Nanairo CRAYON Part 3


Title: Nanairo CRAYON 
Subtitle: Sabishii Otoko
Part: 3
Fandom : Jrock staring The GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, An Cafe, Sadie n more…
Author : Keka

* * *

Tak sengaja beberapa jam yang lalu Kanon mendengar pembicaraan serius antara Bou dan ayahnya. Pembicaraan itu dibumbui dengan ketegangan. Sepertinya masing-masing pihak baik Bou maupun ayahnya, tetap mempertahankan idealisme masing-masing. Sesekali Yonekura-san terdengar membentak anak laki-lakinya itu.

“Jangan sampai aku mengusirmu seperti aku mengusir bocah keparat kakakmu itu dari rumah ini!” Seru Yonekura-san. Ancamannya seperti serius, tapi Kanon yakin kalau itu hanya gertakan semata. Mana  mungkin laki-laki berumur itu akan mengusir Bou yang sekarang menjadi anak tunggalnya. Sejak kematian Ai- adik Bou dan kepergian Aki- kakaknya, Bou secara tidak langsung menjadi anak tunggal keluarga Yonekura.

Kanon terkadang merasa kasihan melihat Bou yang seperti terkekang untuk menuruti dan mematuhi semua perintah ayahnya. Tak jarang Bou berkata kepada Kanon bahwa ia mau bebas seperti angin. Kanon mengerti mengapa Bou sampai berkata seperti itu.

Karena alasan itulah Kanon berdiri di depan pintu kamar Bou. Sudah terlalu larut malam, Kanon yakin Bou sudah tidur. Tapi mungkin tidak akan apa-apa kalau Kanon membangunkannya. Ia pun mengetuk pintu kamar Bou dan berharap Bou terbangun karena mendengar suara ketukannya.

Meskipun harapan Kanon sia-sia karena Bou tetap tidak bangun dan tidak mendengar ketukannya. Mungkin Bou sangat lelah. Batin Kanon. Ia pun berniat kembali ke kamarnya, tapi ia tertarik untuk menyentuh gagang pintu kamar Bou. Kanon lalu menekan gagang pintu itu ke bawah sampai kamar Bou terbuka. Rupanya Bou lupa mengunci kamarnya, tapi seingat Kanon, Bou memang paling malas mengunci kamarnya saat tidur.

Kanon merasa lancang sampai harus masuk ke kamar majikannya tanpa ijin, tapi hal itu tetap dilakukannya karena Kanon sangat ingin melihat wajah Bou yang tertidur. Anak laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya itu tampak tenang dalam tidurnya. Wajah tidurnya tampak damai dan seperti tanpa beban. Kanon lama memperhatikannya tanpa berbuat apa-apa, dia tidak tega membangunkan anak itu, tapi akhirnya Kanon tidak tahan untuk tidak menyentuh Bou. Sedikit saja, Kanon ingin merasakan kulit Bou yang lembut dan hangat.

Kanon mengelus pipi Bou dengan punggung tangannya. Terasa lembut seperti Kanon memakan gula-gula yang langsung lumer di dalam mulutnya. Kanon semakin tidak bisa mencegah tangannya untuk tidak menyentuh bagian lain, padahal Kanon sudah melarang dirinya sendiri untuk tidak berbuat sesuatu yang tidak sopan. Kanon lalu duduk di pinggir tempat tidur Bou dan mengenggam tangan Bou erat serta menciumi tangan itu seperti tak mau kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.

Tangan Bou yang kecil namun hangat itu mampu mengisi kekosongan diri Kanon. Selesai mencium tangan itu, Kanon lalu mendekatkan tangan itu di pipinya sendiri, menempelkannya di sana agar ia dapat terus merasakan kehangatan tangan Bou yang mungil.

Kanon nampaknya tidak sadar kalau perbuatannya itu menyebabkan Bou terbangun. Laki-laki kecil itu mengejapkan matanya beberapa saat lalu tampak terkejut saat sadar bahwa Kanon ada di sisinya.

“Kanon!? Apa yang kamu lakukan di kamarku?”

Pertanyaan Bou itu jauh lebih membuat Kanon terkejut daripada keterkejutan Bou saat melihat Kanon di kamarnya dan menggenggam tangannya.

--- --- ---

“Tante itu nyuruh orang mukulin kamu?!” Tanya Akiya saat mengobati luka-luka di wajah Nao.

Nao mengangguk dan sesekali mengaduh saat Akiya menyentuh lukanya dengan sedikit kasar.

“Diamlah! Jangan berisik. Kamu mau Riku bangun dan marah begitu tahu kamu ada di sini apalagi ada anak itu.” Akiya melemparkan pandangannya pada sosok Yuura yang masih pingsan dan ia baringkan di atas tempat tidurnya.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Nao saat ia juga melihat Yuura.

“Aku sudah memeriksanya dan tak ada sesuatu yang gawat. Mungkin dia cuma kelelahan.” Ujar Akiya yang merupakan calon dokter ini. Akiya adalah mahasiswa fakultas kedokteran yang akan menyelesaikan kuliahnya sebentar lagi.

“Baguslah.” Nao menghembuskan nafasnya lega, lalu melepaskan pakaian bagian atas yang ia kenakan dan menatap Akiya penuh arti. “Aki... lakukan sesuatu padaku.”

“Sekarang?” Akiya bertanya dan tampak tersenyum menatap tubuh bagian atas Nao yang terbuka.

“Iya.. malam ini.. aku butuh sentuhanmu.” Nao bergerak semakin mendekati Akiya, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Akiya.

“Jangan begini Nao. Aku tidak bisa melakukannya kalau kamu begini. Tegakkan tubuhmu sebentar. Akan kuambil alas agar kamu bisa nyaman merebahkan tubuhmu di lantai saat aku melakukan itu.”

Nao menurut dan menegakkan kepalanya dari pangkuan Akiya agar temannya itu bisa bangkit dan mengambilkan sesuatu yang membuatnya nyaman berbaring di lantai.

Akiya berdiri dan mengambil selimut tebal dari lemarinya, lalu menggelar selimut itu di lantai dan meminta Nao berbaring di atasnya. “Ayo kemari.”

Nao lagi-lagi menurut. Ia membaringkan tubuhnya di atas selimut dan bergidik geli saat Akiya mulai menyentuh dadanya. “Tu- tunggu Aki..”

Akiya menatap Nao bingung. “Ada apa lagi?”

Nao kemudian menyentuh kedua pipi Akiya dengan kedua telapak tangannya, lalu mendekatkan wajah itu ke wajahnya masih dalam posisi berbaring. Kemudian sedikit memalingkan wajah Akiya hingga Nao bisa berbisik di telinga temannya itu. “Lakukan dengan lembut...”

Akiya tersenyum dan menyentil lembut hidung Nao. “Kalo aku gak puas dengan gerakan lembut, aku akan melakukannya dengan sedikit kasar dan jangan berteriak Naoran! Nanti semua orang di rumah ini bisa tahu apa yang kita lakukan. Tahan suaramu saat aku melakukannya.”

Nao mengangguk dan membuka mulutnya lagi. “Tahan bibirku dengan bibirmu kalau aku mulai berteriak.” Ucapnya dengan senyum nakal.

--- ---- ----

Mizu mengumpat tertahan. Dia paling benci saat tengah malam begini, tiba-tiba dia ingin ke toilet. Jarak toilet dari kamarnya cukup jauh. Rumah kos sialan ini cukup banyak hantunya. Pikir Mizu was was. Dia pun memandang sekeliling dengan takut-takut. Chiru pernah bilang kalau dia melihat hantu anak wanita di sekitar toilet.

“Sial. Kenapa tiba-tiba aku ingat cerita itu.”

Hasrat Mizu pun tak tertahankan. Dia semakin kebelet ingin ke toilet. Lalu saat itulah dia mendengar suara itu.

Seperti sebuah desahan tertahan. Bukan desahan wanita. Suara itu sangat dikenalnya.

Itu suara Naoran.

Asalnya dari kamar Akiya.

Naoran ada dikamar Akiya?? Mizu bertanya-tanya bingung dalam hati. Lalu karena penasaran, ia pun mendekatkan telinganya di pintu kamar Akiya. Dari pintu kamar itu, Mizu bisa mendengar suara Nao dan suara Akiya dengan cukup jelas.

“Tenanglah Nao. Suaramu itu bisa membangunkan satu rumah ini.”

“Aaah.. Aki.. Akiya.. aku sudah gak kuat.”

“Sedikit lagi.. tahanlah.. setelah itu kamu pasti akan merasa nyaman.”

“Tapi yang kamu lakukan itu sedikit menyakitiku.”

“Aku melakukan ini karena keinginanmu. Sabarlah Nao.. tidak akan sakit. Ini akan menghangatkanmu.”

“Aaaah.. A- ki.. jangan sentuh itu!”

“Lemaskan tubuhmu Naoran.”

“Tapi pelan-pelan.. aaaah.. haah.. hmmpp.. aaa..”

Nafas Nao memburu. Bulu kuduk Mizu mendadak berdiri mendengar suara-suara itu.

Mereka sedang berbuat apa??

Apa mereka tidak takut dikutuk karena melakukan hal seperti itu di rumah berhantu ini...

Sudahlah Mizu. Biarkan saja mereka. Ingat tujuanmu!

Mizu melepaskan telinganya dari pintu kamar Akiya dan berbalik ingin segera ke toilet. Tapi ia dikejutkan dengan hal lain. Dua mahkluk pendek itu ada di hadapannya.

“Rika, Keiyuu.. apa yang..”

“Ssstt!!” seru Rika dan Keiyuu bersamaan. Mereka tampak serius mendengarkan.

“Aaah.. Aki.. jangan tekan terlalu kuat! Sakit!!”

“Diamlah! Kalo gak begini, gak puas! Balikkan tubuhmu lagi.”

“Eh, apa yang kamu pakai itu?”

“Hanya sedikit pelumas supaya kamu gak kesakitan. Sudah diam saja dan rasakan kenikmatan sentuhanku.”

Nao terdengar diam beberapa saat, sampai dia terdengar bersuara lagi.

“Iya.. ini lebih baik. Teruskan Akiya.. enaaak.. aaah..aah..”

Keiyuu menutup telinga Rika saat erangan dan desahan Nao semakin liar. “Ini gak baik di dengar anak kecil.” Seru Keiyuu.

“Kamu juga kecil Kei!” Rika berusaha melepaskan kedua tangan Keiyuu dari telinganya.

“Kalian berdua ini. Sedang apa malam-malam begini?” Tanya Mizu pada Rika dan Keiyuu.

“Aku mau ambil minum di dapur, tapi gak berani. Jadi minta temanin Keiyuu, terus kita lihat Mizu lagi nguping di pintu kamar Akiya.”

“Aku bukannya nguping! Tapi mau ke toilet.”

“Tapi penasaran dengan suara-suara aneh kan!?” Keiyuu cekikikan, sementara Rika yang sudah duduk menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar Akiya tampak menunduk dengan wajah bersemu. “Aku gak nyangka kalo Akiya dan Nao begitu...” Ujarnya tampak malu-malu.

“Dari dulu aku juga sudah menduga. Mereka itu pasangan sahabat yang aneh. Kadang mereka tampak saling cuek, tapi aku sering mergokin mereka selesai berendam di onsen berdua aja tengah-tengah malam. Gelagat yang mencurigakan.” Ungkap Mizu dengan volume suara yang cukup memekakkan.

“Sssst.. Mizu!! Jangan nyaring-nyaring dong! Nanti mereka sadar kita disini.” Seru Rika dengan suara yang dipelankan.

Keiyuu masih menempelkan telinganya dipintu kamar Akiya, berharap mendengar suara Nao dan Akiya lagi.

“Apa mereka masih melakukannya?” Tanya Mizu penasaran. Ia pun kembali menempelkan telinganya di pintu kamar Akiya. Wajahnya tampak serius, sepertinya ia mulai lupa tujuan utamanya tadi.

“Ada apa Akiya? Kenapa berhenti? Apa kamu sudah lelah? Aku masih ingin.” Ucap Nao dengan suara manja.

Akiya terdengar tidak menjawab. Mizu menduga saat ini Akiya pasti sudah terkapar di samping tubuh Nao dan sibuk mengatur nafasnya agar masih bisa melanjutkan pertempuran dan memuaskan Nao dan dirinya kembali. Membayangkan hal itu, Mizu jadi makin merinding. “Apa yang seperti itu bisa menyenangkan kalau dilakukan dengan sesama jenis?” Tanya Mizu pada Keiyuu. Lagi-lagi dengan suara cukup nyaring.

“Bisa gak sih kamu bersuara lebih kecil sedikit!?”

“Mau sekecil apalagi? Suaraku ini sudah cukup kecil.” Mizu merengut.

Keiyuu nampak tidak peduli, dia masih serius mendengarkan. Tapi baik suara Akiya maupun suara Nao sudah tidak terdengar lagi. Suasana hening beberapa saat, sampai Keiyuu mendengar kenop kunci terbuka dan pintu kamar Akiya terbuka dengan cepat hingga membuat Keiyuu dan Mizu yg menempel di pintu itu terdorang jatuh masuk kamar Akiya.

“Apa yang kalian lakukan di depan kamarku?” Tanya Akiya tampak galak.

Keiyuu dan Mizu nyengir karena ulah mereka ketahuan oleh Akiya. Rika yang terkejut kemudian melongok melewati pintu kamar Akiya. Tadinya dia takut menemukan pemandangan tidak seharusnya, tapi di kamar itu hanya terlihat Nao yang berbaring dilantai beralas selimut dengan tubuh bagian atas terbuka dan di sampingnya banyak terdapat obat dan perlengkapan medis. Akiya sendiri masih berpakaian lengkap.

Akiya semakin membuka pintu kamarnya lebar dan seperti mempersilahkan tiga orang itu masuk. Keiyuu, Mizu dan Rika pun masuk tanpa ragu. Lalu Akiya menutup pintu di belakang mereka dan menguncinya. “Kau dan Nao tadi sedang melakukan apa Aki-kun?” Tanya Rika polos.

“Itu sudah jelas kan!? Kenapa juga kamu masih nanya hal itu Rika-chan?” Bisik Mizu di telinga Rika. Mizu pun lalu melihat ada orang lain selain Nao dan Akiya di kamar itu. Sosok laki-laki yang tergeletak diatas tempat tidur Akiya nampak tak berdaya. “oh God. Mereka melakukan triple attack. Satu diantara mereka malah sudah gak kuat dan terkapar disitu.” Tunjuk Mizu kearah laki-laki yang terkapar ditempat tidur Akiya.

“Aku lagi mengobati luka Nao dan memijatnya karena beberapa bagian tubuhnya keseleo.” Ungkap Akiya jujur. “Kalian pikir.. aku dan Nao sedang melakukan apa?” Tanyanya tampak curiga.

Keiyuu dan Rika pun menggeleng bersamaan. “Gak mikir apa-apa kok. Kita juga tau kalau Aki-kun Lagi mijitin Nao-chan. Iya kan Rika!?” Keiyuu menyikut Rika pelan dan cewek itu pun mengangguk membenarkan.

“Kalian plin plan, tadi kan kalian tidak berpikir seperti itu.” Mizu pun menceritakan hal yang sebenarnya pada Akiya dan Nao. Kedua pemuda itu kemudian tertawa tertahan karena tidak mau ambil resiko membuat Riku terbangun dari tidurnya.

“Aku dan Akiya!!? Hummpp.. pikiran kalian bertiga rusak ya.”

“Abis suara desahan Nao bikin curiga sih.” Kata Rika yang kemudian menjadi penasaran dengan cowok yang tampak tertidur diatas tempat tidur Akiya. “Ini siapa Aki-kun?”

Akiya dan Nao saling berpandangan beberapa saat lalu Akiya mulai menceritakan semuanya.

“Aki-kun ternyata perhatian ma Nao. Sampai mencari Nao segala. Aku pikir Aki gak peduli walau Nao gak pulang sampai malam.” Ucap Rika begitu Akiya menyelesaikan ceritanya.

“Iya.. aku juga gak nyangka kalau Akiya segitu perhatiannya padaku. Kalau dia terus manis seperti ini, aku bisa jadi benar-benar mencintainya. Akiya... nikahi saja Nao mu ini.” Nao berkata manja dihadapan Akiya. Sudah pasti ucapannya hanya bercanda.

“Aku potong jarimu kalau kamu berkata seperti itu lagi Naoran.” Ancam Akiya dengan mimik wajah serius. Nao pun cengengesan.

“Lalu anak ini bagaimana? Riku pasti gak senang kalau ia sampai tau.” Tanya Keiyuu cemas.

“Makanya kalian semua diam! Jangan ada yang bilang tentang hal ini ke Riku.” Seru Akiya yang dibalas semua anggukan teman-temannya.

“Tenang.. Besok pagi-pagi buta, Riku harus sudah berangkat ke pedesaan di sekitar wilayah Gifu bersama Chiru. Ada hal penting yang harus mereka lakukan disana. Mungkin pulangnya baru lusa.” Ungkap Rika.

“Baguslah. Kalo gitu beres, ah iya aku mau ke toilet. Sudah diujung, gak tahan lagi.” Mizu pun buru-buru bangkit dan keluar dari kamar Akiya.

“Hati-hati Mizu, banyak hantu loh di toilet kalo malam-malam gini.” Seru Keiyuu memperingatkan, tapi sepertinya Mizu gak dengar karena sudah kepalang gak tahan menahan hajat buang air kecilnya.

--- --- ----

Laki-laki itu menatap laki-laki lain yang tertidur di hadapannya dengan mata penuh keajaiban. Wajah laki-laki yang tertidur itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat begitu ia cintai beberapa tahun yang lalu. Seseorang yang selalu ia panggil kakak.

Ya.. Kai mirip sekali dengan kakak

Laki-laki itu pun lantas menyentuh wajah Kai dengan lembut. Susah sekali membuatnya tenang dan tertidur saat ia terus-terusan mencemaskan keadaan Yuura. ‘Pemilik rumah’ begitu yuura menyebutnya, sampai harus meyakinkan Kai bahwa ia sendiri yang akan membawa anak itu ke hadapan Kai dalam keadaan utuh dan baik-baik saja.

Ia memang sudah meminta beberapa orang kepercayaannya untuk mencari Yuura, meskipun anak itu tidak meninggalkan jejak sedikit pun yang menjelaskan kemana ia pergi, tapi laki-laki itu yakin jika orang-orang kepercayaannya mampu menemukan Yuura dan membawa anak itu pulang.

Laki-laki itu seperti tidak puas terus menatap wajah Kai. Sepertinya ia ingin lebih, tapi ia masih mampu menahan keinginannya itu dan kembali ke kamarnya sendiri. Kamarnya yang gelap dengan penyinaran tanggung dan perabotan yang minim. Laki-laki itu kemudian duduk di sebuah kursi dengan sandaran yang tinggi, ia lalu mengambil dan membuka sebuah kotak berisi cerutu dan mengambil salah satu cerutu di kotak itu.

Sebelum membakarnya, terlebih dahulu ia mencium aroma cerutu itu. Lalu memasukkan ujung cerutu itu ke dalam mulutnya dan membakar ujung yang lain dengan zippo kesayangannya. Biasanya bukan ia sendiri yang membakar cerutu itu, ada orang lain yang begitu dengan ihklasnya membakar ujung cerutu itu untuknya. Laki-laki yang ia tahu sangat mencintainya.

‘Pemilik rumah’ yang kesepian. Yuura selalu mengejeknya seperti itu. Anak itu bahkan sering menyebutnya ‘perjaka tua gak laku’, sebutan yang sering kali membuatnya ingin mencekik anak itu atau membawa anak itu dengan paksa ke kamarnya dan memperkosanya disana. Laki-laki itu tersenyum sambil menghembuskan asap cerutunya ke udara. Ia teringat saat Yuura tidur satu ranjang dengannya. Anak yang sangat hiperaktif, bahkan saat ia tertidur pun, Yuura tidak ada henti-hentinya bergerak dan menendanginya. Membuatnya sulit mendekati anak itu, meskipun dari awal ia memang tidak berniat lebih selain hanya ingin Yuura tidur di sampingnya dan dapat mengerti alasan Kai begitu melindunginya.

Yuura pernah bertanya padanya.. “Kenapa pemilik rumah yang tampan tidak juga beristri?”

Laki-laki itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu, pertanyaan sama seperti yang sudah sering dipertanyakan oleh ayahnya yang sudah semakin tua dan semakin mendekati ajalnya.

Yuura benar. Dirinya memang pantas disebut sebagai laki-laki kesepian, ia tidak sedang mencintai seorang wanita pun saat ini. Baginya, dengan adanya Kai dan Yuura di sisinya saja itu sudah cukup. Tapi kedua pemuda itu tentu saja bukan orang yang ingin ia manfaatkan. Laki-laki itu sudah cukup puas dengan hanya melihat keakraban mereka berdua.

Saat ini, ia hanya ingin laki-laki tampan itu kembali. Laki-laki yang sanggup mengisi kekosongan hidupnya, laki-laki yang menjadi satu-satunya alasan kenapa ia tak juga ingin menikah. Karena ia hanya ingin laki-laki itu yang menjadi pendamping hidupnya, tapi itu tidak mungkin. Karena laki-laki itu adalah seorang laki-laki. Ayahnya sempat nyaris mati karena serangan jantung saat mengetahui ia mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki itu.

“Maafkan aku... aku mencintaimu.. tapi kita tak mungkin bersama. Orang tuamu menentang hubungan ini. Aku akan pergi darimu, tapi aku akan selalu mencintaimu...” Ucap laki-laki itu terakhir kali. Ia pun mendapat ciuman terakhir dari laki-laki itu. Ciuman yang selalu hangat seperti biasanya. Meresap kedalam bibirnya, membuatnya bergolak ingin terus merasakan kenikmatan sentuhan dan geliatan sensasi lidah di dalam mulutnya.

Ia tersadar dari lamunannya. Semakin ia mengingat hal itu, semakin ia ingin laki-laki itu kembali dan masuk dalam kehidupannya. Bersamanya, si ‘pemilik rumah’ ini bisa merasakan arti cinta. Laki-laki itu yang menemaninya bermain billiard dan diatas meja billiard itu juga mereka memuaskan hasrat cinta mereka yang membara. Betapa ia sangat merindukan saat-saat itu, saat-saat paling mendebarkan dalam hidupnya.

Laki-laki itu pun menunduk dan mengucapkan sesuatu dengan suara lirih..

“Aku ingin dirimu.. aku mohon.. kembalilah You..”

---- ---- ----

Sepertinya banyak orang yang tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Laki-laki bertubuh tinggi dengan paras tampan itu juga nampak gelisah dalam tidurnya. Sesekali dia terbangun hanya untuk menatap ranjang lain di seberang ranjangnya.

Ranjang itu biasa ditempati Pon Pon. Dan sekarang Pon Pon tidak ada. Laki-laki itu tidak tahu dimana anak itu berada dan dia merasa sangat gelisah. Menurut keterangan pemilik kos, Pon Pon pindah ke tempat kos lain yang lebih dekat dengan sekolahnya. Tapi untuk apa...

Seingatnya, Pon Pon tidak pernah mengeluh biarpun tempat kosnya jauh dari sekolah.

“Asal bersama aniki, Pon gak papa tinggal disini.” Ucapan Pon Pon itu begitu diingatnya.

Laki-laki itu pun berusaha menutup matanya lagi sampai akhirnya dia dikejutkan kedatangan laki-laki lain yang tiba-tiba mengganggu tidurnya.

“kamu cemas? Apa tidak sebaiknya kita cari Pon Pon sekarang juga?” Tanya laki-laki bertampang bishounen itu.

“Jangan Saga. Ini sudah terlalu malam.” Ucap laki-laki itu tanpa memperhatikan wajah Saga yang tampak serius memperhatikannya.

“Hei Tora.. ucapan dan sikapmu sangat tidak sesuai. Kamu seolah berkata tidak mencemaskan Hiroto, tapi dari sikapmu itu sudah sangat terlihat kalau kamu mencemaskannya.”

“Jadi aku harus bagaimana?” Tanya laki-laki bernama Tora itu.

“Berhentilah gelisah dan tidurlah dengan nyenyak. Besok pagi kita cari Hiroto.”

“Aku rasa itu tidak perlu. Hiroto pergi karena keinginannya sendiri, dia pasti tidak mau kita mencarinya.”

Saga menipiskan bibirnya dengan senyuman. “Kamu tidak menyesal berkata seperti itu? Aku cuma tidak mau melihatmu terus-terusan terbangun setiap lima menit dan menatap ranjang itu.”

Tora menggeleng. “Sudahlah Saga. Berhentilah mencecarku. Kalau kamu memang ingin aku tidur nyenyak, lakukanlah sesuatu padaku.”

Saga menatap Tora dengan tatapan nakal, laki-laki itu lalu memainkan lidahnya dan membuatnya tampak sensual di hadapan Tora. “Ide yang luar biasa. Aku pikir kamu hanya menginginkanku untuk membuat si gigi tikus itu merasa cemburu, tapi ternyata...”

“Jangan berpikir hal yang macam-macam. Aku cuma ingin kamu kembali ke kamarmu dan membiarkanku tidur nyenyak disini sendirian.”

Saga kecewa mendengar ucapan Tora itu. “Baiklah pria tampan. Aku ini memang belum cukup seksi untuk menggodamu.” Laki-laki itupun lantas meninggalkan kamar Tora dengan senyum tipis yang tetap menghiasi wajahnya.

“Tunggu Saga.”

Saga tampak menghentikan langkahnya dan kembali menatap Tora. “Apa lagi?”

Tora melempar senyum memikat kearah Saga yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. “Jangan kunci kamarmu. Mungkin aku berubah pikiran dan mencarimu untuk mendapat sedikit kesenangan.” Ucap Tora terdengar nakal.

“wow, u’re so unpredictable.” Saga kembali memainkan lidahnya seperti ingin melumat Tora. “oke tampan.. aku akan tunggu kedatanganmu.” Kerlingan Saga membuat Tora tersenyum.

Bercanda seperti itu nampaknya cukup membuat Tora sedikit lebih tenang dan sedikit menghilangkan kecemasannya terhadap Hiroto yang kini juga tidak bisa tidur karena memikirkan anikinya tersebut.

~ ~ ~

Saat membuka mata, Yuura mendapati suatu pemandangan berbeda dari biasanya. dia tidak sedang berada di kamarnya, tapi di kamar orang lain. Yuura mencari-cari kacamatanya dan akhirnya menemukan benda itu di atas meja kecil yang terletak di sebelah ranjang yang kini dia tempati.

Yuura memakai kacamatanya lalu memegangi kepalanya sendiri. Sakit yang semalam dia rasakan, rupanya sudah tidak terasa lagi sekarang. Yuura merasa jauh lebih baik. Dia pun bangkit dari tempat tidur dan menjejakkan kakinya di lantai sambil mengamati ruangan tempatnya berada sekarang ini.

Ruangan itu cukup rapi. Ada buku-buku tebal yang tersusun di rak dan tergeletak di atas meja. Lalu ada kotak obat, bola basket, beberapa pasang sneaker dan sebuah gitar akustik di dekat perlengkapan audio dan tumpukan CD.

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dan Yuura melihat Nao bersama seorang laki-laki bertubuh cukup tinggi masuk ke dalamnya.

“Wah kau sudah sadar?!” Nao menyapa Yuura dengan riang. “Kau baik-baik saja?”

Yuura mengangguk. “umm.. boleh aku tanya ini dimana?” Tanya Yuura tampak ragu.

“Kau di kamar Akiya. Dia yang menggendongmu sampai sini waktu kau pingsan dan dia juga yang memeriksa keadaanmu.”

Yuura menatap laki-laki di samping Nao yang bernama Akiya itu, lalu ia membungkuk pelan dan mengucapkan terima kasih.

“Sudahlah Yuura, jangan terlalu formal. Akiya senang bisa menolongmu, iya kan Aki?!”

Akiya hanya tersenyum simple. Dan sekali lagi Yuura mengucapkan terima kasih padanya.

“ng.. aku harus pulang sekarang. Orang-orang di rumah pasti cemas mencariku.” Kata Yuura dengan wajah sedikit bingung.

“Kau tinggal dimana? Biar aku antar.” Nao menawarkan diri. Dan Yuura merasa senang sekali.

Yuura lalu mencari-cari sesuatu di dalam saku celananya dan mengeluarkan dompetnya dari sana. Dia membuka dompetnya dan melihat beberapa puluh yen saja yang tersisa di dalamnya. Dia lalu mendapati sesuatu yang dicarinya dan menyarahkannya kepada Nao. “Aku tinggal disitu. Apa cukup jauh letaknya dari sini?”

Nao melihat kartu yang bertuliskan sebuah alamat tempat tinggal Yuura. Ia lalu mengerutkan keningnya. “Aku gak tau dimana ini. Apa kamu tau Akiya?”

Akiya melihatnya beberapa saat, lalu ia mengangguk. “Letaknya memang agak jauh dari sini. Sekitar satu jam jika ditempuh dengan kereta dan untuk sampai ke alamat itu, kita masih harus naik bis dan mungkin perlu berjalan kaki sedikit lama. Aneh, gelandangan yang suka berkeliaran sepertimu tidak tahu daerah ini Nao?!”

Nao merengut. “Aku tau, tapi rumah itu sepertinya jauh dari keramaian kota.”

“Iya kau benar. Masih di bagian Tokyo tapi jauh di selatan. Aku saja harus menempuh waktu lama jika ingin ke mini market yang terdekat.” Ucap Yuura.

“Baiklah aku akan tetap mengantarmu. Tapi jangan sekarang. Aku lapar.” Nao meringis memegangi perutnya. Dan Yuura juga bisa mendengar perutnya menjerit. Ia juga kelaparan.

---- --- ---

Suasana rumah itu entah kenapa menjadi semakin ramai pagi ini. Hari ini memang hari libur, semua penghuninya nampak senggang dan tidak punya aktivitas diluar rumah. Keiyuu, si pendek itu entah kenapa terus bolak-balik dan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas. Lalu Rika tampak sibuk di dapur bersama Pon Pon dan seorang cowok tanggung bertubuh pendek berisi yang sangat cekatan mengolah makanan.

Mizuki muncul dengan langkah yang indah, di sampingnya ada Chiru yang sudah berdandan sangat rapi.

“Loh Chi gak ikut Riku ke Gifu?” Tanya Rika bingung.

Chiru menggeleng. “Ada hal yang lebih penting daripada nemanin si mamih kesana.” Ucapnya riang. Wajahnya tampak berseri-seri.

Keiyuu yang menatapnya tampak curiga. “Wah wah, Chiru mau kencan bareng Mizu ya?” Tanyanya dengan wajah cengengesan.

Chiru menatap Keiyuu dan Mizu bergantian. “Chiru kencan ma orang ini!?!!” Chiru menunjuk Mizu dengan tampang berjengit. “Nehi!!” Serunya dengan kepala menggeleng berkali-kali.

Mizu menjulurkan lidahnya kearah Chiru. “Aku juga gak bakal mau kencan ma kamu.” Laki-laki itu kemudian menghampiri Pon Pon yang sibuk membantu temannya memasak.

Chiru mengalihkan pandangannya pada teman Pon Pon itu. “Ah Izumi.. sedang apa disini?” Tanya Chiru riang saat mengenali cowok pendek berisi yang tidak lain adalah Izumi itu.

“Gak liat dia lagi masak?!!” Ucap Mizu ketus.

Chiru mengacuhkannya. Dia lebih tertarik mendekati Izumi dan mencubit pipi cowok itu.”Iiih gemes!! Dah lama gak liat kamu.”

Izumi hanya bisa meringis. “Iya gomen. Belakangan ini sibuk belajar untuk persiapan masuk universitas tahun depan.” Ucapnya kalem.

“Aku yang telpon dia Chi. Kangen ma hamburger buatan dia.” Rika juga ikut-ikutan mencubit pipi Izumi. (lecet dah pipi anak orang)

“Aku gak tau kalo sekarang Pon tinggal disini.”

Hiroto hanya tersenyum mendengar ucapan Izumi itu. Izumi adalah senpainya di sekolah dan mereka juga cukup akrab.

Rika kemudian berbisik di telinga Izumi. “Dia ada masalah dengan Tora dan Saga. Jadi jangan singgung-singgung dua orang itu di hadapannya.”

Izumi mengangguk tanda mengerti. Dan tidak berapa lama kemudian, dapur itu semakin penuh dengan kedatangan tiga orang.

“Makanannya apa sudah siap? Aku lapar nih.” Tanya Nao tampak antusias saat menatap hamburger buatan Izumi.

Izumi tersenyum, lalu tampak terkejut saat melihat orang lain di samping Nao.

“Yuura!?”

Yuura juga terkejut melihat Izumi.

“Kalian saling kenal ya?” Tanya Nao yang dibalas anggukan Izumi.

“Baru beberapa hari yang lalu. Aku dan temanku mengantar dompet Yuura ke rumahnya.” Ucap Izu.

Chiru yang tidak tahu siapa Yuura akhirnya bertanya pada Rika. “Sst sst.. ada lagi cowok kinyut kinyut. Siapa lagi tuh? Penghuni baru disini kah?!” Tanya Chiru dengan suara berbisik.

“Bukan. Dia itu cowok yang ditolong Nao dan Akiya tadi malam. Katanya Nao sih, tiba-tiba dia pingsan. Makanya dibawa kesini.” Terang Rika. Dan Chiru hanya bisa menganggukkan kepalanya.

“Izu, kamu tau rumah Yuura?”

Izumi mengangguk.

“Kalau gitu kamu temanin aku antar dia pulang ke rumahnya ya?”

Izumi lagi-lagi mengangguk mendengar ajakan Nao itu.

Nao tampak puas. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Chiru yang tidak bisa berhenti menatap Yuura. “Heh, ngedip dong! Ntar tu mata bisa bintitan lho.”

Chiru memukul Nao dengan kesal. Chiru memang gak tahan dan selalu penasaran bila melihat orang baru yang baru dilihatnya. Apalagi kalau orangnya semanis Yuura.

Akiya juga tampak penasaran saat melihat Chiru dengan pakaiannya yang rapi. “Mau kemana Chi? Bukannya kamu ikut Riku ke Gifu?!”

Chiru mesam-mesem mendengar pertanyaan dari Akiya itu. Dia akhirnya mengaku. “A- aku.. mau jemput Aoi di bandara. Dia pulang dari Hawai hari ini.”

Semua kecuali Yuura dan Izumi, tampak terkejut. “Si manju mau pulang hari ini!!? Bukannya masih minggu depan?!!”

Chiru menggeleng. “Aku juga gak tau. Katanya ada urusan tiba-tiba disini, makanya dia meninggalkan turnamennya.”

Mizuki memegangi kepalanya. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan kepulangan Aoi yang tiba-tiba. Setahunya, Aoi tidak akan pulang sampai turnamennya selesai. Turnamen itu begitu penting baginya dan sesuatu yang membuatnya pulang lebih awal, pastilah urusan yang sangat penting. Meskipun Mizuki tidak peduli dengan urusan Aoi itu. Dan itu memang tidak ada kaitannya dengannya.

Nanairo CRAYON Part 2

Title: Nanairo CRAYON
Subtitle: Man in the Darkness
Part: 2
Fandom : Jrock staring The GazettE, Kagrra, Kra, Alice Nine, An Cafe, Sadie n more…
Author : Keka

* * *

Riku menatap kesal kearah pemuda itu. Dengan tidak sabar ia kemudian menarik selimut yg menutupi tubuh pemuda itu dan mulai memukuli kepalanya dengan bantal.

“BANGUN PEMALAS!!!” Teriaknya geram.

Pemuda itu tampak mengerang lalu menggeliatkan tubuhnya diatas futon dan menatap riku malas. “Ada paan sih??!!!”

“Jidat lu pilas!! Masih tanya ada apaan?! Sudah siang BEGOOOO!!!” Riku makin kesal dan siap mengeluarkan seribu kata makian kearah pemuda itu. Tapi pemuda itu keburu melempar kecoa buntung kearah wajah Riku dan ngeloyor pergi sebelum mendengar makian Riku lagi.

Riku menjerit panik saat mengetahui ada kecoa nemplok diwajahnya dan semakin panik saat kecoa itu malah hinggap dirambut kesayangannya. “Aaaaarrrggghhh kecowak siwalan!!! Jijay lebay kutu anjing main ayunan!! Naoraaaaaaaaaaan sialaaaaaaan!!!! Singkirin kecowak banci niy dari rambutku!!!”

Terlambat. Naoran sudah tidak mendengar apa-apa karena sekarang dia sudah sibuk bantuin Rika jemur kasur.

~~~


Sementara itu, diruang yang berbeda. Mizuki tampak menatap puas kearah cermin.

Seksi... perut gw seksi.

Laki-laki itu tampak tersenyum menyeringai. Seringaiannya itu malah tampak seperti seringaian kuda.

“Kamu ngapain Mizu?” Tanya Chiru tampak heran.

Laki-laki itu terkejut dengan kedatangan Chiru yang tiba-tiba dan akhirnya malah tertawa garing sambil menutupi perutnya dengan kedua tangan.

“Sakit perut ya?” Tanya Chiru lagi.

“ha ha ha.. enggak kok. Lagi olahraga pelemasan otot perut aja.”

Chiru hanya ber-o singkat, meskipun masih ragu dengan ucapan Mizuki itu. Dia pun akhirnya tersenyum dan memperhatikan perut Mizuki lebih lama.

“Kenapa?” Tanya Mizuki yang tampak salah tingkah diperhatikan Chiru seperti itu.

“hehe.. enggak papa. cuma takjub aja liat perut kamu yang ternyata seksi juga.”

Mizuki pun berbunga-bunga. Ternyata setelah berjuta-juta tahun cahaya, ada juga cewek yang akhirnya mengakui keseksian perutnya. Meskipun hanya seorang Chiru. ^^

“Tapi...

Perut kamu gak seseksi perut Aoi.”

Jutaan pisau serasa menancap di kepala Mizu.

Apa bagusnya sih si bibir manju itu? Aku juga punya bibir manju. Ada pierchingnnya juga, HOT juga. Gak keriput pulak kayak om om itu. Kata Mizu dalam hati. Dia sangat kesal selalu dibanding-bandingkan dengan Aoi yang setengah mati garing kalo dipaksa ngejoke itu.

Mizu sudah siap protes ke Chiru, tapi niat itu terpaksa diurungkannya karena ia melihat Riku berlari-lari dengan panik.

“MIZUKIIII... tolong bunuhin kecoak di rambutku ini!!” Pinta Riku yang hampir menangis saat kecoa di kepalanya urung gak mo minggat.

“Dibunuh kayak apa?” Tanya Mizu bingung.

“TERSERAH!!!! Pokoknya diMATI’IN!!”

Mizu pun tanpa pikir panjang langsung mengambil sapu dan memukul kepala Riku sekuat-kuatnya dengan gagang sapu itu. Kecoa itu terbang dengan sukses bersamaan dengan Riku yang akhirnya juga ikutan pingsan.

Chiru menjerit tertahan. “Mizu... mamih yang mati bukan kecoaknya!! Gimana ini?”

Mizu juga ikutan bingung. “Kasih napas buatan.” Tiba-tiba ide itu terlontar begitu saja.

“Ah bener juga. Ayo cepetan kamu yang kasih.”

“loh kok aku??!”

“Jadi siapa lagi?? Masa’ harus aku!!?” Chiru balik bertanya panik sambil duduk berjongkok di samping tubuh kecil riku yang terkulai.

“Ini. Pake ini aja.” Mizu menyerahkan sebuah pompa ban kepada Chiru.

Bego niy orang..

“Lu kata Riku ban sepeda!!”

Mizu cengangar cengingir tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Bibir gw masih perawan Chi..”

“Perawan jidat lu peyang!!?! Panggil Naoran aja gih sono.”

Mizuki mengangguk dan mencari-cari Naoran yang ternyata sedang asik main monopoli bareng Rika dan Keiyuu di atas loteng.

“Mamih pingsan!!!?” Rika ikutan panik. Dan buru-buru turun dari loteng sampai meloncati dua anak tangga sekaligus.

“Ada apaan sih?” Tanya Akiya yang keluar dari kamarnya dengan bingung. Dia merasa terganggu dengan bunyi gedebak-gedubuk sejak pagi tadi.

“Ini gara-gara Nao. Ayo Nao kasi napas buatan ke mamih!!” Paksa Rika.

“Mending nyosor Akiya daripada nyosor mamih.” Naoran mendekatkan wajahnya ke Akiya dan mamonyongkan bibirnya bersiap menyosor Akiya, tapi Akiya lebih dulu menyambut wajah Nao itu dengan raket listrik pembunuh nyamuk. (sadis niy Akiya)

“Pada gak ada yang kasian ya ma Riku??!” Chiru tampak geram dengan keempat cowok yang ada di hadapannya. “Mizu, Naoran, Keiyuu, Aki...”

Keempat cowok itu hanya menggeleng.

Naoran yang berdiri mepet di samping Akiya akhirnya membisikkan sesuatu di telinga cowok itu. “Anggap aja Christina Ricci, udah sono kasih napas buatan ke mamih.” Ujar Nao nakal.

Akiya kembali memukul kepala Nao dengan raket nyamuk dan membuat beberapa helai rambut coklat cowok itu meleleh terbakar.

Untunglah Keiyuu berinisiatif memberikan bubuk merica di sekitar hidung Riku dan sukses membuat cewek itu bersin-bersin hingga tersadar dari pingsannya.

“Kalian semua pada JA’AAAAAD!!!” Teriak Riku begitu sadar dari pingsannya.

“Gomenasai riku... jangan marah dong. Mizu gak sengaja mukul kamu pake gagang sapu. Trus Keiyuu ngasi bubuk merica abisan kuatir banget karena kamu gak sadar-sadar.” Ucap Chiru mewakili teman-temannya meminta maaf.

Riku masih menatap galak kearah mereka dan akhirnya mengeluarkan ultimatum keras. “Kalo sampe jam sepuluh malam ini Naoran gak juga bayar uang kos, malam ini juga dia harus MINGGAT!!!”

Naoran tercekat dan menatap Riku tak percaya. Dia pun merengek-rengek berlagak sok manis dan tak berdaya di hadapan Riku. “Hwaaaa... jangan gitu dong Riku. Aku kan miskin. Mana bisa dalam semalam aku ngumpulin uang lima puluh ribu yen.”

Riku gak peduli dan sekali lagi berkata dengan cueknya. “Jual tubuhmu sana!! Kali kali aja masih ada tante tante ato om om yang doyan.”

Akiya, Mizuki, Keiyuu, Rika, dan Chiru hanya bisa tertawa melihat Naoran yang meratapi nasibnya.

“Sabar ya Nao.. aku mau loh bayar tubuhmu.” Akiya berbisik di telinga Nao dan mengerling kearahnya.

Naoran seperti mendapat angin segar. Setidaknya dia mau melakukan apa saja asalkan yang bayar tubuhnya adalah Akiya. Daripada dia terpaksa harus jual diri ke tante tante ato om om lenyot.

“haha.. boleh juga tuh Aki-chan. Buat kamu ada diskon deh sepuluh persen.”

“sepakat.” Akiya menggenggam tangan Nao sambil menyelipkan selembar uang seribu yen ke tangannya. “Ini aku bayar seribu yen. Gantiin tugasku bersihiin kamar mandi ya.” Ujarnya sambil tersenyum dan meninggalkan Naoran yang masih melongo bingung.

~ ~ ~

Akiya sialan. Naoran mendengus kesal sambil menendang kerikil dengan ujung sepatunya yang nampak butut. Apa tidak ada yang sayang dengan diriku? Tanya Nao dalam hati. Padahal belakangan ini dia merasa senang saat Riku menerimanya tinggal di rumah kos ibunya, apalagi akhirnya dia bertemu Akiya, temannya sejak kecil dan juga berkenalan dengan teman-teman satu kosnya yang lain seperti Keiyuu, Mizuki, Rika, Chiru dan Aoi. Tapi nampaknya sekarang mereka sudah tidak peduli meskipun Nao akan diusir dan kembali menggelandang.

Aoi tentu pengecualian. Meskipun tampangnya kadang nakutin, tapi Nao yakin kalo Aoi akan menolongnya jika ia sedang kesusahan seperti sekarang ini. Sayang Aoi sedang pergi ke Hawaii untuk mengikuti turnamen selancar di sana.

Naoran melihat beberapa anak SMA yang tampak lugu. Dia seperti mendapat ide. Mungkin dari mereka, Nao bisa mendapatkan beberapa ribu yen. Tapi niat itu diurungkannya, bukan karena dia kasihan melihat bocah-bocah SMA itu, dia hanya gak yakin apa tampangnya cukup sangar buat nakut-nakutin bocah-bocah tersebut.

Aaarrgghh... masa’aku harus nipu tante-tante lagi...

Naoran sudah memutuskan tobat dengan pekerjaan itu sejak ia bertemu dengan gadis yang memikat hatinya. Ia tidak tahu siapa namanya. Hanya satu yang diingatnya... gadis itu benar-benar cantik dan membuat Naoran mabuk kepayang.

“Naoran lagi jatuh cintah yah???”

Nao terkejut mendengar seseorang yang berbicara di sampingnya. Ia menengokkan wajah dan melihat Pon Pon yang berjalan menjajarinya.

“Hee.. anak ingusan sok tau.” Nao memukul ringan kepala Pon Pon yang lebih pendek darinya beberapa centi. Pon Pon tidak menghindar dan hanya tersenyum.

“Mau kemana Pon? Kok sendirian? Tora Saga??”

Pon Pon tampak menunduk dan terlihat sekali kalau ia sedang sedih. “Mereka pergi berdua saja. Akan sangat menganggu kalau aku ikut di belakang mereka.”

Nao cengengesan. Dia tau masalah yang dihadapi Pon Pon. “Kalo gitu bilang aja ke Saga, tiga ato empat tahun lagi kamu pasti bisa seganteng Tora.”

Pon Pon mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Nao itu. “Naoran ngomong apa sih??!”

“Kok masih nanya? Kamu suka Saga kan!?”

Pon Pon mengangguk. “Tentu suka. Saga kan temanku.”

“Bukan itu. Maksudku suka yang ‘itu’ loh!!”

Pon Pon makin bingung. Dan Nao makin gregetan dengan tampang bego anak itu. Dia pun menarik Pon Pon ke sebuah bangku taman dan mengajaknya bicara disana. “Kalo kamu suka sesorang, kamu harus berani bilang dan ungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya ke orang itu. Bagaimana dia bisa membalas perasaanmu kalo kamunya sendiri berlagak sok cuek dan gak butuh.” Ucap Nao menggebu-gebu.

“Memangnya Nao sudah bilang ke gadis itu kalo Nao suka dia.”

“Ini bukan tentang aku, tapi tentang kamu!” Tegas Nao pada Pon Pon.

“Tapi sejauh ini, belum ada gadis yang kusukai.”

Naoran nyaris mengigit kepala Pon Pon saking gregetannya. “Aku gak lagi bicara masalah gadis, tapi masalah Saga!!”

“Memangnya Saga kenapa?? Dia gak lagi suka sama seorang gadis kok.”

Naoran kehabisan kata-kata. Hiroto ini memang dasarnya bego ato kelewat polos sih!!??

“Ya sudah, lupakan!! Pulang sana, cuci kaki trus tidur. Jangan lupa obat cacingnya diminum!” Ujar Nao memperingatkan. Dan ia pun pergi dengan perasaan dongkol. Seharusnya dari awal ia tidak usah bicara panjang lebar dengan Hiroto yang tinggal di rumah kos yang terpaut jarak beberapa blok dari rumah kos milik Riku.

~ ~ ~

Yuura menatap lurus ke depan. Di seberang jalan tampak restoran tempat Kai bekerja. Seperti biasanya, restoran itu tetap saja ramai pengunjung. Dan itu artinya Kai sedang sibuk saat ini. Padahal Yuura sudah membawa bekal makan siang, dia berharap bisa makan siang berdua dengan Kai. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.

Yuura berbalik dan berniat pulang. Langkahnya sedikit gontai dan entah kenapa kepalanya sedikit pusing.

Sementara itu,

Kai yang sedang sibuk mengantar pesanan tanpa sengaja memandang sekilas ke arah luar dan melihat sosok Yuura di luar sana. Kai bertanya bingung dalam hati. Apa yang membawa Yuura kemari? Apa anak itu mau menemui dirinya? Tapi kenapa Yuura malah berbalik pergi??

Andai saja Kai tidak terlalu sibuk seperti sekarang ini, dia pasti sudah mengejar Yuura dan mengajak anak itu makan siang bersamanya.

--- ---

Kepala Yuura makin sakit dan wajahnya semakin pucat. Tidak mungkin dia masuk angin atau kelaparan, seingatnya tadi pagi dia sudah sarapan cukup banyak dan tidak melakukan pekerjaan yang berat.

Yuura akhirnya memutuskan duduk di salah satu bangku taman dan meletakkan kotak bento di sampingnya. Dia memegangi kepalanya dan tertunduk dengan lemas. Rasanya dia mau mati dan mungkin untuk berjalan sampai ke stasiun kereta pun dia sudah tidak sanggup.

Samar-samar dia mengingat kejadian-kejadian yang sepertinya pernah dia alami. Ada banyak teriakan di kepalanya dan teriakan yang terdengar jelas adalah teriakan seorang wanita. Teriakan itu begitu memilukan dan Yuura melihat banyak darah yang berceceran di sana sini. Perutnya semakin mual dan rasanya dia ingin muntah walopun dia masih bisa menahannya.

Yuura mencoba berdiri dan dia harus pulang sekarang. Mungkin dengan tidur di kamarnya, rasa sakit di kepalanya dapat sedikit berkurang.

Tiba-tiba ada seseorang yang memegangi tangannya dan mengacungkan pisau kearahnya. Yuura sedikit terkejut, namun entah bagaimana dia berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman orang itu lalu menjatuhkan pisaunya dan akhirnya malah memelintir tangan orang yang berani mengancamnya dengan pisau tersebut.

“Aduduh.. sakit.. le- lepasin.. aku cuma main-main.”

Yuura melepaskan tangan orang itu dan menatapnya tajam. Orang itu malah cengengesan dan menundukkan kepalanya berkali-kali sambil meminta maaf.

“Aku terpaksa karena aku gak punya uang buat beli makanan.” Ungkap orang itu dengan wajah memelas. Dan entah bagaimana Yuura bisa kasihan melihatnya. Ia pun memberikan bento yang sebenarnya akan dimakannya bersama Kai.

Orang itu sangat senang dan Yuura melihatnya makan dengan lahap seperti orang yang sudah gak pernah makan enak selama sepuluh tahun.

“Oishi.” Ucapnya dengan wajah penuh senyum kebahagian. Melihat senyum itu, Yuura jadi lupa sejenak dengan rasa sakit yang tadi bertubi-tubi menyerangnya.

“Makasih ya, aku akan ingat jasa baikmu hari ini.” Kata orang itu sebelum akhirnya dia permisi pergi. Padahal Yuura ingin menanyakan namanya, tapi sudahlah. Kalaupun jodoh, Yuura yakin dia pasti bisa bertemu orang itu lagi.

--- --- ---

Naoran mengelus perutnya dengan puas. Baru kali ini dia bisa merasakan kenyang. Anak itu baik juga. Pikirnya menerawang saat mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Tadinya dia berniat mengancam seorang pemuda yang tampak polos agar pemuda itu mau memberinya uang. Tapi Nao tidak mengira kalo pemuda itu pintar bela diri.Yah untung saja pemuda itu tidak memukulinya sampai bonyok. Dan Nao malah bersyukur karena mendapat sekotak makan siang lezat darinya.

Deg

Jantung Naoran serasa berhenti berdetak saat sesosok mahkluk cantik yang menghiasi mimpi dan khayalannya akhir-akhir ini, tampak berjalan dengan anggun melewati pintu sebuah mini market yang ada di seberang jalan tempat Nao berdiri sekarang ini.

Mata Nao tak berhenti menatap sosok itu sampai ia melihat sosok lain yang sangat dikenalnya. Seorang cewek pendek yang tak lain adalah Rika, teman satu kosnya. Rika berlari dengan susah payah menyusul gadis cantik itu, kemudian menyerahkan sebuah bungkusan kepadanya. Rika tersenyum dan mengangguk beberapa kali. Gadis itu juga tersenyum dan tampak mengucapkan sesuatu lalu melambai kepada Rika, sebelum akhirnya menghilang di balik tikungan jalan.

Rika sepertinya kenal dengan gadis itu. Dan itu artinya bagus untuk Nao.

Dengan cepat Nao menyebrangi jalan dan nyaris berteriak memanggil-manggil Rika yang sudah akan masuk ke dalam mini market.

“Nao?!” Rika tampak heran. “Ngapain sih panggil-panggil?” Tanyanya bingung.

Nao mengatur nafasnya lalu menepuk pelan pundak Rika berkali-kali.

Iih.. ni orang kenapa sih!??

“Ta– tadi itu siapa?” Tanya Nao dengan suara gagap.

Rika menoleh kesana kemari. “Siapa?”

“Itu yang tadi bicara denganmu!”

Rika bengong beberapa saat, lalu tampak menarik senyumnya. “Ah.. Hizaki ya maksudmu?”

Nao tampak mengerutkan keningnya. “Hizaki? Namanya Hizaki?” Entah kenapa Nao merasa aneh dengan nama itu. “Dia siapa?” Tanya Nao antusias.

“Siapa?! Dia ya Hizaki, pelanggan tetap di mini market ini. Tinggal di apartemen yang gak jauh dari sini. Memangnya kenapa?” Tanya Rika tampak bingung.

“Ah gak, gak ada apa-apa.” Nao tersenyum lebar dengan mata menyipit, lalu menatap seragam yang dipakai Rika. “Kamu kerja disini?” Tanya Nao sambil menunjuk mini market di hadapannya.

Rika mengangguk. “Cuma part time. Sudah ya Nao...”

“Tu- tunggu..”

“Apa lagi?”

“Ntar ngobrol-ngobrol yuk.” Kata Nao cengengesan.

Rika makin bingung. “Setiap hari kita juga sudah ngobrol-ngobrol.”

“Ini obrolan yang beda. Mau ya.. ya ya..”

“Mau aja. Tapi apa masih bisa? Bukannya Nao akan diusir malam ini!?”

“Akh.. aku lupa!” Nao memeriksa dompetnya. Cuma ada 3 ribu. Ia pun menunduk lemas.

Malam ini aku akan diusir...

“Sabar ya Nao.” Rika menepuk pundak Nao. “Kalo kamu diusir, aku dan teman-teman akan tetap mengunjungimu. Bilang aja kamu tinggal di kolong jembatan yang mana.” Rika cengengesan, lalu melambai masuk kedalam mini market yang menjadi tempat kerja paruh waktunya.

--- --- ---

Yuura membuka matanya. Sudah berapa lama ia tertidur? Rasanya ia baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Dan sekarang ia tidak tahu dimana sekarang ia berada.

Tempat apa ini..

Yuura hanya mengikuti kemana kakinya ingin melangkah. Kaki itu seperti berjalan sesuai kehendaknya, tanpa otak Yuura perlu memerintahnya. Sepertinya Yuura pernah melangkahkan kakinya di daerah ini, tapi ia masih tak ingat banyak. Tempat itu seperti deretan pertokoan tapi tampak sepi, ruko dan pertokoannya kebanyakan tutup.

Bodohnya, Yuura lupa membawa ponselnya dan uangnya hanya tinggal berapa puluh yen. Yuura mencari-cari telepon umum. Mungkin dia bisa menghubungi seseorang di rumah untuk menjemputnya. Saat hari gelap seperti ini, Yuura sama sekali buta arah. Dia juga bingung, kenapa tadi dia sampai ketiduran di dalam kereta dan turun di statiun yang bukan tujuannya.

Kenapa tidak ada telepon umum..

Yuura mencari-cari bingung. Lalu tiba-tiba kepalanya kembali sakit, bahkan sangat sangat sakit. Yuura sampai bersandar di salah satu dinding bangunan ruko yang sudah ditutup. Sakit kepalanya menjalar hingga mata. Matanya kini seperti ditusuk-tusuk. Yuura melepas kacamatanya dan menutupi matanya dengan tangan kiri, sementara tangan yang lainnya masih memegangi kacamatanya itu.

Perlahan-lahan Yuura mendongakkan wajahnya dan menatap lurus ke depan dengan kedua bola matanya. Tidak ada yang aneh. Semuanya tetap normal. Jalanan tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang berjalan dan menatap sekilas kearah Yuura. Melihat semuanya baik-baik saja, Yuura pun kembali memakai kacamatanya, menyusuri jalan dan mencari-cari telepon umum yang juga tak kunjung ia temukan.

Yuura putus asa dan mungkin satu-satunya jalan hanya bertanya kepada sesorang. Tapi kenapa tiba-tiba semuanya tampak sepi. Tidak ada lagi orang yang masih berkeliaran, toko-toko semuanya juga sudah tutup, padahal Yuura merasa kalau ini belum terlalu malam.

Ada dua orang yang Yuura lihat berjalan dengan terburu-buru. Yuura ingin menghampiri dan bertanya sesuatu kepada mereka. Tapi saat Yuura memanggilnya, orang-orang itu malah berlari dan seperti tidak mau didekati olehnya. Yuura jadi makin bingung. Memangnya apa yang salah dengannya?

Kemudian dari kejauhan, Yuura melihat sebuah mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan. Pintu mobil itu terbuka dan seseorang tampak ditendang keluar dari mobil itu. Seorang laki-laki. Yuura melihatnya diseret dan diinjak-injak di jalanan beraspal, lalu ditinggalkan begitu saja.

Saat mobil itu benar-benar sudah pergi, Yuura melangkahkan kakinya dengan cepat menuju laki-laki itu. Tubuh laki-laki itu tertelungkup mencium aspal. Yuura lalu membaliknya dan terkejut.

~~~

Pukul setengah sebelas malam. Hiroto merasa sedikit gusar. Dia memikirkan teman-temannya. Apa Tora akan mencemaskannya? Ataukah Saga akan meminta Tora mencarinya?? Atau mereka malah senang karena kini Hiroto sudah tidak ada, sehingga mereka bisa menghabiskan waktu berdua saja??

Memikirkan Tora berdua dengan Saga saja sudah membuat dada Hiroto sesak dan isi perutnya menggeliat. Apa keputusannya pindah kos ini terlalu cepat atau memang sudah seharusnya dari dulu dia mengambil tindakan seperti ini agar tidak menyusahkan Saga atau Tora yang dicintainya...

Tapi sudahlah.. toh Hiroto tidak menyesal pindah ke rumah kos ini. Setidaknya rumah kos ini tidak melulu dihuni laki-laki. Ada juga anak perempuannya meskipun kamarnya dipisahkan. Pemilik dan para penghuni kos ini sudah sangat dikenal baik oleh Hiroto. Pemiliknya bernama Riku, orangnya ramah meskipun kesan awalnya sangat menakutkan. Riku ditinggal ayah ibunya yang memutuskan hidup tenang di Sapporo, sedangkan rumah kos ini diserahkan kepadanya untuk ia kelola. Ia seorang mahasiswi di universitas T dan beberapa teman wanitanya juga tinggal di rumah kos ini.

“Santai aja Pon.” Ucap Chiru saat memberikan Hiroto secangkir teh hangat. “Gak biasa ya tinggal di rumah kos yang ada ceweknya?”

Hiroto menggeleng. “Gak papa.”

Chiru kembali tersenyum dan kini sudah menghampiri teman-temannya yang lain. Akiya sedang bermain Shogi bersama Keiyuu, sementara yang lain sibuk menyiapkan sesuatu. Mereka sepertinya akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Entahlah pesta untuk merayakan apa.

“Kalian sedang apa?” Tanya Hiroto saat bergabung melihat sesuatu yang dikerjakan Riku dan teman-temannya.

“Kita sedang buat persiapan upacara pengusiran Nao yang paling dramatis.” Jawab Mizuki.

Hiroto sedikit terkejut. “Nao mau diusir!? Alasannya apa?!!”

“Gak bayar uang kos lima bulan.” Jawab Rika ringan.

“Terus punya banyak masalah di luar. Tadi siang aja ada lima orang om om berbadan kekar nyari dia disini. Katanya mo buat perhitungan ke Nao. Duh bahaya banget, jangan sampai gara-gara masalah Nao diluar, kita semua yang nantinya kena getah. Tadi aja om om itu mau memaksa masuk dan mencari Nao di kos-kosan ini, tapi untung juga aku bisa meyakinkan om om itu kalau Nao sudah gak lagi tinggal disini.” Kata Riku panjang lebar.

“Tapi kalau dipikir... kasian juga si Nao. Dia teman kita, sudah sepantasnya kita nolong dia kalau dia lagi susah.” Ujar Chiru yang tampak sibuk merangkai karangan bunga.

“Kita sudah banyak nolong dia Chiru, tapi mang dasarnya Nao tu keras kepala.” Riku tampak geregetan. “Lihat tuh, Akiya aja udah gak peduli dengannya.”

Chiru menoleh sembilan puluh derajat searah jarum jam dan melihat Akiya yang tampak tersenyum penuh kemenangan saat mengalahkan Keiyuu bermain Shogi sampai berkali-kali. Sepertinya dia tidak peduli walaupun Nao, temannya itu bakal diusir.

“Tapi kok aneh ya.. Nao belum pulang juga. Ini kan udah malam.” Chiru melirik jam yang bertengger di dinding dan melihat jarumnya yang nyaris menunjuk pukul sebelas malam.

“Mungkin dia takut pulang karena sudah tau bakal diusir kalo pulang gak bawa uang. Tadi siang aku ketemu dia di depan tempat kerja part time ku dan dia kelihatan bingung waktu liat dompetnya yang cuma dihuni uang sekitar tiga ribu yen.” Ungkap Rika.

“Atau sekarang dia lagi nemanin tante tante biar dapat lima puluh ribu yen dalam semalam.” Mizuki cekikikan sambil membayangkan Nao yang dijamahi tante tante kegenitan.

“Atau jangan-jangan sekarang dia malah sudah mati...” Chiru mendadak ngeri membayangkan itu.

“Aaah.. Chiru kok mikirnya gitu sih..” Rika juga ikutan ngeri membayangkannya.

“Kalian jangan mikir yang iya iya. Naoran itu kayak kucing, nyawanya ada sembilan.” Ujar Akiya yang tiba-tiba ikutan bicara.

“Tapi Aki-kun kan tau sendiri kalo prefektur ini punya catatan reputasi yang buruk. Siang hari memang jadi tempat berbisnis yang ramai, tapi malam harinya jadi kayak kuburan. Sepiiii..!!” Seru Chiru.

Hiroto yang mendengarnya tiba-tiba jadi teringat Tora. Kemarin dia masih tinggal bersama Tora di rumah kos yang cuma terpaut beberapa blok dari rumah kos milik Riku yang sekarang dia tempat ini. Dia dengar dari Tora kalau prefektur ini sangat berbahaya. Ada gosip yang mengatakan kalau malam hari banyak setan-setan atau siluman yang berkeliaran mencari mangsa. Tentu saja Hiroto tidak percaya dengan gosip itu, tapi dia percaya saat Tora mengatakan kalau malam hari banyak orang jahat yang berkeliaran. Makanya Tora sangat melarang keras Hiroto keluar rumah lewat dari jam delapan malam.

“Kemaren aku dengar ada sebelas anak cowok disodomi dalam waktu semalam. Saking syoknya, tu anak cowok-cowok sampe pada bisu semua.” Kata Chiru menggebu-gebu.

Hiroto melongo dengan gigi depan yang tampak menonjol. Dia memang pernah dengar banyak penculikan anak laki-laki disekitar daerah rumah kosnya ini, tapi dia gak pernah dengar ada sebelas anak laki-laki yang disodomi bersamaan dalam waktu semalam.

“wah kalo gitu aku harus hati-hati dong.”

Chiru menatap Mizuki datar. “kalo itu sih kamu gak usah kuatir Mizuki, tukang sodomi gak ada yg doyan ma kamu. Lihat kamu aja mereka bisa muntah.”

“Sialan.” Mizuki mendengus kesal. “Rupanya kamu tidak sadar Chiru dengan potensi seorang Mizu.”

“Iya iya.. Chiru sadar kok kalo Mizu sedikit lebih tampan dibanding Aoi.”

Mizu makin menekuk wajahnya. Lagi-lagi nama Aoi yang selalu disebut Chiru. Mizu berharap Aoi dimakan hiu waktu lagi berselancar di Hawai, biar gak usah sekalian pulang ke Jepang.

“Ah sudahlah aku mau tidur.” Riku beranjak berdiri dari tempatnya duduk. “Baguslah kalo Nao gak pulang malam ini. Itu artinya aku gak perlu susah-susah ngusir dia.”

“Trus upacara pengusirannya gagal dong.” Rika tampak kecewa, padahal dia sudah capek-capek menulis plakat bertuliskan ‘Selamat Menempuh Hidup Sebagai Gelandangan Lagi Naoran’

-------- ------- -------

Ini orang yang tadi siang...

Yuura terkejut saat membalik tubuh laki-laki malang yang tadi dilihatnya selesai ditendang keluar dari mobil dan habis diinjak-injak.

Orang itu adalah laki-laki yang tadi mencoba menakut-nakutinya dengan pisau dan akhirnya merengek kelaparan, laki-laki yang tadi diberinya makan siang.

Wajahnya lebam-lebam penuh luka dan berdarah. Bibirnya juga tampak robek. Yuura merasa kasihan, dia menengok kesana kemari mencoba meminta bantuan orang lain, tapi tidak ada satupun orang lain yang dilihatnya. Jalanan itu jadi bener-bener sepi.

“Aki...”

Laki-laki itu terdengar menggumamkan sebuah nama.

“Hei, kau tidak apa-apa. Sadarlah.” Yuura mengguncangkan pelan tubuh laki-laki itu. Laki-laki itu pun perlahan membuka matanya.

“Aki ya...”

“Bukan. Aku Yuura, kau ingat?”

Laki-laki itu berusaha bangkit meskipun tampak sempoyongan. Yuura sebisa mungkin membantunya hingga laki-laki itu bisa berdiri.

Dia berusaha jalan dengan langkah tertatih-tatih. Kakinya luka, jeans yang dipakainya tampak robek terkoyak dibagian lutut dan dari bekas koyakan itu terlihat lututnya yang luka berdarah.

Yuura terdorong untuk membantu laki-laki itu berjalan. Dia pun berinisiatif memapahnya, mengambil tangan laki-laki itu dan meletakkan di pundaknya, sementara tangannya yang lain memegang pinggang laki-laki itu. Cukup berat juga ternyata. “Aku akan mengantarmu sampai rumah.” Ucap Yuura.

“Terima kasih, tapi aku tidak punya rumah. Malam ini aku diusir. Tinggalkan saja aku disini.”

“Tapi kau terluka, kalau begitu aku akan membawamu ke rumah sakit.” Yuura bersikeras.

“Kau baik sekali. Terima kasih Yu...”

“Yuura. Namaku Yuura. Kau?”

Laki-laki itu memalingkan wajahnya dan menatap Yuura. “Aku Nao.” Ucap laki-laki itu sambil tersenyum.

------ ---- ----

Kai mondar-mandir dengan panik. Sesekali dia berhenti hanya untuk melihat jarum jam di tangannya, setelah itu dia tampak menggaruk-garuk kepalanya dan membuat ‘pemilik rumah’ ikut stress.

“Berhentilah mondar-mandir seperti itu Kai!”

Kai sepertinya tidak mendengar seruan ‘pemilik rumah’ dan tetap mondar-mandir di hadapannya.

Yuura.. dimana kamu Yuura..

Kai bertanya bingung dalam hati. Saking paniknya, dia sampai menggigiti kuku-kuku tangannya. Baru kali ini Yuura belum pulang sampai hampir tengah malam. Biasanya dia sudah duduk manis sebelum jam makan malam tiba. Kai sudah mencarinya di perpustakaan kota, tempat yang biasa dikunjungi Yuura, tapi Yuura tidak ada disana. Perpustakaan itu malah sudah tutup berjam-jam yang lalu.

“Tenanglah Kai. Yuura akan baik-baik saja.”

“Dia belum pernah begini sebelumnya.” Ujar Kai cemas.

“Yuura sudah besar. Kamu gak bisa terus-terusan mencemaskannya seperti anak kecil.”

Kai berhenti mondar-mandir dan duduk lemas sambil menundukkan kepalanya.

Iya.. tuan besar ini benar. Mungkin Yuura sedang bersenang-senang di luar sana. Anak seumur dia memang butuh hiburan. Wajar jika dia mulai nakal dan belum pulang sampai selarut ini. Tapi...

Kai masih memikirkan kemungkinan buruk yang lain. Dia teringat lagi saat bertemu Yuura pertama kali. Itu bukan sesuatu yang bagus untuk diingat. Yuura nyaris dicelakakan saat itu, lalu anak itu ternyata hilang ingatan. Tidak tahu dimana dia tinggal dan tidak tahu siapa keluarganya.

Awalnya Kai enggan menampungnya. Dia sempat memaksa Yuura pergi dan mencari kehidupannya sendiri. Tentu Kai memaksanya secara baik-baik, memberi pengertian bahwa hidupnya sendiri susah. Yuura pun mengerti dan pergi. Itu membuat Kai senang beberapa saat, namun kesenangannya itu tidak berlangsung lama. Kai perlahan dihinggapi perasaan cemas dan bersalah.

Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu yang buruk padanya? Pertanyaan itu selalu bergema di kepalanya dan membuat Kai tidak bisa tidur nyenyak saat itu.

Hujan mengguyur deras tiga tahun yang lalu. Kai tetap memaksa pergi dengan payung kecil di tangannya. Dia mencari Yuura kesana kemari, dia ingin membawa anak itu pulang dan tinggal bersamanya lagi.

Kai hampir putus asa saat tidak menemukan sosok Yuura di sudut manapun. Perasaan bersalah dan kutukan kejam dia lontarkan pada dirinya sendiri. Begitu hina sampai dia melupakan sisi rasa kemanusiaannya dan memaksa seorang anak laki-laki berusia 16 tahun menghadapi dunia luar yang kejam tanpa tahu apa-apa.

Kai seperti melihat dirinya sendiri di dalam diri Yuura. Mereka memiliki nasib yang sama, kesepian tanpa ada seorang pun yang menyayanginya. Kai menderita saat kehilangan neneknya, begitu pun Yuura yang begitu menderita saat semua kenangan yang diingatnya pupus hilang tanpa dia tahu apa penyebabnya.

Yuura pasti kebingungan saat berada di luar sana. Pikir Kai saat itu. Dia juga sangat kebingungan saat neneknya meninggal dan terpaksa harus meninggalkan rumah karena neneknya hanya tinggal di rumah kontrakan. Kai sempat mencari orang tuanya menurut petunjuk yang diberikan nenek sebelum orang tua renta itu meninggal. Tapi kenyataan yang dia dapat saat itu jauh di luar harapannya, dia diusir mentah-mentah bahkan sebelum menginjakkan kaki di pekarangan rumah orang yang dia percayai adalah rumah ayahnya. Kai sendiri belum pernah melihat bagaimana rupa wajah ayah dan ibunya.

Dia mencoba mengubur kenangan pahit itu dan menjalani kehidupan baru seorang diri atau bersama Yuura jika dia berhasil menemukan dan membawanya pulang. Saat pikiran Kai mulai kalut dan keputusasaan menyerangnya, secercah sinar kebahagian menerangi hidupnya. Di bawah rintik keras air hujan tiga tahun yang lalu, pemuda itu berlutut di tanah lapang kosong melindungi 3 ekor anak kucing dari guyuran air hujan yang dingin, sementara dia sendiri tampak tidak peduli saat air hujan membasahi kepala hingga sekujur tubuhnya.

Kenapa kau begitu bodoh Yuura..

Kai bergegas menghampirinya dan memayunginya. Wajah Yuura menatapnya tak percaya saat itu. Dan Kai hanya ingin memeluknya. Memeluknya dengan erat tanpa peduli tubuhnya juga akan basah kuyup. Tidak akan kubiarkan pergi lagi. Akan kujaga Yuura dengan tanganku, kulindungi dan kubuat dia tersenyum. Tekad Kai dalam hati.

“Anak itu begitu berharga bagimu?” Tanya ‘pemilik rumah’ tiba-tiba. Pertanyaan itu membuyarkan semua lamunan Kai.

Kai mengangguk lambat-lambat. Entah sejak kapan Yuura menjadi begitu berarti baginya. Mungkin sejak Yuura bersungguh-sungguh merawatnya saat sakit, menyuapinya makan, membersihkan rumah, memasak, mencuci pakaian dan berbelanja seorang diri. Padahal itu semua bukan keahliannya, tapi Yuura bersungguh-sungguh melakukannya karena tidak ingin menyusahkannya yang sedang sakit.

Kai terus saja mengingat hal-hal istimewa yang dilakukan Yuura untuknya. Begitu banyak dan semuanya terasa manis. Kai bahkan tidak jadi marah jika anak itu mulai menatapnya dengan mengiba. Membuat Kai jadi ingin terus memeluknya.

“Yuura.. maafkan aku..” Kai berkata demikian tanpa dia sadari.

“Kenapa Kai? Kau merasa bersalah?”

Kai menggeleng. “Entahlah, tapi aku merasa tidak memperhatikannya akhir-akhir ini. Aku terlalu sibuk. Aku bahkan tidak pernah memasak untuknya lagi.”

‘pemilik rumah’ menepuk pelan pundak Kai dan memeluk laki-laki itu agar kegalauan hatinya sedikit berkurang. “Tenanglah. Aku akan memarahinya jika dia pulang nanti.”

“Ti– tidak. Jangan lakukan itu!” Kai tampak panik. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana Yuura akan sangat ketakutan jika ‘pemilik rumah’ yang tampak galak ini akan memarahinya.

‘pemilik rumah’ itu tersenyum. “Tentu saja aku tidak memarahinya. Aku cuma akan sedikit menghukumnya karena telah membuatmu stress memikirkannya.”

“Apa hukumannya berat?” Tanya Kai takut-takut.

‘pemilik rumah’ lagi-lagi tersenyum. “Itu hukuman yang menyenangkan. Tidak akan menyakitinya. Percayalah padaku Kai, aku juga menyayangi anak itu. Sekarang kau tidur saja. Aku janji akan membawa anak itu ke hadapanmu besok.”

--- --- ---

“Aaaarrgghh..” Yuura melepaskan Nao dan memegangi kepalanya sendiri. Kepalanya itu kembali sakit, berkali-kali lipat lebih sakit daripada yang ia rasakan tadi.

Nao menatapnya bingung. “Kau kenapa?”

Yuura tidak menjawab dan dia terus mengerang kesakitan. Saking sakitnya sampai dia menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di jalanan beraspal. Menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua tangannya. Yang diingatnya hanya Kai. Dia ingin Kai. Ingin Kai memeluknya.

Nao semakin menatap Yuura bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada orang yang baru dikenalnya itu. “Apa kau sakit?”

Yuura tidak menjawab. Dia hanya terus memegangi kepalanya. Nao memberanikan diri untuk menyentuhnya dan tubuh anak itu terasa dingin seperti es. Sepertinya Yuura sangat menderita, mungkin rasa sakitnya lebih menyiksa daripada rasa sakit yang dirasakan Nao saat ini. Yuura ingin menolongnya, tapi Nao malah berpikir Yuura lah yang sepantasnya mendapat pertolongan.

Nao menatap sekeliling. Lalu dari jauh dia mendengar bunyi lonceng dua belas kali. Lonceng dari menara jam yang menunjukkan bahwa saat itu sudah tepat jam dua belas malam. Jam delapan malam saja para penghuni prefektur ini sudah mengunci rapat pintu rumah dan jendelanya, apalagi jam dua belas malam. Mereka mungkin sudah bersembunyi dalam selimut dan melindungi anak-anaknya agar tidak diculik siluman jahat yang selalu jadi isu murahan di prefektur sialan ini.

Nao merogoh saku celananya. Kunci itu masih ada. Kunci rumah Riku yang berhasil ia duplikatkan. Jarak terdekat yang aman saat ini memang rumah Riku, tempat kosnya enam bulan terakhir ini. Nao berganti membantu Yuura berdiri. Kakinya sendiri sudah sangat berat ia tegakkan, apalagi jika ia harus membantu Yuura.

“Ayo Yuura.. tahan rasa sakitmu.”

Yuura mengikuti saran Nao dan berusaha berdiri dengan bantuan Nao, tapi dia sadar jika Nao saat ini juga sedang terluka. Pasti berat jika Nao turut membantunya. “Sudah Nao. Biar aku saja.” Yuura bangkit seorang diri dan berusaha melangkahkan kakinya. Tapi kepalanya semakin pusing dan tubuhnya serasa limbung. Yuura pingsan.

Nao melihat tubuh itu melorot dengan lambat dan untunglah Nao berhasil menangkapnya. Meskipun akhirnya mereka sama-sama terjatuh, tapi Nao merelakan tubuhnya menahan Yuura di atasnya. Dengan susah payah Nao berusaha bangkit dan memapah Yuura yang kini telah pingsan. Saat itulah dia menangkap sebuah siluet.

Bayangan sosok tinggi di kegelapan. Bersembunyi diantara bangunan-bangunan ruko yang sudah ditutup berjam-jam yang lalu. Nao yakin sosok bertubuh tinggi itu menatapnya dan Yuura. Jarak mereka sekitar 200 meter. Mungkin hanya orang biasa, tapi perasaan Nao mengatakan hal yang sebaliknya. Untuk apa orang itu harus bersembunyi di kegelapan dan terus menatap mereka. Kalau orang itu memang orang baik, orang itu pasti sudah menghampiri mereka dan menolongnya.

Nao masih melihat kearahnya dengan penasaran. Tanpa diduga, orang bertubuh tinggi yang jelas laki-laki itu, keluar dari persembunyiaannya. Apa orang itu mau menolongnya? Tapi tidak. Nao ragu dengan hal itu. Jalanan yang gelap menyamarkan wajah laki-laki itu, separuh wajahnya juga tertutup topi dan dia memakai jas hitam panjang yang tampak seperti jubah. Laki-laki itu tampak merogoh saku jas nya dan mengeluarkan rokok serta zippo nya. Membakar rokok itu, lalu memainkan zipponya. Membukanya lalu menutupnya lagi sampai menghasilkan bunyi ‘tuk tuk’ yang beradu dengan langkah sepatu platformnya.

Nao tidak berlama-lama menatap laki-laki itu. Ia masih berusaha memapah tubuh Yuura dan berusaha menyeret langkahnya secepat mungkin. Ketakutan Nao bertambah saat laki-laki itu kembali memasukkan tangan ke dalam jasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sesuatu yang berkilat-kilat jelas. Sesuatu yang bisa menghabisi nyawanya. Laki-laki itu mengeluarkan sebuah pisau tajam yang seperti haus darah.

Nao pucat hingga tak sadar telah menyeret Yuura lebih cepat. Dia sampai berniat meninggalkan Yuura yang pingsan begitu saja, lalu berlari secepatnya ke rumah kos Riku. Tapi entah kenapa dia tidak melakukan hal itu. Laki-laki misterius itu juga tampak mempercepat langkahnya. Dia mengincar Nao atau Yuura. Entahlah, Nao tidak memikirkan itu. Yang jelas, kini nyawanya dalam bahaya. Mungkin itu adalah suruhan tante-tante brengsek yang beberapa waktu lalu pernah Nao tipu. Rupanya tante itu masih belum puas melihat Nao tadi dipukuli habis-habisan oleh beberapa suruhannya.

Tinggal satu blok lagi. Tikungan di depan itu adalah tikungan yang terakhir. Tapi langkah Nao semakin berat, kakinya terasa nyeri. Dia sudah tidak kuat dan juga akan ikut ambruk dengan beban Yuura di sampingnya, sementara laki-laki itu sudah semakin dekat. Nao seakan pasrah. Kepalanya tertunduk lemah. Yang dilihatnya saat ini adalah bayangan lain di depannya dan langkah sepasang sepatu Nike.

“Nao.”

Suara itu...

Nao mendongakkan wajahnya. Dan Akiya ada di hadapannya.

“Kenapa wajahmu itu?” Akiya tampak menatap wajah Nao, lalu beralih menatap Yuura yang dipapahnya. “Siapa yang bersamamu?”

“Ada yang lebih penting daripada sekedar bertanya siapa anak ini. Ada orang yang mengikutiku di belakang. Dia bawa pisau dan sepertinya ingin membunuhku.”

Akiya melihat kecemasan di wajah Nao, ia lalu menatap ke belakang Nao melewati tikungan dan mencari-cari sosok yang dimaksud Nao. Tapi sosok itu tidak ada. Jalanan itu tampak sepi saja.

“Orang apa yang kamu maksud?” Tanya Akiya.

“Laki-laki berjubah hitam. Dia ada di...”

Nao juga tidak menemukan sosok laki-laki itu. Padahal laki-laki itu tadi sudah sangat dekat dengannya.

“Kamu mabuk Nao?”

“Sungguh. Tadi laki-laki itu ada disitu, dia mengejarku.”

“Baiklah, ceritanya nanti saja. Sekarang kita pulang, tapi tolong beritahu dulu siapa anak yang bersamamu itu.”

“Namanya Yuura. Dia tadi berusaha menolongku, tapi akhirnya dia malah pingsan. Aku gak tau penyebabnya apa. Untuk sementara, kita bawa pulang dulu ke rumah Riku.”

“Tapi jangan berisik. Riku sudah mengusirmu dan kamarmu sekarang ditempati Pon pon.”

“Apa?? Anak itu!?? Apa yang dia lakukan di kamarku?”

“Sudah kubilang ceritanya nanti saja. Sekarang berikan anak itu padaku. Biar aku yang menggendongnya.”

Nao melepaskan Yuura saat Akiya sudah benar-benar menggendong Yuura di punggungnya. Mereka pun berjalan pulang kerumah kos mereka yang tinggal beberapa langkah lagi. Nao masih sempat menatap ke belakang dan mencari sosok laki-laki yang tadi mengejarnya. Namun sosok itu memang sudah tidak ada.

Bukan tidak ada

Tapi Nao tidak melihatnya

Laki-laki itu bersembunyi di kegelapan dengan cepat saat sosok Akiya muncul di hadapan Nao.

Bukan Nao yang diincarnya

Laki-laki itu bahkan tidak mengenal siapa Nao

Yang diinginkannya hanya satu...

“Tubuhmu Yuura... aku menginginkanmu... tiga tahun saat kau menghilang dariku... kini aku menemukanmu... dan sekarang...

Kau tidak bisa lagi lari dariku...”

Senyum laki-laki itu terkembang dengan puas

Dan matanya berkilat menatap pisau yang dipegangnya. Dia mengiris kulit tangannya sendiri dan membiarkan darahnya mengalir segar di permukaan pisau itu lalu menjilati darah di pisau itu dengan Lidahnya.

“selanjutnya...

darahmu lah yang akan membasahi pisau ini..

dan aku akan senang sekali bisa menjilati darahmu seperti ini..”

Nanairo CRAYON Part 1


Title: Nanairo CRAYON
Subtitle: Warui no Yume
Part: 1
Fandom : Jrock staring The GazettE, Kagrra, Kra, An Cafe, Alice Nine n more…
Author : Keka

~~~

en sutori begin....

Sudah larut malam saat Kai pulang dari restoran tempatnya bekerja. Keletihan seperti biasa, dan tidur adalah pilihan yang tepat baginya. Besok pagi dia sudah harus bangun menyiapkan sarapan pagi untuk tuan besar, konsekuensi yang harus diterimanya sebagai imbalan jasa karena tuan besar yang kaya itu mau menampungnya dan juga menampung Yuura.


Yuura...


Kai teringat anak itu.


Entah kenapa dia belum bisa tidur nyenyak sebelum memastikan bahwa Yuura sudah tertidur dengan nyenyak.


Anak itu sering tidak tidur sampai larut malam, atau tertidur dengan buku-buku berhambur di sekelilingnya dan TV menyala di depannya.


Kai masuk ke kamar Yuura seperti mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara. Dia tidak mau Yuura yang misalnya sudah tidur harus terbangun karena menyadari kehadirannya.


Dan Yuura memang sudah tertidur. Kai melihatnya terbaring di atas futon, masih dengan buku di tangannya. Yuura memang suka membaca buku sebelum tidur.


Diperhatikannya wajah tidur yang tampak damai dan tanpa dosa itu. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu saat Kai menemukannya tengah terluka. Entah mengapa Kai tidak tega jika harus memaksanya pergi.


Yuura hilang ingatan dan sebatang kara. Mana mungkin Kai yang murah hati tega membiarkannya hidup menggelandang, apalagi Yuura yang begitu manisnya dengan cepat menarik rasa simpati, membuat Kai jadi begitu menyayanginya.


Kai mengambil buku di tangan Yuura sedemikian hati-hati dan meletakkannya di rak, tempat Yuura biasa menyimpan buku-bukunya. Setelah itu Kai membetulkan selimut Yuura dan membelai rambutnya yang mulai panjang. Menyingkirkan rambut itu agar tidak menutupi mata dan wajahnya.


Kai menjadi penasaran sejak dulu, mengapa Yuura tidak pernah mau membiarkan Kai menatap langsung ke dalam matanya? Padahal Kai begitu ingin menatap mata itu, mata seorang Yuura yang dianggapnya sudah seperti adik sendiri.


“ng.. jangan... jangan dia- jangan ambil dia dariku! Jangan! Jangan... Kai...”


Tiba-tiba Yuura mengigau panik dalam tidurnya.


“Yuura.. tenanglah..” Kai mencoba menenangkannya, tapi Yuura tetap saja mengigau panik.


“Jangan.. aaah..Kai.. jangan pergi. Jangan pergi Kai!”


Kai menerutkan kening. Yuura sedang bermimpi tentangnya, mimpi apa sampai Yuura memanggil namanya seperti itu?


--- --- ---


Yuura melihat orang-orang itu memisahkan dirinya dari Kai. Memukuli pria berlesung pipi itu hingga tak berdaya dan menyeretnya. Sementara dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada seseorang, laki-laki yang tidak dikenalnya sedang memeluknya erat dari belakang. Membuat Yuura tak bisa bergerak dan nyaris kehabisan nafas.


“ng.. aaa- Kai... haah.. aah.. jangan...


Jangan sakiti dia!


Jangan!!”


“Yuura.. tenanglah..”


Samar-samar Yuura mendengar suara Kai, tapi begitu jauh.


“Ka- Kai.. jangan pergi.. ”


“Tidak, aku tidak pergi. Aku di sini Yuura. Di sampingmu.”


“Kai...”


Mata itu memandangnya lembut, memberikan senyuman hangat dan sentuhan yang menenangkannya.


Kai di hadapannya, tidak terluka dan tidak pergi. Dia di samping Yuura.


“Kai... kamukah itu?!”


Penglihatan Yuura masih samar, Kai di hadapannya masih tak tampak jelas. Bercampur penglihatan-penglihatan lain yang tidak ingin dilihatnya.


“Iya ini aku, hihihihii... kamu ini kenapa sih tiba-tiba mengigau seperti itu...” Kai tertawa geli. Meskipun saat Yuura membuka mata, dia masih bisa melihat sedikit sisa kecemasan di wajah Kai.


“Apa aku mengigau?” Tanya Yuura pada Kai yang kini sibuk menghapus peluh di keningnya.


“Parah, mengigau seperti anak kecil. Memangnya siapa yang akan menyakitiku?! Kamu ini ada-ada saja, siapa juga yang akan pergi!?”


Yuura sedikit malu dan sedikit memalingkan wajahnya. Sebenarnya Yuura malu jika Kai tahu bahwa betapa ia sangat tidak ingin Kai pergi dari sisinya.


“Aku tidak pergi Yuura. Akan tetap di sini bersamamu.”


Kata-kata Kai itu begitu menenangkannya, setidaknya saat ini Yuura masih bisa melihat senyuman itu, senyum Kai yang membuat perasaannya nyaman.


---- ---- ----


Kai menyunggingkan senyumnya dan menghapus keringat yang membasahi kening Yuura dengan sapu tangan. Anak itu terlihat ketakutan. Mungkin mimpinya buruk. Meskipun Kai penasaran, tapi dia tidak bertanya lebih jauh tentang mimpi buruk yang baru dialami Yuura itu.


“Sampai keringatan gini, liat tuh.. bajumu juga jadi basah.” Kai membiarkan tangannya menyentuh dada Yuura dan melepaskan satu persatu kancing bajunya.


Yuura terlihat sedikit bingung, meskipun tak mencegah saat Kai melepaskan keseluruhan baju yang dipakainya.


“Tidak nyaman tidur dengan baju basah seperti ini, sebaiknya ganti saja dengan piyama baru. Sebentar, aku ambilkan piyama dulu untukmu.”


Baru saja Kai hendak berdiri mengambilkan piyama baru untuk Yuura, tapi Yuura sudah lebih dulu mencegahnya.


“Tidak usah Kai, biar saja begini.” Ucapnya sembari memegangi tangan Kai.


Kai bisa merasakan Yuura sedikit menarik tangannya dan tanpa kata memintanya untuk tidur di sampingnya.


Lagi-lagi anak ini mulai manja.


Pikir Kai yang agak menggerutu, meskipun tetap mengiyakan keinginan Yuura itu.


“Udaranya memang agak gerah, tapi tidur tanpa baju seperti ini tetap bisa buatmu masuk angin.”


Yuura diam saja saat Kai berkata seperti itu. Dia juga diam saat Kai mulai mencium keningnya.


“Hee.. aneh. Biasanya kamu gak suka aku menciummu.” Ujar Kai, masih dengan senyum tersungging di wajahnya.


“A- aku suka kok.” Ujar Yuura pelan. Saking pelannya sampai Kai tidak percaya dengan kata yang di dengarnya.


“Apa?! Kamu suka Yuura!? Kamu suka aku menciummu?!”


Yuura tidak menjawab. Meskipun bagi Kai, diam itu adalah iya. Dan sekali lagi Kai menciumnya. Kali ini tepat di pipi.


“Sekarang tidur lah.” Kata Kai lembut sembari membaringkan tubuhnya di samping Yuura setelah menyelimuti tubuh anak itu.


“Aku gak mau pake selimut Kai.” Ujar Yuura sambil menyingkirkan selimut di atas tubuhnya.


“Nanti masuk angin.” Kai menarik selimut itu lagi sampai ke atas dada Yuura, tapi Yuura tetap menolaknya.


“Enggak Kai, gak mau.”


“Ya sudah, tapi aku gak tanggung jawab kalau kamu masuk angin.”


Meskipun demikian, Kai tetap memasang tampang kesalnya. Berharap dengan itu, Yuura mau memakai selimutnya.


“Peluk Kai.” Ujar Yuura tampak memohon.


Kenapa anak ini? Tadi gak mau pake selimut, sekarang malah minta peluk.


“Biar gak masuk angin, peluk aku saja Kai.” Ujarnya lagi.


Dua detik waktu Kai untuk berpikir. Dan detik ketiga, Kai sudah mendekatkan tubuhnya ke Yuura dan memeluk tubuh polos anak itu.


“Kalau takut masuk angin kenapa gak pake selimut aja?! Nah ini malah minta dipeluk.” Meskipun demikian, Kai sudah membiarkan Yuura membenamkan kepala di dadanya.


Kai sudah biasa tidur dengan memeluk Yuura, tapi memeluk anak itu tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya, baru kali ini Kai melakukannya, dan baru kali ini pula Kai bisa merasakan kulit lembut anak itu serta kehangatan tubuhnya. Membuat Kai berpikir hal yang macam-macam. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terlintas untuk dipikirkannya.


Mungkin Yuura tidak akan menolak jika aku melakukan itu padanya.


Kai tersenyum dan membelai tubuh itu dengan jemarinya. Merasakan kulit lembut itu di setiap sentuhannya.


Jangan Kai.. Yuura ini adikmu. Masa kamu tega melakukan itu padanya..


Kai kembali tersenyum. Tapi kali ini dengan senyum yang berbeda. Menyadari kebodohannya sendiri dan tersenyum bodoh pada akhirnya.


Yuura sudah tertidur dalam pelukannya dan Kai juga mulai memejamkan mata sebelum akhirnya mengucapkan oyasumi setelah mencium kening Yuura untuk terakhir kalinya di malam itu.


---- ------- --------



“Tadaima...”


“Eh, okaeri Izumi.. sini sini ibu tunjukkan sesuatu padamu.”


Izumi tak bisa mencegah saat wanita setengah baya yang tak lain adalah ibunya itu, menarik-narik dirinya.


“Doushite?”


“Iie,diam saja. Lihatlah apa yang akan ibu berikan padamu.”


“Hee.. nani? Kimono?!”’


“Hai, kirei ne?!”


“tapi ini kan kimono perempuan bu?!”


“Memangnya kenapa? Dulu kamu juga pake kimono perempuan dan tampak manis.”


“Tapi dulu... sekarang..”


“Sekarang dan dulu sama saja Izupon. Ayo pakai, ibu ingin melihatnya.”


Izumi memanyunkan bibirnya dan tampak kesal. Bagaimana mungkin ibunya itu memintanya memakai kimono yang jelas-jelas untuk anak perempuan.


“Tidak mau.”


“Kalau kamu tidak mau, ibu akan memaksamu.”


“Kenapa aku harus pake kimono itu? Ibu tidak bisa memaksaku!”


“Ibu cuma ingin melihatnya Izupon. Dulu kamu begitu manis saat memakai yukata. Ibu rindu saat-saat itu, saat dimana kamu memakai kimono musim panas dan bermain kembang api bersama anak-anak perempuan lainnya. Bahkan adik perempuanmu tidak bisa semanis kamu. Ayolah Izumi.. ibu mohon... sekali ini saja ya..”


Wajah memelas ibunya itu sungguh membuat Izumi tak tega.


Kenapa Izumi? Ibu hanya ingin melihatmu. Toh tidak akan apa-apa kalau kamu memakai kimono itu. Semua hanya demi ibu.”


Izumi nyaris mengiyakan, tapi akhirnya tetap menolak.


“Aku tidak mau. Aku ini anak laki-laki, memangnya ibu tidak senang punya anak laki-laki!?”


“Bukan begitu Izumi, ibu hanya ingin...”


“Pokoknya tidak mau!” Seru Izumi sedikit membentak ibunya. Ibunya itu memang aneh-aneh saja. Betapa dia dulu begitu bahagia setiap selesai mendandani Izumi dengan kimono lengkap beserta aksesorinya, tanpa sedikit pun mempertimbangkan perasaan Izumi saat memakai kimono itu.


“Hei, tidak sopan. Tidak boleh menolak keinginan luhur seorang ibu.”


Izumi mendongakkan wajah dan memalingkannya ke arah sumber suara yang terdengar lembut namun tegas itu.


Seseorang berambut panjang dengan kimono motif bunga sakura yang indah sedang berdiri di ambang pintu dan mengipasi dirinya dengan anggun menggunakan kipas kertas dengan motif yang sama seperti kimono yang dipakainya.


Orang itu memasuki ruangan dengan langkah yang tak kalah anggun. Bahkan Izumi melihatnya seperti melayang dan berjalan tanpa menyentuh lantai saking lembut dan anggunnya orang itu berjalan.


“Kamu ya yang namanya Izumi?” Tanya orang itu sambil menunjuk wajah Izumi dengan ujung kipas yang dikatupkannya.


Izumi tampak terdiam, meskipun sebenarnya dia nyaris meledak dan ingin tertawa melihat orang itu. Sangat anggun meskipun wajahnya sangat bertolak belakang.


Seperti okama.


“Mph– ”


Ibu sudah melotot saat Izumi nyaris tertawa. “Ah Murakami-san, maaf memaksamu sampai datang kemari. Kenalkan ini putra sulung saya, Izumi.”


Ibu memberi isyarat kepada Izumi agar memeberi salam pada orang berkimono cantik yang tidak lain adalah seorang laki-laki itu. Izumi pun membungkuk rendah seraya mengucapkan hajimemashite.


“Kawaii na otoko.”


“Aah.. hontou desu ka Murakami-san?!”


Laki-laki itu hanya mengangguk pelan. Matanya masih menatap lekat Izumi, bahkan mengikuti setiap gerakannya, hingga Izumi merasa tak punya celah untuk menghindar dari tatapan itu.


“Ibu tinggalkan kamu berdua dengan Murakami-san.” Bisikan ibu itu membuat Izumi berjengit.


“Ibu tunggu! Kenapa harus..”


Ibu hanya tersenyum sebelum akhirnya menggeser tertutup pintu di ruangan itu.


Izumi berniat menyusulnya, tapi laki-laki bernama Murakami itu kembali mentapnya dan kali ini mulai menyentuh kedua pundaknya, melingkarkan kedua tangannya dari belakang punggung Izumi dan melepas satu persatu kancing seragam sekolah yang masih dikenakan Izumi.


“Murakami-san, apa yang– ”


“Ssst.. diamlah Izumi. Aku hanya ingin membantumu memakai kimono itu.”


Suara Murakami-san begitu dekat. Bahkan saking dekatnya, Izumi sampai tak berani menolehkan wajahnya ke belakang. Murakami-san yang lebih tinggi dari tubuhnya itu berbisik tepat di telinganya.


“Saya tidak mau memakai kimono itu.” Ujar Izumi yang entah kenapa tidak bisa berkutik saat Murakami-san melepas satu persatu seragam yang dipakainya.


“Mu- Murakami-san.. saya mohon...”


“Tidak apa-apa Izumi. Ibumu hanya ingin melihatmu memakai kimono itu.


“Tapi Murakami-san...”


“Isshi. Panggil saja aku Isshi.”


Isshi..?!


Sepertinya nama itu tidak asing di telinga Izumi. Meskipun ia tidak ingat Isshi itu siapa.


---- ---- ----


“Aaah.. kawaii desu!!!” Ibu nyaris memekik saat Izumi selesai dengan kimononya. Sungguh tidak nyaman rasanya memakai kimono itu. Izumi merasa sesak nafas karena Murakami-san mengikat obinya terlalu kencang.


Izumi menatap dirinya sendiri di cermin. Apanya yang kawaii? Dia melihat dirinya tak lebih dari segumpalan daging yang terbungkus kain sutra. Tubuh ini sudah cukup gemuk untuk memakai kimono indah seperti ini.


Izumi menghembuskan nafas panjang dan entah kenapa merasa letih sekali. Ingin cepat-cpat melepas kimono dan riasan wanita di wajahnya.


“Ibu.. sampai kapan aku harus begini?” Tanya Izumi hampir memelas.


“Sebentar lagi Izumi, biarkan ibu puas melihatmu.”


Dan itu artinya masih lama.


Tok tok tok..


“Ah ada yang mengetuk pintu, sebentar ibu lihat dulu itu siapa.”


Mudahan itu bukan siapa-siapa. Izumi tidak mau ada orang lain yang melihatnya berkimono cantik. Bukan teman ibu, tetangga dekat, saudara dekat, saudara jauh dan yang penting..


Jangan sampai itu teman sekolah Izumi!!


“Ah Bou.. lama tidak kelihatan. Kamu tambah manis saja.”


Hee.. dare? Bou!?


Izumi membelalakkan matanya.


Tidak mungkin itu Bou


Mungkin telinganya salah mendengar.


Tapi itu memang Bou. Izumi bisa mendengar suaranya saat menyapa ibu. Dan dia sedang menuju kemari, menuju ruangan dimana Izumi masih terbalut kimono dan riasan cantik.


Dia harus bersembunyi. Tidak boleh Bou melihatnya begini, dengan kimono dan riasan wanita.


Murakami-san yang dari tadi duduk tenang di tatami tampak tersenyum saat melihat kepanikan di wajah Izumi.


Tidak ada waktu memikirkannya, Izumi harus sembunyi sekarang juga. Tapi dimana? Tidak ada satu pun tempat untuk bersembunyi.


Saat Izumi berpikir panik, pintu sudah bergeser terbuka dan Izumi bisa melihat ibunya bersama Bou dan seseorang yang dikenal Izumi sebagai pengawal pribadi Bou.


Mati kamu Izumi


Izumi tidak berani menatap Bou. Dia hanya bisa menunduk dan memainkan jemarinya dengan cemas.


“Ah maaf. Biar saya tunggu Izumi di kamarnya saja.” Ucap Bou sopan.


Kenapa? Kenapa Bou berkata seperti itu? Apa dia tidak tahu kalau aku ada di sini...


“Kamu bicara apa Bou? Bukankah Izumi ada di- ”


“Izumi belum pulang. Benar begitu kan Kazuha?!” Murakami-san memotong ucapan ibu dan kini menatap Izumi yang hanya bisa bengong.


Kazuha? Siapa yang dia sebut Kazuha!? Aku ya maksudnya?!


Izumi mengangguk. Setidaknya ini bisa menolongnya. Dia harus berterima kasih pada Murakami-san yang entah kenapa tiba-tiba menolongnya.


“Wah, kamu teman Izumi? Manis sekali ya.. namamu Bou?”


Bou mengangguk dengan senyum malu-malu.


“Mari aku antar kalian ke kamar Izumi.” Murakami-san menggiring Bou dan pengawalnya keluar ruangan. Izumi sempat bertanya-tanya bingung...


memangnya orang berkimono aneh itu tau dimana kamarku..


---- ---- ----


Note : nama Murakami hanya rekayasa. Bingung mikirin nama keluarga buat Isshi dan akhirnya nyomot gitu aja karena ngerasa family name Murakami yang paling cocok dengan nama Isshi.


--- ---


Sudah hampir setengah jam Bou menunggu. Sebenarnya dia tidak suka menunggu, tapi kalau untuk bertemu Izumi, Bou pun rela menunggunya sampai seharian penuh.


“Sampai kapan kita harus menunggu temanmu itu Bou?”


“Sebentar lagi Kanon. Orang berkimono itu bilang tidak akan lama. Seharusnya tadi kamu gak usah ikut.”


Kanon, pengawal pribadi Bou itu sedikit mencibir. “Kamu gak suka kalo aku mengikutimu?”


“Bukannya gitu, tapi aku cuma ingin kamu gak selalu ikut kemana pun aku pergi.”


Kanon tampak menunduk. Dia merasa jadi orang yang tidak berguna jika Bou tidak menginginkan keberadaanya.


Pintu terbuka. Dan cowok berwajah manis dengan tubuh lumayan gempal itu masuk kamarnya dengan buru-buru. “Maaf Bou membuatmu menunggu.” Ujar Izumi yang langsung mengambil tempat duduk di hadapan Bou. “Ada apa?”


Bou nampak mencari sesuatu di dalam tas ranselnya yang berwarna pink. “Lihatlah ini.” Bou menyerahkan sesuatu ke tangan Izumi. Sebuah dompet.


“Milik siapa?” Tanya Izumi bingung.


“Kamu ingat orang yang bertabrakan denganku beberapa hari yang lalu?”


Izumi mengangguk.


“Kurasa itu miliknya.” Ucap Bou. “Dompet itu sepertinya terjatuh saat kita bertabrakan. Aku ingin mengembalikannya saat itu juga, tapi cowok itu keburu pergi. Aku juga lupa memberitahumu Izu-kun. Baru hari ini aku teringat.”


“Jadi...”


“Temani aku ya..” Bou mengerling ke arah Izumi. “Temani aku mengembalikan dompet itu. Kamu mau kan!?”


Izumi mengangguk. “Tapi kita harus mengembalikannya kemana?”


“Ada sebuah alamat di dompet itu. Mungkin itu alamat rumahnya.”


--- --- ---


Di hadapan Bou, Izumi, dan Kanon kini berdiri bangunan megah yang lebih mirip istana daripada bangunan rumah.


“Bou, apa kamu yakin di sini rumahnya?” Tanya Izumi tampak ragu.


Bou mengangkat bahunya. Kalo rumah megah, dia pun juga salah satu penghuni rumah megah. Tapi rumahnya yang megah, bahkan tidak semegah rumah yang kini berdiri mentereng di hadapannya. “Oke, kita tanya saja penghuninya.”


Bou memencet bel rumah beberapa kali sampai terdengar jawaban dari dalam rumah melalui bel itu. “Maaf nona, saya hanya ingin bertemu dengan pemilik dompet ini.” Ujar Bou tampak menunjukkan dompet itu kearah kamera pengawas yang sengaja di pasang di pagar depan rumah itu.


Lama tidak ada jawaban. Sampai akhirnya pintu pagar itu terbuka sendiri secara otomatis.


“Masuklah.” Ujar sebuah suara wanita yang sepertinya masih muda.


Bou masuk diikuti oleh langkah Izumi dan Kanon. Jarak pagar dengan rumah tampak begitu jauh. Di sekeliling jalan masuk dihiasi taman dan air mancur di tengah-tengahnya. Seorang gadis berpakaian maid tampak menyambut mereka di atas undakan anak tangga yang terbuat dari marmer. “Kalian ingin bertemu Yuura-sama?”


“Yuura-sama?? Kami cuma ingin bertemu dengan pemilik dompet ini.” Tegas Bou.


“Iya benar, dompet itu milik Yuura-sama. Adik tuan besar, pemilik rumah ini.”


Bou dan Izumi hanya bisa menganggukkan kepalanya, sementara Kanon hanya terdiam.


--- --- ---



Orang yang dipanggil Yuura-sama itu, tidak lebih seperti kebanyakan pemuda biasa lainnya. Orangnya sangat ramah dan tampak sangat riang.


“Ah terima kasih. Aku pikir benda ini sudah gak pernah balik lagi.” Ucapnya ringan. “oh ya, namaku Yuura. Kalian siapa?”


“Yuura-sama!?”


“Hah!!? Jangan panggil aku begitu, cukup Yuura.” Cowok itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


“Aku Bou lalu ini temanku, Izumi dan Kanon.”


“Whahahaa.. salam kenal ya...” Yuura menjabat tangan Bou dengan kencang. “senang berjumpa dengan cewek semanis kamu.”


Bou membelalakkan matanya, meskipun dia sudah tidak terlalu heran jika ada orang yang menyebutnya cewek manis. Tapi sepertinya Kanon tidak suka dengan ucapan Yuura itu, apalagi Yuura belum juga melepaskan jabatan tangannya dari Bou.


“Mata kamu rabun?!! Bou ini laki-laki!!” Tegas Kanon yang langsung menyingkirkan tangan Yuura yang masih menjabat tangan Bou erat.


“Hah!!?? Laki-laki??!!” Yuura tampak melongo bego, meskipun akhirnya ia nyengir dan meminta maaf pada Bou.


“hahaha.. gak papa kok. Udah biasa dibilang manis.” Bou tersenyum genit. Dan Kanon makin terpuruk dengan senyuman Bou itu. Bagaimana mungkin Bou bisa tersenyum semanis itu di hadapan orang yang baru dikenalnya, padahal dia selalu cemberut saat Kanon mencoba melucu di hadapannya.


“Ini sudah terlalu lama Bou, sebaiknya kita pulang sebelum ayahmu marah.” Ucap Kanon tegas.


Bou mengangguk dan menatap singkat kearah Izumi yang tampak mengiyakan ucapan Kanon.


--- --- ---


Pukul sepuluh malam. Kai belum pulang. Yuura menduga ‘kakaknya’ itu akan pulang satu atau dua jam lagi. Dulu Yuura begitu kesepian, tapi sekarang tidak lagi karena ada ‘pemilik rumah’ yang menemaninya.


“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya pemilik rumah yang tampak mengelus kepala Yuura yang terkulai di pangkuannya.


Yuura menggeleng pelan lalu menatap ‘pemilik rumah’ itu dengan kedua matanya. Yuura sedikit bingung kenapa kekuatan matanya tidak berfungsi saat menatap ‘pemilik rumah’. Laki-laki itu sangat tampan dan berwibawa. Meskipun sudah tidak bisa dibilang muda lagi, tapi si ‘pemilik rumah’ ini diketahui Yuura adalah laki-laki yang tidak beristri.


“Berapa umurmu?” Tanya Yuura tiba-tiba.


“Menurutmu?” Laki-laki itu malah balik bertanya.


“Empat puluh lima.” Jawab Yuura asal. Meskipun dia tahu kalo ‘pemilik rumah’ itu masih berumur sekitar 30-an.


“Ketahuilah Yuura kalau aku berumur lebih dari itu.” Ucap laki-laki itu dengan senyum penuh misteri seperti biasanya.


Yuura hanya menganggapnya seperti guyonan dan kembali melemparkan pandangannya pada pemandangan aneh di kamar ‘pemilik rumah’ itu. Kamar itu terkesan gelap dengan penerangan yang minim. Tirainya bahkan selalu tertutup pada siang hari. Yah Yuura tahu kalo si pemilik ini sangat tidak suka dengan cahaya, makanya dia hampir tidak pernah mengunjungi kamar Yuura yang terang benderang dan selalu meminta Yuura datang ke kamarnya apabila Yuura merasa kesepian.


“Siapa tiga orang yang mengunjungimu siang tadi?” Tanya si pemilik.


“Mereka datang mengembalikan dompetku yang terjatuh beberapa hari yang lalu.” Ucap Yuura jujur.


“Kamu senang?”


Senang? Yuura tampak bingung. Yah tentu saja ia senang karena dompetnya balik walopun isi di dompetnya hanya 300 yen.


“Maksudku apa kamu senang karena akhirnya bertemu orang baru yang mungkin bisa jadi teman baikmu?”


Yuura termangu sesaat. Dia memang senang dan bahkan meminta alamat rumah Bou, Izumi dan Kanon lalu meminta mereka mengunjungi dirinya di rumah ‘pemilik’ apabila ada waktu senggang.


“setiap hari aku juga selalu bertemu orang baru di pasar. Ada penjual sayur, buah, penjual daging dan lain sebagainya.”


“Tapi tidak ada dari mereka yang bisa kamu jadikan sahabat.” Ucap ‘pemilik rumah’ yang kemudian menganugerahi Yuura sebuah ciuman di kening. Yuura merasa sedikit geli walopun belakangan dia jadi terbiasa dengan ciuman seperti itu.


“Apa tidak apa-apa kalau mereka mengunjungiku disini?” Tanya Yuura was-was.


“Tentu saja tidak apa-apa.”


Ucapan ‘pemilik rumah’ itu menambah kebahagian Yuura hari ini. Dia pun memeluk ‘pemilik rumah’ dengan manja dan membiarkan si pemilik itu mengecup keningnya lagi.


“Malam ini tidurlah disini.”


“Eh, disini?” Yuura sedikit ragu.


“Kenapa? Tidak mau?!”


Yuura menggeleng. Dia hanya tidak biasa dan merasa sedikit segan jika bersama ‘pemilik rumah’, meskipun dia juga sering mengusilinya dan membuat ‘pemilik rumah’ itu marah-marah dengan semua tingkah usilnya.


“Malam ini Kai tidak pulang. Dia harus menjaga restoran. Aku sudah bilang kalau dia tidak perlu lagi kerja di restoran itu, tapi dia menolak. Dasar keras kepala.”


Yuura merasa kecewa mendengar ucapan ‘pemilik rumah’. Padahal malam ini dia berniat tidur di kamar Kai, tapi Kai malah tidak pulang.


“Kamu takut mimpi buruk lagi?” Tanya ‘pemilik’. Yuura makin bingung. Dari mana ‘pemilik’ tahu kalau ia sering mimpi buruk.


“Tidurlah disini Yuura.” Pinta pemilik lagi. Dan kali ini Yuura mengiyakan. Dia memang takut bermimipi buruk lagi dan berharap dengan tidur di kamar ‘pemilik’ yang tenang ini, dia akan bisa mengusir semua mimpi buruknya itu.


---- ---- ----

t.b.c