Beneath the Rain


Title: Beneath the Rain
Chapter: 1 Shot
Author: ~Emiru~
Genre: Drama
Fandom: J-Rock ~ Versailles
Finished: Nov 13, 2008
Note: Just fiction

~ ~ ~

Hari yang tidak bersahabat dan kekesalan yang sedikit memuncak. Entahlah, tapi perasaan ini tidak pernah dirasakan Teru sebelumnya. Meskipun semuanya masih tetap terasa sama.

Wajahnya tetap tersenyum. Senyum yang sama.

Ya senyum itu. Senyum tipis yang selalu terukir manis di wajahnya. Senyum yg mungkin akan selalu diingat oleh orang-orang yg mengaguminya.

Tapi siapa yang mengaguminya?

Teru merasa seperti orang kedua.

Meskipun ia berusaha segigih apapun, namun orang-orang akan tetap memandang Hizaki.

Ya Hizaki. Hanya Hizaki dan bukan dirinya.

Teru bukan merasa iri pada gitaris sahabatnya itu. Ia juga mengagumi Hizaki. Sama seperti orang-orang.

Tapi entahlah,

Sepertinya ia hanya merasa sedikit tidak dihargai.

Oleh siapa?

Pertanyaan itu, Teru sendiri pun tidak dapat menjawabnya.

“Ah hujan..” bibir tipis Teru spontan berkata seperti itu dengan lemah. Ia baru akan meninggalkan studio saat mendapati banyak butiran hujan yang semakin deras mengguyur sekelilingnya.

Dalam keadaan seperti itu, Teru yakin meskipun ia berlari menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari posisinya berdiri saat ini, Tubuhnya akan tetap basah oleh air hujan.

Teru bukannya tidak suka dengan hujan.

Ia hanya berusaha melindungi tubuhnya. Air hujan itu seperti aliran air es yang sangat dingin. Dan rasa dingin itu akan melemahkan tubuh, sehingga menyebabkan kemungkinan buruk mengakibatkan seseorang jatuh sakit.

Teru tidak ingin sakit. Yah setidaknya untuk saat ini. Kelelahan fisik dan kurangnya jam tidur telah membuat Teru kepayahan dan menyusahkan teman-temannya.

Teru hanya ingin bersikap profesional. Ia ingin selalu memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Laki-laki berwajah manis itu hanya bisa menunggu. Ia akan terus menunggu sampai hujan berhenti, atau seseorang diantara teman-temannya ada yang membawakannya payung.

Kemungkinan kedua itu terlalu mustahil. Mereka sedang sibuk saat ini dan tak ada waktu untuk memikirkan Teru.

Seharusnya Teru bergabung bersama mereka, tapi saat ini tubuhnya sangat lelah. Ia meminta ijin kepada Kamijo untuk beristirahat di rumah.

Teru tahu bahwa Kamijo tidak suka dengan sikapnya itu. Semua orang juga lelah, tapi mereka terus bekerja. Sebaliknya, Teru malah meminta ijin untuk istirahat. Meskipun demikian, Kamijo tetap mengijinkannya. Bukan karena Teru merasa bahwa vocalis bandnya itu perhatian padanya, ia hanya merasa Kamijo tidak terlalu peduli padanya. Terserah jika ia ingin pergi atau tidak muncul sama sekali.

Lagi-lagi Teru hanya terdiam. Suara rintik hujan yang deras itu semakin terdengar nyaring di telinganya. Tapi diantara suara rintik hujan itu, ia masih bisa mendengar deru nafasnya yang semakin berat.

Teru mengangkat kedua telapak tangannya dan mendekatkan kedua telapak tangan itu pada wajahnya. Nafasnya yang terpantul di telapak tangan itu terasa panas. Apa itu karena suhu tubuhnya yang juga terasa semakin hangat?

Entahlah, tapi Teru betul-betul tidak ingin jatuh sakit untuk saat ini.

Dari arah yang tidak terlalu jauh, Teru melihat pemuda-pemuda itu. Mereka tampak bersemangat.

Ayame yang mungil terlihat kesal saat Anzi dan Yu mendorongnya ke tengah hujan. Mereka berceloteh mengatakan bahwa Ayame adalah anak hujan dan tentu hujan akan sangat senang jika mengguyur tubuhnya.

Ayame memanyunkan bibirnya lalu dengan tubuh mungilnya itu berusaha menarik Yu ke tengah guyuran hujan. Meskipun usahanya gagal dan ia malah terjatuh digenangan air.

Teru hanya tersenyum melihatnya. Meskipun Anzi dan Yu mengerjai Ayame seperti itu, tapi mereka tetap mengulurkan tangan pada bocah pemain keyboard itu dan memayungi kepala serta tubuhnya yang basah dengan jaket mereka.

Mereka perhatian pada bocah itu. Dan rasanya Teru sedikit merasa iri.

Teru sempat membalas lambaian tangan Anzi saat gitaris Matenrou Opera itu melihat kearahnya dan tampak bersiap akan meninggalkan studio bersama Ayame dan Yu rekan satu bandnya.

Saat itu Teru merasakan tubuhnya semakin lemah. Ia seperti layangan limbung yang terlepas dari benangnya.

Dan menunggu hujan berhenti sepertinya bukan pilihan yang tepat. Teru hanya perlu berlari sebentar untuk mencapai mobilnya. Itulah yang akan dilakukannya saat ini.

Tapi langkahnya terhenti kala seseorang menarik tangannya.

“Hujan deras seperti ini kau memaksa ingin pergi?”

Suara berat itu terdengar bertanya padanya.

Teru menolehkan wajahnya dan mendapati Kamijo yang menghentikan langkahnya.

“Ng.. tapi.. aku hanya mau menuju mobilku.”
Teru bingung harus berkata apa. Terlebih saat Kamijo serius menatapnya.

“Wajahmu pucat. Kau sakit?”

Bukan jawaban yang didapat Kamijo melainkan hanya gelengan kepala.

Kamijo nampak tidak percaya dengan hal itu. Ia lalu menyentuhkan tangannya sendiri di kening pemuda itu.

“Panas. Kau demam Teru. Baiklah aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Kamijo terdengar praktis.

Teru ingin menolak, tapi wajah Kamijo yang selalu sukses mengintimidasi itu sepertinya tidak membutuhkan kata-kata penolakan.

“Bagaimana dengan proses recordingnya?” Hanya itu yang bisa Teru pertanyakan sebagai bahan penolakan.

“Sudah hampir selesai. Hizaki dan You bisa menangani itu.”

Teru lagi-lagi terdiam. Tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan. Dan kenapa juga ia harus menolak? Seharusnya Teru senang karena ternyata Kamijo memperhatikannya. Bukankah itu yang ia inginkan selama ini? Ia ingin diperhatikan oleh teman-temannya. Oleh Yuki, You, Hizaki dan juga Kamijo. Ia ingin keberadaanya semakin diterima. Tapi Teru yakin bahwa Kamijo memperhatikannya sebatas hanya karena profesionalisme kerja. Ia akan sangat dirugikan jika salah seorang gitarisnya mendadak sakit kala bandnya dipenuhi jadwal padat seperti sekarang ini.

Teru menganggap Kamijo seperti itu.

Tapi mungkin ia salah..

Kamijo memakaikan jaketnya pada tubuh Teru sekaligus menutup kepala Teru dengan tudung jaket itu.

“Tidak ada payung. Setidaknya jaket ini cukup untuk membuatmu terlindung dari guyuran air hujan.”

“Ah..” Hanya itu yang bisa Teru keluarkan dari bibirnya.

Kamijo merangkul pundaknya dan sedikit memaksanya berjalan di tengah guyuran hujan. Teru sama sekali tidak merasakan air hujan menyentuh kulitnya.

Tapi Kamijo tampak santai saja membiarkan tubuhnya terguyur air hujan tanpa sedikit pun mengeluh. air hujan itu membuat kemeja putihnya basah dan membuat Kamijo terlihat seksi dengan kemeja basah itu menempel dan menerawang kulit tubuhnya.

Teru ingat bahwa Kamijo pernah bercanda mengatakan perut Teru sangat seksi dan terus-menerus menatap perutnya yang memang seksi itu. Teru sama sekali tidak merasa risih dan malah menganggap keberadaan Kamijo membuatnya merasa nyaman.

Sesampainya di mobil, Kamijo memaksakan diri menyetir karena menurutnya saat ini Teru tidak dalam kondisi baik untuk menyetir.

Kamijo menghidupkan mobil itu setelah menutup percakapannya melalui handphone.

“Hizaki titip pesan padaku supaya kau jangan lupa minum obat dan istirahat yang cukup.”

“Hizaki? Dia bilang seperti itu?” Tanya Teru seperti tidak percaya.

“Iya, memang itu yang dia katakan. Setelah pekerjaannya selesai, You juga akan mengunjungimu untuk membawakan makan siang. Menurutnya akhir-akhir ini kau jarang makan-makanan yang sehat.”

Teru tersenyum. Baginya ucapan Kamijo itu cukup jelas membuktikan bahwa mereka semua sangat perhatian dengan keadaannya saat ini.

“Arigatou.” Ucap Teru pelan.

“Sudah semestinya kan?! Maaf karena tadi aku mengacuhkanmu saat kau bilang lelah dan ingin istirahat. Seharusnya aku tahu bahwa kau memang tidak dalam kondisi baik.”

Teru lagi-lagi hanya tersenyum. Ucapan Kamijo yang terdengar tulus itu tentu saja membuatnya senang.

Teru menatap kearah luar kaca jendela mobil saat mobil yang ditumpanginya berjalan perlahan meninggalkan areal studio tempat kerjanya.

Teru merasa bersyukur pada hujan hari ini. di bawah hujan itu, Teru mengetahui bahwa ia ternyata sangat diperhatikan. Seseorang yang duduk di sampingnya saat ini rela membiarkan tubuhnya terguyur hujan hanya demi dirinya.

Dan Teru merasa segalanya cukup untuk membuatnya terus bertahan dan berjuang bersama mereka yang telah memperhatikan dan mendukungnya.

-Beneath the Rain-

~FINISH~

Tsukasa-Kai have a baby (Chapter 7 - 8)


Title: Tsukasa-Kai have a baby
Author: -Keka-
Fandom: D'espairsRay, the GazettE,..
Disclaimer: Tsukasa dan Kai adalah suami Keka! Ide cerita datangnya dari fic KAT-TUN milik Ei yang berjudul UEDA TATSUYA NO WORSTDATE.
Note: Fic narsis lagi, sekedar buat hiburan :P
Warning: Fic ini menolak untuk di claim pihak lain selain oleh Keka sendiri!!





* * *



Chapter 7
-Angry Man-


"Ahahahahaaa... kalian ini para member Despa lucu-lucu sekali.. memangnya tidak pernah lihat para pria mandi dan saling menggosok punggung bersama?? Di onsen sering terjadi kan?!" Tanya Kai dengan suara crunchy bin riang gembiranya. Sama sekali tidak ada beban dan berbeda 180 drajat dari Tsukasa yang mukanya betul-betul mirip rajungan rebus karena kedapatan mandi satu bathtup bersama Kai oleh teman-temannya.

"Aku tadi hanya berusaha menggosok punggung Tsukasa dan memijatnya karena dia tampak kelelahan, tapi Tsukasa sensitif sekali. Baru disentuh sedikit sudah teriak-teriak. Apa dia memang seperti itu? Rasanya canggung sekali bila bersamaku, padahal kan aku tidak berniat melakukan apa-apa padanya."

"Yutaka-san jangan heran begitu. Jangankan bila bersamamu, dengan kami pun dia begitu." Karyu berkata sambil melirik pada Tsukasa yang prengat prengut sambil menghindari tendangan taekwondo Uke kecil yang berusaha membela diri saat Tsukasa memaksa bayi itu memakai popoknya.

"Tapi kaget juga melihat kalian mandi bersama. Tsukasa biasanya tidak mau dengan kami meskipun kami memaksanya." Timpal Hizumi.

"Ah.. kalian tidak tahu saja. Sebenarnya Tsukasa ini sangat mudah ditaklukkan. Kalian mau tahu rahasianya?"

Ketiga member Despa kompak menganggukkan kepala.

"Sini sini.. aku bisiki.." Ketiga member Despa patuh mendekati Kai dan dengan hikmat mendengarkan semua ucapan pria pemilik senyum manis itu. Tinggallah Tsukasa yang makin gondok karena ketiga temannya kompak 'berkhianat' padanya, dan terlihat sangat akrab dengan Kai yang memang sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan itu.

Memangnya apa yang dibisikkan Kai pada teman-temanku? Tanya Tsukasa dalam hati. Ia merasa sangat penasaran, meskipun tidak punya alasan tepat untuk ikut mendengarkan.

Beberapa saat kemudian, Hizumi dan Karyu tampak terkikik geli, Zero senyam senyum dan Kai berusaha untuk menahan tawanya agar tidak pecah. Melihat reaksi itu, Tsukasa jadi geram sendiri dan akhirnya menyampaikan protes pada mereka.

"Hei, berhentilah kalian membicarakanku di belakang!!" Seru Tsukasa kesal.

"Ah siapa yang membicarakanmu di belakang? Kami kan berbicara di depanmu.." Ucap Kai innocent.

"Tapi tidak perlu bisik-bisik begitu kan?!!"

"Tsukasa tenanglah... kami berbisik hanya karena tidak ingin mengganggumu yang sedang meninabobokan Uke."

Tsukasa melirik ke arah Uke kecil yang memang nampaknya mulai mengantuk, setelah sesaat tadi Tsukasa mengganti popoknya dan memberinya asupan susu serta menggendongnya dalam dekapan hangat. Bayi mungil itu tampak berusaha merapat lebih erat ke dalam dekapannya agar merasa lebih hangat.

"Sebaiknya cepat tidurkan dia di ranjang, dan setelah itu bawakan kami berempat makanan dan minuman."

"Jangan memerintahku!!!" Tsukasa melotot pada Karyu.

"Kalau tidak mau... kami berempat akan bilang pada Keka tentang kegemaranmu mencuri pakaian dalamnya, menelantarkan Uke kecil, dan mengata-ngatainya sebagai bayi sialan. Hmm.. kira-kira bagaimana ya reaksi Keka kalau mengetahui hal itu..?" Karyu mencoba berpikir, meskipun Tsukasa tahu bahwa saat ini sahabatnya itu sedang menikmati setiap kekesalan yang dirasakan olehnya.
Dasar Kai brengsek!!

"Baiklah, kali ini aku turuti perintah kalian. PUAS?!!!"

Dengan kesal Tsukasa meninggalkan teman-temannya dan melangkah menuju kamar Keka dengan wajah masam. Jamban pun rasanya masih lebih bagus daripada bentuk wajahnya saat ini.

Tsukasa yang malang...

~ ~ ~


Chapter 8
-Finished??-


"PULANG KALIAN!!!!! CEPAAAAATTT!!!!" Tsukasa membentak ketiga temannya, dan memaksa Hizumi, Karyu, serta Zero untuk meninggalkan apartemen Keka, setelah ketiga mahkluk yang cukup nista itu memerintahnya ini itu, mulai dari memijati punggung Hizumi, mengkeramasi rambut Zero, sampai membersihkan kotoran jempol kaki Karyu. Tsukasa menurut patuh karena mereka mengancam akan mengadu pada Keka. Tapi nampaknya kali ini urat kesabaran Tsukasa sudah putus, bukan hanya membentak, bahkan Tsukasa juga melempari wajah teman-temannya dengan popok bekas Uke. Padahal seumur-umur pemuda baik nan ramah ini gak pernah berlaku seperti itu. Menyentil telinga Hizumi aja dia gak tega, apalagi jika harus melempar wajah ganteng vocalist kesayangannya dengan popok basah Uke.

Waduh-waduh.. kelewat marah banget nih berarti si kang mas...

Disuruh apa toh kang?

"Sialan!! Mending aku disuruh ngepel jalanan Shibuya, daripada disuruh nari perut dan goyang patah-patah!!" Tsukasa misuh-misuh gak keruan sampai bikin Kai ngakak gak ketulungan.

"Kamu juga DIAM pikun!!!!" Bentak Tsukasa seraya melempar pandangan galak pada Kai yang langsung berusaha terdiam saat itu juga, meskipun tetap gak bisa menahan laju keisengannya.

"Iya iya maaf... Tsukasa lucu deh kalo lagi marah-marah... Kai jadi gemes.." Ucap Kai menirukan gaya berbicara Keka, bila Keka mulai bersikap manja untuk meredam kemarahan pria yang disayanginya.

"Jangan menirukan Keka begitu!! Sama sekali gak ada pantes-pantesnya."

"Aih aiih.. Tsukasa tega sekali berkata seperti itu pada Kai... Kai jadi sedih nih..."

"BERHENTI AKU BILANG!!!" Kai lari terbirit-birit saat Tsukasa berniat ingin mencekiknya.

"Ampun om... om galak ih.. Kai jadi takut.." Tsukasa makin kesal saat mendengar ucapan Kai itu, sementara Kai sendiri tampak sangat riang menikmati setiap reaksi Tsukasa saat ia mulai mengeluarkan suara-suara manja yang ia tiru dari Keka tersebut.

Tsukasa merasa sangat lelah, mengejar Kai ternyata lebih sulit daripada mengejar Keka yang lamban dan mudah 'ditangkap'. Karena kelelahan itu, akhirnya Tsukasa memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping Uke kecil yang sedang tertidur nyenyak di atas ranjang.

"Menyerah ya..." Tanya Kai dengan nada mengejek.

Tsukasa tidak merespon dan memilih untuk diam sambil menikmati aroma wangi dari ranjang Keka.

"Hei, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kai lagi sambil berbaring di sisi lain Uke kecil, tepat mengarah di hadapan Tsukasa yang berbaring dengan posisi menyamping.

"Apakah Keka selalu tidur di tempat ini setiap malam?" Tanya Tsukasa sambil mengelus lembut permukaan ranjang yang ditempatinya.

"Tentu saja, ini kan tempat tidurnya."

"Begitu ya..."

"Hah? Begitu ya apa?? Ah aku tahu... Tsukasa pasti saat ini mulai berpikir yang tidak-tidak kan tentang Keka hanii... membayangkan seandainya Keka hanii berbaring di ranjang ini hanya berdua saja denganmu?!!" Tembak Kai tepat sasaran.

"Bu- bukan seperti itu.."

"Sudah sudah.. berhentilah berpura-pura di depanku.. aku paham perasaan itu. Tsukasa gak perlu merasa malu dan sungkan di depanku hanya karena kita punya perasaan yang sama terhadapnya."

Kai tersenyum ramah seperti biasa. Dibalik kejahilannya, Tsukasa sangat menyadari bahwa Kai adalah sosok yang menyenangkan bagi dirinya. Pantas terkadang Keka lebih banyak menceritakan dirinya pada Kai dibandingkan pada Tsukasa sendiri.

"Kai... jam berapa ini? Mengapa Keka belum juga kembali?" Tanya Tsukasa, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Tadi dia menelponku dan bilang tidak bisa pulang untuk makan malam karena harus menemani client nya makan malam."

"Dia menelponmu?? Kapan??" Tsukasa lagi-lagi merasa cemburu karena Keka lebih sudi menelpon Kai daripada dirinya.

"Tadi.. saat kamu sedang sibuk dijahili teman-temanmu."

"Kenapa dia harus menelponmu dan tidak menelponku?" Tsukasa mulai bersikap seperti anak kecil.

"Tanyakan sendiri pada ponselmu."

"Ponselku??"

Tsukasa memeriksa ponselnya dan mendapati benda itu sedang ia non aktifkan.

"Salahkan dirimu sendiri karena benda itu kamu matikan. Keka sudah berusaha menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif."

Ah iya, Tsukasa baru ingat benda itu memang sengaja ia matikan karena tidak mau terganggu dengan suara deringan ponsel saat sedang asik kencan dengan Keka. Tapi ternyata kencan itu malah menjadi sebuah mimpi buruk untuknya.

Kenapa Keka gak bilang kalau aku disuruh menjaga keponakannya bersama si pikun ini?!

Ah mungkin dia tahu kalau aku akan menolak kalau tahu kenyataannya seperti ini..
Tapi kalau dia yang minta, menolak pun rasanya hal yang mustahil bagiku...

Beginilah namanya berkorban demi cinta...

-Tsukasa korban iklan alpenliebe-

Perlahan-lahan Tsukasa mulai merasakan ada jutaan ton batu gunung yang menggandoli kelopak matanya. Ia merasa sangat mengantuk.

Dengan perjuangan berat, ia berusaha tetap membelalakkan matanya, mencoba tetap melihat Uke kecil yang terlelap dengan tenang. Saat terlelap, bayi itu ternyata memang manis. Mungkin bagus juga bila Tsukasa berhasil membujuk Keka untuk mau diajak membuat bayi bersama.

Apa dia akan setuju? Bukannya dia menyukai anak-anak?!

"Jangan begitu... kamu ini mesum sekali Tsukasa-kun... Keka belum siap untuk itu.."

A- apaa..

Tsukasa menoleh ke arah Kai. Ia merasa sejak tadi pria yang menjadi saingan utamanya itu terus mampu membaca pikirannya.
Apa kali ini dia juga sedang membaca pikiranku?

Ditatapnya wajah Kai, terlelap dengan menutup sempurna matanya. Tertidur dalam buaian kenyamanan dan mimpi yang Tsukasa tidak tahu apa. Hanya mengigau ternyata. Tsukasa bernafas lega, dan beberapa detik berikutnya ia pun sudah tidak sanggup untuk terus membuka matanya...

~ ~ ~

"Tadaima..."

Keka sampai di apartemennya dan bingung mendapati apartemennya yang sepi, nyaris tanpa suara selain suara kipas angin yang berbunyi kelotokan di kamarnya. Keka melongok ke dalam kamarnya itu dan tersenyum saat menatap keduap prianya sedang tertidur dan memeluk keponakan kecilnya.

"Haduu.. manisnya..." Keka merasa lega karena semuanya baik-baik aja, baik itu sang Uke kecil maupun Uke besar yang tampaknya akur-akur aja dengan kang mas Tsukasa. Malah kelewat SANGAT akur sepertinya.

Keka membelai mereka satu-persatu, dan menghadiahi kecupan kecil di kening mereka.

"Oyasuminasai.." Dengan perlahan Keka menggendong Uke kecil yang masih tertidur. Baginya akan sangat berbahaya jika membiarkan Uke kecil tidur diapit kedua pria nya yang punya kebiasaan tidur cukup ganas.

Keesokan paginya dalam suasana kehangatan yang penuh cinta.

"Hanii pulang jam berapa tadi malam? Kenapa tidak membangunkan kami?" Tanya Kai seraya meletakkan sarapan pagi untuk Keka.

"Kalian tidurnya nyenyak sekali sampai berpelukan.. kan.. kan.. Keka jadi gak enak kalo mau membangunkan.." Keka iseng mencemberutkan wajahnya dan membuat Tsukasa salah tingkah dibuatnya.

"Bu- bukan seperti yang kamu lihat sayang.. aku dan Kai.."

"Iya iya Keka paham. Tsukasa kenapa sih.. begitu aja langsung gelagapan sendiri?! Kai aja gak segitunya. Keka jadi curiga nih..."

Tsukasa makin mucet dan tambah sesek napas, sementara Kai mulai mendekat pada Keka dan bersiap membisikinya sesuatu.

"Hanii.. Tsukasa kemarin membuat ulah dengan beberapa.. brraaahhhhmm." Tsukasa menarik dan membekapnya sebelum Kai selesai menyelesaikan kalimatnya dengan jelas.

"Beberapa apa Kai??" Keka bingung.

"Bukan apa-apa Keka.. kamu gak usah dengerin ucapannya si pikun ini.. dia cuma mau bilang kalau Uke kecil sangat manis dan aku menyukainya."

"Benarkah?! Kalau begitu Keka jadi lega untuk menitipkan Uke kecil lagi pada Tsukasa."

"Hah?!!" Tsukasa membelalak. Masih dalam posisi membekap Kai. "Menitipkan lagi??"

"Iya lagi.. sekitar dua atau tiga hari karena Keka sibuk sekali belakangan ini sementara ibu Uke kecil sedang ada keperluan mendesak di luar kota."

"Tapi Keka.. aku..."

"Mau yaa... ya.... onegaaaii..." Keka memohon dengan mata berkaca-kaca ala tokoh komik-komik shoujo.

Kai menyikut Tsukasa dan membuat lepas bekapan yang membelenggunya.

"Tentu saja hanii.. Tsukasa akan senang sekali bila diminta untuk menjaga Uke kecil. Dia sangat menyukai anak kecil terutama bayi mungil seperti Uke, selain itu dia juga cekatan mengganti popok dan membuatkan susu untuk Uke. Rasanya tidak ada yang lebih pantas dititipi Uke kecil selain Tsukasa sendiri. Benar begitu kan Tsukasa?!" Kai menyengirkan wajahnya di depan pemuda itu.

Tentu saja Tsukasa sangat geram, meskipun harus mati-matian menutupi hal itu di depan Keka dan malah bersikap semanis mungkin dengan mengangguk dan mengamini semua ucapan Kai.

"Ah bagus sekali... Keka gak nyangka kalo Tsukasa ternyata menyukai anak-anak.. Keka jadi makin lega dan bisa meninggalkan Tsukasa berdua saja dengan Uke kecil."

"Kalau begitu hari ini saja kita pergi jalan-jalan hanii.. bukannya hanii mau membeli beberapa peralatan memasak dan pakaian baru?! Hari ini Kai bisa menemani, sementara Tsukasa bisa menjaga Uke kecil disini."

"Wah benar juga. Ide yang bagus. Tapi apa Tsukasa setuju??"

Tentu aja ENGGAAAAKK!!!

"Setuju!!! Setuju kan Tsukasa??" Kai bertanya dalam posisi dekat di samping Tsukasa hingga ia mampu berbisik di telinga pemuda itu. "Kalau tidak setuju.. akan kuberitahu pada Keka kalau kamu sering membayangkan hal mesum bersamanya!"

Tsukasa menggemeratakkan giginya. Merasa kalah karena tidak bisa menolak dan hanya mampu mengiyakan dengan pasrah.

"Bagus sekali!!" Kai berseru riang. "Kita bisa jalan berdua saja hari ini hanii.. jaga rumah baik-baik ya Tsukasa... jangan cemberut gitu, nanti kami bawakan martabak telor spesial."

Sialan!!! Dia enak-enakan berdua dengan Keka, sementara aku harus menjaga bayi bengal sialan!!

Tsukasa menoleh pada Uke kecil yang sedang bermain di lantai. Bayi yang aktip merangkak itu kemudian menghentikan rangkakannya dan menatap Tsukasa dengan melepas tawa riangnya yang sempurna seakan mengejek.

Lima belas menit bersama bayi ini saja sudah bisa membuatku gila, apalagi jika harus sehari penuh!! Semoga aku bisa tahan untuk tidak meninggalkannya di depan pintu panti asuhan.. Astaga.. aku gak boleh berpikir begitu.. Anggap saja ini ujian.. Cinta memang butuh pengorbanan Tsukasa...

Begitulah akhirnya Tsukasa menguatkan fisik dan mentalnya menghadapi hari ini. Apakah ia berhasil melewatinya??

Hmm.. jawab dan imajinasikan saja sendiri. Keka cukupkan saja nih fanfic sampai disini dan selamat menikmati fanfic-fanfic Keka berikutnya. ^_~

-Finish-

Tsukasa-Kai have a baby (Chapter 5 - 6)

Title: Tsukasa-Kai have a baby
Author: -Keka-
Fandom: D'espairsRay, the GazettE,..
Disclaimer: Tsukasa dan Kai adalah suami Keka! Ide cerita datangnya dari fic KAT-TUN milik Ei yang berjudul UEDA TATSUYA NO WORSTDATE.
Note: Fic narsis lagi, sekedar buat hiburan :P
Warning: Fic ini menolak untuk di claim pihak lain selain oleh Keka sendiri!!

~ ~ ~
Chapter 5
-Making a Baby together-



"Oh yokatta.. ternyata hanya keponakan Keka. Kami pikir bayi ini memang sungguh-sungguh anakmu dan Tsukasa-san. hakhakhahahaa.." Naoran dan Isshi tertawa sampai nyaris terkencing-kencing.

"Ah mana mungkin. Kalaupun aku punya anak, tentu saja itu adalah hasil buah cintaku dengan Keka." Ucap Kai riang, tanpa mempedulikan Tsukasa yang mulai melemparkan tatapan membunuh kearahnya.

"Kaiii.. ayo kita pulang!"

"Sebentar Tsukasa. Apa kamu tidak lihat kalau Uke kecil sangat suka berada disini?!"

"Iya iya.. lihat ini.. dia menempel sekali padaku." Ucap Uruha yang meminta ijin untuk menggendong Uke kecil.

"Bahkan bayi ini terlihat seperti ingin menyusu padamu, Uruha." Timpal Aoi yang serta merta mendapat sambutan bibir manyun dari Uru.

"Ah jadi ingin punya anak, bagaimana kalau kita masing-masing bikin satu anak?"

"Tepat sekali ucapanmu Isshi-kun! Miyavi-kun saja sudah punya Lovelie, masa' kita kalah?!!" Naoran koar-koar kayak bebek lepas dari kandangnya.

"Hoo.. lalu siapa yang pernah bilang tidak ingin menikah?!" Sindir Izumi.

"Lah.. punya anak kan gak perlu harus menikah, tanpa menikah pun juga bisa bikin anak. Iya toh?!!!"

"SETUJU!!!" Sebagian besar penghuni PSC kompak berseru. Mulai dari yang wajahnya mesum macem Aoi sampe yang wajahnya anak baek-baek nan polos macem Iv.

ckckckk.. harus kuakui kalau mereka ini memang keluarga besar yang kompak NORAKnya. Ucap Tsukasa dalam hati.

Menyadari Tsukasa yang mulai tidak nyaman, akhirnya Kai memutuskan pamit pada teman-temannya dan meminta maaf karena meninggalkan tanggung jawabnya untuk hari ini demi mengurus seorang bayi beneran dan seorang bayi 'jadi-jadian'.

"Lalu... kemana kita setelah ini?" Tanya Tsukasa yang tangannya mulai keram karena terus-menerus menggendong Uke kecil yang tingkahnya luar biasa bengal.

"Hari sudah sore, sebaiknya pulang saja. Lagipula kita perlu memandikan Uke."

"MEMANDIKAN?!!!!" Tsukasa melotot tajam.

"Iya memandikan, memangnya kenapa? Ada yang salah??"

~ ~ ~

Chapter 6
-2MaN 1Bathtub-



Sesampainya di apartemen Keka... atau lebih tepatnya... di dalam kamar mandinya.

"Hei Tsukasa.. kenapa jadi diam begitu sih? Ayo kemari!" Panggil Kai pada pemuda itu.

Tsukasa menatapnya enggan. "Tadi kamu bilang kita hanya cukup memandikan Uke dan bukannya mandi bersama-sama seperti ini!!!"

"Hah?!! Memangnya ada yang salah?? Memangnya kamu tidak pernah mandi bersama-sama dengan Hizumi, Karyu atau Zero??"

Tsukasa diam. Sebenarnya bukan tidak pernah, hanya saja keadaannya sama sekali berbeda.

"Kamu saja yang mandi. Aku ogah!" Tolak Tsukasa.

"Keka gak suka lho sama cowok yang bau.."

"Jangan bawa-bawa nama Keka!!!" Tsukasa mencibir tapi tetap masuk malu malu ke dalam bathtup bersama Kai dan Uke kecil. Buzeeeeddzz bathtup-nya muat aja kah ya...

ckckckk... padahal Keka gak pernah ngajarin para suami mandi bersama. Lah ternyata....

"Wah Tsukasa anu nya besar.."

"Heh, jangan pegang-pegang!! Geli tauk!!"

"Aku bantu gosokin biar bersih ya..." Ucap Kai renyah.

"Aaaakkhh.. sudah aku bilang jangan pegang-pegang!! Cuma Keka yang boleh pegang!!"

Wedew.. pegang-pegang apa sih?????

"da da daaa... pa pah... mam maah.. na na..naa.." Uke kecil mulai sibuk sendiri memainkan bebek karetnya sambil mengeluarkan celotehan riangnya.

"Hah?!! Kamu dengar itu Tsukasa?? Uke kecil memanggil kita papa mama!!" Kai berkata riang dan antusias meminta Uke kecil mengulangi lagi ucapannya, sedangkan Tsukasa sendiri malah menutupi telinganya. Mengerikan untuknya jika harus membayangkan bayi kecil itu menganggap ia dan Kai adalah orang tuanya.

"Ayo Uke.. bilang papa mama lagi ya..."

"Kai berhentilah menyuruhnya mengucapkan itu!"

"Tsukasa.. kita harus mengajarkannya dari sekarang.."

"Tapi jangan papa mama!!!"

"Ah kenapa?? Itu adalah basic word yang harus dikuasai bayi berusia 9 bulan."

"Tapi kita ini bukan papa mama nya!!"

"Ahaa.. kamu ada masalah ya kalau dipanggil mama oleh Uke kecil??"

"Bu- bukan itu.." Tsukasa gugup. Bingung sendiri ia menghadapi kelakuan Kai yang terbilang cukup aneh.

Sementara itu disaat Tsukasa sedang kebingungan menghadapi mahkluk nan gak punya kepekaan dan rasa malu seperti Kai aka Uke Yutaka, saat ini rekan-rekan satu band Tsukasa sedang meluncur ke apartemen Keka. Mau apa ya mereka?





"Kamu yakin Tsukasa ada di apartemen Keka, Karyu?" Tanya Hizumi yang berjalan dengan langkah sok keren-kerennya aja.

"Iya, tadi dia bilang begitu." Jawab Karyu yang juga melangkahkan kaki dengan lagak yang gak kalah sok keren-kerennya aja seperti Hizumi.

"Tapi mungkin saja mereka pergi ke tempat lain saat ini, mengingat mereka sendiri sedang kencan kan?!" Timpal Zero yang tentu saja juga gak mau kalah dari dua rekannya. Mereka bertiga sudah hampir menyamai boyband, namun sayang tampang sudah agak ketuaan ^^'

"Ahahahaa.. tapi tipe seperti Tsukasa itu lebih senang kencan indoor daripada outdoor."

"Berarti kita akan sangat mengganggu dong?! Asik nih gangguin orang pacaran." Hizumi tersenyum nakal.

Baru saja Karyu ingin mengetuk pintu apartemen Keka, namun ternyata pintu itu tidak terkunci bahkan sedikit terbuka.

"Ceroboh sekali mereka ini. Bagaimana kalau mereka sedang asik 'gituan' tiba-tiba ada yang masuk begitu saja?!"

"Ya seperti kita ini kan?! Baguslah, berarti kita bisa menangkap basah apa yang sedang mereka kerjakan saat ini...."

"Aaahh.. sudah.. geli.. ja- jangan sentuh itu lagi.. Ka..." Kontan ketiga member Despa yang lain pada saling tatap mendengar suara rintihan Tsukasa itu.

"Errr.. apa sebaiknya kita keluar saja? Sepertinya mereka sedang sibuk.." Tanya Zero.

"Ja- jangan.. kita dengar saja dulu." Hizumi dan Karyu menajamkan telinganya.

"Ah segitu saja sudah menyerah. Akan kupijat biar lebih kuat." Ucap suara lainnya. Ucapan itu membuat Hizumi dan Karyu saling menatap tak percaya.

"Kok ada suara itu?? I..itu suara drummer the GazettE kan?!! Mereka sedang threesome?????"

"Hei hei kalian.. kita kembali saja.. Tsukasa akan marah kalau kita mengupinginya seperti ini." Lagi-lagi mas Zero yang pemalu dan baik hati memperingatkan kedua temannya yang rada bengal.

"Tapi kenapa suara Keka gak kedengaran ya...?? Biasanya kalau urusan 'begituan' suara cewek kan yang paling berisik?!"

"Jadi pengalamanmu selama ini begitu ya Karyu?" Tanya Hizumi sambil terkikik geli.

"Ah aku jadi penasaran, sebaiknya pergoki saja mereka langsung. Arahnya dari kamar mandi pulak, bikin orang makin penasaran aja."

"HEH!!" Zero melotot. Baru saja ia berniat mencegah tindakan mas gitaris, namun nampaknya Karyu yang memang iseng bin mucil itu sudah gak bisa dihentikan lagi. Tepat saat Tsukasa ber ah uh ah uh, Karyu dibarengi dengan Hizumi yang sama ndableknya, membuka pintu kamar mandi dan mendapati kenyataan yang lebih membuat mereka tersengat listrik ribuan volt.

Kenyataan apakah itu sodarah sodarah???

Hmm... simak aja di chapter 7

Sang author lagi pengen buat pembaca penasaran nih.. heheee...

*ngabuuurr*

~ ~ ~


Nyambung chapter 7 - 8

Tsukasa-Kai have a baby (Chapter 1 - 4)

Title: Tsukasa-Kai have a baby
Author: -Keka-
Fandom: D'espairsRay, the GazettE,..
Disclaimer: Tsukasa dan Kai adalah suami Keka! Ide cerita datangnya dari fic KAT-TUN milik Ei yang berjudul UEDA TATSUYA NO WORSTDATE.
Note: Fic narsis lagi, sekedar buat hiburan :P
Warning: Fic ini menolak untuk di claim pihak lain selain oleh Keka sendiri!!

~ ~ ~


Chapter 1
-starting-

Hari ini seharusnya berjalan baik-baik saja untuk Tsukasa, Namun nyatanya tidak demikian. Pagi-pagi sekali sebaris pesan singkat yang diperoleh pemuda itu membuatnya harus mengernyitkan kening dan bertanya-tanya bingung 'ada apakah gerangan?'

Keka.. Keka memintaku datang ke apartemennya?!

Sepintas lalu wajahnya tersenyum girang. Hanya sedikit, namun itu sudah cukup menggambarkan betapa gembira hati Tsukasa karena akan bertemu dengan kekasih hatinya.

Tanpa perlu waktu lama, Tsukasa segera mandi dan gosok gigi menggunakan pasta gigi terpercaya andalan keluarga-keluarga Indonesia. Menggunakan setelan baju terbaiknya, menyisir rambutnya sekeren mungkin, dan tidak ketinggalan menyemprotkan parfum AnnAsui ke seluruh tubuhnya sampai ke jidat-jidatnya.

Berulang kali pula Tsukasa sibuk mondar-mandir di depan cermin untuk sekedar memastikan bahwa hidungnya bebas komedo dan minyak atau memastikan rambutnya tetap dengan style keren yang berkesan sok cool dan misterius, trade mark om om satu ini. Ternyata bukan cuma cewek yang sibuk urusan penampilan kalau ingin bertemu dengan yayangnya, cowok pun gak kalah ekstra repot dan njelimetin.

Dengan lagak bak gurita bertentakel panjang, Karyu melambai-lambai turun dari tempat tidurnya dan mendadak heran karena Tsukasa -sahabatnya- itu sudah rapi jali kayak mau ke kondangan.

"Mau kemana bro pagi-pagi ini?" Tanya Karyu dengan mata sipit yang masih kriyip-kriyip.

Tsukasa mesam-mesem kayak orang lagi ngemut permen asem, sambil menunjuk frame foto mungil yang nongkrong di meja yang tak kalah mungil, dimana ada foto 'cewek manis' yang terpampang disana.

Karyu manggut-manggut tanda mengerti, meskipun masih rada bingung dikit. "Pagi-pagi gini sudah mau ketemu Keka? Kamu mau ngapel atau mau ngepel di rumahnya??"

Tsukasa sedikit manyun, meskipun tetap tidak menggubris pertanyaan Karyu dan langsung pergi begitu saja meninggalkan pria jangkung itu.

Sesampai di depan pintu aparteman Keka, Tsukasa baru saja ingin mengetuk pintu -berhubung tidak ada bel- tapi hal itu tidak jadi dilakukannya, karena ia mendengar suara-suara tidak lazim di telinganya.

Tangisan bayi.

Jdeeeeeeeeeeeeeeeerrrrrrrrr

Bak tersambar petir, Tsukasa langsung mikir yang iya-iyanya aja.

Perasaan.. Keka baru ku tinggal tour ke Eropa beberapa bulan aja, eh.. kok sudah...

Dengan segera ia membuang pikiran itu.

Gak mungkin Keka mendadak punya bebih padahal aku aja belon nanam saham sama sekali.

Mungkin anak sepupunya. Begitu pikir kang mas.

Dan kang mas pun segera mengetuk pintu, beberapa kali sampai terdengar suara Keka dari dalam mengucapkan kata 'sebentar'

Pintu pun terbuka, namun ternyata bukan senyuman Keka yang menyambut kedatangan kang mas, melainkan..

Cengiran lebar berlesung pipi dari pria yang paling bisa bikin Tsukasa cemburuan bukan maen maaaaan.

"K- Kai.. ngapain kamu disini??" Tanya Tsukasa penuh selidik dan rada gugup. Makin gugup saat lengan si manis berlesung pipi itu menggendong bayi mungil yang tampaknya baru saja selesai menangis namun kali ini tersenyum dan menunjukkan pada Tsukasa bahwa bayi mungil itu juga berlesung pipi.

Se- serius nih... Ke- kenapa bayi ini punya perpaduan wajah antara si pikun dengan my darling Keka????

Berulang kali Tsukasa memperhatikan wajah bayi itu dan wajah Kai kemudian secara bergantian. Keringet segede-gede biji salak pondoh segera meluncur dari kening Tsukasa.

MIRIP!! Oh NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!

Tsukasa berteriak histeris dalam hati. Merasa kalah karena Kai sudah beribu-ribu langkah mendahuluinya.

Ini akibat kelalaianku sering meninggalkan Keka dalam waktu yang lama, jadi si pikun bisa lebih bebas dan lebih cepat menyetor devisa negara dan membuat Keka...

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrgggghhhhhh Aku GAG TERIMA!!!!

Tsukasa spontan -tanpa sadar- menjedot-jedotkan jidatnya ke dinding, seperti orang yang desprate berat dan mau dijatuhi hukuman mati beberapa saat lagi.

"Wah Tsukasa-kun sudah datang ya..." Keka nongol dengan wajah sumringahan -tanpa beban dan tanpa perasaan bersalah sedikit pun- sambil membawa botol susu di tangan kanannya, dan popok bayi di tangan kirinya. "Kalau begitu Keka tinggal ya.. Kalian berdua jaga Uke kecil baik-baik. Susu dan popoknya ada di kamar Keka."

"Hati-hati hanii.. telpon ya kalo sudah sampai di tempat tujuan."

"Oke." Keka mengedipkan sebelah matanya dan mencium pipi Kai kiri dan kanan.

Jleeeebb jleeeeeeebbh!!!
Jutaan piso tak nampak menghujam kepala Tsukasa.

Baru saja ia melihat pemandangan keluarga nan harmonis di hadapannya.

Dan itu amat sangat betul-betul menyakiti hatinya!! Diseruduk kebo gila pun ia rela, asalkan ia tidak harus mendapati kenyataan bahwa ternyata Keka lebih memilih Kai daripada dirinya.

"Ah kenapa Tsukasa-kun wajahnya pucat sekali?? Sakit??" Tanya Keka sambil mendekatkan wajahnya pada pemuda malang itu, menatapnya dengan cemas.

Tsukasa menggeleng tanpa gairah, bahkan dukun beranak pun tahu bahwa saat ini Tsukasa amat sangat tidak dalam kondisi primanya. Namun, Keka yang gak peka tetap saja menganggap Tsukasa 100 % oke.

"Yokatta.. Keka jadi lega kalo gitu. Ini titip botol susu dan popok ganti buat Uke kecil ya.." Tanpa perasaan Keka menarik tangan Tsukasa dan memaksa Tsukasa menerima botol susu dan popok bayi. "Tsukasa aja yang gantiin popoknya Uke dan nyusuin dia ya... Kai bakal sibuk di dapur. Benar begitu kan Kai-kun?!"

Kai mengangguk yakin dan seperti biasa tidak lupa cengar-cengir ngasi liat gigi dan lesung pipi kebanggaannya.

"Keka janji sebelum makan malam sudah pulang kok. Jadi Tsukasa dan Kai baik-baik jaga Uke kecil ya..."

"Tenang hanii. Aku, Tsukasa dan Uke kecil akan bersenang-senang hari ini. Jadi kamu gak perlu cemas dan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik."

"Ah lega kalau gitu.. ya udah deh Keka tinggal dulu." Keka meninggalkan apartemennya melewati Tsukasa yang mematung dan mutih mucet di hadapannya begitu saja. Tinggallah Tsukasa sendiri yang kini seperti zombie linglung yang mendadak hilang dari peredaran alam semesta.


~ ~ ~

Chapter 2
-BrAccident-


Oeeeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkkkk

Teriakan bayi memecah ketenangan apartemen itu. Membuat Tsukasa harus mati-matian menutup telinganya menggunakan seperangkat alat gak lazim yang ditariknya dari lemari pakaian Keka secara random. Masih mending denger teriakannya Hizumi daripada tangisan bayi. Begitu pikirnya. Tsukasa ngisut-ngisut dan gak kalah ribut meneriakkan nama Kai beberapa kali, sementara orang yang dimaksud masih sibuk menjadi ibu rumah tangga bercelemek pink renda-renda manis dan memasak di dapur dengan riang gembira.

"Kaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.... mahkluk kecil ini bisa membuatku GILA!!! Berhentilah memasak di dapur dan bantu aku menghentikan tangisannya!!"

"Tunggu sebentar lagi Tsukasa.. bagaimana aku bisa rela menyerahkan Keka padamu kalau mengganti popok bayi saja kamu gak becus gitu.."

"Gak ada hubungannya!!! Anakku bersama Keka kelak pasti gak sebawel bayi sialan ini!!!"

"Berhenti mengeluh, dan lakukan saja pekerjaanmu." Kai muncul dari dapur dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat Tsukasa yang ngumpet di bawah kolong tempat tidur hanya karena tidak tahan mendengar suara rengekan bayi. "Ngapain kamu disitu?? Nyari kecoak?!!"

Dengan gaya ngisut-ngisut Tsukasa keluar dari bawah kolong tempat tidur dan melempar seperangkat alat 'penyumpal telinga' yang ditariknya secara random dari lemari pakaian Keka. 'Alat' itu nemplok pas di wajah Kai -tepat di kedua matanya- dan membuat Kai harus meraih benda lembut itu agar tidak menghalangi pandangannya. Seketika itu juga Kai melotot saat mengetahui benda apa yang sedang dipegangnya dan baru dihadiahkan Tsukasa padanya.

"Aaakkhh.. Apa-apaan kamu ini Tsukasa?!! Kenapa kamu melempar pakaian dalem Keka hanii ke wajahku??" Kai memegang ujung benda itu dan mengangkatnya sedikit tinggi atau sejajar dengan pandangan matanya. "Ckckckk.. ternyata drummer D'espairsRay itu seorang maniak! Masa' demen nyolong jeroan cewek." Ujar Kai geleng-geleng.

Tsukasa melotot dan langsung secepat kilat ingin menarik benda itu dari tangan Kai, namun Kai tak kalah gesit dan bisa dengan mudah menghindar. "Akan kuadukan pada Keka tentang kelakuan mesummu ini."

"Jangan sembarangan pikun!! Aku gak ada maksud begitu.."

"Lalu ini apa?? Kamu sengaja memeriksa lemari pakaian Keka dan mengambil salah satu branya?!"

"Aku gak sengaja!!!" Tsukasa geregetan sampai nyaris jumpalitan mengejar-ngejar Kai yang berlari-lari sambil ketawa-tiwi cekakakan. Kelakuan mereka berdua mirip seperti Tom & Jerry, sampai-sampai Uke kecil pun berhenti menangis dan menatap mereka berdua dengan penasaran.

~ ~ ~

Chapter 3
-Man to Man-

"Ah syukurlah Uke kecil berhenti menangis. Bagaimana menurutmu Tsukasa.. bayi ini lucu sekali kan?!"

"Gak ada lucu-lucunya sama sekali!!" Tsukasa mendengus kesal.

"Jangan sok acuh begitu Tsukasa, Keka pasti sedih kalau mendengarmu berkata seperti itu. Ini adalah keponakan tersayangnya. Kamu gak mau kan kalau penilaian Keka mendadak jelek terhadapmu hanya karena kamu tidak menyukai bayi mungil ini?!"

Tsukasa diam. Ucapan Kai sangat amat membuatnya tidak berkutik. Bagaimanapun juga untuk mendapatkan hati Keka seutuhnya, Tsukasa bertekad untuk jadi sosok pria idaman di mata gadis itu.

"Dan pria idaman Keka adalah pria yang menyukai anak-anak." Ucap Kai lagi.

Huh! Untuk apa dia memberitahuku hal itu? Tanya Tsukasa dalam hati.

"Bukan apa-apa sih Tsukasa... hanya saja.. sebagai seorang pria sejati, aku hanya ingin bersaing secara sehat. Aku tahu perasaan Keka terhadap kita berdua, jadi aku ingin bersikap adil. Keka pernah memberitahuku kalau dia sangat menyukai pria yang bisa mencintai dan menyayangi anak-anak, karena itu aku juga ingin kamu tahu hal tersebut."

Tsukasa melirikkan matanya pada drummer the GazettE itu. Sepintas ia berpikir bahwa Kai lah yang mungkin lebih pantas mendampingi Keka daripada dirinya. Kai sangat baik, ramah, perhatian, pekerja keras dan mampu membuat Keka tersenyum serta tertawa lebih banyak daripada dirinya. Keka pasti akan lebih bahagia bila bersamanya, namun...

cepat-cepat Tsukasa menepis pikiran itu. Selama Keka belum memilih, baginya tidak ada kata mengalah.

"Arigatou karena telah memberitahuku. Sekarang berikan bayi itu.. biar aku yang menggendongnya."

"Heh?!! Serius nih mau gendong Uke kecil??" Tanya Kai dengan tatapan mata meragukan ucapan Tsukasa.

"Iya, berikan saja."

"Bukannya tadi kamu bilang tidak suka..."

"CEPAT BERIKAN SAJA SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN!!!" Tsukasa memaksa menarik Uke kecil dari gendongan Kai, dan membuat bayi kecil itu kembali menangis lebih keras daripada sebelumnya.

"Tsukasa baka~ bagaimana ini... gara-gara kamu Uke kecil jadi nangis lagi nih!"

"Gara-gara kamu juga yang bawel!!"

"Kenapa malah menyalahkanku? Ah~ memang Tsukasa tidak bisa diberikan kepercayaan menjadi Bapak rumah tangga. Aku akan bilang pada Keka kalau dia akan sangat menyesal jika memilihmu sebagai suaminya."

"DIAM!! Ambilkan saja botol susu itu dan sumpal mulut bayi ini agar berhenti menangis."

"Bukan begitu caranya menggendong bayi. Kamu harus bisa membuatnya nyaman, jangan kasar."

"Berisik!! Aku tahu apa yang harus kulakukan. Ambilkan saja botol susu itu!!"

"Bayi itu menangis bukan karena dia lapar, tapi karena kamu terlalu kasar!!"

"Aaaakkh.. bukan bayi ini saja yang bisa membuatku gila, pria pikun cerewet ini juga bisa membuatku stress!!!! Kekaaaaaaaaaa.... CEPAT PULANG!!!!!"

~ ~ ~

Chapter 4
-No Question-

Karena terus-terusan menangis, akhirnya Kai memutuskan mengajak Uke kecil jalan-jalan dan memaksa Tsukasa turut serta ikut bersamanya.

"Kalian berdua saja. Biar aku yang jaga rumah dan bersih-bersih." Ucap Tsukasa berkilah.

"Apartemen ini sudah aku bersihkan, lagipula kita cukup menguncinya dan aku jamin semuanya aman. Jadi kamu gak perlu repot-repot menjaganya. Uke kecil butuh udara segar agar tidak terus-terusan menangis."

"Tapi Kai...."

"Sudah tidak usah banyak mengeluh. Kamu takut ya kalau fansgirl D'espairsRay melihatmu berjalan-jalan bersamaku dengan membawa bayi? Tenang saja, mereka tidak akan berpikir macam-macam. Lagipula di Jepang ini mungkin hanya 1 dari 100 orang yang bisa mengenalimu. Aku saja yang lebih ngetop tidak terlalu cemas sepertimu."

"BUKAN itu masalahnya!!"

"Ya sudah kalau begitu berarti kamu setuju." Kai mendorong Tsukasa yang menggendong Uke kecil untuk keluar lebih dahulu dari apartemen Keka, sementara ia sendiri sibuk dengan ponselnya dan tampak berbicara dengan seseorang melalui benda itu.

"Sudah, Keka sudah setuju jika kita mengajak Uke kecil jalan-jalan."

"Tapi kita mau kemana??"

"Kamu juga akan tahu nanti." Kai mengedipkan sebelah matanya dan menyisakan tanda tanya besar di kepala Tsukasa yang sedari tadi terus-menerus dibuat repot oleh urusan tangis-popok-susu bayi.

Markas PS Company

Jreeeeeeeeeng jreeeeeeeeeeeeeeeenngg!!

Tsukasa nyaris menganga lebar saat Kai mengajaknya ke tempat yang paling tidak ingin dikunjunginya saat ini.

"Ngapain kita kesini????" Tanya drummer D'espairsRay yang sama sekali tidak punya kepentingan dengan salah satu label manajemen termaruk seJepang itu.

"Aku belum absen. Seharusnya hari ini aku ada kegiatan dengan band dan rekan-rekan satu manajemenku, tapi karena Keka meminta tolong padaku dan berkata kalau hanya kamu sendiri pasti tidak bisa... jadi ya... mau tak mau aku setuju dan meminta ijin untuk absen dari pekerjaanku hari ini."

"Kalau kamu sudah minta ijin, lalu kenapa masih juga datang kemari???"

"Tsukasa... aku ini seorang leader band... meskipun aku berhalangan hadir dalam urusan pekerjaan, minimal aku harus memastikan bahwa semuanya baik-baik saja."

"Tapi bisakah kamu tidak usah mengajakku dan bayi ini?!"

"Lalu apa kamu bisa aku tinggal berdua saja dengan Uke kecil di rumah? Keka sudah pesan agar aku tidak sedikit pun meninggalkanmu berdua saja dengan Uke."

Tsukasa sudah ingin kembali protes, namun kata-katanya kembali tertelan saat sosok itu muncul begitu saja di depannya dan Kai.

"Hei Kai.. kamu bilang tidak bisa datang, lalu kenapa sekarang...." Sosok itu menghentikan kata-katanya dan menatap bergantian ke arah Kai, kemudian pada Tsukasa dan terakhir pada bayi yang digendong Tsukasa.

Please no question! Ucap Tsukasa dalam hati.

"Errr.. kamu bersama..."

"Drummer D'espairsRay. Aoi, kamu pasti mengenal Tsukasa dengan baik kan?!"

Sosok itu, Aoi tersenyum canggung. "Iya... tentu saja... ta...pi.."

"Bayi?? Kenapa kalian datang membawa bayi??" Pria berpenutup hidung tiba-tiba datang dan menanyakan hal itu.

Berhubung suara pria itu cukup nyaring, kontan saja satu markas PSC menoleh serentak, keluar dari lubang-lubang tikus mereka dan mengkrumuni Kai beserta Tsukasa.

"Wah.. anak siapa?? Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu sudah punya anak, Kai?"

"Naoran... anak ini sebenarnya..."

"Kai-senpai... anakmu nih?? Lucu banget!!!"

"Ivu... berhentilah mencubiti pipi Uke kecil." Ucap Kai pada pemuda kecil bernama Iv.

"Wah namanya juga Uke?? Sama sepertimu??" Iv membelalakkan matanya.

"Hanya kebetulan." Jawab Kai kalem. "Kebetulan ibunya sangat menyukai nama itu."

"Woooooaa... kami tahu... anak ini pasti hasil hubunganmu dengan Keka kan?!!" Pria kecil lainnya memaksa menyerbu dan merebut Uke kecil dari gendongan Tsukasa.

"Keiyuu... sebenarnya... Uke kecil itu adalah anakku bersama Tsukasa." Jawab Kai kalem, masih dengan tampang polos nun tanpa dosanya.

Tanpa perlu itung tiga, semua mata menusuk tajam ke arah mereka. Tsukasa salting dan langsung niat pengen menguliti Kai saat itu juga.

"Kamu punya anak bersama-sama dengan drummer D'espairsRay?????? Bagaimana proses pembuatannya???? Lalu siapa yang menjadi ibu diantara kalian berdua????" Tanya mereka semua secara bersama-sama dan beruntun saat itu juga.

PLEASE NO QUESTION!!! BUNUH AKU SAJA YA TUHAAAAAN!!!!!!!!!!!

Begitulah jeritan hati dari seorang Tsukasa oh wahai saudara-saudara pembaca sekalian ^^'

~ ~ ~

Nyambung Chapter 5 - 8

Aaaah Legaa..

Title: Aaaah Legaa..
Author: Emiru
Chapter: 1 shot
Fandom: Jrock ~Sherow Artist Society dll~
Genre: Banyolan gak jelas
Rating: Everyone who can read
Finished: Des 20, 2008
Disclaimer: Cerita adalah hak milik Emiru, Karakter boleh minjem dari Sherow Artist Society (Versailles, Matenrou Opera) dan beberapa nama Jrocker laennya.

~ ~ ~

Hari itu Kamijo mengundang anak-anak asuhnya dan rekan-rekan sejawatnya untuk makan siang bareng di rumahnya.

Berhubung dalam cerita fanfic ini tukang masak yang dipekerjakan oleh Kamijo itu adalah seorang TKI dan demen masak kuliner ala Pasundan, makanya makan siang hari itu disiapkan secara prasmanan dan lesehan.

Tamu-tamu Kamijo diantaranya ada Hitomi (Voc. Moran), Soan (Dr. Moran), Kisaki (Under Code), rekan-rekan sebandnya yang tentu aja ada Hizaki, Teru, Jasmine Yuu dan Yuki, lalu tidak ketinggalan para personil Matenrou Opera.

Kamijo mengedarkan pandangannya untuk mengabsen satu persatu para undangannya. Dimulai dari Hitomi yang diketahui author fic ini adalah ‘teman main’ Kamijo semasa beliau masih di Lareine dan Hitomi masih di Fatima dengan nickname lama -Sanaka-

Kamijo sebagai tuan rumah tersenyum ekstra manis ke Hitomi yang tentunya dibalas super duper ekstra manis juga oleh Hitomi. Waduh jangan-jangan teringat kenangan masa lampau saat keduanya berada dalam suasana kehangatan penuh cinta diantara tebaran kelopak-kelopak mahkota mawar dan manisnya menikmati anggur bersama... *timpuk pala author* (Kagak pake yaoi oi!!!) (Emiru: I know, just intermezzo XP~)

Kamijo mengalihkan pandangannya pada Soan yang saat itu sedang berbicara asik dengan Yuki, lalu pada Kizaki yang saat itu lagi marah-marah di telpon, kemudian berturut-turut pada Hizaki, Teru dan Jasmine yang pada asik menggosip kayak ibu-ibu arisan RT. Lalu terakhir pada sekumpulan anak asuhnya yang nakal menjahili keyboardist imutnya.

Hm~ masih kurang satu. Begitu batin Kamijo berkata. Dan beliau pun langsung bertanya pada Sono yang tentu saja adalah vocalist dari Matenrou Opera.

Catch me in ur dream please...

Title: Catch me in ur dream please...
Author: -Keka-
Fandom: LM.C
1st Posting: Apr 14, 2008 (on Multiply)

~ ~ ~

Aiji memperhatikan wajah yang tertidur itu. terlihat sangat tenang seperti tanpa beban. Hidup itu memang mudah bagimu Maya..


Sesekali Maya bergerak dalam tidurnya. Lalu ia tersenyum tanpa arti.


Memangnya dia mimpi apa sampe senyum-senyum gitu? Tanya Aiji dalam hati.


Ia pun mengambil posisi di samping Maya yang tertidur dan semakin menatap lekat wajah itu karena penasaran. Maya kembali menarik sudut-sudut bibirnya dan tersenyum manis memperlihatkan cekungan di pipinya.


Ah bocah edan. Tidur aja pake senyum-senyum. Pikir Aiji merasa heran.


Laki-laki itu lalu menunjuk kepala temannya yang tertidur dengan ujung jarinya. “Dasar Maya.” Ucapnya pelan.


Baru saja Aiji akan pergi, namun Maya menarik tangannya. Aiji terkejut, lalu menoleh dan melihat mata Maya yang masih tertutup.


“Peluk.” Ucap Maya lirih.



Rupanya ia mengigau. Aiji berusaha melepaskan tangan Maya dari lengannya, namun Maya semakin menariknya dan membuat Aiji kewalahan.


“Hei Maya, lepasin dong.” Pinta Aiji yang masih berusaha melepaskan tangan Maya darinya. Tapi sepertinya Maya tidak mendengar kata-kata Aiji itu karena ia sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Maya hanya merasakan kehangatan dari sesuatu yang sekarang ingin ia raih dalam mimpinya.


Aiji terdesak saat Maya terus-terusan menariknya. Dan akhirnya laki-laki itu jatuh di atas tubuh Maya hingga Maya benar-benar bisa memeluknya. Aiji merasakan nafasnya sesak karena Maya memeluknya dengan sangat erat. Ia hanya bisa mengatur posisinya sedikit demi sedikit dan menegakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Maya.


Anak ini kenapa sih?! Tanya Aiji dalam hati dengan pikiran yang masih diliputi rasa kebingungan. Ia berusaha bernafas dengan normal saat Maya mulai mengurangi keagresifannya. Dan akhirnya laki-laki itu juga tersenyum saat menatap wajah innocent dari seorang Maya.


Manis juga. Pikirnya mulai nakal.


Aiji kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Maya dan mengecupnya pelan. Hanya sedikit. Sedikit saja.


Namun rasa manis yang Aiji dapat dari bibir Maya, membuatnya ingin merasakan bibir Maya lebih dalam lagi. Apa yang membuat bibir Maya terasa manis?


Ah iya, Aiji baru ingat. Maya baru saja mengulum lolipop sebelum akhirnya tertidur. Pantas saja bibirnya terasa manis seperti sebuah permen.


Aiji jadi bernapsu merasakannya lebih jauh lagi. Dan ia pun kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Maya, namun belum sempat ia melakukan itu, pintu mendadak terbuka dan sosok indah itu berdiri di ambang pintu.


“A pa yang kau per bu at pa da Ma ya Aiji-kun?”


Mi- Miyavi!! Kenapa Miyavi tiba-tiba ada disini?


“Ah i- itu, bu- bukan apa-apa kok.” Jawab Aiji terbata-bata.


Miyavi kemudian tertawa. “Gak usah pake malu-malu Aiji-kun. Aku liat loh.. hahahaa.. gak papa kok. Aku juga biasa melakukannya dengan Maya.”


Miyavi kemudian mendekati Maya dan membangunkannya.


Maya akhirnya terbangun sambil menguap lebar dan mengucek-ucek matanya. “Ah Miyavi-kun.. lama gak ketemu.” Ucapnya dengan suara yang masih terdengar seperti orang mengantuk.


“Aku kangen padamu.” Kata Miyavi sambil memeluk Maya dan akhirnya menciumnya.


“Miyavi-kun gak berubah ya.” Ucap Maya cengengesan saat Miyavi selesai menciumnya.


“Tadi Aiji juga begitu loh.” Miyavi balas cengar-cengir.


“Begitu apa?” Tanya Maya bingung.


Baru saja Miyavi mau menjelaskannya pada Maya. Namun Aiji sudah menghentikan laki-laki itu mengatakannya. Aiji membekap mulut Miyavi dan memaksanya berhenti bersuara.


Maya melihat tingkahnya dengan bingung. Tapi akhirnya ia gak ambil pusing dan dengan senangnya ia menceritakan mimpinya pada Aiji.


“Aku mimpi meluk boneka beruang gedeeeee bangeeet!! Trus aku dicium lumba-lumba.” Serunya girang.


Aiji kemudian menundukkan kepalanya.


Jadi aku ini boneka beruang dan lumba-lumba ya... Ujarnya pasrah dalam hati.



-----ooo-----








Yaps, finish ^^



Maya : segitu aja?!! gak seru ah.
Aiji : Hueek bibir Maya gak enak
Maya : sialan lu!! Bibir gw ni sekseh *sambil monyong*

About us

Kyrie Kai-Ka

poupeegirl fashion brand community

Cyber Nick: Keka
Birth: 11 Mar.
Blood: A
Blog
Twitter




Emiru (KuroNe)

poupeegirl fashion brand community

Cyber Nick: Emiru
Birth: 01 Feb.
Blood: A
Blog
Twitter: