorang laki-laki tua yang sepertinya dikenalnya itu tidak mendengar ucapannya dan ucapan Yuura.
“lima jam.”
“Lima?? Hanya lima?!!” Nao mengacungkan tangan kirinya dengan memperlihatkan telapak tangan dan kelima jarinya. Lalu ia tampak menghitung-hitung.. “Berarti orang itu akan mati setelah dua jam pertemuannya dengan sang istri di dermaga itu. Atau jangan-jangan dia gak mati di dekat dermaga tapi dalam perjalanan pulang dari dermaga itu..”
“Engga Nao, aku melihat jelas dermaga itu. laki-laki itu terkapar dengan tubuh bersimbah darah.”
“Lalu apa kamu melihat apa penyebab dia bersimbah darah?”
Yuura menggeleng. “Sepertinya karena tusukan benda tajam. Dan aku gak tau siapa pelakunya.”
“Apa mungkin istrinya?”
“Entahlah Nao, aku juga gak liat ada sosok wanita di sana.”
“Coba kamu liat lebih jelas, paksa matamu melihat lebih dari yang kamu liat saat ini.”
“Sudah Nao, tapi semuanya sama aja.”
“Wah repot juga, padahal kita sudah mengikuti dia sampe sejauh ini. lalu apa kamu liat dimana posisi kita saat laki-laki itu mati terbunuh.”
Yuura menggeleng. “Laki-laki itu terkapar sendirian, dermaga itu sepi sampai ada seorang petugas patroli yang menemukannya dua jam kemudian. Setelah itu baru terlihat banyak orang yang berkerumun, sepertinya pegawai pelabuhan. Dan ada ambulan yang membawa mayat laki-laki itu.”
“Yuura, jangan-jangan kita ikut mati juga bersama laki-laki itu.. ta- tapi mayat kita ada di tempat lain..” Nao mendadak merinding membayangkannya. “Aku gak mau ikutan mati muda gara-gara mengikuti laki-laki itu.”
“Tenang Nao, aku gak liat tanda-tanda kematian di wajahmu.”
“Serius nih?! Aku jadi takut. Kalo tau aku bakal mati, aku kan bisa cepat-cepat pergi ke tempat Hizaki dan bilang suka padanya sebelum semuanya terlambat.”
“Hizaki siapa?”
“Ng.. dia gadis cantik yang aku sukai.” Wajah Nao tampak malu-malu.
“Hihihii.. ternyata ada ya.. aku pikir Nao gak akan suka sama seorang gadis.”
“Ngomong apa itu, aku ini kan bukan homo.”
“Iya iya aku tau.” Yuura tertawa kecil sambil menundukkan wajahnya. Lalu terlihat di mata Nao, sesuatu yang tersembunyi dan menghiasi leher temannya itu.
“Yu- Yuura.. kalung yang kamu pakai itu..”
“Ah kalung ini ya... aku baru memakainya beberapa hari yang lalu. Kai yang memberikannya padaku. Dia bilang kalung ini milikku.”
“Kai? Siapa??”
“Dia itu laki-laki yang menyelamatkanku beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang aku menganggapnya sebagai kakakku.”
Nao ingin bertanya lebih banyak, tapi hal itu urung dilakukannya karena Satochi sudah menghampiri mereka kembali.
“Kalian sudah selesai?”
“I- iya..” Nao berkata gugup. Kegugupannya lebih disebabkan karena kalung yang dipakai Yuura sama persis dengan kalung yang dipakai teman Aoi.
“Kalo begitu kita lanjutkan perjalanan lagi sebelum hari mulai gelap.”
Yuura dan Nao mengangguk, meskipun mereka berdua berharap Satochi tidak akan pernah sampai ke dermaga itu.
Lewat dari satu jam perjalanan, Nao masih berusaha mencari celah untuk menanyakan prihal kalung itu kepada Yuura. Tapi waktunya memang kurang tepat. Mungkin Nao perlu berbicara panjang pada Yuura setelah urusan mereka dengan Satochi selesai.
Sejurus kemudian Satochi kembali menghentikan mobilnya. Kali ini di tempat yang lebih sepi. Hanya ada sebuah minimarket yang punya sedikit kehidupan di tempat itu.
“Kalian tunggulah disini.”
“Satochi-san, anda mau kemana?”
“Hanya sebentar. Aku ingin membeli makanan ringan di minimarket yang ada di ujung jalan itu.”
“Bi- biar aku saja.” Yuura mengajukan diri.
Satochi menghela nafas panjang. Ia merasa ruang geraknya dibatasi, tapi karena Yuura memaksa, jadi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti keinginan anak itu.
Setelah kepergian Yuura sekitar lima menit yang lalu, Satochi tampak memperhatikan sebuah mobil yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat mobilnya diparkirkan. Ia merasa mobil itu sudah membuntutinya sejak memasuki wilayah Fukuoka.
Tidak. bukan hanya sejak di Fukuoka, tapi lebih dari itu. mungkin sejak awal mobil itu memang mengikutinya. Ada yang mereka incar. Tapi Satochi tidak yakin jika ia yang mereka inginkan. Satochi tidak ingat pernah punya musuh, tapi untuk apa mobil itu mengikutinya?
“Ng.. Nao.. kau lihat mobil hitam yang terparkir di belakang itu?”
“Anda juga menyadarinya, Satochi-san?!!”
“Kau juga?!”
Nao mengangguk. “Mobil itu sudah mengikuti kita sejak awal. Tadinya aku hanya berpikir itu kebetulan, tapi udah sampe sini sih namanya bukan lagi kebetulan.”
“Apa Yuura juga tau mobil itu mengikuti kita?”
Nao menggeleng. “Entahlah, tapi kurasa penglihatannya lebih peka daripada kita. Mungkin dia juga sudah tau.”
“Lalu apa kau pernah melihat mobil itu sebelumanya, Nao?”
Lagi-lagi Nao menggeleng. “Baru kali ini aku melihatnya. Ng.. apa mungkin orang itu mengikuti anda, Satochi-san?”
“Bukan Nao, kurasa bukan aku yang diincarnya. Satochi tampak berpikir. Sepertinya ia memang pernah melihat mobil itu entah dimana, tapi ia lupa.
“Bukan musuhmu kan Nao?”
Nao menggeleng cepat. “Bu- bukan.. a- aku memang sering terlibat masalah dan dipukuli, ta- tapi sekarang aku sudah gak punya musuh.”
Satochi menatapnya curiga. “Benar begitu..”
“Ng.. ya.. kurasa memang begitu.” Nao cengar-cengir.
Satochi kembali berpikir. Kalau bukan dirinya dan Nao, berarti yang diincarnya adalah Yuura. tapi kenapa Yuura diincar?
Satochi memang tidak mungkin menemukan jawaban dari pertanyaanya. Tapi akhirnya ia mengingat sesuatu.
Orang-orang itu memang mengincar Yuura. mobil itu pernah dilihatnya saat menolong Yuura yang pingsan dan disekap beberapa orang.
“Wah Yuura lama banget sih, ini kan sudah lebih dari setengah jam. Masa beli makanan dan minuman di minimarket aja selama ini?!!” Ucap Nao sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Satochi juga merasa kepergian Yuura terlalu lama.
“Kau tunggu disini Nao, aku akan menyusulnya.”
“Hei Satochi-san, tunggu!!” Nao berusaha menghentikan laki-laki itu, tapi gerakan Satochi lebih cepat.
==1212==
“Kau ingat kami Yuura?”
Yuura menatap dua orang yang menghadangnya dan kedua orang itu telah sukses membuatnya terpojok di sebuah gang sempit yang gelap.
“Kalian yang waktu itu menyerangku...”
“Iya benar, apa kau sudah ingat? Kau bermaksud melarikan diri dari kami?!”
“Aku tidak mengerti ucapan kalian, aku tidak sedang dalam pelarian. Dan sebaiknya kalian minggir, aku mau lewat!!”
“Tunggu dulu Yuura!” Salah satu dari mereka menghadangnya lebih dekat. “Ikutlah dengan kami secara baik-baik.”
“Hah?!! Yang bener aja!! Emangnya apa untungnya aku mengikuti kalian?!!”
“Jawabannya mudah... kau tidak akan terluka jika menuruti ucapan kami. Sebaliknya jika tidak mau, kami akan memaksamu dengan... yah sedikit kekerasan.” Ucap laki-laki di belakang Yuura yang saat ini sudah mengeluarkan sebilah pisau tajam. Yuura jadi benar-benar merasa terdesak.
==1212==
Di tempat lain...
“Nao dan anak itu gak pulang tadi malam. Sekarang juga sudah malam. Apa mereka berniat gak pulang lagi?!” Tanya Chiru sambil mengaduk-aduk kuah sobanya.
“Memangnya mereka tidur dimana kalo gak pulang?” Keiyuu balik bertanya sambil membereskan meja makan.
“Mungkin di rumah Yuura. kata Nao.. Yuura itu tinggal di rumah mewah. Daripada Nao, apa gak seharusnya kita lebih mencemaskan Pon Pon?! Dari tadi malam dia juga belum pulang.” Ucap Rika yang ikut membantu Keiyuu membereskan meja makan dan bersiap mencuci tumpukan-tumpukan piring.
“Kalo anak itu sih gak usah dicemasin. Tadi siang dia telpon aku dan katanya dia gak pulang sampe besok. Rasanya rumah ini mendadak sepi ya.. Izumi juga sudah dua hari gak nginap disini. Dan rasanya Mizuki mendadak jadi lain.” Keiyuu berkata dengan ekspresi tenang.
Berbeda dengan Akiya yang sedang duduk di pojokan ruang. Meskipun tenang dan diam, tapi sebenarnya saat ini ia sangat cemas memikirkan kepergian dan keselamatan temannya. Apalagi setelah beberapa waktu lalu secara tidak sengaja ia mendengar pembicaraan antara Mizuki dan teman Aoi yang bernama Uruha itu. Ia sadar jika selama dua tahun belakangan ini ternyata ia telah hidup seatap dengan seorang mantan pembunuh dan sekarang ada seorang pembunuh aktip yang sedang berkeliaran di sekitarnya. Akiya sengaja diam dan tidak buru-buru memberitahukan hasil temuannya ini pada teman-temannya yang lain. Hal itu dilakukannya semata agar tidak membuat mereka panik dan melakukan tindakan-tindakan bodoh. Yang perlu dilakukannya saat ini hanyalah berbicara dengan Aoi.
==1212==
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Yuura hingga membuatnya terhuyung ke belakang dan kacamatanya terlepas.
Yuura mencium bau anyir. Bibirnya berdarah dan kepalanya sedikit pusing setelah terkena hantaman sebanyak dua kali. Yuura berusaha melindungi dirinya meskipun gagal karena dua orang yang menyerangnya sangat berpengalaman.
“YUURA!!!”
Seorang laki-laki tampak berlari menuju tempatnya.
Yuura melihat jelas saat laki-laki itu ingin menghampirinya.
Jangan.. Satochi-san.. jangan kemari..
Sekarang semuanya cukup jelas. Kejadiannya berulang seperti beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana ingatan itu kembali terbersit. Ia melihat seorang wanita terbunuh. Dan wanita itu mati terbunuh gara-gara dirinya.
Hal yang sama sebentar lagi akan berulang pada Satochi. Ternyata memang ia yang menjadi penyebab kematian Satochi.
Seorang laki-laki yang dipanggil temannya dengan nama Tsurugi tampak menghampiri Satochi dengan menghunus sebilah pisau. Awalnya Satochi tidak kesulitan menghindari serangan laki-laki itu. apalagi ia memang menguasai keterampilan beladiri. Tapi karena keletihan fisik akibat mengendarai mobil selama berjam-jam, membuat Satochi kehilangan konsentrasi dan pisau di tangan Tsurugi sukses menembus perut laki-laki itu.
Hal itulah yang dilihat Yuura saat ini. dan hal itu akan terjadi hanya dalam hitungan beberapa menit kemudian. Bahkan mungkin tidak akan sampai dalam hitungan mundur 120 detik.
Terlambat bagi Yuura untuk memaksa Satochi pergi meninggalkan dirinya. Laki-laki itu terlalu peduli pada sekitarnya dan baginya menolong Yuura mungkin lebih penting daripada sekedar menjaga nyawanya. Bahkan ia seperti tidak ingat jika istrinya saat ini sudah menunggu kedatangannya di dermaga itu.
Kematian Satochi bukan karena kenekatannya pergi ke dermaga itu, tapi karena Yuura memaksa mengikutinya. Jika Yuura tidak bersikeras mengikutinya, nasib Satochi tidak akan se-naas ini. laki-laki itu tidak perlu terkena tusukan pisau karena berusaha menolongnya.
Dalam penglihatan Yuura, gerakan kedua laki-laki yang saling menyerang itu seperti melambat. Dan Yuura seperti melihat batas waktu yang terhitung mundur satu-persatu secara perlahan dan matematis. Dimulai dari angka 33 dan angka itu terus berhitung mundur hingga menjadi angka satu dan akhirnya nol.
Satochi terkapar sambil memegangi perutnya yang mengucurkan darah. Sedangkan Yuura yang ingin menolongnya malah mendapat hantaman keras di tengkuk belakangnya dan akhirnya pingsan. Mao menyeretnya segera masuk ke dalam mobil sebelum ada orang yang melihat perbuatan mereka.
Tsurugi masih ingin menusuk Satochi lagi untuk memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar mati, tapi Mao sudah memaksanya meninggalkan laki-laki itu.
“Biarkan dia!! Cepatlah Tsurugi, sebelum ada orang yang melihat ini!!”
Tsurugi mundur, masih dengan tangan memegang pisau. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Mao. Jarak beberapa meter, tampak Nao yang tadi sibuk mencari-cari Satochi dan Yuura. Ia hanya sempat melihat Yuura diseret masuk ke dalam mobil yang kini bersiap melaju. Nao berinisiatif mengejar mobil itu sebelum mobil itu melesat pergi.
“Ada yang mengejar kita di belakang.”
“Tabrak dia Mao!” Seru Tsurugi. Mao mengerti lalu memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menabrak Nao yang mengejar di belakang. Nao panik tidak bisa menghindar dan pasrah saat perutnya dihantam bagian belakang mobil itu.
Setelah memastikan orang yang ditabraknya tumbang, Mao kembali memasukkan gigi dan menginjak gas lebih cepat lalu secepat kilat meninggalkan tempat itu.
Peristiwa itu cukup menimbulkan keributan dan orang-orang mulai bermunculan dengan ekspresi bertanya-tanya.
Nao merasakan sakit yang teramat sangat diperutnya. Ia juga merasakan sesak dan akhirnya terbatuk lalu mengeluarkan darah dari mulutnya. Mungkin ada pendarahan di rongga perutnya dan ia kembali berpikir apa ia akan ikut mati... sampai akhirnya pandangan matanya kabur dan Nao ikut pingsan di tengah jalan yang sepi kendaraan namun sudah dikerumuni banyak orang.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Nao ditabrak, jemari tangan laki-laki yang terkapar bersimbah darah itu masih bergerak.
Satochi bangkit sambil memegangi perutnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih berusaha mencari-cari sesuatu. Cincin itu. cincin yang ingin ia berikan pada istrinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan. Cincin itu terjatuh saat ia berkelahi dengan orang yang akhirnya menikamnya. Ia terus mencari cincin itu meskipun pendarahan di perutnya semakin deras. Seharusnya ia masih bisa meminta pertolongan dan ia yakin nyawanya masih bisa diselamatkan jika orang-orang segera membawanya ke rumah sakit. Apalagi saat ini ia mendengar suara sirine ambulan.
Tapi entahlah apa karena bodoh,, namun Satochi tetap bersikeras mencari cincin itu. dan setelah menemukannya, ia malah bergegas menuju dermaga yang masih berjarak kurang lebih lima kilometer. Sudah setengah jam yang lalu seharusnya ia tiba di dermaga itu dan menyerahkan cincin sebagai permintaan maaf, tapi segala sesuatu yang sudah dirancang manusia memang tidak akan terlaksana jika Tuhan sudah punya rancangan sendiri.
Satochi mengendarai mobilnya dengan susah payah. Ia berusaha menutupi luka tusukannya dengan memakai jaket lebih tebal. Namun tanpa bisa diduga akhirnya mobil yang dikendarainya tiba-tiba berhenti karena kehabisan bahan bakar, padahal jarak dermaga masih kurang lebih satu kilometer lagi. Tidak ada yang bisa Satochi lakukan selain berjalan kaki dengan tertatih-tatih.
Karena terus bergerak itulah darahnya semakin banyak mengalir dan wajahnya semakin pucat. Darah itu menetes di sepanjang jalan yang ia lewati. Satochi tidak peduli itu, ia hanya terus berpikir untuk sampai ke dermaga bagaimana pun beratnya perjuangan yang harus ia lewati.
Hampir jam sepuluh malam, jalanan itu semakin sepi. Satochi hanya berharap istrinya akan tetap setia menunggu kedatangannya. Tapi mana mungkin ada wanita seperti itu. meskipun sangat setia, mana mungkin ada wanita yang tetap menunggu meskipun laki-laki yang ditunggunya sudah telat selama dua jam.
Kenyataan itu membuat Satochi terpuruk. Setidaknya ia berharap ingin melihat sosok istrinya meskipun batas waktunya tinggal menghitung detik.
Dan keinginannya terkabul.
Wanita itu tetap menunggu di sana.
Bahkan sosoknya begitu indah meskipun Satochi hanya melihatnya dari belakang.
Jarak mereka terpaut sekitar 100 meter. Satochi ingin menyebut dan memanggil nama wanita yang dinikahinya tiga tahun yang lalu itu. tapi suaranya sudah tercekat dan ia tidak sanggup menanggung penderitaan lebih lama. Volume darahnya sudah semakin berkurang dan ia sudah merasa di ambang kematian.
Ia hanya ingin wajah wanita itu berpaling padanya dan satochi melihat wajahnya sebelum ia benar-benar pergi, tapi wanita itu hanya terus menatap arah yang berlawanan dan perlahan mulai berjalan menjauhi posisi Satochi berada. Wanita itu akan segera meninggalkan dermaga tanpa ia sadar bahwa orang yang dinantinya sejak tadi sudah datang dengan susah payah hanya demi dirinya.
Wanita itu menangis menyadari suaminya tidak datang menyusulnya. Ia mulai berpikir bahwa suaminya memang tidak mencintainya, tapi ia tidak menyesal menikah dengan laki-laki itu karena memang hanya Satochi lah orang yang paling dicintai.
Saat ini wanita itu sudah mengambil keputusan...
Ia tidak ingin mendengar kata-kata Satochi lagi meskipun laki-laki itu berlutut di hadapannya.
Dan memang itulah yang terjadi...
Ia tidak akan pernah mendengar suara suaminya lagi..
karena saat ini Satochi sudah...
menghembuskan nafasnya yang terakhir...
==1212==
t.b.Kontinyut~

